SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 10-END)

Image

Title :  Why I Hate You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance, Family

Rating : PG-17

Cast : SNSD  Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : SNSD  member, Super Junior Sungmin, F(x) Sulli

Soundtrack :   SNSD  –  Day By Day

                       SUJU –  Reset

Anyong Haseyoooo para reader semua….

Akhirnya kita sampai juga dipenghujung part ff Yoonhae berjudul ‘Why I Hate You’ ini..

Gak terasa kan? #ciuss?

Oke oke ini emang agak lama, tapi yang penting selesai !  So, para reader sekalian, udah cepetan !  gugurin tuh lumut dibadan hahahaha #plakk

Pada penasaran kaaan, bagaimana kisah YoonHae selanjutnya ?

Yesungdah (?) langsung aja yupzzz…

Happy Reading All…

Part 10

Adakah alasan untuk membenciku???…. “Why I hate you”

Perasaan Yoona mendadak kikuk. Yeoja itu pun bangkit dan membungkuk pada ummanya, “Anyong haseyo Umma…”

Tanpa aba-aba, nyonya Im langsung mengambil posisi disamping anaknya, Ia megatur nafasnya yang kedengaran tersenggal kemudian mulai bercerita, “Yoona, mianhae ! Umma datang secara mendadak !”

“Wae Umma, ada apa sebenarnya?” tanya Yoona penasaran.

Yeoja paruh baya itu kembali menghela nafas, “Begini, sebenarnya Umma kesini karena diajak oleh Ahjussi- mu yang juga pengacara ! Beliau ingin sekali bertemu dengan Appa, tapi kau tahu? Appamu itu keras kepala sekali, Dia tidak ingin masalah ini diurus, Appamu malah ingin terus mendekap di sel tahanan ! Dasar ! Omooo ! apa yang sebenarnya dipikirkan appamu ?” kecewa Nyonya Im menepuk dadanya pelan.

“Mungkin Appa merasa bersalah !” Terawang Yoona dengan mata yang nyaris berair. Cukup lama keheningan melanda. Hingga yeoja itu pun bergeleng pelan mencoba mengalihkan pikirannya sendiri, “Apa setelah ini Umma akan kembali ke Busan?”

“Ani..” jawab nyonya Im cepat, “Ahjussi punya usaha toko roti disini, jadi Umma diberikan tanggung jawab untuk menjaga toko itu…”

Mata Yoona membulat, “Jeongmal?”

Nyonya Im mengangguk, “Nde” ucapnya lalu buru-buru meyelingi saat Nyonya Lee terdengar berdehem cukup keras,  “Yoona kupikir kau yang sakit..” ucap Nyonya Im  dengan wajah bingung.

“Bukan dia tapi anakku..” timpal nyonya Lee kemudian menatap setengah memohon. Jujur, Ia sedikit tidak menyukai sikap nyonaya Im yang seolah enggan menyadari kehadirannya. Namun yeoja paruh baya itupun sebisa mungkin berusaha menghindari konflik yang mungkin bisa muncul kembali.

“Bisa, kita bicara sebentar ?” ucapnya pada nyonya Im seraya beralih menatap Yoona, “Yoona-ah kau boleh masuk, Dokter itu sudah keluar !”  Nyonya Lee melirik beberapa orang berjas putih yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

“Nde Umma, aku masuk dulu..” patuh Yoona.

Yoona akhirnya beralih masuk ke ruang dimana Donghae dirawat. Meninggalkan ummanya dengan Umma mertuanya berdua memang cukup berat. “Mungkin mereka bisa lebih akrab bila ditinggal berdua” batinnya.

Pandangannya teralihkan pada seorang namja yang sedang terbaring di tempat tidur. Iapun segera menghampirinya. Mungkin sedikit meghiburnya.

“Donghae Oppa, kau sudah baikan kan?” Yoona duduk disamping tempat tidur pasien seraya  melipat kedua tangannya.

“Lebih baik dari sebelumnya…” jawabnya tersenyum namun sedikit meringis kesakitan.

Yoona menatap sekelilingnya kemudian berkata, “Kapan Kau bisa keluar dari ruangan sempit, bau obat, sepi dan sunyi ini?”

“Aku bisa keluar sekarang, jika sang ratu yang meminta !”

Bibir Yoona mengerucut. Jawaban Donghae sungguh jauh dari harapan. Mana mungkin baru sadar sudah mau keluar? Harusnya namja itu menjawab ‘tiga hari lagi, lima hari lagi, seminggu lagi’ atau kapan pun. Bukan jawaban semu seperti tadi, dasar namja ! Sedikit menatap sebal Yoona memasang raut serius, “Baiklah, keluar sekarang !”

“Mwo?!”

“Ya, sekarang !” Yoona menatap Donghae penuh keyakinan. Tak lama ia pun tersenyum jahil saat  namja itu  mendadak terdiam dalam pikirannya,  “Kyaaa…  aku hanya asal bicara !” sergahnya memacah keheningan.

“Baiklah ! Aku akan keluar hari ini juga !”

“Mwo?!” Kali ini, Yoona balik memasang wajah terkejutnya.

…………………………..

Disebuah lorong rumah sakit, dua orang yeoja paruh baya sedang terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Salah satu yeoja berbaju coklat tua dengan rambut pendek tengah sibuk memperhatikan pantulan dirinya pada marmer  lantai putih rumah sakit. Sedang yang satunya lagi, yeoja berbaju hijau toska dengan sanggul dikeplanya itu tengah melihat langit-langit diatasnya.

“Nyonya Im, lama tak melihatmu..Bagaimana kabarmu ?” ujar yeoja paruh baya berbaju hijau tosca  memulai pembicaraan.

“Baik..! tapi tak sebaik dulu.”

“Hmmm, Walaupun sekarang keadaan memburuk, kita masih tetap satu keluarga kan ? tidak maksudku anakmu dan anakku sudah menikah dan sebentar lagi kita akan mempunyai seorang cucu…jadi, mungkin lebih baik…mm maksudku…kita bina hubungan yang baik !! maaf jika perkataanku lancang tapi…”

“Kau benar, sangat benar..tapi aku butuh waktu untuk mencerna semuanya, biarkanlah semua berjalan secara alami, sesuatu yang dibuat-buat juga tidak baik, iyakan ?

“Nde, kau benar, baiklah !” Ucap Nyonya Lee berpikir ragu sejenak kemudian menyambung, “Oh ya..! kau sudah makan siang ? kalau belum, maukah kau makan siang denganku ?”

“Tentu saja, tapi bagaimana dengan mereka ?”

“Kau seperti tak pernah muda saja. Mereka tak akan mau makan bersama orang tua. Sebaiknya kita tidak mengganggunya ! kau mengerti kan ? ucap nyonya Lee sambil tersenyum simpul..

“Iya, aku mengerti.. !”

Clekk… Pintu ruangan tempat Donghae dirawat terbuka. Terlihat yeoja dengan wajah ditekuk berjalan kearah dua yeoja paruh baya yang sedang menatap heran.

“Yoona, ada apa?” tanya Nyonya Im menghampiri anaknya diikuti Nyonya Lee yang menyusul dibelakang.

Yoona mendengak menatap ragu kearah ummanya, “Umma, apa boleh Donghae Oppa keluar hari ini?”

“Mwo?”

“Iya, dia ingin keluar hari ini…”

Nyonya Lee terdengar menghela nafas, ”Omo.. anak itu, diakan belum pulih betul.”

Yoona kembali tertunduk. Sebenarnya Ia sangat berharap jika Donghae diizinkan untuk keluar dari  rumah sakit hari ini juga. Namun benar ! kondisi Donghae memang belum sepenuhnya pulih. Untuk mengetahui kondisi namja itu lebih lanjut, ada baiknya jika Yoona menemui dokter secepatnya.

“Umma, aku akan menemui Dokter !” ucap Yoona akhirnya.

“Nde, tapi apa perlu Umma temani?” tawar Nyonya Im.

“Anyoo aku bisa sendiri, Umma tetap disini !”

“Nde  baiklah, jangan lupa kabari  kami perkembangannya !”

……………….

Sudah diputuskan. Karena hanya tinggal istirahat dan pemulihan, Dokter telah mengizinkannya untuk menjalanai rawat jalan. Kini, seminggu sudah Donghae hanya menghabiskan waktunya di apartemen untuk beristirahat. Sesekali Ummaya datang dan mengecek keadaan namja itu. Terkadang Donghae merasa seperti seorang anak kecil yang haus akan pertolongan. Namun tentu, hal itu lebih baik. Setidaknya  Ia lebih nyaman beristirahat di apartemennya dibandingkan dengan tempat bernama ‘Rumah Sakit’. Terlebih selalu ada Yoona disampingnya. Meskipun akhir-akhir ini sikap kehawatiran yeoja itu selalu saja mencapai tingkat paling akut, Namun Donghae berusaha memaklumi. Mungkin itu wajar. Sangat wajar malah ! Dan itu menyenangkan.

Hari  ini Donghae merasa jika penderitaannya telah berakhir. Akhirnya namja itu bisa kembali bekerja. Setelah sebelum ini Ia terus saja menghabiskan waktu membosankannya untuk beristirahat di apartemen. Yah waktu yang membosankan jika Yoona beranjak menuju kampus dan meninggalkannya seorang diri. Sangat sunyi bukan?

Saatnya bersiap, Donghae menenggak habis segelas air yang baru saja dituangnya dari dispeanser. Namja itu menuangkan kembali air pada gelas yang mulai kosong , Ia pun berkesiap menenggaknya kembali.  Namun aktivitas itu sontak terhenti saat indra penciumannya menangkap aroma sesuatu. Donghae menyipitkan matanya sembari mengingat. Ini aroma parfumnya ! Yah tentu saja ! Tapi Ia tidak sedang memakai parfum. Apa tertumpah? Ya ampun !

Bergegas Donghae menuju kamarnya. Mencoba mengecek takut-takut parfum itu memang tertumpah. Dugaan panik yang sebenarnya salah. Sebuah kepanikan  beralasan semu karena ternyata parfum itu tidak tumpah, melainkan ada yang memakainya. Siapa lagi ? Orang di apartemen itu selain dirinya, Yoona. Yeoja itu, aneh sekali !

“Yoona-ah, apa parfummu habis ?” tanya Donghae penasaran.

Yeoja itu hanya meringis lebar, “Aku sudah membuang parfumku ke tong sampah ! Aromanya membuatku mual ingin muntah ! Aku lebih suka wangi parfum ini !” jawabnya sembari memperlihatkan sebuah botol kaca 10 cm dengan tutup plastik berwarna merah tua.

Donghae mengangkat alis, “Tapi itu parfum namja.”

“Biarkan saja !” ucapnya enteng kemudian beralih memperlihatkan raut memohon, “Parfum ini untukku saja yah ?”

“Mwo? Kau serius?” tanya Donghae semakin heran.

“Tentu saja !” Yoona tersenyum kemudian berjalan melewati tubuh namja yang kini sedang dikerubuti oleh tanda tanya besar dikepalanya.

“Ayo kita berangkat ! Kau jadi mengantarku ke kampus kan?” sahut yeoja tu dari kejauhan.

“Nde….” Donghae balas menyahut.

Segera Ia melangkah ketempat Yoona berada. Terlihat Yoona telah siap dengan baju kaos biru tua, celana jeans hitam dan sepatu cat hitam putih. Penampilan yang terbilang sangat sporty casual.

Donghae mengambil tasnya diatas meja, kemudian beralih memakai sepatunya, “Kaja, kita pergi !” ucapnya menggandeng tangan Yoona. Menggenggam erat tangan dingin itu. Entah mengapa tangan yeoja itu lebih dingin dari biasanya. Entahlah.

Dibutuhkan waktu lima menit untuk berjalan ke parkiran apartemen. Donghae membuka pintu kanan depan mobil, mempersilahkan Yoona untuk naik, kemudian ikut menyusul masuk dari pintu kemudi mobil.

“Kau sedang apa?” tanya Donghae saat melihat Yoona sibuk  memperhatikan jalan yang mereka lalui.

“Aku sedang  melihat pemandangan diluar !  belum tentu kita bisa melihatnya besok kan?

Donghae tercekat, “Mwo?”

Yoona terdiam membiarkan namja disampingnya memasang tampang seolah meminta penjelasan. Sekali lagi saat Donghae mencoba membuka mulut, Yoona begitu cepat memotong, “Oppa, Saranghae.”

Donghae mendelik ketika yeoja itu mulai menyambung, “Akhir-akhir ini aku sangat merindukanmu, begitu juga Appa dan Umma… Aku ingin terus melihat wajahmu, aku.. takut jika suatu hari aku tak bisa melihatmu lagi ! Saranghae Oppa…”

Berhenti. Mobil yang dikendarai Donghae menepi. Namja itu menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Berusaha menahan sejuta pertanyaan dari misteri kebingungannya sejak tadi. Sejuta pertanyaan tersebut  perlahan akan dikeluarkannya satu-persatu dan sesegera mungkin sebelum yeoja itu kembali menyela dan..

“Yoon…” Donghae menggantung kalimatnya sendiri saat yeoja itu tersenyum lebar kearahnya. Senyum sederhana yang berbekas sangat dalam. Ia berbeda. Tersenyum seperti itu sungguh terlihat, jauh berbeda. Namja itu seakan terhipnotis. Hanya mampu berucap, “Nado.. Nado saranghae.. Yoona-ah..”

“Gomawo..” Balas Yoona masih dengan senyumnya. Senyum yang perlahan memudar saat Donghae semakin memajukan wajahnya. Semakin dekat hingga mata yeoja itu terpejam…

Beberapa detik berlalu, semuanya berakhir. Donghae tersenyum singkat berusaha menghilangkan segala pikiran buruknya tentang sikap Yoona. Tunggu ! Pikiran buruk? Memangnya apa yang harus dipikirkan?

Namja itu pun kembali melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat tertunda. Menuju ke kampus Yoona. Kurang lebih tujuh menit yang mereka butuhkan untuk sampai ditempat tujuan.

Yoona melepas sabuk pengamannya kemudian menatap mata namja disampingnya begitu dalam, “Aku pergi ! Jaga dirimu…”

“Kau juga… Jaga dirimu…” balas Donghae agak ragu.

Yeoja itu kembali tersenyum lalu melangkah keluar. Ia membungkuk melambai-lambaikan tangannya sebelum mobil putih itu melaju. Hal yang biasa namun hari ini sangat luar biasa, aneh atau tidak biasa?

……………..

Satu menit lagi. Yoona berjalan tergopoh, menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya. Sesekali yeoja itu membungkuk meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Juga beberapa kali melirik jam tangannya. Ternyata tinggal setengah menit lagi, itu pun jika waktu pada jam tangannya pas, tidak lebih lambat dari seharusnya. Yah, yeoja itu baru mengingat jika pagi ini adalah jam kuliah dosen killer dalam sejarah perkuliahan. Terlambat sedetik, bersiap mendapatkan tatapan mematikan ! Ya Tuhan…

Langkah Yoona semakin cepat saat melewati lorong kelasnya. Melihat pintu kaca itu membuat hatinya sedikit melega. Sedikit lagi. Semakin cepat dan, untunglah ! Dosen itu belum datang. Terlihat kebanyakan teman-temannya masih sibuk bergosip. Sedikit yang sedang membaca buku. Kalau pun ada itu pasti, Seohyun.

“Annyong..”  sapa Yoona dengan nafas tersenggal. Yeoja itu pun duduk pada kursi barisan ke-tiga disamping jessica.

“Annyong Yoona-ah…” sapa teman-temannya balik sembari menatap prihatin atas kondisi Yoona yang penuh dengan keringat.

Begitu cepat, Yoona segera mengorek tasnya. Yeoja itu mengambil sebuah sapu tangan biru, melap wajahnya yang bercucuran keringat. Tangannnya sibuk mengangin-angini kerah bajunya, sesekali mengambil buku lalu mengibas-ibaskan benda tersebut persis didepan wajahnya.

“Untung saja dosennya belum datang !” ujar Yoona dengan nada penuh kelegaan.

“Dosennya tidak datang, Ia sedang sakit ! Makanya jadwal hari ini diganti hari lain !” Sunny yang sedari tadi memperhatikan Yoona menimpali.

“Mwo? Lalu, untuk apa aku berlari?”

Sunny mengidikkan bahu, “Entahlah ! Aku baru saja ingin memberitahumu, tapi kau sudah datang duluan !”

Yoona mendengus merasa usahanya percuma. Tak lama Ia mengernyit ketika mencium aroma tubuhya yang berbau tidak enak. Yeoja itu pun segera mengambil parfum dari dalam tasnya, parfum milik Donghae yang telah berpindah tangan. Segera Ia semprotkan parfum itu pada bagian leher dan lengan. “Ini baru wangi…”

“Apa ada namja yang duduk disekitar kita?” terdengar suara selidik Jessica yang sedari tadi sibuk memasang kuteks ditangannya

“Kurasa tidak !” jawab Taeyeon yang sedang memainkan handphonenya.

“Lalu kenapa aku seperti mencium bau parfumnya?”

Pandangan Sunny sontak mengarah pada Yoona, “Yoona-ah.. Kau baru saja memakai parfum kan?”

Yoona mendelik ragu, “Nde?”

“Benarkah?” Jessica mengarahkan penciumannya pada tubuh Yoona, “Benar juga !”

“Parfum siapa yang kau pakai ???” tanya Sunny dengan senyum meledek. Padahal temannya itu pasti sudah tahu…

“Apa punyamu habis?” tanya Jessica kembali.

“Aniyoo aku sudah membuangnya, aku benci baunya ! Aromanya itu membuatku mual.”

Sunny memasang wajah kaget, “Benarkah? Dan kau lebih menyukai aroma parfum namja?” tanya Sunny antusias membuat Yoona mengangguk pelan.

“Wah berarti, itu pertanda bahwa anakmu adalah seorang namja. Itu jenis kelaminnya !” sergah Taeyeon tiba-tiba diikuti oleh senyum persetujuan Sunny.

“Sudah melakukan USG?”

“Aku sudah sering memeriksanya. Ini baru memasuki tiga bulan, mungkin belum kelihatan…” Jawab Yoona seraya memutar pandangannya heran dengan sikap antusias teman-temannya.

“Tapi dari tanda-tandanya jelas bukan ? anakmu namja !” Sunny kembali menimpali

“Benarkah?”

………………

Sudah terlalu lama cermin itu memantulkan siluet ‘T’ seseorang. Pantulan  dari cahaya remang-remang  lampu kamar itu menimbulkan efek meredup.  Begitu menyamarkan penglihataan. Hanya kesamaran dan itu lebih baik ! Yoona sungguh merasa aneh pada dirinya sendiri. Tentu saja, merasa aneh dengan bentuk tubuhnya sendiri. Bentuk tubuh yang kurus tinggi dengan perut yang membuncit. Aneh bukan? Tubuhnya terasa berat. Terlebih saat sesuatu didalam terasa menendang-nendang. Tendangan yang cukup keras dan seringkali membuat perutnya keram.

Benar juga. Ucapan Sunny lima bulan yang lalu sepertinya cukup beralasan. Alasan bahwa jenis kelamin dari bayi yang dikandungnya sekarang adalah laki-laki. Padahal Yoona berharap sebaliknya. Akan jauh lebih menyenangkan jika mempunyai anak perempuan.

Namun tak apa ! Baik itu laki-laki atau perempuan mungkin sama saja. Yeoja itu hanya bisa berharap tetapi Tuhan yang menentukan. Ia sudah cukup bersyukur karena hingga sekarang tepatnya delapan bulan kehamilannya, Yoona belum mendapatkan masalah yang berarti. Termasuk ngidam yang aneh-aneh. Mungkin karena anak ini adalah seorang namja, tidak rewel rasanya. Hanya saja mungkin cara mengidam yeoja itu lebih kepada ‘sikap’. Yah, sikapnya mungkin lebih maskulin dibanding biasanya. Lebih cuek, malas bersih-bersih, mencuci piring, membiarkan apartement berantakan dan hal-hal seperti itu ! Kadang Donghae yang harus melakukan semua pekerjaan itu. Kasihan sekali dia !

Sekarang, masalahnya adalah Yoona menjadi alergi tentang hal-hal yang berbau feminim. Misalnya saja, berdandan, menyisir rambut, dan satu lagi, hal yang sangat menjijikkan menurutnya. Adalah memakai rok. Dan itu harus dilakukannya hari ini. Dikarenakan adanya peraturan salah satu mata kuliah yaitu “Mahasiswi diwajibkan memakai rok”. Memakai rok !  Oh my God ! Cobaan apa lagi ini?

Clekkk… suara pintu terbuka membuat Yoona mengalihkan pandangan dari cermin dihadapannya. Terlihat namja yang sedang memegang handuk dengan wajah yang berkerigat masuk dan menatap heran.

“Kau sedang apa?” tanyanya dengan kening berkerut.

“Bercermin !” Jawab Yoona dengan nada yakin.

“Selama itu? Kupikir kau sedang memakai rok…”

“Donghae Oppa ! Kau saja yang pakai roknya.” Decak Yoona sebal. Kenapa namja itu terus saja meledeknya ?!

Donghae tersenyum geli, “Aku ini namja, sayang !” ucapnya mendekat ketempat Yoona berada. Segera Ia memeluk yeoja itu dari belakang.

“Kau bau… Oppa ! Sangat bau…” protes Yoona seraya menggeliat pelan.

“Aku selesai mengerjakan tugas darimu, mengepel lantai, bersih-bersih, mmm.. membetulkan keran yang bocor, mencuci piring, beres kan?”

“Satu lagi…” sanggah Yoona

“Satu lagi? Baiklah, katakan !”

“Cepat mandi !” tegasnya.

“Tapi sebelum itu, beri aku reward karena telah mengerjakan tugas darimu, ibu guru.”

Yoona menghela nafas, “Baiiklah cepat kat…”

Semuanya terhenti. Bibir Yoona terasa sulit bergerak saat sesuatu menguncinya dari belakang. Yeoja itu hanya mampu mengikuti gerak-gerak bibir yang seolah menariknya, hingga wajahnya beralih menyamping. Sedangkan Donghae semakin memajukan wajahnya yang mulai terasa memanas. Beberapa menit setelah itu, persedian nafas mereka semakin menipis. Donghae berusaha mengambil nafas begitu pun dengan Yoona. Yeoja itu yakin jika saat ini wajahnya tengah merona malu.

“Gomawo, atas reward-nya, aku akan semakin rajin !” Donghae memopang dagu pada pundak yeoja yang menurutnya begitu berarti. Sangat !

“Benarkah? Berarti kau tidak lupa tentang tugasmu sekarang kan? Mandi !” peringat Yoona.

“Aku pernah berkata seperti itu?” tanyanya berusaha mengingat, pura-pura lupa atau entahlah ! Yang jelas delikan tajam Yoona membuatnya menyerah juga,“Oke, baiklah..” ucap Donghae mengecup pipi kanan Yoona lalu pergi begitu saja. Sontak yeoja itu terbelakak dan menatap “awas saja dia !”

Terdengar suara percikan air dari kamar mandi. Sepertiya namja itu sedang menjalankan tugasnya. Tugas ? Perintah dari Yoona adalah tugas bagi Donghae. Melanggar tugas akan mendapatkan hukuman sementara menjalankan tugas akan mendapatkan reward. Reward dan hukuman itu sendiri berupa… errr… Rahasia ! (Hahahahaha ><) Sebagian sudah terlihat, bukan ?

Sementara Donghae sibuk berbasah- basah ria dikamar mandi, Yoona sibuk untuk menyiapkan pakaian kerja namja itu, sepatunya, barang-barangnya, semua ! bahkan menyiapkan penghapus karet harus Yoona yang mempersiapkan. Namja itu sedikit pelupa ! Jadi, sebelum segalanya kacau, Yoona secepatnya harus bertindak !

…………………..

“Aku pergi dulu…” pamit Donghae saat mereka tiba didepan pintu. Namja itu tesenyum kemudian berlutut menempelkan telinga kanannya pada perut Yoona yang semakin hari kian membesar, “Appa pergi dulu…” ucapnya kembali megecup sebuah  tempat dimana seorang makhluk suci tumbuh dan berlindung.

Donghae bangkit dari posisinya dan segera mengecup kening Yoona, “Jaga dirimu ! Juga anak kita !”

“Nde..” Yoona tersipu memandang punggung namja yang kian menjauh. Ditutupnya pintu apartemen itu dengan senyuman yang sulit terlepas dari bibir merahnya. Senyum yang sekarang, senyum kebahagiaan, bagaimana dengan nanti?

Yoona mendudukkan tubuhnya pelan-pelan diatas sofa. Yeoja itu menghela nafas sembari mengingat tentang hal apa yang membuatnya merasa bahagia. Masa-masa kehamilan, perhatian Donghae, umma Donghae, ummanya, Appanya meskipun tengah berada dalam posisi sulit, juga teman-temannya. Semua itu adalah sumber kebahagiaan. Entah dibalik kebahagiaan itu, masih ada sesuatu yang mengganjal. Tentu saja restu dari Appa mertuanya, tuan Lee. Yeoja itu ingin sekali menjenguknya, namun Donghae bahkan appanya selalu saja melarang !

“Ting Tong..” Terdengar suara bell apartement berbunyi. Suara yang begitu sukses membangunkan Yoona dari lamunan panjang. Ia segera bangkit lalu berjalan memegang punggungnya menuju kearah pintu.

“Umma…” Gumam Yoona saat melihat seseorang dihadapannya itu, Nyonya Lee.

Nyonya Lee masuk dan duduk disofa ruang tengah berhadapan dengan menantunya. Ia menatap Yoona dari ujung kaki hingga ujung rambut, kemudia tersenyum, “Kau belum menyisir rambutmu, sepertinya kau juga tidak memakai bedak ! kau tidak memakai lipstik dan…”

“Mian umma,” Yoona menundukkan wajah sedikit.

“Jangan bersikap kaku begitu, santai saja !” ucapnya dengan ramah lalu menerka, “Aku tahu semenjak kehamilanmu berjalan, kau pasti malas mandi, bersih-bersih, berdandan, bercermin, apa lagi memakai bando, iyakan?”

Yoona mendelik, tak menyangka jika umma mertuanya itu bisa menebak apa yang terjadi. Mungkin Donghae yang memberitahunya. Huh, padahal Namja itu sudah berjanji untuk tidak memberitahu tentang keanehan itu pada siapa pun.

“Bukan Donghae yang memberitahuku.” Sanggah Nyonya Lee seolah bisa membaca pikiran yeoja yang sepertinya sedang menerka sendiri.

“Mwo?”

“Ibu donghae juga pernah mengalaminya saat mengandung Donghae dulu. Itu wajar bukan, jika kau juga mengalaminya..” ucapnya sambil tertawa kecil.

“Mwo? Jadi?” kejut Yoona sembari menyimpulkan. Pantas saja. Ternyata Umma kandung Donghae juga merasakannya. Berarti keanehan yang terjadi pada diri Yoona adalah warisan dari namja itu. Satu hal yang patut disyukuri-nya sekarang. Bahwa ternyata keanehan itu bukan berasal dari dirinya ! Tapi Donghae !

Dengan segenap hati, Yoona membuka mulut, “Bagaimana dengan memakai rok?”

Umma mertuanya tampak terkejut, “Memakai rok? Apa Donghae memaksamu memakai rok…?”

“Anyoo… itu hanyalah persyaratan agar bisa ikut dalam mata kuliah hari ini ! yah, hari ini akan ada seminar… “

Sejenak nyonya Lee terdiam seperti tengah mengingat sesuatu, “Sebaiknya tak usah kuliah ! Kau pasti akan mual dan bisa – bisa pingsan jika memakai rok itu. Umma Donghae sudah mencobanya dulu !”

“Mwo?”

“Lebih baik kau melakukan hal yang lebih menyenangkan..”

Yoona mengerutkan kening, “Lebih menyenangkan?”

“Kita memasak !”

………………………….

Masih berkutat, Donghae berjalan sambil melihat hasil rapat ditangannya. Kemungkinan besar masih banyak hal yang perlu dibenahi. Sistem administrasi, laba, investasi dan masalah lainnya. Cukup memusingkan jika harus memeriksanya satu persatu.

Hanya semeter dari jarak pintu ruang kerjanya, Langkah Donghae terhenti. Terlihat yeoja tinggi kurus berblouse ungu muda dengan potongan kerut didada serta memakai laging hitam tengah berdiri disamping pot didekat pintu. Ia terlihat menenteng sesuatu ditangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sibuk mengelus pelan perutnya yang tengah ditumbuhi oleh janin.  Rambut panjangnya di-ikat asal. Ciri khas seseorang. Yoona.

“Yoona-ah..” Panggil Donghae dengan nafas tersenggal.

Yeoja itu  menoleh lalu tersenyum, “Hai…” sapanya.

“Hai… kenapa tidak menelpon ?”

“Handphonemu tidak aktif,” jawabnya cepat.

Donghae berpikir sejenak. Ia mengingat jika sedari tadi dirinya sedang ada di ruang rapat, “Oh, mian..” ucapnya lalu cepat-cepat menarik tangan Yoona, “Kaja…”

Yoona memutar pandangannya di ruangan bercat coklat muda itu. Diperhatikannya setiap sudut yang ada disana. Dibagian tengah agak kepinggir terpasang dua jejeran sofa merah. Didekatnya terdapat meja bundar bermuatan penuh. Komputer dan beberapa map tertata abstrak. Yeoja itu mengerutkan kening, “Kau tidak mengatur mejamu?”

“Aku tidak sempat dan bingung harus kuatur bagaimana,” kilah Donghae berjalan menuju meja kerjanya.

“Oh ya?” Yoona memasang wajah ingin tahu,  “Bagaimana jika aku mendaftar sebagai sekertaris baru dan merapikan mejamu…”  ujarnya dengan wajah sok antusias.

“Begitu? Kau akan langsung kutolak !” jawab Donghae berdiri mengamati sebuah kertas ditanganya.

“Alasannya?”

Pandangan Donghae beralih pada yeoja yang kembali mengamati suasana ruangan, “Karena kehadiranmu mengganggu konsentrasiku, sayang…” ucapnya menghampiri yeoja itu. Ia terlihat mendelik heran.

Segera namja itu melingkarkan tanganya pada piggang berisi Yoona. Ia kemudian membisikkan sesuatu pada yeoja dalam dekapannya,  “Kau mungkin tahu jika kehadiranmu  membuat otakku berhenti memproses, pekerjaanku bisa-bisa terbengkalai karena terlalu sibuk memandang wajahmu…”

Yoona menggeliat pelan saat merasakan nafas hangat yang menyapu leher jenjangnya, “Ini kantor Oppa ! Jangan lakukan hal itu disini…”

“Aniooo,” bantah Donghae bersimpuh dihadapan Yoona. “Aku hanya ingin menyapa seorang makhluk kecil. Seseorang selain kita di ruangan ini.”

Senyum Yoona merekah mengetahui seseorang yang dimaksud namja itu, “Dia terus saja menendang-nendang, kadang-kadang bergerak-gerak tak jelas. Kurasa dia memang merindukanmu, karena itu aku kesini…” terang Yoona  antusias  dengan mata berbinar terang.

“Benarkah?” tanya Donghae diikuti dengan anggukan kecil Yoona. Ia kemudian berucap, “Kapan kau akan lahir? Sebulan lagi? Appa sungguh tak sabar untuk itu…”

“Mmm… ternyata tinggal sebulan lagi..”

“Karena itu jagalah dia untukku..” Donghae mengelus pelan perut Yoona lalu menciumnya lembut.

“Appa aku lapar !” Timpal Yoona menirukan suara anak kecil. Yeoja itu tersenyum memandang namja yang juga tengah membalas senyumnya, “Bukan aku ! Ini pesan dari malaikat kecil didalam !”

Donghae terkekeh pelan lalu bangkit dari posisinya, “Baiklah… ayo kita makan !”

Segera mereka menuju meja didepan sofa. Meja tempat dimana Yoona meletakkan bekal makanan yang telah ia siapkan. Yeoja itu menata makanan diatas meja kemudian menuangkan satu persatu makanan tersebut diatas rantam plastik yang berisi nasi putih.

“Aaaa” Yoona membuka mulutnya leber-lebar, “Beri aku suapan pertama.” Pintanya.

Gulungan telur dadar dengan nasi didalamnya mulai memasuki gua lebar milik Yoona. Dengan lahap yeoja itu mengunyah lalu menelannya.

“Oppa, makanlah juga !” desak Yoona

Hanya sebentar waktu yang dihabiskan Donghae untuk memakan bekal yang dibuat Yoona untuknya. Makanan terlezat yang telah tercipta didunia. Setelah itu, Ia memandang wajah yeoja dihadapannya. Yeoja yang juga sedang melahap makanannya dengan cepat, lebih cepat dari dirinya.

“Aaaa..”Donghae menganga mengisyaratkan bahwa Ia akan memasukkan gulungan telur pada mulut Yoona. Seketika yeoja itu membuka mulutnya. Namun Sial, Donghae malah meledeknya. Namja itu menarik ulur tangannya membuat Yoona memasang wajah sebal.

“Aaaa…” Namja itu menganga sekali lagi, namun tak digubris sama sekali.

Ia bangkit dan berpindah duduk disamping Yoona. Yeoja itu kelihatannya sedang membuang muka. Donghae tersenyum merangkul pundak Yoona dan berusaha memasukkan gulungan telur itu  dari samping.

“Aaa..” Yoona melirik sekilas kemudian membuka mulut. Telur gulung itupun masuk setengah ke mulut Yoona sedangkan namja itu lantas memajukan wajahnya. Memakan setengah sisa dari telur yang belum masuk. Mengunyah bersama makanan yang masuk. Ada rasa yang berbeda dari makanan kali ini. Sebuah rasa dari sensasi menggelikan namun juga menghangatkan.

“Sudah kubilang ini kantor !” Ucap Yoona memanyunkan bibir usai menghabiskan telur gulung istimewanya.

“Tenanglah diruangan tidak ada CCTV,” kilah Donghae.

“Bagaimana jika ada yang masuk !”

“Ini jam istirahat ! tidak akan ada yang datang kemari…” ucapnya mengelus puncak kepala Yoona dari samping.

Adakah yang bisa menjawab? Mengapa seorang namja selalu mempunyai sejuta alasan untuk berkilah ? Sayangnya Yoona seakan termakan oleh alasan itu. Ia pun berpikir.Benar juga ! Tidak ada CCTV dan saat ini adalah jam istirahat ! Sekarang Yoona benar-benar terperangkap dalam sebuah senyuman yang harus dibalasnya. Ia tersenyum…

Ada kebahagiaan dalam senyum itu. Kebahagiaan yang terlepas hingga mampu menjalar begitu cepat. Namun secepat apa pun perjalanan kebahagiaan itu sendiri, tentu akan ada  sesuatu yang menggannjal serta menyendatnya. Terhenti sampai disitu. Layaknya saat hati seseorang merasa jika, masih ada kebencian yang menemani kebahagiannya. Dan itu menghancurkan semua. Itu buruk !

Saat kau bersedih ingatlah bahwa akan ada kebahagiaan yang datang sebentar lagi, begitu pun sebaliknya. Yah, kita harus bersiap-siap untuk menang dan kalah, bertahan atau hancur.  Yoona merenung sejenak kemudian bersiap mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan suasana hatinya sekarang !

“Donghae Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Namja itu mengangkat alis, “Bertanya apa?”

“Tentang appamu !”

Donghae sedikit tersontak, “Appa?”

“Kenapa kau melarangku untuk menjenguknya ?!” tanya Yoona mulai memasang wajah serius.

“Itu karena…”

“Apa?”

“Aku takut kau kenapa-napa… Yoona sebaiknya jangan ! Perasaanku selalu tidak enak jika Appa menatapmu…”

Yoona menghela nafas kesal, “Lalu? Aku harus bagaimana ? Membiarkannya saja, begitu?”

“Anyoo..” Bantah Donghae mencari alasan, “Tunggu waktu yang tepat, tapi tidak sekarang. Kondisimu sangat rentang…”

“Oppa ! Kau pikir appamu adalah penyakit ?”

Namja itu terdiam sejenak. Berusaha berbicara sebaik-baiknya agar Yoona bisa lebih tenang. “Baiklah, aku akan membawamu pada Appa ! tapi setelah…”

“Setelah aku lenyap dari dunia ini ?” Timpal Yoona memberi pertanyaan yang membuat Donghae mengerutkan kening.

“Jika suatu saat aku lenyap, apakah kehawatiranmu akan menghilang?”

“Yoona-ah, apa maksudmu?” Sungut Donghae.

“Maksudku adalah…”

“Kumohon jangan bicara seperti itu ! Masih banyak hal penting yang lebih pantas untuk dibicarakan…” tegas namja itu memotong.

Yoona terdiam, begitu pun dengan Donghae. Sejenak mereka menarik nafas dalam-dalam. Berusaha meredam emosi yang tiba-tiba saja menghampiri. Dan hening..

Hingga Yoona bangkit dari posisinya, “Aku ingin pulang !” ucapnya dingin.

“Biar kuantar !”

“Tak usah ! Bukankah kau harus bekerja ?!”

“Kalau begitu kupanggilkan taxi…” sergah Donghae.

“Terserahmu,” acuh Yoona membereskan barang-barang yang dibawanya kemudian berjalan kearah pintu keluar.

Sedalam perjalanan menuju tempat pemberhentian taxi, Donghae dan Yoona hanya terdiam. Mereka berjalan beriringan membiarkan suasana kaku semakin dalam. Sesekali Yoona menunduk saat merasa jika Donghae diam-diam memandangnya. Tuhan ! Sungguh sutuasi yang buruk.

“Tolong antarkan dia ke apartemen Deong joo…” Donghae berbicara dari jendela samping supir taxi yang akan menyalakan mesin kendaraannya.

“Nde..” patuh sang supir lalu mulai melajukan taxi kuning yang dikendarainya.

Taxi berjalan dan Yoona masih menundukkan wajahnya. Tampak seburat penyesalan yang tersirat disana. Penyesalan tentang sikapnya pada Donghae barusan. Namun apa daya, Yeoja itu pun merasa terbebani sendiri saat membicarakan masalah appa mertuanya itu. Yah, beban yang secepatnya harus di hempaskan.

“Agassi, bisakah kita mengganti arah?” tanya Yoona pada supir taxi didepannya.

“Nde?”

“Antarkan aku ke kantor tahanan polisi Seoul !”

……………………..

Dalam ruangan yang kelabu, Yoona menghela nafas meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakannya sekarang adalah benar. Ia tertunduk seraya menatap perutnya yang kian membesar. Satu  bulan lagi. Waktu yang singkat saat menunggu janin dalam kandungannya lahir kedunia. Mungkinkah dia senang? Dia, Appa mertuanya, Tuan Lee. Apakah dia juga bahagia menerima semua itu?

Terbilang nekat. Meskipun Donghae melarang sampai-sampai mereka harus beradu mulut, Yoona berketetapan untuk menemui appa mertuanya. Ada perasaan bersalah yang menyinggahi hati yeoja itu sekarang. Ia takut Donghae marah terlebih menghawatirkannya. Mungkin ini mengingat dendam yang melekat pada diri tuan Lee begitu kuat. Bahkan untuk melihat Donghae, Appa mertuanya itu begitu sinis. Apalagi jika orang itu adalah Yoona.

Sorotan mata mulai memandang Yoona tajam. Yeoja itu mendelik ketakutan. Bulu kuduknya menancap keatas. Sangat takut saat menerawang tatapan mertuanya yang seolah berkata, “berani-beraninya kau kemari !”

“Aniyong Haseyo…” Sapa Yoona dengan susah payah saat Appa mertuanya itu duduk persis dihadapannya.

“Katakan apa yang mau kau katakan secara singkat, padat dan jelas ! Setelah itu, kau boleh pergi !” pinta tuan Lee.

Yoona menengguk ludahnya, kemudian menarik nafas, “Tidak bisakah Appa menerimaku?” ucap Yoona tanpa basa-basi. Yeoja itu yakin jika kalimat seperti itulah yang diinginkan Appa mertuanya.

Tuan Lee mendelik, “Untuk apa kau meminta orang sepertiku untuk menerimamu? Jangan menyiksa diri !”

“Mwo?”

“Kau tau? Posisiku sekarang buruk ! Aku  hanyalah sampah. Jadi untuk apa kau memohon pada sampah sepertiku ?”

“Appa !”

“Jangan membuang waktu untuk memanggilku dengan sebutan itu…” tegas tuan Lee kemudian membuang wajah, “Sekarang pergi !”

“Mwo?”

“Pergi !” perintahnya dengan nada yang semakin meninggi.

Yoona terperanjat. Tanpa aba-aba tubuhnya berkesimpuh dihadapan tuan Lee, “Appa, kumohon maafkan aku !”

Tuan Lee terlonjak kaget saat melihat Yeoja itu berlutut didepannya, “Hei, apa yang kau lakukan ?!”

“Appa, Kumohon jangan bersikap seperti ini. Kita bisa saling menerima dan segalanya pasti akan membaik..” ucap Yoona masih besimpuh memegang kaki tuan Lee.

“Lepaskan !” seru tuan Lee berusaha melepas genggapan tangan Yoona pada Lututnya.”

“Appa kumohon !”

Segera Tuan Lee menarik nafas, “Lepaskan !” ucapnya mendorong tubuh Yoona keras.

“Ahhkk… Awww…” pekik Yoona saat merasakan sakit yang menjalar perlahan usai dorongan yang diterimanya barusan.

Mata Yoona terpejam erat menahan sakit. Sakit seakan perutnya tertarik dan menegang. Yeoja itu memegangi perutnya yang terasa keram, “Umma…  Akkhh.. hikss..” tangisnya kesakitan.

Yoona membuka matanya.  Merasakan sakit yang teramat sangat ketika melihat darah segar mengalir begitu deras. Mengalir mulai dari paha sampai betis. Membasahi blouse ungu dan lagging hitam yang dipakainya. Yeoja itu semakin merintih kesakitan. Tangannya menganpai-gapai pada seseorang yang entah siapa, “Tolong aku ! akkhhh..”

Keringat dingin tuan Lee ikut megalir bebas. Pikirannya melayang begitu saja. Apa yang dilakukannya? Bagaimana jika terjadi sesuatu? Namja paruh baya itu mulai panik dan berusaha mencari bantuan.

Belum sempat Tuan Lee melangkah sama sekali, seorang petugas lebih dulu datang menghampiri, “Ahgassi, sepertinya kau akan melahirkan..”

“M-mw-oo?” kaget Yoona  terbata dengan keringat dingin yang semakin banyak bercucuran.

Petugas itu mulai meraih handphone-nya dengan tangan gemetaran, “Yoboseyo.. Bisakah kau mengirim petugas kesehatan kemari ! Diruang jenguk 201.. Cepatlah ! gomawo..” ujarnya panik.

“Bertahanlah, ahgassi…”

Yoona menahan sakit saat aliran darah yang menjalar dikakinya samakin mengalir deras. Fokus pandangannya perlahan mulai samar-samar. Lebih gelap dan memudar. Pikirannya mengulang seluruh kejadian yang pernah dialaminya. Saat pertama kali dijodohkan, berdiri didepan pastour, saat-saat bersama Donghae, tragedi Appa dan Ummanya, semua itu berputar secara acak. Ya Tuhan ! Apa hidupnya segera berakhir?

Hanya suara seseorang yang tak dikenalnya sedang memanggil “Ahgassi sadarlah ! Sadarlah !” suara panik beserta guncangan pada tubuhnya perlahan menghilang, setelah itu semuanya terasa hampa…

Gelap.

…………………..

Usai turun dari sebuah Taxi, Donghae berlari menuju rumah sakit kepolisian Seoul. Seseorang baru saja menelponnya saat Ia masih berada di kantor. Memberi kabar jika Yoona akan melahirkan. Bagaimana mungkin? Setaunya usia kandungan Yoona terhitung memasuki delapan bulan. Belum sembilan bulan. Apakah ?

Tentang rumah sakit kepolisian. Keberadaan Yoona yang mengejutkannya. Mungkin dan pasti setelah perdebatan siang tadi, Yoona langsung menemui appanya, Tuan Lee. Jelas ini ada hubungannya dengan orang itu ! Donghae memejamkan matanya erat. Banyak pertanyaan yang menumpuk dikepalanya. Segera dikuburnya segala pertanyaan itu. Ia pun cepat-cepat menemui seorang suster yang kelihatanya akan masuk keruang yang sepengetahuan namja itu adalah tempat Yoona dirawat.

“Mianhamnida ahgassi, apa ada pasien bernama Im Yoona…”

“Ah, anda siapanya? Pasien itu harus segera dioperasi…” potong suster itu cepat.

Tak lama seorang namja paruh baya yang sepertinya seorang Dokter datang menghampiri mereka. Sang suster membungkuk hormat kemudian berkata, “Ini Dokter Choi, kurasa dia adalah keluarga pasien yang barusan masuk.”

“Anda keluarga pasien Im Yoona? Suaminya?” terka sang Dokter.

“Nde..” angguk donghae.

“Kita harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya, maka dari itu, bisakah anda menghubungi dokter yang sering menangani kehamilan pasien dari awal terdeteksi?“ ucap Dokter dengan wajah penuh ketegangan.

Donghae terdiam sejenak saat mendengar kata operasi ! namja itu menarik nafas lalu menanggapi, “Nde, aku akan menghubungi dokter Shin…”

“Baiklah secepatnya  kami akan memberikan pasien pertolongan pertama…”

Ya Tuhan ! Mungkin Yoona benar-benar dalam bahaya sekarang. Sebuah upaya satu-satunya untuk menyelamatkan ibu dan anak. Donghae terperanga sejenak sulit berkata-kata. Namja itu kemudian menjawab dengan keringat  bercucuran, “Baiklah, lakukan secepatnya !”

“Nde, kami akan berusaha yang terbaik untuk menghentikan pendarahannya ! Setelah ini mohon anda tanda tangani beberapa berkas,” runjuknya.

“Baik, Dokter ! Tapi Tolong selamatkan mereka..”

“Nde ! Lebih baik anda ikut mendoakan, “saran dokter menenangkan.

Mata Donghae terasa kaku untuk berkedip. Ditatapnya kosong punggung Dokter dan beberapa tim medis yang masuk kedalam ruangan tempat Yoona dirawat. Namja itu sudah kehabisan tenaga. Ia langsung menghempaskan tubuhnya pada bangku panjang didepan sebuah ruang operasi. Kali ini air mata namja itu seakan tertahan oleh perasaan galat yang begitu extra.  Menyusup pula perasaan bimbang dan cemas. Juga hawa yang kian menyesakkan.

“Yoboseyo, dokter Shin ! bisakah anda kemari ! Yoona,  dia harus dioperasi untuk mengeluarkan bayinya…”…”Dia baru saja mengalami kecelakaan, ada banyak hal yang tak terduga…”… “Dirumah sakit kepolisian seoul…”… “Tolong secepatnya…”…”Gomawo…”

Sendiri dalam kebimbagan. Donghae menimbang-nimbang handphonenya seraya menghentak-hentakkan kakinya gelisah. Namja itu bangkit dari posisinya, berjalan mondar-mandir mendengak hawatir pada jendela ruang Yoona dirawat. Tak ada yang bisa dilihat. Donghae mengacak rambutnya frustasi. Namja itu seakan pasrah. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok ruang tunggu. Punggung kepalanya dibenturkan pelan pada tembok tersebut. Terlihat keringat namja itu terus-menerus mengucur deras mengaliri wajah dan lehernya. Ia benar-benar takut membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi.

“Yoona-ah mianhe, aku gagal menjagamu…” lirihnya.

Seseorang berjas putih tiba-tiba datang menghampiri. Donghae tersontak dari rasa gelisahnya. Namja itu memasang wajah penuh harap kemudian membungkuk pada seseorang berjas putih tersebut, “Anyong Dokter Shin.”

“Anyong, “ balas seseorang yang disapa dokter Shin itu.

“Dokter, cepatlah selamatkan Yoona…”

“Nde, aku pasti akan berusaha, dia adalah yeoja kuat, kurasa dia cukup mampu bertahan..” Ucap Dokter itu menepuk pelan punggung Donghae kemudian masuk keruang operasi saat seorang suster datang mempersilahkan.

Donghae menggigit bibir bawahnya keras-keras. Tangan namja itu mengepal keras ketika butiran bening itu berhasil lolos dari pertahanannya. Ia mengalihkan pandangan dari pintu ruang rawat yang baru saja tertutup. Entah mengapa sangat sakit saat membayangkan senyum Yeoja itu menghilang tiba-tiba dari pandangannya.

“Yoboseyo umma…”… “Umma, Yoona-ah dia mengalami kecelakaan jadi, mungkin bayi dalam kandungannya harus dikeluarkan…”…”Rumah sakit kepolisian…”…”Umma… yoboseyo.. yoboseyo…”

Dia kedengaran terpukul. Namja itu baru saja menelpon Nyonya Im. Seperti dugaan, umma mertuanya itu pastilah sangat shock. Ya Tuhan ! Donghae kembali menghempaskan tubuhnya pada kursi dilorong tunggu. Namja itu memejamkan matanya erat. Menarik nafas dan meminta pada yang maha kuasa agar Yoona dan bayi mereka bisa selamat.

Terkatung dalam harapan. Harapan berupa permohonan yang terkemas melalui doa yang tulus. Donghae terus menunduk memopang kepalanya yang terasa berat. Sangat berat. Beban yang begitu berat diantara perasaan takut kehilangan. Sekali lagi Tuhan, jangan patahkan tulang rusuknya sekarang ! Namja itu benar-benar akan menderita setelahnya.

“Donghae-ssi !” terdengar seruan seseorang. Namja itu membuka matanya yang begitu berat. “Umma…” gumam Donghae saat melihat seorang yeoja paruh baya dengan rambut agak acak-acakan datang menghampiri.

‘Plakk’ … satu pukulan kembali mendarat pada wajah terkejut namja itu. Ia memegang pipinya yang memerah dan terasa perih. Segera ditatapnya yeoja paruh baya itu dengan sorot mata lirih.

“Apa lagi yang kalian lakukan pada anakku, huh?” ucap Nyonya Im menggebu-gebu.

“Umma apa maksudmu ?” tanya Donghae meminta penjelasan akan sikap umma Yoona.  Kalian? Donghae menangkap kata itu. Jelas, ini mungkin ada sangkut pautnya dengan Umma atau, Appa?

Nyonya Im tertawa miris, “Ahjussi Yoona sudah ke kekantor polisi dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi, sudah kuduga ini adalah ulah appamu lagi !”

“Mwo?”

“Appamu itu mendorong anakku hingga terjatuh, Kau tahu?” sungut Nyonya Im menguncang-guncang tubuh Donghae yang seolah kehilangan kata-kata. Namja itu hanya terdiam mematung menerawang kosong seiring rasa sesak didadanya. Membiarkan umma mertuanya itu kembali melancarkan sejuta kalimat sesal, “Wae? Kenapa kau membiarkan Yoona pergi sendiri ! Kenapa kau tidak melarangnya, huh?” isaknya.

“Wae? jawab aku ! harusnya kau lebih bisa menjaga Yoona ! Aku sudah mempercayakan anakku padamu dan lihat apa yang kau lakukan sekarang ?! Lihat ! Buka matamu Lee Donghae !”

“Umma aku juga hawatir pada Yoona, Umma ! Aku sangat mencintainya, aku tidak sanggup kehilangannya ! Bisakah umma juga mengerti keadaanku.. ?” ucap Donghae penuh penegasan membuat nyonya Im terdiam seribu bahasa. Yeoja paruh baya itu lantas ikut menghempaskan tubuhnya disamping Donghae seraya terlarut dalam tangisannya.

“Yoona-ah, apa salah mu Nak? Seharusnya Umma saja yang menderita ! Umma yang salah, seharusnya tidak memanfaatkanmu dalam bisnis Appa. Seharusnya dulu Umma mengikuti kemauanmu yang berontak dengan perjodohan itu. Kau benar Nak? Kami menjualmu pada mereka, membuatmu ikut dalam masalah ini. Yang membuat posisimu semakin menderita… maafkan umma Yoona, anakku.. Umma ingin melihat senyummu lagi, maafkan umma karena telah menyia-nyiakanmu…” rintih nyonya Im terus menerus.

Suara tangisan menyeruak diantara lorong sepi itu. Isakan Nyonya Im terdengar parau. Yeoja paruh baya itu berulang kali menyebut nama anaknya. Donghae mendengak, menahan butiran yang menggenang di pelupuk matanya. Sekuat tenaga Ia menahan genangan itu, namun percuma. Butiran itu akhirnya terjatuh juga. Hanya air mata dan suara kesedihan yang datang menyambar.  Hingga akhirnya Nyonya Lee datang dengan raut hawatirnya. Nafas yeoja paruh baya yang berkeringat cukup banyak itu terdengar berkejaran, “Apa yang terjadi Donghae, jelaskan pada Umma !” desaknya.

“Appa… Entah mengapa ia mendorong Yoona, hingga terjadi hal seperti ini..” lirih Donghae.

“Mwo?” Mata nyaonya Lee membulat lebar. Seakan bisa membayangkan apa yang terjadi, Ia pun menutup mulut dengan kedua tagannya rapat-rapat. Kemudian ikut terduduk lemas disamping Nyonya Im yang tengah menangis sesanggukan.

“Yoona-ah, dia adalah anak kami satu-satunya… Untuk apa aku hidup jika Ia… jika anakku… Yoona…” Nyonya Im tersedak oleh kalimatnya sendiri. Ia kembali terisak dengan tubuh yang semakin melemah.

“Nyonya… nyonya…” panik Umma Donghae mengguncang-guncang tubuh nyonya Im, “Nyonya sadarlah…” Paniknya sekali lagi memopang tubuh nyonya Im.

Yeoja pauh baya itu membuka matanya sedikit. Matanya berkedip lemah diantara wajahnya yang pucat. Ia seperti kehabisan tenaga. Situasi ini terlalu menyesakkan hingga sulit membuatnya bernafas, “Ya Tuhan… “ isaknya lemah.

Clekk… Setelah kurang lebih sejam lamanya,  pintu ruang operasi pun terbuka. Sontak orang-orang yang tengah menunggu kepastian itu bangkit dan menatap ingin tahu pada seseorang dalam balutan kain biru muda.

“Bagaimana keadaan anak saya Dok, “ sergah nyonya Im cepat.

“Kami berhasil mengeluarkan bayinya ! Tapi mengingat bayi itu lahir prematur maka kami akan merawatnya diruang inkubator dan juga…” Dokter itu terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Pasien belum sadarkan diri ! Hingga saat ini, pendarahan mungkin saja bisa terjadi..”

“Mwo?”

Lutut nyonya Im kembali melemas. Dengan cepat Donghae menahan tubuh yeoja paruh baya itu agar tidak terjatuh, “Yoona.. dia belum sadar… Omooo…” isaknya memegang tengkuknya yang semakin menegang.

“Umma, Yoona pasti akan sadar, percayalah !” ucap Donghae menenangkan ditengah hatinya yang seakan terjepit ditengah badai.

………………

“Apa-apaan kau ini? Aku sudah mendengar semua ! Apa yang kau lakukan pada Anakku,” Sungut Tuan Im menarik kerah baju Namja yang juga seumuran dihadapnnya, “Jawab Lee Young Min !” Tegasnya kembali.

Tuan Lee hanya terkekeh sinis, “Siapa yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi kedepan ? Rencana hanya tinggal rencana sedang kenyataan hanya tinggal kenyataan !”

“Mwo? Apa maksudmu?” sungut tuan Im semakin emosi.

Mata Tuan Lee membulat tajam,” Silahkan salahkan aku karena anakmu berlutut pada orang sepertiku ! Salahkan aku atas segala yang terjadi, hhaahahah…” tawanya keras namun terdengar begitu miris dalam pendengaran tuan Im. Namja paruh baya itu lalu melepaskan cengkramannya kemudian jatuh tersungkup disudut tembok, “Yoona-ah bertahanlah, Nak…”

“Semua salahku, kau tahu..?” seru Tuan Lee terus menggerutu tanpa henti.

…………………

Di ruang rawat pasca melahirkan. Yeoja itu hingga sekarang ia belum juga sadar. Meskipun operasi itu terbilang sukses, namun perasaan khawatir masih tetap tinggal dan menggerogoti pikiran Donghae. Ada perasaan bahagia mungkin. Perasaan yang bisa memunculkan seuntas senyum. Namja itu tersenyum tipis, “Yoona, Aku sudah melihat anak kita… Kau juga harus melihatnya, jadi cepatlah sadar, bangun dan buka matamu…” Ia menggenggam tangan yeoja yang sedang terbaring lemah. Tangan yang masih dibalut selang infus ditemani oleh alat bantu pernafasan yang masih melekat diwajahnya.

Donghae semakin mempererat genggaman tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sibuk mengelus pelan pipi Yeoja yang tengah beradu dalam kedamaian. Tertidur tepatnya. Hanya tertidur…

Sedikit bergerak. Namja itu merasakan sebuah getaran dari tangan yang kini tengah  digenggamnya. Ini nyata bukan? Tangan Yoona bergerak…

Mata itu perlahan sedikit terbuka, meskipun samar, “Oppa…” desisnya.

“Yoona..” panggil Donghae girang.

“Kenapa badanku kaku sekali ?” tanyanya pelan.

“Itu karena kau baru saja menjalani operasi !”

“Mwo? Operasi?” Yoona mengerutkan kening mencoba mengingat sesuatu. Tak lama wajahnya menegang, “Tunggu ! Kenapa perutku…”

“Anak kita telah lahir Yoona-ah, lewat operasi.”

“Mwo?”

“Gomawo, telah bertahan.” ucap Donghae menyeka air matanya yang tiba-tiba saja mengalir tanpa izin, “Aku akan memanggil suster untuk memeriksa keadaanmu.”

Yoona mengangguk lemah, “Nde..”

Dia, bayinya telah lahir. Lahir pada usia yang belum genap sembilan bulan. Hampir saja segalanya hancur ! Yoona mengingat kejadian yang menimpanya sebelum ini. Dimulai dari pertengkarannya dengan Donghae dan kejadian saat ia terjatuh karena seseorang… dan dan semuanya gelap. Hal yang sungguh membuat perasaan trauma muncul begitu saja.

“Agassi, biar kuperiksa tekanan darahmu.” kata suster mulai melakukan pemeriksaan, sedangkan Donghae berdiri disampingnya. Tersenyum seolah berkata “segalanya akan baik-baik saja”.

Yoona meringis ngilu saat jarum suntik berdiri tegak dengan runcingnya. Jarum yang beberapa detik kemudian akan menancap ketubuhnya.  Ingin sekali yeoja itu  berteriak. Namun apa daya tubuhnya masih lemah. Dan hanya genggaman hangat Donghae yang menenangkannya sekarang.

Pemeriksaan pun selesai. Usai sang suster pergi dan membereskan peralatannya, Donghae maju selangkah menggeser kursi persis disamping Yoona,

“Mana Umma? Apa dia tidak kesini ?” Tanya Yoona parau pada namja disampingnya.

“Dia datang ! Tapi tadi ummamu pingsan, Ia sekarang sedang berada diruang perawatan. Ummaku juga disana. Mereka pasti akan senang jika melihatmu sudah sadar.”

“Umma…” gumam yeoja itu tanpa sadar.

………………………

Seorang yeoja berambut pirang sedang duduk disebuah kafe bersama ke-empat temannya. Tangannya dengan cepat mengaduk jus jeruk dihadapnnya, kemudian menghisap dengan pelan. Kini arah pandang yeoja  itu menghadap kearah temannya yang sedang sibuk meniup secangkir kopi susu hangat.

“Sooyoung-ah, kau tahu kenapa sejak dua hari  ini Yoona jarang menghubungi kita?” tanya yeoja berambut pirang dengan tatapan heran.

“Mungkin dia mulai mengambil cuti ! Kurasa sekarang anak itu tengah menikmati masa kehamilannya yang super aneh,” jawab Sooyoung sedikit terkekeh diikuti dengan kedua temannya yang lain, Taeyeon dan Sunny.

Sunny memajukan wajahnya dengan raut berpikir, “Kenapa tidak kita telepon saja ?!”

“Ide bagus !” Pekik Jessica cepat sesaat kemudian yeoja itu menghela nafas, “Tapi apa tidak menganggu?”

“Tentu tidak !”

“Baiklah biar kutelepon..” Jessica mengambil handphone yang berada disamping gelas jus jeruk. Ia kemudian mulai meletakkan handhpone itu dibagian kanan telinganya. Beberapa menit berlalu sampai akhirnya seseorang diseberang sana mengangkat telepon yang sedari tadi mencoba tersambung.

“Yoboseyo..” sapa Jessica dengan senyum merekah yang entah mengapa senyum itu berubah menjadi raut heran.

“Yoona Umma? Ini aku Jessica, teman Yoona?…. Mwo?..

Sooyoung, Taeyeon dan Sunny mulai menatap penasaran. Benar, wajah Jessica berubah panik, “Wae?” bisik Sunny tanpa sadar.

“Omoo Yoona-ah..” Jessica menutup mulut dengan sebelah tangannya, lalu bertanya dengan nada terbata, “Ap-pa sebaiknya kami kesana?…”Mwo? Lebih baik besok, baiklah,” “Nde…”

Jessica menutup sambungan teleponnya. Yeoja itu menghela nafas seraya menerawang penuh kecemasan, “Teman- teman, Yoona dia…” ucap Jessica mulai berair mata.

“Wae? Sica, cepat ceritakan pada kami, ada apa sebenarnya?!” sungut Sooyoung mendesak.

“Yoona-ah, dia menjalani operasi caesar karena sebuah kecelakaan…”

“Mwo?”

……………………………

Sedikit merasa bosan. Yoona bukanlah tipikal yeoja yang betah untuk menghabiskan waktunya dengan berbaring ditempat tidur.  Selama tiga  hari ini, yeoja itu masih mendapat perawatan. Wajar saja jika selang infus masih menancap ditangannya. Bekas luka akibat operasi pun bisa terasa ngilu sewaktu-waktu. Yeoja itu harus merasakan semuanya sendiri, terlebih ketika Donghae harus bekerja. Yoona hanya tinggal dirumah sakit bersama ummanya atau Nyonya Lee. Bukan apa-apa, mereka adalah orang tua yang kadang sering mendongeng atau menceritakan berbagai macam pengalaman. Atau sebut saja seperti  ‘wejangan sepuh’. Meski bermanfaat, cerita-cerita tersebut kadang membosankan jika terus saja diulang-ulang.

Namun ada hal yang membuat segala kesakitan dan kebosanan itu lenyap begitu saja. Yaitu kenyataan bahwa kini,  Seorang malaikat kecil telah muncul ditengah-tengah keluarga mereka. Meskipun Ia lahir prematur dan baru kemarin malam keluar dari ruang inkubator, makhluk suci itu kelihatan sehat. Sangat sehat dengan tangisan yang super kencang. Dan benar ! ternyata Ia adalah seorang namja. Pangeran kecil yang lucu !

“Ueee…” suara tangisan cadel tiba-tiba saja menggema dalam ruangan serba putih itu. Yoona mengayunkan gendongannya. Menatap dengan senyum merekah, “Uhss, ushh, ushh… kenapa?” ucapnya pelan dan mendayu lembut.

“Anak umma haus yah ?” Pandangan Yoona tak beralih sedikitpun pada wajah kecil yang sedang menjerit tangis dalam gendongannya. Sedangkan nyonya Im hanya memandangi kedua mutiara emas yang tengah berinteraksi penuh kebahagiaan itu dari kejauhan. Raut berbinar nampak menghias pada wajah awet mudanya.

Rasanya belum lengkap. Hal yang dilakukan oleh seorang ibu yang baru saja melahirkan adalah menyusui.  Memberikan air susu disaat bayi itu haus dan atau lapar. Saat haus dan lapar, seorang bayi akan menangis dan berhenti saat akan disusui. Hal  yang lumrah layaknya yang dilakukan Yoona sekarang. Menyusui seorang malaikat kecil yang  tengah merasakan detupan jantung seorang ibu. Kebahagiaan sejati.

Clekk… Terlihat sebuah wajah muncul diantara celah pintu yang terbuka sedikit. Yoona agak tersontak melihat siapa yang baru saja tiba. Lebih tersontak saat pintu tersebut mulai terbuka lebar. Segerombol yeoja seusianya masuk dengan senyum penuh  kerinduan. Yoona mengenali satu-persatu orang-orang yang tengah menyambanginya. Yeoja itu pun menarik nafas setinggi-tingginya kemudian balas tersenyum girang, “Suuny-ah, Yuri-ah, Sooyoung-ah, Jessica-ah, Tiffany-ah, Taeyeon-ah, Hyoyeon-an, Seohyun-ah… Kalian?” Panggil Yoona pada teman-temannya. Mereka terlihat menyapa Nyonya Im lebih dulu. Sebelum akhirnya menatap  Yoona dengan penuh antusias.

“Yoona-ah… kami merindukanmu…” ucap Yuri dengan mata berbinar. Ia merentangkan kedua tangannya bersiap melakukan peluk rindu.  Aktivitas yang terhenti saat Yuri melihat Yoona ternyata sedang menjalankan peran barunya sebagai penjaga malaikat kecil.

“Kau sedang menyusui rupanya… wuaaa…” tatap Yuri kagum diikuti oleh wajah penuh minat teman-temannya yang lain.

“Yoona-ah, kapan aku sepertimu ! Aku ingin sekali… Tapi namja – namja diluar sana sering membuatku kecewa…” ujar Hyoyeon menepuk – nepuk dadanya. Perkataan itu mengundang banyak tertawaan.

Kebanyakan temannya mulai menatap gemas pada bayi yang sedang dalam gendongan Yeoja itu. Setelah kenyang, Ia pun menguap pelan. Membuat orang-orang dalam ruangan tersebut menganga lebar mengikuti sebuah gerak uapan.

“Dia mengantuk…” Taeyeon memperhatikan dengan serius.

“Aku ingin menggendongnya, tapi aku takut. Dia masih lembek… “ Sunny agak bergidik, “Tapi Yoona, kelihatannya kau sangat berani…”

“Itu.. naluri seorang ibu,” jawab Yoona pelan.

“Jeongmal ? Tapi diriku meragukan ! Mungkin anakku dimasa depan akan terlantar..” Sunny menerka-nerka sembari tertawa sendiri.

“Yoona-ah bolehkah kami memperhatikannya lebih lama !” Sooyoung menatap sambil tersenyum cerah.

“Silahkan !”

“Siapa namanya?” Sooyoung masih menatap dengan serius.

Yoona tertegun sejenak, “Nama?” gumamnya.

…………………..

“Donghae, Umma sudah menyiapkan sup rumput laut dan berbagai daun-daunan obat diatas meja ! cepatlah ambil dan berikan pada Yoona secepatnya ! Umma dan ahjumma Jung sedang ada acara di rumah Nyonya Han, jadi tidak sempat kesana.” Tergengar rentetan kalimat ditelepon membuat  namja itu harus menajamakan ingatannya. Donghae memberhentikan mobilnya didepan pagar besi  sebuah rumah tingkat dua bercat abu – abu.

“Nde Umma, Aku sudah sampai dirumah,” jawab Donghae usai mematikan mesin mobilnya.

“Baiklah antarkan secepatnya,” nyonya Lee mengakhiri kalimatnya seiring sambungan telepon yang terputus,

Namja itu menghela nafas. Ia sudah sangat ingin menemui Yoona di rumah sakit. Tapi perintah ummanya barusan sedikit menunda keinginan itu. Agak mengganggu, mungkin ! Meskipun ia juga senang karena perhatian ummanya pada Yoona meningkat akhir-akhir ini. Juga pada anggota keluarga baru, pastinya.

Clek.. Kening Donghae mengernyit ketika mendapati pintu rumahnya tidak terkunci. Bukankah rumah ini sedang kosong? Lalu siapa didalam? Satpam ? ahjumma? Baiklah sepertinya bukan. Jelas ahjumma Jung sedang bersama dengan Umma, sedangkan satpam rumahnya hanya berjaga diluar.

Sembari mengamati keadaan di dalam rumah itu, Donghae melangkah perlahan. Ia belum mendapati tanda-tanda kehidupan kecuali, sepasang sepatu cat hitam yang tertata asal didekat rak sepatu. Tanda bahwa seseorang baru saja masuk.

Namja itu menerka – nerka sendiri ketika suara timpukan meja terdengar dari  ruang tengah. Segera ia melangkah kearah sumber suara. Tepatnya, dibalik sofa, namja itu yakin ada seseorang yang duduk dibaliknya.

“Kau?” kaget Donghae saat langkahnya beralih menuju sofa hijau lumut.

Seseorang itu bangkit dari posisinya. Ia tersenyum. Senyum yang masih seperti dulu. Lengkingan bibir penuh maksud tersembunyi..

“Kupikir aku akan menemui Umma lebih dulu, tapi Tak kusangka aku malah  bertemu denganmu duluan.”

Donghae mengerutkan kening saat pikirannya mulai memprediksi tujuan seseorang yang tiba – tiba muncul setelah berbulan – bulan pergi itu dihadapannya,  “Sungmin Hyung ! sejak kapan kau kembali ?”

Namja itu, Sungmin menghela nafas menunduk sejenak kemudian mendengak cepat, “Bisa kita bicara, Donghae?”

“Nde duduklah !”

Duduk dan diam. Suasana hening saat kedua namja itu masih sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Donghae masih betah menunggu namja disampingnya berkata sesuatu. Sedangkan Sungmin sibuk berkonsentrasi menyusun kalimat dalam otaknya. Kini hanya suasana canggung yang kental menyelimuti. Ternyata sangat sulit merapatkan hubungan yang terlanjur merenggang.

“Apa yang kau lakukan selama ini Hyung ?” tanya Donghae mengambil alih pembicaraan setelah sebelumnya Sungmin belum juga membuka mulut.

“Aku melanjutkan study di Amerika yang dulu sempat tertunda ! Aku ingin mengabil alih perusahaan dengan cara yang terhormat ! seperti katamu… ” Sungmin menerawang kemudian berkata, “Kejadian itu…”

“Aku sudah melupakannya !” timpal Donghae cepat.

“Iya aku tahu, kau pasti akan mengatakan itu, tapi bagaimana dengan Yoona? Dia pasti sangat kesal padaku !” ucap Sungmin tersenyum miris.

“Entahlah !” Donghae mengidikkan bahunya pelan seraya mengingat kekesalan Yoona pada Hyung-nya.

Pandangan Sungmin menatap cepat kearah Donghae, “Chukkae atas kelahiran anakmu, aku mendengarnya dari Umma…”

“Gomawo Hyung.”

“Kau mau ke rumah sakit kan? Apa aku boleh ikut ? “ tawar Sungmin dengan raut penuh harap.

Donghae berpikir sejenak kemudian mengangguk pelan, “Baiklah.”

………………………

Suara berisik beberapa Yeoja terdengar dari belokan lorong rumah sakit. Tepatnya di dekat ruang tempat Yoona dirawat. Donghae menatap salah satu dari sekian banyak yeoja yang berpapasan dengannya. Ia sungguh ingat siapa mereka. Teman Yoona. Mereka usai menjenguk sepertinya.

“Annyong..” sapa Yeoja ber-eyes smile ramah diikuti oleh teman-temannya.

Sembari sedikit tertunduk, Donghae dan Sungmin berjalan melewati kerumunan yeoja yang merupakan teman Yoona. Beberapa saat kemudian langkah mereka pun tiba di depan sebuah pintu ruang rawat.

“Kau masuk saja duluan !” Ucap Sungmin ragu kemudian melanjutkan, “Aku akan masuk jika Yoona mempersilahkanku.”

Donghae menatap Sungmin sambil berpikir. Memikirkan tentang perasaan namja itu sekarang. Ia tersenyum singkat kemudian menepuk pundak hyung-nya pelan, “Aku akan coba berbicara padanya,” ucap Donghae melanjutkan langkahnya kedalam ruang rawat.

Clekk… Donghae mulai membuka pintu ruangan seiring dengan tangis suara bayi yang menyambut kehadirannya. Namja itu ikut tersenyum memandangi Yoona yang juga sibuk tersenyum menenangkan malaikat kecil yang sedang menangis.

“Hai…” Sapa Donghae masih dengan senyuman diwajahnya.

Yoona membalas senyum kemudian menatap gendongannya, “Hai.. Appa sudah datang ternyata !”

Donghae mencium kening Yoona lalu mengusap rambut Yeoja itu pelan, “Dimana ummamu?”

“Dia sedang menemui Paman diluar ! Katanya ingin membicarakan bisnis toko roti, “ jelas Yoona balik bertanya, “Umma-mu tidak kemari?”

“Ani, dia sedang ada acara,” Donghae mengangkat alis saat raut wajah Yoona terlihat kecewa. Namja itu pun buru-buru menambahkan, “Tapi dia menitipkanku sup ini untuk diberikan padamu,” ucap Donghae memperlihatkan sebuah bungkusan ditangan kirinya.

“Benarkah? Wah, aku pasti akan menghabiskannya !” girang Yoona.

“Mari kita coba masakan buatan nenek…” ucapnya tersenyum senang membuat namja itu ikut didalamnya.

“Yoona…” Panggil Donghae tiba-tiba.

Yeoja itu mendelik, “Mmm?”

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,”

“Siapa?”

“Dia… Sugmin Hyung !”

Yoona terdiam.  Menerawang dalam lamunannya. Yeoja itu menarik nafas seiring dengan senyumannya yang perlahan memudar. “Siapa dia ? Aku tidak ingat !”

“Yoona-ah…”

“Jangan mengacaukan suasana hatiku Oppa !”

“Tapi dia sudah ada disini, cobalah berbicara sedikit  dengannya ! Biarkan dia menjelaskan sesuatu,” bujuknya.

Dengan wajah malas Yoona menanggapi, “Tidak ada  yang ingin kudengar darinya, cukup kekacauan yang kualami akibat ulahnya dulu, tidak untuk sekarang !”

“Dan jika ia ingin meminta maaf atas kekacauan yang telah ditimbulkannya dulu ?  Yoona-ah dengar !” Donghae memegang kedua pundak Yoona seraya menatap yeoja itu lembut,“Jika sikapmu seperti ini, berarti sebenarnya kaulah yang tengah memancing kekacuan itu kembali muncul !”

Yoona terdiam sejenak. Yeoja itu terlihat memutar bola matanya tanda bawa ia menolak kehadiran Sungmin, “Baiklah, tapi hanya sebentar !” setujunya.

Perasaan panik hilang begitu saja. Donghae menanggapi persetujuan Yoona dengan senyum kelegaan. Namja itu segera membuka pintu kemudian mempersilahkan seseorang berkemeja biru donker untuk masuk. Ia berjalan sambil tertenduk lesu dengan seburat perasaan bersalahnya. Dia, Siapa lagi? Sungmin.

Berusaha sibuk, Yoona menidurkan bayinya sembari tersenyum seolah enggan menganggap kehadiran Sungmin dihadapannya. Yeoja itu pun akhirnya merasa risih sendiri saat Sungmin terus memperhatikannya.

“Apa yang kau lihat?” sinis Yooona merasa terganggu.

“Yoona-ssi, Aku yakin keadaanmu semakin membaik, Aku sebagai bagian dari keluarga Lee turut berbahagia, juga chukkae atas kelairan anak kalian dan soal sikapku dulu, mianhe…” Sungmin terbata.

“Baiklah aku maafkan ! Tidak ada gunanya juga berdebat denganmu, yeah ! Mungkin ada dampak positif dibalik aksimu meskipun itu hanya sebesar butiran debu…” Yoona mulai menatap Sungmin dengan senyum garing.

“Yoona-ah sekali lagi mian ! Aku benar – benar merasa bersalah.”

“Bagus ! sekarang kau boleh pergi !” Acuh Yoona membuang muka.

Sungmin menghela nafas, “Nde, baiklah !” Ucapnya melesat pergi dengan tubuh lemas. Tubuhnya sedikit terkaget saat Donghae menahannya, “Hyung, kurasa Yoona butuh waktu.”

“Tak apa ! Kau jagalah dia baik-baik, Aku pergi !” Sungmin menepuk pundak Donghae pelan sebelum sosoknya benar-benar menghilang.

Donghae menghela nafas. Jelas bahwa Yoona masih kesal pada Sungmin. Mengingat sikap hyung-nya yang jelas terbilang keterlaluan. Terlebih saat insiden pemukulan pada saat hari Ulang tahunnya, kejadian di teater serta berbagai ancaman teror yang sering dilakukan Sungmin. Jujur, Donghae pun masih kesal jika mengingat semua itu namun, bagaimana pun dirinya dan Sungmin masih berstatus sebagai satu keluarga. Kenyataan itulah yang mengalahkan semua. Berbeda dengan Yoona. Yeoja itu terlihat masih merasa tidak nyaman akibat kedatangan Sungmin kemari.

“Yoona-ah kau baik-baik saja ?”

“Tentu ! Aku baik dan ingin keluar dari rumah sakit ini secepatnya !” Sergah yeoja itu cepat.

Dengan seulas senyum Donghae menghela nafas kemudian menjawab, “Kau pasti akan keluar secepatnya,” ucapnya kembali mengecup kening yeoja itu seraya mendekapnya cukup lama, “Aku akan berbicara pada dokter !”

Melakukan hal yang akan memulai segalanya. Yoona berpikir tentang tindakan awalnya saat  menghirup udara diluar sana, “Bagaimana dengan appamu ?” tanya yeoja itu, membuat perasaan cemas dalam diri Donghae semakin dalam.

…………………………

Gema suara tawaan miris memantul diantara ruang teduh itu. Suara yang tanpa sadar terlepas begitu saja saat pikiran – pikiran tentang kejadian yang belakangan ini terjadi menerpa. Semua sudah terjadi, dan  semua kembali berputar kembali bagai sandiwara dengan alur yang sangat menyeramkan.

“Tuan Lee Young Min,” panggilan itu kembali terdengar. Sontak ia berbalik dan mendapati seorang petugas berwajah sangar tengah menatap kearahnya.

“Nde,” Jawabnya dengan lengkingan senyum kosong dan semu.

“Ada keluarga yang ingin bertemu,”

Tuan Lee mengangkat alis, “Siapa? Keluarga? Kukira semua keluargaku telah mati !”

“Cepatlah ! Ingin temui atau tidak ?!” Ucapnya sedikit menggertak.

“Nde,” patuhnya.

Sudah seminggu lebih setelah kejadian itu. Saat kecelakaan yang sulit diduga muncul. Bahkan hingga sekarang Ia begitu enggan melihat wajahnya di cermin. Terlalu malu untuk itu. dihadapan benda mati pun Ia terlalu malu, terlebih jika dihadapan orang itu. Seseorang yang katanya datang membesuk. Tidak ! Tidak akan.

“Tunggu ! “ Tuan Lee memberhentikan langkahnya diikuti oleh petugas dihadapannya.

“Wae?”

“Suruh saja mereka pulang ! Aku tahu siapa yang datang.”

“Mwo? Kau serius tuan?”

“Aku serius dan sangat serius.”

Petugas itu menghela nafas,”Nde Baiklah !”

Petugas itu pun kembali melanjutkan langkahnya. Memandang kearah dua orang dihadapannya. Seorang namja yang sedang mengaduk sebuah tas dan seorang yeoja yang tengah mengayun bayinya pelan.

“Sudah kau temukan amplop itu Oppa?”

“Tunggu ! Aku belum mendapatkannya, tapi apa benar kau taruh didalam sini, Yoona-ah?”

“Iya, aku ingat ! Carilah dulu, benda itu sangat penting.” Katanya lalu melanjutkan, “Coba di resleting dalam !”

“Nde, nah ! ketemu…”

“Syukurlah…”

Padangan mereka teralihkan saat sang petugas berucap seraya menunduk pelan, “Mianhamnida, Tuan Lee sedang tidak ingin dibesuk !”

Mereka hanya saling berpandangan. Yoona menghembuskan nafas keras kemudian menunduk kecewa. Bibirnya terasa berat untuk berkata apa pun.

“Sudah, tak apa !” Donghae menenangkan. Namja itu lalu menatap petugas dihadapannya, “Kalau begitu tolong berikan ini padanya,”  ucapnya memberikan sebuah amplop coklat.

“Nde, baiklah tuan ! Akan kusampaikan, permisi !”

Dengan langkah cepat petugas itu pun berbalik masuk kedalam lorong gelap. Keningnya mengernyit saat mendapati sesosok namja paruh baya yang sedang terdiam menunduk.

“Permisi tuan ! ada titipan untukmu.”

Ia mendelik kearah petugas. Diambilnya titipan beramplop coklat itu tanpa aba – aba, “Titipan?” gumamnya lalu perlahan membuka amplop itu.

Anyong Haseyo…

Appa, Aku telah mengantisipasi jika hal ini terjadi, saat kau enggan bertemu denganku juga Yoona. Mianhamnida karena aku tidak bisa mengikuti keinginanmu. Aku benar- benar tidak sanggup melakukannya. Aku mencintai Yoona dan mustahil aku mampu menyakitinya. Kuharap Appa bisa mengerti itu !

Appa, Aku akan berusaha melupakan semuanya, membangun segalanya dari awal dan kuharap Appa bisa melakukan hal yang sama. Terlebih mengingat adanya kedatangan orang baru dalam keluarga kita. Appa mungkin bisa menebak siapa ?! Ya, dia cucu Appa, namanya “Lee Kyumin.” Appa selalu memberi nama Min dibelakang rangkaian nama, “Sungmin dan Taemin,” jadi aku juga ingin melakukan hal yang sama, tak apa kan?

Satu lagi, aku juga sudah menyelipkan foto Kyumin, semoga Appa menyukainya. Aku juga berharap bahwa Appa bisa memaafkan semuanya, termasuk Aku dan Yoona…

Gomawo telah membesarkan anak yang tidak berguna sepertiku. Appa, Kau sudah kuanggap sebagai Appa kandungku. Appa,  aku menyayangimu…

Sekian…

Anakmu,

~ Lee Dong Hae ~

Secepat inikah? Ia bahkan belum puas menghancurkan semua. Ia belum ingin berhenti menghancurkan orang lain, meskipun jelas segala tindakannya pasti akan menghancurkan dirinya juga. Dan entah apa yang terjadi, tangannya bergetar saat menggengam beberapa lembar tumpukan foto ditangannya. Foto malaikat kecil tak berdosa yang nyaris meregang nyawa karena ulahnya ? Ta Tuhan ?!

Segera namja pauh baya itu bangkit dan memanggil seorang petugas yang bejaga, “Ahgassi, apakah mereka masih ada diluar ?! Bisakah kau antarkan aku pada mereka?” paniknya tergesa.

Petugas itu berpikir sejenak kemudian mengangguk kecil, “Kemungkinan mereka sudah pergi !”

“Aku ingin mengeceknya, kumohon antarkan aku, kumohon !” desaknya.

“Nde baiklah,” Setuju petugas membuka kunci sel.

Terbuka.Tuan Lee berjalan cepat dan tergesa menuju ruang kunjung. Kosong. Tak ada siapa pun, berarti mereka telah pergi. Apa lagi yang dilakukannya? Mengusir mereka setelah kekacauan yang dibuatnya.

Keringat telah membanjiri wajahnya. Kakinya bergetar saat tubuh itu menghempas sebuah kursi jenguk. Namja paruh baya itu kemudian membenamkan wajahnya diatas sebuah bangku. Kedua tangannya melipat memopang wajah yang kini memerah dialiri oleh butiran penyesalan, “Mian… Aku adalah orang yang tidak berguna !”

“Aniyoo, Jika kau adalah orang yang tak berguna, apa aku mampu berdiri disini?”

Tuan Lee mendengak saat merasakan satu genggaman dipundaknya, “Donghae…” lirihnya.

“Nde Appa, Ini Aku, Yoona dan Kyumin, kami menunggumu.”

Seerat mungkin dipeluknya tubuh Namja dihadapannya, Donghae. Anaknya yang harus menjadi korban dendamnya selama ini, “Maafkan Appa Nak, Mian…” isaknya terbata.

“Nde Appa, Aku sudah memaafkanmu, Aku juga minta maaf…” Air mata Donghae mengalir begitu saja. Menangis dalam pelukan hangat Appanya yang telah lama menghilang.

Tuan Lee menyeka air matanya kemudian menatap Yeoja disamping anaknya, “Yoona-ssi, aku juga… bersalah padamu…”

“Semuanya baik-baik saja Appa…” Ucap Yoona tersenyum menahan air matanya yang juga akan terjatuh.

“Sekarang Kyumin ingin melihat kakeknya…”

Tuan Lee memasang wajah kaget, “Benarkah aku sudah tua?” ucapnya mengundang tertawaan dari  Donghae dan Yoona.

“Baiklah, mana ! Aku ingin melihat Kyumin, Cucuku..”

…………..6 bulan Kemudian……………….

“Yoona, dimana kau taruh buku yang semalam?” Suara teriakan Donghae terdengar dari dalam kamar.

“Dibawah meja disamping tasku, mungkin ketutupan…” teriak Yoona dari arah ruang tengah. Ia terlihat tengah sibuk menyuapi Kyumin yang sedang terduduk dalam kereta bayi.

Yoona menghela nafas kemudian beralih menyuapi Kyumin dengan penuh senyuman. Dibalik senyum itu, Ia terus memperhatikan pintu kamarnya. Donghae selalu saja menyimpan barang-barangnya sembarangan, tak jarang Yoona yang harus mengaturnya dan mengambilkannya jika Namja itu sedang membutuhkan. Dasar namja ! Selalu saja bersikap sembrono !

“Kenapa kau selalu menyuapi Kyumin, Appanya juga ingin disuapi olehmu…” Terdengar suara yang berbisik persis disamping telinganya. Yoona melirik sedikit saat mata itu mendapati sosok Donghae yang memeluknya dari belakang.

“Oppa, kau sudah besar, sudah tak perlu lagi disuapi. Lagi pula banyak hal yang bisa kau lakukan…” Yoona mengerucutkan bibir.

“Kalau begitu, apa kau ingat ? Aku belum mendapatkan jatah pagi ini?!”

“Sudah cepat sana, berangkat !” alih Yoona

“Tenanglah, sudah ada Sungmin hyung yang akan menghandle pekerjaanku…”

Yoona melirik sinis, “Meskipun begitu, bukan berarti kau bisa bermalas-malasan kan?”

“Aku bukan bermalas-malasan sayang, aku hanya ingin meminta ciuman darimu?”

“Kau belum mandi tadi !”

“Tapi sekarang sudah… dan sekarang  apa lagi yang kau tunggu ? !”

Kyumin terlihat menggapai-gapai kearah Yoona dari atas kereta bayi. Sungguh ! Anak itu sangat lapar sekarang. Bahkan untuk berteriak dan menangis ia telah kehabisan tenaga.  Kyumin terus mendumal dalam hati, “Selalu saja seperti ini.”

“Gomawo atas semuanya, Saranghaeyo…”

“Nde, Oppa nado…”

……………… The End …………………

Kyaaaaaaa…

Akhirnya part ending ff ini selasai juga. Part ini merupakan part yang terpanjang dari part-part yang lain. #hufft “ngelap keringat”#

Sekarang, Aku mau ngucapin makasih buat para Readers yang udah setia ngikutin FF  ini. Terutama yang udah ngeluangin waktunya untuk komentar meskipun hanya sebaris, aku sangat ngehargain untuk itu…

Terimakasih juga buat lagu Titi DJ ft Agnes Monica yang udah menginspirasi Aku dalam pembuatan ff ini..”Hanya Cinta Yang Bisa”

Liriknya kurang lebih seperti ini :

Hanya cinta yang bisa
Menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa
Mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menembus
Ruang dan waktu

Aku jatuh cinta ama rangkaian kata-kata di lagu ini…”so sweet dah pokoknya”

Oke..Sampai jumpa di FF selanjutnya yahh…I Love u All🙂

“Gomawo.”

~ SarangHwaeYoong ~

*Nasha*

59 thoughts on “SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 10-END)

  1. Amaterasuhiromi berkata:

    percaya ga sich aku bacanya bukan cuma terharu aja tapi nangis juga, begitu besar perjuangan yoona untuk mendapatkan restu mertuanya meskipun ia sendiri harus menderita. tadinya aku pikir yoona bakal kenapa-napa, soalnya kata-katanya itu menandakan ‘sesuatu’ untungnya dia ga kenapa-napa. yah setidaknya mereka bahagia saat ini.

    aigooo!! kyumin lucu banget tapi dia ga bisa berbuat apa-apa kalo appanya udah manja ke eommanya,, sabar ya dedek kyumin…

  2. regina berkata:

    yeyeye,,, akhirnya semua mendapatkan kebahagiaan ga ada yg namanya dendam semua terselesaikan dgn baik, donghae dan yoona akhirnya jg dpt restu dr ortu mrka,,, memang CINTA itu bs mengalahkan segalanya kebencian,dendam dan sakit hati smua di kalahkan oleh 1 kata ‘CINTA’, so sweet akhirnya happyending🙂 buat dedek kyumin sabar yah appa sama umma lg syg2an tggu giliran yah😉 bkin ff Yoonhae lg dg thor, tp jgn sad ending gomawo😉

  3. pyrotechnicsloveyh berkata:

    Huaaa Tears,smile,laugh,love,romantic like it… Happy End Yeah… Akhirnya dipost juga setelah sekian lama menunggu PUAS author saya walupun tggu lama tp ini FF ud sangat panjang suka saya haha happy end lg…
    Ditggu next FF YH author ditggu

    Kasih Huge + Kiss untuk author :* #plak

  4. rose flower berkata:

    Omooooooo #jingkrak2
    akhirnya happy end… DAEBAK !!!
    yoonhae kedatangan org baru yg unyu2…
    Diawal sempet tkt yoona knpa2.. Trnyata mungkin itu adalah firasat kalo yoona eon akan meregang nyawa krn didorong oleh appa lee.. Iyakan tor?
    Tp salut bngt ma prjuangan yoonhae…
    Ngidamnya yoona jg lucu, hihihi, jd maskulin gtu kkk…
    Terus buat ff yoonhae yah…
    Aku tunggu lho… ^__^

  5. Choi HyeMi93 berkata:

    Huuaaaa…. Daebak?!! Banget FFx…. Kira’in BklaN Sad Ending,, Eee pdhal AkhirX Sweet Banget,, TOP bgEt Dh Bwt AuthorX….u Dh Bkin Jantung In Deg2an saat Bca FFmu ..DTunggu FF YoonHae LainX.. Annyeooong………..

  6. Muslimah husin berkata:

    Happy ending🙂

    stlah skian lama, dan bgitu bnyak cobaan yg menghmpiri akhrny mereka bahagia. .

    Bikin FF YH lainnya thor🙂

  7. RinduforKPop berkata:

    akhirnya ff ini selesai hiks hiks….
    happy ending yeayyy….
    sedikit kritik nih, yang author maksud “sisi TV” itu pasti “CCTV” kan???? *hehehe typo tuh thor!*

    terima kasih buat author yang sudah membuat ff bagus ini…
    ditunggu ff YoonHae selanjutnya yaaaa….

  8. PYRO berkata:

    W.O.W !! daebak !! keren banget cerita ini !! baca cerita ini bisa diangggap orang gila, soalnya dikit2 senyum, marah2, terharu, haduhh. untung bacanya dikamar, jadi bisa bebas berekspresi.. mian yah komentnya kepanjangan ._.V

  9. mochichi berkata:

    Suka banget ama part endingnya
    Smua berjalan lancar n bahagia
    Untunglah yoona ama bayi-nya selamat
    Part ini emang panjang tapi puas kok bacanya
    Hehehehe
    Gomawo🙂

    • nanashafiyah berkata:

      otomatis mrka udah berbaikan krn tuan lee nya jg dah minta maaf.
      Singkatnya,
      Tuan im marah krn dendam tuan lee. Nah kalo tuan lee udah nyesel, tuan im akan senang kan? Krn harapannya trcpai…
      Dan lg yoona udah bahagia bersama hae …
      Mian kalo pnjelasannya kpnjangan
      gomawo..

  10. tikaYh berkata:

    daebakkk , keren bikin ff yoonhae lagi yah author😄.
    mianhee sebelumnya aku belum sempet komen soalnya selalu baca lewat hp , setiap mau komet gk sampe-sampe😀 *curcol*

  11. yoongie andante berkata:

    kyaaaaaa ><
    akhirny…happy end jga TuT
    kereeeennn!!!! aq smpai nngiss…
    sngguh..hehe hae cmbru ma ankny sndri kaka

  12. Calistha berkata:

    Yaa.. Ngakak waktu bagian terakhir.
    ‘Kyumin selalu mendumal dalam hati “Selalu saja seperti ini”‘
    kkkk, ngakak waktu bagian itu.
    Ff nya keren banget! Jangan bosen-bosen yah bikin ff YoonHae, dengan happy ending pastinya.

  13. pia berkata:

    maaf thor comment nya di akhir cerita menghayati bgt soalnyaa…. baguuussss bgt thor alur ceritanya dan ga mudah di tebak lo alur ceritanyaaaa… aku pikir bakalan sad ending,,, heheh.. aku tunggu ff berikutnya ya thor ….

  14. Marzha berkata:

    Baru sempat ninggalin komen sekarang chingu.. Maap yah…^^

    daebak, akhirnya kebahagiaan itu datang menghampiri YoonHae… Bener2 deh, bikin aku terharu. setelah begitu banyak rintangan yang dilalui mereka bisa bersatu dan ada malaikat kecil dalam hidup pernikahan mereka. Pokoknya daebak buat author..

    Ditunggu karya chingu yang lain yah.. especially fanfic YoonHae.. Fighting..^^

  15. ukhti ya berkata:

    mmmm huaaaa aku udh baca ni ff berulang-ulang kaga bosen2.. Ngebayangin udh kayak drama korea ajahhh…hehe😀
    in fact, aku kurang suka ff marriage life soalnya ngebosenin n ceritanya gitu-gitu aja kayak selingkuh, ga jadi cerai, cemburu dll tp yg ini ga hanya sekedar marriage life biasa hahaha #curhat

    keep writing for YoonHae fanfiction yahh
    gomawoooo

  16. alfiikyu berkata:

    thanKYU author ffnya au suka bgt.. apalagi sambil nginget cerita dengerin lagu itu.. untung au udah punya lagu itu sblumnya jadi tak perlu jungkir balik nyari lagu hanya cinta yg bisa.. au suka suka bget au ingin promoin di page page supaya rame readersnya.. kamsha

  17. diahjenatri berkata:

    hmmm..ga bisa komen apa2
    ff yg bisa bikin aku nangis bikin degdegan
    bikin senyum2 sendiri
    asliii
    kereeeeeeeeeennnnnnnn bgt
    the best
    hebat
    daebak!!!
    4jempol buat author dh
    trs ciptakan ff yoonhae yg keren yaaa
    khamsahamnida buat ff yoonhae yg daebak ini
    lope banget dh ama author ini:-*

  18. empudok berkata:

    Huwaaaa keren happy ending ^^ :’) mian eon baru rcl di part terakhir. jinjja ff.nya menguras air mata dan feel.nya dapat banget;) YH memang pasangan yg kuat melewati berbagai macam cobaan. the real couple. hehehe. ditunggu next ff-ff nya thor. ganbatte^^

  19. iis solihat berkata:

    Yeeehhh yeehhh
    Happy ending
    Daebakkkkkkk
    Kren bget alur cerita
    Topppppp dech
    D tnggguuuuu
    Ff slanjut ny
    Smgttt y thorrrr😀

  20. vthree berkata:

    Waaaaaahhhh finally.. FF ini bener2 daebbak….. aku ampe bgadang krena penasaran ama endingnya.. wkwkwkk..oya mian aku komentar hanya di part ini…krena rasa pnasaran yg menggebu mmbuatku mnghiraukan kolom komentar… kkkekeekkkekkk….mianhae… gpp kan???
    waaahhh.. rasany lega happy ending pdahal kukir yoona bakal prgi k alam baka di crita ini.. mngingat ucapan2 asal-ny yg kluar gitu aja dri mulutny… oya.. ada sdikit yg mngganjal nih… kenapa peran sulli disini hanya sdkit?? pdhal aku dh seneng wktu tau ada sulli di ff ini meskipun dia brperan sdk antagonis…
    tapi gak apalah. ff ini tetep ddaebak dan sukses mmbuat jntung ini seperti hndak mnrobos kluar.. hahahha korban ffmu nih…..

    • nanashafiyah berkata:

      iya hehe
      sulli cuma pendukung disini sama seperti member snsd yg lain kkk…
      Anggap aja dia udh kapok ngerjain yoona krn kejadian wktu itu >< #ditendang
      makasih udh bc ff ini Ú^U

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s