SuGen FF Soowon – I Love You For a Reason… (Part 10)

Image

Annyong Haseyo, Halohaaa  Author Nasha disini…

Hahaha tampaknya diriku udah menghilang tanpa kabar selama kurang lebih empat bulanan kali yah ?

Bukannya sengaja tapi  karena  kesibukan dan udah terlanjur kecapean , inspirasi pun buntu, atau lebih tepatnya nga sempat ngayal (?)

Mian.. mian bukannya sok sibuk, tapi yah jadi males ngapa2-in ajjah #plakk

Semoga readers masih setia nungguin FF ini… huhuhuhuu

Oke, oke dari pada ntar kena timpuk para readers, jadinya langsung happy reading aja yah hehehe

~ Cekidott ~

Part 10

Mencintaimu tanpa tanda tanya (?)…”I love you for a reason…”

“Aku sudah memikirkannya !”

“Jangan berbuat hal gila !”

“Itu mungkin ! Karena aku tidak akan melepasmu…”

“Tolong hentikan !” Sooyoung mendorong tubuh Siwon kebelakang, melepaskan dekapan namja itu. Segera disekanya butiran bening yang tiba-tiba saja mengucur. Sangat deras, “Lupakan aku, kembalilah kekehidupanmu yang dulu,”

Siwon terdiam. Pandangannya terus menatap wajah Sooyoung.  Wajah yang menyiratkan paras penuh permohonan. Ada harapan penuh keputusasan disana. Disana, dalam tatapan yang  balik membidik kearahnya. Sepasang mata bertemu tanpa kata.  Suasana hening. Hanya terdengar sepoi nakal suara angin yang seolah sedang menertawakan mereka. Tertawa liar dan tanpa permisi mengepul masuk dalam rongga pernafasan. Cukup menyesakkan.

“Kau pikir itu mudah?” Suara pelan Siwon sontak menetralisir  keadaan.

“Bagiku itu mudah. Aku hanya ingin kembali menjadi diriku yang dulu, sebelum mengenalmu… Memperbaiki kesalahan ini dan…”

“Jadi menurutmu, mengenalku adalah sebuah kesalahan?” timpal siwon, “Menurutmu Aku hanyalah kesalahan dari jalan takdir?”

“Iya ! ini salah, Siwon-ssi ! Semua salah, baik itu mengenalmu, jalan tadir atau apa pun ! Karena apa?” Sergah Sooyoung menatap tajam, “Karena aku benci ketenaran sedangkan kau tenar. Aku muak dengan sandiwara sedangkan kau sering memainkannya. Aku ingin menginjak kata popularitas sedang artis sepertimu susah payah meraihnya… Kita berbeda,  Aku… aku… serpihan noda yang melekat dibaju kesayanganmu… Jadi segera hapus noda itu…”

Siwon menatap tajam, “Ternyata yeoja sepertimu sangat minim kepercayaan diri…”

“Mwo? Minim Kepercayaan diri?” Sooyoung memasang wajah penuh tanda tanya, “ Apa maksudmu?”

“Tujuan hidup ! apa kau sudah punya? Apa yang kau cari didunia ini? Kurasa bukan ketenaran karena kau bilang membencinya, bukan sandiwara karena itu membuatmu muak juga bukan popularitas yang ingin kau injak itu… ” Siwon tersenyum getir, “Sekarang kau bilang kau adalah noda ! Jadi apa namanya jika bukan minim kepercayaan diri ?”

Sooyoung mematung ketika kalimat barusan menyambar pendengarannya. Yeoja itu mengigit bibir bawahnya keras. Sekeras pikirannya mencerna ucapan Siwon beberapa menit yang lalu, “Iya, anggaplah kau benar !” Sooyoung menarik nafas, “Anggaplah juga tujuan hidupku adalah terbebas darimu !” sambungnya menatap tajam, “Puas?”

Pamit tanpa kata perpisahan. Sooyoung berbalik pergi menjauh. Menjauh dengan hentakan langkah cepat. Tubuhnya benar-benar memanas jikalau lama-kelamaan disekitar namja itu. Sikapnya benar-benar…. Akhh !

Hentakan itu semakin keras seiring dengan dumelan tak jelas yang diucapkannya berkali-kali. Lama kakinya melangkah, Sooyoung berbalik menolehkan kepalanya kebelakang. Melihat sekilas dari kejauhan. Tentang apakah ada secercah perasaan  bersalah di wajah menyebalkan Siwon. Dan Binggo !  seharusnya Sooyoung bisa menghemat detik dalam hidupnya dengan tidak berbalik. Sesuai dugaan, namja itu hanya mematung lalu tertunduk, Cih ! sedang apa dia? Umpatnya.

………………..

Siwon terus mematung menatap kepergian Sooyoung. Menatap dengan pasrah, bukan ! Tepatnya membiarkan seorang yeoja pergi dengan anggapan kebahagiannya. Ini menyakitkan, sungguh. Anehnya Siwon hanya tersenyum sendiri. Ini bodoh, sinting. Kata yang pantas untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang.

“Siwon-si… hey.. Ahaaa” Ucap seseorang menepuk pundak namja itu. Siwon menoleh kebelakang, “Jung ahjussi?”

Jung Young jin, salah satu crew film datang mendekat. Ia tersenyum penuh arti. Sepertinya namja paruh baya itu sudah berdiri sejak tadi. Ikut menguping tentu, “Ayo kejar dia ! Aku akan memberimu waktu !” katanya menggebu.

Siwon menatap kosong, tersenyum miris.

“Ayo cepatlah ! Yeoja yang marah seperti itu hanya ingin memancing inisiatifmu !” ucapnya terus mendesak, “Kau ini namja atau bukan sih? Cepat Kejar dia?!”

Ahjussi Jung menepuk punggung Siwon semakin lekas, sedang namja itu hanya terdiam kaku menatap punggung Sooyoung.

“ Lihat ! Jika dia menolehkan pandangannya kemari, itu pertanda bahwa yeoja itu ingin dikejar !” Suara ahjussi kembali menggema. Kali ini kalimatnya membuat kening Siwon mengerut, berbalik? Ingin dikejar?

“3…2…1… clikk…” Ahjussi Jung berhitung seraya menggerakkan jari menembak.

Ia berbalik. Sooyoung berbalik ditengah hentakan langkahnya ! Ahjussi memasang wajah girangnya sedang Siwon seolah enggan melangkah sedikitpun.

“Lihat kan? Dia berbalik ! Ayo cepat kejar….” Desaknya lagi hingga akhirnya suara desakannya itu berubah layu, “Hah, payah !” degusnya kecewa saat melihat Siwon hanya tertunduk lemas. Terpaku menatap pasir  rapuh yang dengan mudahnya ditiup angin. Tapi bukan ! Siwon bukanlah butiran pasir rapuh. Ia bukanlah  namja yang akan lunglai karena berkali-kali ditolak oleh seorang yeoja. Namun tentu saja, Ia pun bukan seorang  namja yang mampu bertahan jika Yeoja yang sukses memenuhi hatinya itu harus menghilang seketika. Lalu apa?

…………….

Sore  hari dengan cuaca mendung menaburi permukaan bumi, Sooyoung menghirup bebas udara tanpa polusi ditengah sayup-sayup suara sepoi angin yang berkombinasi dengan percik  ayun pepohonan.  Ia melangkah pelan diatas tanah gembur subur. Tanah  naungan dari  rerumputan hijau. Yeoja itu menyunggingkan senyum simpul saat didengarnya kicauan indah burung kecil. Makhluk dibalik dedaunan yang seolah menyambut kedatangannya.

Sooyoung menatap sesuatu ditangannya. Sebuah kembang dan air mawar. Yeoja itu ingin menaburi benda-benda nan wangi ini di rumah terakhir Ummanya. Rumah yang menghubungkan antara dunia dan surga.

“Umma, Aku datang !” Sooyoung mulai menaburi bunga didepan sebuah makam berbatu marmer biru muda.

“Saat aku sedih, bukankah umma berjanji akan membelikanku boneka woody
? Kalau begitu tolong kirimkan aku orang yang akan memberiku boneka Woody saat aku bersedih, umma ! hikzz…”

“Umma, kau baik – baik saja? Kuharap ‘iya’ dan kuharap umma tidak sedang bingung sepertiku ! Seperti aku yang bingung ! Aku bingung tentang apa yang kurasakan.” Sooyoung menahan nafas seiring dengan air matanya yang bersiap menerobos.

“Aku ingin semua menjadi seperti biasa, tapi dia membuat semuanya menjadi aneh ! Kehidupan, pikiran dan perasaanku… Orang itu berhasil merubahnya namun sayang, aku membenci ini. Sangat. Aku membenci saat merasa hidupku telah berubah, aku membencinya,.. aku selalu ingin menghindarinya tapi… Kupikir aku membutuhkannya… Namun kupikir lagi untuk apa?” Cerita Sooyoung membiarkan air matanya tertumpah,  “Membingungkan?”

“Aku nyaman didekatnya, juga sangat terusik dengan senyumannya. Senyuman yang membuatku ingin memeluknya saat itu juga. Aku ingin melakukan hal itu disamping ingin meninju wajahnya jika ia mulai bertindak sesuka hati… heh…” Sooyoung terkekeh kemudian melanjutkan, “Kupikir ini hanya perasaan picisan, seperti sandiwara ! Akan terungkap kepalsuannya, namun ternyata aku salah ! Aku… aku…”

“Aku mencintainya umma, aku jatuh cinta. Semakin aku menyangkal, semakin dia membuatku jatuh cinta dan.. dan… ini sakit !  sakit saat menyadari siapa dia dan siapa aku ! Aku butuh waktu dalam memantaskan diri untuk mencintainya…” Sooyoung semakin terisak. Berkali-kali yeoja itu mengatur intonasi suaranya yang kian tercekat.

“Tapi umma tahu? Aku sangat takut. Takut disaat aku menghindar dalam memantaskan diri untuk mencintainya, kebahagiaan itu menghilang, Aku takut dia  jenuh dan pergi !” yeoja itu menyeka dengan cepat air matanya, “Jadi, apakah lebih baik aku mundur sebelum semua itu  terjadi?”

Tikk… Tik… tetes hujan setitik demi setitik jatuh mengenai permukaan bumi. Bau khasnya pun semakin tertangkap dalam indra penciuman. Sooyoung menyipitkan matanya yang terkena percik rezeki Tuhan yang kian menderas. Yeoja itu menautkan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di atas kepala. Hal yang percuma untuk menangkal hujan agar bajunya tetap kering.

Ia berlari mencari tempat berteduh. Entah dimana. Sooyoung sangat hawatir jika ia akan sakit saat terkena hujan yang terbilang mendadak deras ini. Hujan yang kian deras itu membuat baju Sooyoung setengah basah. Terpaksa ia tetap berlari seraya melindungi kepala itu dengan pungung tangannya dari sengatan deras hujan. Tuhan ! ini gawat ! ia tak menemukan tempat berteduh. Hanya ada pohon disudut komplek makam. Itupun dengan jalanan tanah becek yang kelihatannya licin. Bisa-bisa ia terpeleset ! Aish…

‘Brukkk’

Sooyoung menabrak seseorang. Tepatnya menabrak pundak bidang seorang namja yang tengah berlindung dibawah payung, “Mianhamnida,” sesal yeoja itu tetap nenunduk bersiap melangkah kembali. Langkah yang sulit berlanjut. Sooyoung melesat kekanan namun terhalang saat namja  yang ditabraknya melakukan hal yang sama. Kekiri dan seterusnya. Apa-apaan dia?

Sooyoung mendongak. Seketika ia tertegun, “Siwon-ssi..”

“Kau pasti ingin berteduh.” Ucap namja itu melirik gagang payung bening yang dipegangnya.

“Sedang apa disini?” tanya Sooyoung tanpa mempedulikan ucapan namja yang kini menjadi patnernya dibawah naungan payung.

Siwon terkekeh membuat Sooyoung menaikkan alis, “Memangnya kau saja yang boleh kemari?”

“Siwon-ssi !” Tegas sooyoung menaikkan intonasinya ditengah suara rintikan suara gemuruh hujan yang semakin menumpulkan pendengaran, “Kau belum menjawab pertanyaanku !”

“Memangnya jawaban seperti apa yang kau inginkan?” balasnya serius.

Sooyoung terdiam. Matanya mulai menerawang, “Jawaban seperti…” yeoja itu bergumam sendiri setelah akhirnya menatap dengan mata nyaris berair,  “Jawaban seperti mengapa penganggu sepertimu  muncul lagi dihadapanku ?! Kedua, mengapa hidupku kacau saat mengenalmu ?!  Kenapa, kenapa kau tidak pergi saja?”

“Dua pertanyaan pertama, mengapa aku muncul dihadapanmu juga mengapa hidupmu kacau, aku tak dapat menemukan jawabannya. Hatimu sendiri yang mampu menjawabnya. Bukankah sangat sulit bagi orang asing sepertiku dalam melihat hatimu ?” namja itu berhenti sejenak, “Kemampuanku hanya sebatas tinggal disini, tetap menjadi pengganggu, memperbaiki hidupmu yang kau anggap telah kacau karenaku . Baiklah, jika nantinya dirimu lebih menginginkanku pergi, hendak memakiku, aku akan menerimanya meski dengan hati remuk tapi sebelum itu aku…”

Sooyoung melihat kelangit-langit payung lalu menatap namja dihadapannya,  “Wae ? Aku memang ingin memakimu ! aku membecimu.” ucapnya lantang kemudian bergeleng merunduk seraya berdesis pelan, “ Katakan kalimat yang ingin kau ucapkan lalu pergi.”

“Saranghae, Sooyoung-ah !”

Yeoja itu mendelik. Bahkan masih terkejut meskipun ia sudah pernah mendengar kalimat itu terucap dari bibir Siwon. “Mwo?” gumamnya  dengan sisa suara.

“Saranghae.” Ulang Siwon sekali lagi. Sooyoung tertegun sejenak. Oh my… Tidakkah Siwon melihat gambaran dari sikapnya barusan? Sangat melelahkan jika Sooyoung harus menjawab kata itu lagi.

“Sttt…” Siwon menutup bibir Sooyoung dengan telunjuknya saat yeoja itu bersiap membuka mulut.

“Kau tak perlu menjawabnya ! Karena apa? Karena aku tidak bertanya !” ucapnya lembut.

“Aku akan menunggumu sampai kau yakin, juga akan menghilang jika itu permintaan-mu, Sooyoung-ah.” Sambungnya tersenyum singkat, “Berlarilah sekencang mungkin, tapi saat kau terlalu letih menengoklah kebelakang… Ada aku.”

Tertunduk lemah dan air mata itu perlahan tertumpah. Sooyoung menutup mulut dengan kedua tangannya yang bergetar. Nafasnya menyempit. Suaranya tercekat tertahan ditenggorokan, sulit bernafas. Ia sadar jika dirinya tak sanggup lagi menahan semua. Yah, Ini menyesakkan.

Payung itu terjatuh, terlepas dari genggaman Siwon. Terlepas membiarkan deras hujan yang enggan menghilang itu membasahi tubuhnya, juga Sooyoung. Yeoja yang tiba-tiba saja memeluknya erat. Memeluknya ditengah guyuran air yang terus menjalar. Basah, Siwon tahu akan hal itu ! Dingin dan mengingil begitu mudah dikalahkan oleh perasaan enggan berkutik.

Sooyoung memeluknya. Siwon bisa merasakan tetesan hangat mengaliri pundaknya. Aliran kehangatan yang bercampur dengan dingin air hujan. Dia menangis begitu dalam?

“Siwon-ssi, aniyoo jangan pergi ! Aku, aku tak tahu mengapa aku menjadi seperti ini !  Aku tidak membencimu. Ini tak ada hubungannya dengan ketenaranmu, popularitasmu atau apa pun !  Aku membenci perasaanku sendiri, aku membenci tindakan yang ku-perbuat sendiri…Hikz..  Aku bingung apa yang merubahku menjadi seperti ini… ”

“Kau pernah jatuh cinta?” Tanya Siwon setengah berbisik.

Sooyoung menggeleng pelan, “Tidak pernah serumit ini !”

Namja itu tersenyum simpul, “Kau hanya bingung bagaimana caranya  bertindak !”

Perlahan Sooyoung mendongak melepaskan dekapannya, “Mwo?” Gumamnya pelan sepelan mungkin seiring dengan pandangannya yang perlahan menutup. Gelap dan hembusan nafas itu kian mendekat. Semakin dekat menggetarkan tubuh yeoja itu.

Dingin karena sengatan deras hujan seakan telah mati rasa. Siwon ragu, apakah tindakannya ini benar? Tindakan untuk memberikan kehangatan dan ketenangan. Merasakan air hujan yang berkurang rasa ketawarannya. Dan Ia beruntung ! Sooyoung tak menolaknya sama sekali.

“Pulanglah, cuaca sedang buruk ! Aku akan mengantarmu.” ucap Siwon setelah melepaskan moment diantara dirinya dan yeoja dihadapannya.

…………

Hujan diluar sana sangat deras. Perasaan cemas dalam diri Jessica kian menjadi. Entah mengapa. Suasana kelam mendung juga gemuruh petir yang mengaung bebas di angkasa mungkin adalah penyebabnya. Yeoja berambut pirang itu menghela nafas keras setelah akhirnya bangkit saat mendengar  suara ketukan pintu. Mungkin itu Sooyoung.

“Omoo, Sooyoung-ah kenapa kau jadi basah kuyup begini ? Kau bisa sakit nanti !” Jessica memekik hawatir. Matanya juga membulat saat melihat temannya itu datang bersama seseorang, “Siwon-ssi..”

Pikiran Jessica mulai menerka-nerka. Ada apa sebenarnya?

“Mianhamnida, Sooyoung menjadi basah karena ku. ” ucap namja itu sopan membuyarkan lamunan Jessica.

“Ah, sudahlah yang penting semua baik-baik saja kan yah?” ucapnya meskipun ia menyadari bahwa kini keadaan Sooyoung sangatlah jauh dari kata ‘baik’. Mata temannya itu merah sembab. Wajahnya pucat kedinginan juga aura kemurungan itu sangatlah jelas terlihat dari kacamata seorang sahabat. Apanya yang baik?

“Kurasa dia butuh istirahat,” ucap namja itu lagi.

“Ah, baiklah… Gomawo telah mengantarkan Sooyoung pulang.”

“Nde, sama-sama. Oh ya, kurasa lebih baik aku pamit, annyong !” Namja itu menunduk sopan. Untunglah namja  itu sadar jika hari memang sudah hampir malam.

Jessica juga Sooyoung ikut membalas menunduk, ”Annyong.”

Terlihat Bayangan Siwon telah menghilang dari kejauhan. Jessica pun menutup pintu rapat. Yeoja itu kemudian menyejajarkan langkahnya dengan Sooyoung yang  tengah berjalan mengambil handuk kearah dapur.

“Kau bertemu dengannya lagi? Kupikir kau sudah berencana akan menjauhinya…” tanya Jessica penasaran.

Sooyoung memberhentikan langkahnya diikuti Jessica. Ia terdiam. Matanya yang sembab kembali berair membuat yeoja berambut pirang disampingnya semakin hawatir, “Wae?”

“Sica-ah.. hiks…” Sooyoung bersimpuh dilantai, seolah tak sanggup menahan beban yang ada dalam dirinya, “Aku…”

“Wae, Sooyoung-ah?” desak Sica ikut menyamakan posisi.

“Aku… Aku tidak bisa melupakannya… Aku, aku sesak nafas… hiks..”

Jessica merengkuh kedua pipi Sooyoung, “Sooyoung-ah, Lihat aku !” ucapnya lalu melanjutkan, “Kau benar-benar mencintainya? Kau yakin?”

Sooyoung menerawang, “Aku… Mencintainya… Sica-ah, bagaimana ini?” ucapnya linglung, “Bagaimana kalau aku tidak bisa melupakannya ?! Bagaimana kalau, kalau aku ingin terus melihatnya, bagimana… bagaimana…”

“Berarti kau memang mencintainnya !” timpal Jessica.

“Mwo? Aku  sangat mencintainya sica-ah, itu benar ! hikz…hikz.. Aku membutuhkannya.. ”

“Ya Tuhan !” Jessica memeluk temannya erat. Meski bajunya ikut basah, masa bodoh. Menenangkan sahabat yang dikenalnya dari dulu ialah yang terpenting. Yeoja itu tahu jikalau semenjak  kepergian kedua orang tuanya, Sooyoung sulit merasakan jatuh cinta. Ia selalu sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk menyenangkan diri hingga mengesampingkan perasaan yang disebut ‘cinta’. Kini, temannya itu benar-benar dalam masalah saat menghadapi cinta yang tiba-tiba saja bersinggah tanpa sederet kalimat pembuka.

“Sudah ! sekarang cepat bersihkan dirimu, lalu istirahat !” Saran Jessica dibarengi oleh anggukan pelan Sooyoung.

…………………..

Sehari, dua hari, tiga hari berlalu terhitung saat terakhir kali malam pertemuannya dengan Siwon. Pertemuan sejuta pengakuan. Pengakuan tentang ‘cinta’ yang mungkin lebih baik adanya. Tentu saja dibandingkan dengan  memendamnya rapat-rapat dalam senyum kepalsuan. Juga alasan konyol.

Sooyoung membenamkan wajahnya dibawah bantal. Yeoja itu banar-benar enggan barang sedikit pun menatap cahaya mentari pagi ini. Ia terlalu malu bahkan untuk melihat pantulan dirinya sendiri. Malu terakibat perasaanya yang mulai menguak. Ini gila !

“Aishh..” desisnya pelan menengguk ludahnya dengan susah payah. Kering, sakit. Dan Sooyoung segera bangkit, memasang posisi duduk seraya mengalungkan tenggorokannya sendiri. Panas. Begitulah fakta tambahan yang didapatnya saat tangan itu berhasil meraba kulit  pada leher jenjangnya.

“Suhu tubuhku belum turun juga…” gumamnya kecewa. Sooyoung menunduk bosan. Sudah tiga hari ini Ia beristirahat karena sakit. Semakin lama, bukannya mendingan malah semakin parah.

Sooyoung bersin beberapa kali. Ia menggesek hidungnya yang terasa sangat gatal juga agak mampet. Sesekali pula Ia memegang kepalanya yang terasa agak berat, sedikit melayang. Sepertinya yeoja itu memang tengah berururusan dengan Virus berbahaya. Virus akibat tertimpa hujan kemarin yang membuat kekebalan tubuhnya melemah. Hujan ? ! Ah sial ! Mengingat kata hujan membuat pipi chuby-nya bersemu merah… Keterlaluan !

“Sooyoung-ah, kau sudah bangun ? !” terdengar seruan Jessica dari arah ruang tengah. Reflek seseorang yang dipanggil itu kembali membenamkan dirinya dalam selimut. Berpura-pura tidur agar Jessica berhenti melakukan pemaksaan. Temannya itu pasti menyuruhnya untuk sarapan. Percuma ! Karena lidah Sooyoung terasa sangat pahit saat ini.

“Bangunlah ! Sakit bukan memaksamu untuk bermalas-malasan, bukan?” Jessica menarik selimut yang membalut erat tubuh temannya.

Sooyoung menggeliat pelan. Bertindak seolah baru saja membuka mata. Mata yang berkedap-kedip lemas, “Aku tidak selera makan..” kekeuh yeoja itu  menahan pegal pada lengannya karena tarikan Jessica, “Ayolah !”

“Andweeee…”

Jessica mendengus kesal, “Yasudah,” ucapnya menghentakkan lengan Sooyoung, “Aku pergi ke kafe dulu ! Buburnya sudah kusiapkan dimeja !”

“Ne.. ne.. pergilah !”  ucap Sooyoung malas. Ia pun mendesah berat, “Huh… Ottokhae?” keluhnya mulai jengah dengan penyakit ini. Beruntung, Sooyoung bukanlah orang sibuk, berbeda dengan korban timpaan hujan lainnya, Siwon? Bagaimana keadaan namja itu tiga semenjak hari lalu? Sungguh ! lagi-lagi mengingat namja itu membuat Sooyoung menyadari betapa Ia merindukan sosoknya.

Sooyoung berberdehem sedikit berbatuk seraya tertunduk ragu. Dan entah nyali apa yang merasukinya, hingga ia segera menggeser tubuhnya pelan. Mengambil sebuah handphone diatas meja. Mencari sebuah nama pada alat komunikasi itu kemudian menekan tombol On.

“Test.. tekhss ehmm…” Sooyoung berusaha memacu suaranya yang serak. Bahkan kerusakannya bertambah parah .Ya Tuhan ! apa yang terjadi? Suaranya benar-benar hilang !

“Yoboseyo…” terdengar suara namja dari ujung sana yang seketika membuat yeoja itu terperanjat.

“Yoboseo… Sooyoung-ah?” ucapnya lagi meyakinkan saat Sooyoung hanya terdiam. Masih berusaha mengumpulkan suaranya

“Ndkhe..” ucap Sooyoung susah payah.

“Kenapa suaramu seperti itu? Tanyanya hawatir

“Anyoo, akhu haknya …”

“Kau sendiri dirumah?” tanyanya tiba-tiba. Sooyoung menerka bahwa Siwon jelas mengerti sendiri akan keadaannya, “Kau sedang bersantai kan? Sooyoung-ah?”

“Mhwoo?”  Yeoja itu mengangkat alis, tak lama kedua matanya membulat “Yak.. khauu mhauu…”

“Kalau begitu tunggu aku !… tutt…” potong namja itu kemudian mematikan sambungan teleponnya.

“Yakk…” Sooyoung menatap layar handphonnya lekat. Ingin sekali yeoja itu berteriak, “jangan ! untuk apa sih?” namun Ia  hanya mampu terdiam pasrah. Dalam hati terus berandai. Beruntung sekali dirinya sedang sakit tenggorokan. Coba saja jika stock suaranya memadai. Namja itu pasti tak akan lolos begitu saja. Selalu saja bertindak seenaknya !

……………………

Siwon Tersenyum melihat layar handphonnya. Mendengar suara Sooyoung adalah hal utama yang dicita-citakannya semenjak tiga hari yang lalu. Siwon takut jika Sooyoung belum bisa menerima keberadaannya. Bahkan ia ingin berlari kegirangan saat Sooyoung bersedia  menelponnya. Ia belum mengetahui apa yang Sooyoung akan bicarakan. Yang jelas ia  ingin sekali memui yeoja itu segera.

Namja itu segera bangkit dari  kursi kayu yang didudukinya kemudian mulai melangkah menuju pintu keluar. Langkah yang sedikit tersendat saat sebuah suara menahannya, “Pasti pergi lagi !” ucap salah satu crew tanpa menoleh sedikit pun sembari membawa sepiring daging yang baru saja dipanggang. Siwon mengangkat alis.

Crew itu menoleh datar, “Kau kan selalu begitu ! Disaat  moment-moment tertentu selalu pergi dan menghilang tiba-tiba, rupanya kau belum kapok  dimarahi sutradara seperti tiga hari yang lalu?!”

Siwon melihat disekelilingnya. Orang-orang kini tengah mempersiapkan pesta untuk merayakan berakhirnya shooting film yang dimainkannya.  Lagi-lagi dirinya harus pergi,  tapi ini hanya sebuah pesta. Sang sutradara pasti tak akan memarahi kepergiannya seperti  saat dirinya kabur dari proses shooting tiga hari yang lalu kan ? saat namja itu pergi mengejar seseorang. Bergegas menyanggupi inisiatif mendadak.

“Bukankah ahjussi sendiri yang menyuruhku mengejarnya? Gomawo telah mengingatkanku untuk membawa payung.” Siwon tersenyum jahil.

Seorang crew yang dipanggil ahjussi itu pun menoleh kanan kiri kemudian berbisik dengan raut ingin tahu , “Apakah berhasil?”

Namja itu terdiam. Tiga hari yang lalu saat ia mengejar Sooyoung sampai ke lokasi pemakaman. Ia terus memperhatikan yeoja itu menangis seraya mendengarkan suaranya yang samar terisak dihadapan sebuah nisan,  hingga awan-awan yang menggantung diudara turun ke bumi dengan begitu derasnya. Hujan yang mempertemukan dirinya dengan yeoja itu. Bertemu dengannya bukan kebetulan melainkan sengaja.

Siwon hanya mengangkat bahunya masih dengan senyuman. Ahjussi menghela nafas, “Pergilah ! hush…” ucapnya mengibas-ibaskan tangan dengan cepat.

Selagi terus berjalan menuju pintu keluar, namja itu terus membungkuk menyapa kerumunan orang yang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Baik itu sibuk mengobrol hingga menikmati hidangan diatas meja berbalut taplak biru.

Drt…drt… Handphone Siwon bergetar tampak sebuah pesan masuk. Dari Sooyoung. Pesan biasa yang membuat Siwon lagi-lagi tersenyum sendiri.

‘Jangan bercanda ! Kau kan super sibuk, mana boleh kemari?!’

‘Siapa bilang?! Aku sedang menganggur :-p Jadi tunggu aku 10 menit lagi !’

’10 menit apa maksudmu? Yakkk ! bagaimana kalau wartawan datang kemari?!’

‘Tidak akan !’

“Apa-apaan dia!” gumam Siwon kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia tahu jika Sooyoung sedang sakit. Mungkin sejak kehujanan tiga hari yang lalu. Jadi wajar jika ia menemui yeoja itu. Hitung-hitung menjenguk.

Segera Siwon menuju parkiran dan memacu mobilnya. Perlahan sudut matanya tertuju pada suatu tempat yang mengingatkan namja itu pada sesuatu. Ia pun kembali mengulum senyum.

……………….

Tok… tok, suara ketukan pintu itu membuat Sooyoung terperanjat dari kursi sebuah meja rias. Ia merapikan rambut yang baru disisirnya. Sekilas yeoja itu juga menatap pantulan wajahnya yang masih pucat. Ya tuhan ! Jangan bilang itu dia!

Sooyoung melangkah kearah pintu menggeser gordeng merahnya sedikit. Diintipnya celah kaca yang terbuka secuil. Percuma, karena pandangannya sangat sempit. Tak terlihat apa pun. Sooyoung menghela nafas bersiap membuka pintu.

Pintu terbuka seiiring dengan mata Sooyoung yang terbelakak lebar. Uluran tangan yang tengah menggenggam boneka Woody  yang masih berbalut plastic dan pita biru muncul  dari arah samping, “Untukmu.” Ucap seseorang beranjak berdiri berhadapan dengan Sooyoung. Benar, orang itu adalah Siwon.

Sooyoung masih menatap boneka Woody dan namja dihadapannya bergantian.  Ia tertegun cukup lama. Hingga beberapa detik kemudian Siwon berdehem cukup keras, membuat yeoja itu tersontak,  “Boleh aku masuk ?!” Tanya Siwon perlahan.

Cepat-cepat Sooyoung mengangguk seraya menengok kanan kiri. “Mksu.l..” Ucapnya menelunjukkan jarinya kedalam ruangan. Sooyoung seperti tengah tercekik sesuatu.

“Kau sedang sakit tenggorokan?” terka Siwon sembari mengamati isi rumah Sooyoung. Yeoja itu mengangguk cepat. Ia kembali memberikan sebuah isyarat yang membuat kening Siwon berkerut.

“Khau..mnm..” Sooyoung mengepalkan tangan kanannya lalu meletakkannya didepan bibir. Siwon memperhatikan lagi dengan seksama kemudian mengangguk, “Terserahmu, teh juga boleh !”

Sooyoung hendak berbalik menuju dapur namun langkahnya tertahan, “Sooyoung-ah” panggil Siwon cepat. Yeoja itu berbalik.

Perlahan Siwon mendekat,  meletakkan punggung tangannya pada kening Sooyoung. Dirasakannya suhu tubuh yeoja itu. Agak tinggi. Mungkin karena hujan itu, “Kau sudah minum obat ?” Siwon melepaskan tangannya.

Sooyoung menggeliat pelan saat tangan itu menyentuh keningnya. Ia menghela nafas kemudian mengangguk cepat menjawab pertanyaan siwon.

“Akh kesn…” Sooyoung menelunjuk dapur seraya berbalik dengan langkah terburu-buru. Saking terburu-burunya yeoja itu harus meraskan benturan dipahanya akibat tergores sebuah meja disamping pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur. Mendengar debukan meja yang cukup keras, Siwon terperanjat seketika namun Sooyoung hanya tersenyum malu seraya mengibas-ibaskan tangannya. Ia lalu kembali melangkah menuju dapur. Terlihat Namja itu hanya tertawa kecil. Dasar Sooyoung !

Siwon perlahan duduk pada sebuah meja lantai. Ia kembali memperhatikan setiap sudut rumah yang ditinggali Sooyoung. Rumah yang lumayan sempit namun bersih dan tertata rapih.  Terdapat pula banyak pajangan foto disalah satu dinding temboknya. Kebanyakan foto Sooyoung dan teman-tamannya. Ia terus memandangi foto-foto  tersebut dengan serius hingga beberapa menit kemudian,  Sooyoung pun datang membawa secangkir teh menuju kearahnya.

Sooyoung berdehem mencoba mengetes suaranya setelah meneguk pelega tenggorokan beberapa saat yang lalu di dapur, “Kem-ari, un-tuk apa?”  tanya Sooyoung perlahan.

“Aku ? Melihat keadaanmu !” Jawab Siwon. Sooyoung mengangguk, membuka mulut membentuk huuruf O.

“Apa…” Ucap keduanya berbarengan. Sooyoung merunduk, “Ka-takanlah” ucapnya dengan nada sedikit serak.

Siwon berdehem, “Apa kau masih marah ?”

“Marah kenapa?”

“Marah karena semuanya…” jawabnya mengulurkan boneka Woody, “Untukmu !”

Sooyoung hanya terdiam mengangkat alis, membuat namja dihadapannya menampakkan raut sedikit kecewa, “Tidak mau? Padahal kupikir kau ingin sekali dibelikan boneka Woody jika sedang sedih?!”

“Dari mana kau tahu? Kha..” Sooyoung tertegun. Jangan-jangan benar ! keinginan itu hanya dia dan ummanya yang tahu. Bahkan Jessica tidak mengetahui hal itu. Apakah saat ia menagis didepan makam ummanya Siwon mendengar semuanya ? Oh my… tamatlah sudah !

“Aku tidak mendengar semuanya ! Dipertengahan suaramu samar-samar. kau sangat terisak…” ucap Siwon tiba-tiba.

Sooyoung menghela nafas meletakkan kedua tangannya didada, “Aku marah !”

“Mian…” Sesal Siwon, “Mianhe karena   aku mengikutimu juga karena…”

“Wae?”

“Mm sudahlah yang penting aku menyesal !” Sergah Siwon mengulurkan tangannya kembali, “ Ini untukmu, tolong diterima !” Sekali lagi ia mengulurkan boneka Woody, “Kalau tidak mau ya sudah..”

“Yak siapa bilang?!” Sambar Sooyoung segera merebut boneka Woody itu seraya meggembungkan pipi.

“Sooyoung-ah bukankah tadi kau ingin mengatakan sesuatu?!”

Sooyoung mengingat ingat, “, aku mmm begini Siwon-ssi kau sudah makhan tidak? Apa mau kumasakkan?” tanya Soooyoung perlahan dengan wajah terpaksa. Berkali-kali ia meruntuki hatinya. Padahal ia ingin sekali bertanya persis seperti pertanyaan Siwon barusan, “Apa Ia merasa aneh, marah ?!” ya ampun !

Siwon menampakkan wajah berpikir keras kemudian mengangguk kecil, “Boleh ! kau baru mau memasak? Aku bisa membantumu…”

“Apa?” Sooyoung membulatkan matanya, “Bukankah…”

“Kalau apinya tidak terlalu besar aku akan baik-baik saja.” Timpal Siwon. Sooyoung masih menatap serius, :Oke…”

Sooyoung bangkit dari posisinya. Yeoja itu lalu memberikannya isyarat agar Siwon mengikutinya menuju dapur. Namja itu bangkit lalu mengikuti Sooyoung dari belakang. Terlihat Sooyoung mengambil beberapa kantung sayuran dan bahan mentah lainnya dari lemari pendingin.  Ia mulai melangkah menuju westafel dan mencuci sayuran kemudian membersiapkan peralatan-peralatan yang akan digunakannya untuk memasak.

Sedikit Sooyoung melirik kearah namja disampingnya, “Kau bisa memotong sayuran ini? Aku ingin memanaskan air.”

Siwon tersenyum setuju, “Baiklah, jika hanya memotong-motong aku bisa!”

“Bagus !” ucap Sooyoung mulai melanjutkan aktivitasnya. Yeoja itu mulai menumis beberapa bumbu. Awalnya ia agak takut jika Siwon berteriak histeris saat melihat api, tapi mungkin benar ! Jika apinya kecil namja itu akan baik-baik saja.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Sooyoung tiba-tiba disela aktivitasnya menaburi ikan dengan jeruk nipis.

“Apa?” gumam Siwon datar.

Sooyoung meringis menghadap namja disampingnya, “Tapi  jangan marah !”

“Apa dulu yang mau kau tanyakan ?!”

Sooyoung terdiam sejenak, “Ke-napa…” ucapnya menghela nafas panjang. Siwon mengangkat alis.

“Aku takut pada api? Yang berkobar?” Timpal Siwon. Sooyoung mengangguk  cepat mengiayakan, “Kenapa Sooyoung suka memasak?” tanyanya balik.

Sooyoung menggembukan pipinya, “Ih.. aku sedang bertanya?!” kesalnya, “Bilang saja tidak mau jawab !”

Cukup lama mereka terdiam hingga akhirnya Siwon bersedia membuka mulut, “Saat itu aku melihat umma merokok didepan kemudi mobil. Umma merokok akibat frustasi karena Appa berselingkuh dengan wanita lain. Aku yang masih berumur sepuluh tahun hanya diam dan  duduk manis disampingnya.” Cerita Siwon  tanpa menghentikan aktivitas memotong sayuran sedangkan Sooyoung menatap dalam raut wajah namja itu. Banyak rasa sesal yang bersinggah dihatinya. Mungkin tidak seharusnya Sooyoung menanyakan pertanyaan  seperti tadi.

Siwon menghela nafas, “Umma menyuruhku mengambil tas-nya yang tertinggal didalam rumah. Aku pun keluar dari mobil untuk mengambil tas Umma. Aku berlari kencang mengambil tas itu agar umma segera mengantarku ke sekolah, mengingat aku hampir terlambat. Tapi saat aku tiba disana, didepan mataku, mobil itu meledak, mobil itu terbakar dan berarti…”

“Sudah ! Aku tahu… Kau tak perlu menceritakannya lagi, mian…” sesal Sooyoung menatap lurus pada kompor yang menyala.

Siwon hanya terdiam. Tak lama ia kembali berucap, “Kau tahu? Siapa orang  yang bersedia kuceritakan tentang kejadian ini?!”

Sooyoung mendelik lemah, “Siapa?!”

“Hanya dua ! Ahjussi Choi dan Sooyoung !” Ucapnya tersenyum menatap Sooyoung yang tengah merunduk.

“Kau kenapa ?” tanya Siwon dengan wajah penasaran saat Sooyoug mengedip-edipkan matanya berkeli-kali.

“Mataku perih terkena asap, tolong tiupkan…” Pinta Sooyoung  mengibas-ibaskan tangannya didepan mata.

Perlahan Siwon membuka mata Sooyoung, ditiupnya pelan, “Aduh, awh…”

“Jangan bergerak !”

“Perih tahu !”

“Kau bukannya sering memasak ?! kenapa payah sekali si?” geram Siwon, “Awh yak,..” pekik Siwon saat yeoja dihadapannya menyipratkan air kewajahnya, “Hentikan !”

Sooyoung tertawa puas, “Disini sedang gerimis  haha !”

“Jangan bermain-main di dapur !” Siwon masih berusaha melindungi wajahnya dari percikan air. Sedangkan Sooyoung malah tertawa menjadi.

“Memang kenapa,..uhuk..” Sooyoung agak tersedak dengan tertawaanya sendiri. Tenggorokannya mulai menyerak.  Mungkin efek dari pelega tenggorokan yang diminumnya tadi telah habis.

Siwon mengangkat alis, “ Wae?” tanyanya balas tertawa, “Suaramu sudah habis ya? Kau bahkan lupa kalau sedang sakit tenggorokan.”

Sooyoung tak mempedulikan ucapan Siwon dan terus memegang tenggoorokannya.

“Padahal aku ingin bertanya sesuatu yang penting!” Siwon menunjukkan raut kekecewaan.

Sooyoung mendongak seolah berucap ‘apa?’

“Kau punya sepidol?” tanyanya setelah lama berpikir.

“Emm?!”

………………

Suasana terparas hening dibawah sinar mentari yang hangat. Kicauan burung terdengar berkelana dari satu atap keatap lainnya. Kawasan yang didominasi oleh rumah-rumah coklat itu terlihat begitu damai. Menampakkan efek suasana dipertengahan hari. Siang ini angin merhembus pelan. Bergesek begitu lembut menggesek kulit kedua orang yang tengah berpegangan tangan menghalau sepoi angin yang bertiup dari arah berlawanan.

Sooyoung merapikan rambut terurai sebahunya yang berterbangan terkena hembusan angin. Ia mengatur nafas terengah mencoba berbicara sesuatu, “Ke-sini?” tanyanya Singkat karena yeoja itu tahu jika pita suaranya mungkin  sedang tak mampu menjangkau kalimat panjang.

Pelan-pelan Sooyoung menengok kekanan dan kekiri. Tak ada seorang pun disekirtar mereka. Hanya ada kokohan dinding yang berhadapan membentuk sebuah lorong. Dinding dekat pertigaan jalan yang dipenuhi oleh berbagai coretan-coretan. Mungkin tempat itu tidak asing dimata Sooyoung. Mengingat  ia sering melewati tempat ini jika berjalan menuju rumahnya namun yang jadi pertanyaan sekarang  ialah, untuk apa Siwon mengajaknya kesini ? ah ! Sooyoung ingat.

Selagkah demi selangkah Siwon mendekat kearah salah satu sisi tembok. Namja itu duduk bersilah menghadap tembok itu kemudian memberikan isyarat pada Sooyoung untuk melakukan hal yang sama. Yeoja itu pun menurut. Ia berjalan pelan kemudian ikut duduk bersilah.

“Karena aku tidak ingin menyiksa seseorang yang sedang sakit tenggorokan untuk berbicara maka, kuputuskan untuk membawa orang itu kesini !”

Sooyoung melirik sedikit. Banyak dugaan yang mengendap dikepalanya saat ini.

“Aku akan menuliskan sesuatu” Siwon menyerahkan sebuah sepidol hitam. Namja itu tersenyum kemudian berkata, “Kau juga harus menulis jawabanmu ditembok ini.”  Pintanya lalu mulai menuliskan sesuatu. Sesuatu dipermukaan tembok yang membuat kening Sooyoung berkerut.

“Hy, Sooyoung. Yeoja berpipi chubby”

Mata Sooyoung menyipit tajam. Pipinya perlahan menggembung. Ia berpikir tentang maksud Siwon berkata seperti itu. Rupa-rupanya Namja itu sudah tak sungkan-sungkan lagi meledeknnya. Baiklah ! Sooyoung menegankkan tubuhnya. Ia lalu merebut sepidol dari tangan Siwon.

“Hy Siwon-ssi. Namja yang selalu mengejar-ngejar yeoja chubby sepertiku. Artis menyebalkan dan suka membuat skandal… :-p”

Siwon beralih menatap Sooyoung, yeoja disampingnya. Namja itu tertawa kecill saat Sooyoung ternyata tengah menjulurkan lidah panjang kearahnya. Ia pun segera mengambil sepidol dari tangan Sooyoung.

“Apa sebentar lagi kau akan mengusirku?”

“Mmm Aku tidak bisa menjamin untuk itu !”

“Kalau begitu sebelum kau mengusirku, Bolehkah aku mengungkapkan sebuah harapan? Dihadapanmu”

“Apa?”

Siwon menghela nafas panjang, menatap yeoja disampingnya sekilas hingga akhirnya mulai memberanikan diri menuliskan sesuatu kembali.

‘Hanya sedetik ini, Aku ingin merasakan hangat sinar seekor kunang-kunang yang bersedia menerangi setiap bagian gelap dari kekosongan dalam diriku…’

Sooyoung memperhatikan dengan seksama setiap detail dari tulisan namja disampingnya. Tiba-tiba perasaan menggebu seolah menerpa diri yeoja itu begitu saja. Ia pun ikut menarik nafas panjang, bersiap menuliskan sepatah kata.

‘Caranya?’

‘Tersenyumlah padaku sekali saja. Senyum termanis dari seorang Choi Sooyoung. Lalu aku akan pergi !’

Senyum? Sooyoung pun bingung senyum seperti apa yang termanis dalam  setiap lekukan bibirnya. Ia masih terdiam menggigit bibir bawah tampak ragu. Sooyoung hanya mematung begitu pula dengan Siwon. Sekilas namja itu tersenyum kearahnya kemudian matanya kembali menerawang kearah tulisannya sendiri. Sedangkan Sooyoung ? Ia sibuk mengingat senyum Siwon barusan. Ia juga ingin melihat senyum itu sekali lagi… dan.. selamanya?

“Kau pernah menyekapku ditembok ini dan berkata saranghae tapi kutolak, iyakan?” Sooyoung menullis pelan seraya masih menggigit bibir bawahnya.

Bola mata Siwon ikut berputar mengingat kejadian diwaktu lalu. Ia mengangguk pelan kemudian mulai memperhatikan tangan Sooyoung yang mulai kembali menulis.

“Sekarang maukah kau menanyakannya sekali lagi?”

Degup jantung itu semakin terasa. Siwon tersontak saat kalimat itu terukir pelan dari garis tangan Sooyoung. Namja itu terdiam membisu. Maka inilah yang ditakutkannya. Perasaan tak mampu berkutik sedikitpun. Gamang bagaimana cara mengatur nafasnya yang mendadak amburadul. Sistem sarafnya berantakan hingga tangannya sedikit bergetar saat kembali menuliskan sebuah pertanyaan. Bukan, lebih tepatnya pengakuan yang menunggu sebaris jawaban.

‘Sooyoung-ah mulai saat ini, maukah kau berhenti menghindariku? Berhenti membohongi perasaanmu sendiri dan melihatku sebagai seseorang yang akan selalu hadir dalam hatimu selamanya ? Sarangahe.’

Titik. Sebuah kalimat berhasil diselesaikannya dengan susah payah. Siwon segera menyeka keringat yang mengucuri keningnya dengan begitu deras kemudian sekilas melirik Sooyoung yang masih terdiam.

Ya’  tulis Sooyoung dalam tulisan singkatnya. Ia tertunduk tersenyum tanpa henti.

Berlari kegirangan, itulah yang ingin sekali dilakukan Siwon saat ini. Ia ingin sekali berteriak begitu keras namun orang-orang mungkin akan berdatangan. Reflex namja itu merengangkan kedua tangannya kemudian tersenyum, “Kau tidak ingin memelukku?” tanyanya menatap kearah Sooyoung yang masih menunduk. Yeoja itu pun mendongak lalu beralih memeluk namja dihadapannya erat.

Sooyoung melepaskan pelukan itu. Raut mukanya berubah bingung. Ia lalu menuliskan sebaris kalimat pada dinding tembok.

‘Ngomong-ngomong nasib makanan kita bagaimana?’

Siwon terdiam. Benar juga !  Tak lama namja itu tersenyum meringis memandang yeoja disampingnya. Sooyoung pun membalas senyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya. Keduanya saling memandang hening kemudian tertawa bersama.

Sooyoung segera bangkit dari posisinya, begitu pun dengan Siwon. Sooyoung ingat jika masakannya baru setengah jadi. Lama kelamaan makanan tersebut bisa disemuti, lengket dan malah berkurang kelezatannya.

“Gomawo untuk hari ini…” ucap Siwon memutus pikiran Sooyoung yang tengah menerawang bebas.

Yeoja disampingnya balas tersenyum seraya memperlihatkan lekukan eye smile …

~Cup~

Sooyoung mencium pipi kiri Siwon seketika. Mata namja itu terbelakak Lebar. Ia baru saja akan menoleh saat mendapati Sooyoung sudah berlari kencang menuju rumahnya.

“Yak !” Siwon bergumam pelan memegang pipi kirinya.

Kini hanya ukiran senyum yang tersisa…

………To be Continued…….

Nb : Author Nasha janji kelanjutannya nga bakal lama kok, Janji (V) deh peace… Oke oke jadi jangan bosen dulu. Pokoknya tetep tungguin yah please #memelas

~Bye Bye~

 

13 thoughts on “SuGen FF Soowon – I Love You For a Reason… (Part 10)

  1. lulu_paramita berkata:

    soowon makin oke aja deh… Udah jadian, cie cie cie🙂

    semoga kelanjutannya ga lama kaya part ini deh hehe
    hrs lanjut yah.,.

    Fighting !

  2. ze_thia berkata:

    aahh akhrny publish jg
    yeyy akhrny soo eonni jjr dg perasaanny sendirii
    oke thor jangan lama2 ya next partny
    author jjang!!

  3. irina.jung berkata:

    yey…update! Thank you unnie,, ini bner” bgus, I Got The Feel,feelny dpt bgt,, SooWon is real! Guardians jjang! Author jjang! Waiting for your next update (=

  4. Auralia Zalzabila berkata:

    Ho ~Akhirnya ~🙂

    Aku cuman mau tanya Thor,Itu Pas Sooyoung bicara sama Jessie kan suaranya baik-baik ajah.Trus kenapa pas bicara sama Siwon suaranya jadi parau?aku bingung🙂
    tolong jelasin yah🙂

    overall kece🙂 Aku pasti tunggu kelanjutannya ko ~ Fighting ya!🙂

    • nanashafiyah berkata:

      oh wktu soo bngn tdr kan dia ngerasa suaranya emang rada ngilang.. Wkt sica dtng ya msh ada gt suaranya. Eh pas mkn kesana mkn parah…
      Mkanya pas ngomong ma sica kan cm sptah dua kata doangan…. Gt deh mian kalo rada bngung…
      Mungkn aku kurang kasih penggambaran kali yah mian…
      Pokoknya suaranya sooyoung tuh kea orng lg sakit tenggorokan ajjah. Kadang suaranya ngilang kdang ada… Itu pengalaman pribadi aku soalnya wkt sakit tenggorokan. Mian kalo g sama hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s