SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 9)

Image

Title :  Why I Hate You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance, Family

Rating : PG-17

Cast : SNSD  Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : SNSD  member, Super Junior Sungmin, F(x) Sulli

Soundtrack :   SNSD  –  Day By Day

                       SUJU –  Reset

Annyonghaseyo…:)

Akhirnya setelah sekian lama (?) mmm kira-kira berapa hari yah?

Kelanjutan fanfic ini dipublish juga…

Semoga para reader belum lumutan -_- dan tetap setia dengan ff ini…

Sebelumnya mian kalo pemublishannya agak lama, akhir-akhir ini dan nanti aku bener-benar sibuk #sok sibuk hehehe. Biasalah pelajar… huhuhuu… L

Tapi tenang ! disela-sela kesibukan, aku tetep nyempetin untuk mikir-mikir tentang alur cerita and adegan yang akan kubangun dalam ff ini… #baru mikir ya?!

Jadi, ngetiknya pas ada waktu kosong… hehehe #Plakkk

Agak lama sichh, dikarenakan aku bener-bener gak kuat kalo harus ngetik ditengah malam #kyk hantu gitu deh…  Coz ujung2 nya pasti ketiduran -_-

Wal hasil, aku biasanya nulis FF itu pagi-pagi… So, harus nunggu hari libur dulu dehhh…. sukur-sukur kalo ga ada tugas -__-.. #ditendang reader

Ya udah, yaudah.. dari pada kebanyakan curcol, mending langsung aja yahh..

Happy Reading all…

Part 9

Adakah alasan untuk membenciku???…. “Why I hate you”

Yoona menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya dengan resah kokohan dinding coklat muda yang terlihat begitu dingin. Warna yang melambangkan kesedihan. Yah, seperti inilah mungkin keadaan didalam ruang pengunjung di kantor polisi.

Yeoja itu bangkit ketika melihat sosok namja paruh baya berjalan kearahnya. Namja itu berjalan dengan dikawal oleh dua orang petugas kepolisian. Ditatapnya wajah yang mamancarkan auran penyesalan itu dengan lekat. Tatapan yang begitu dalam hingga Yoona sulit membendung air mata yang sedari tadi tertahan dipelupuk matanya. “Appa?” gumam Yoona diikuti dengan isakan.

Seseorang yang dipanggil Appa oleh yeoja itu hanya bisa tertunduk, “Yoona..” ucapnya lalu duduk pada sebuah bangku didepan meja bundar, “Duduklah, Nak !”

Segores senyum merekah dibibir tipis Yoona. Paling tidak, hanya itu. Segores senyum yang dapat diberikan yeoja  itu untuk membendung suasana yang mendadak kelabu. Mungkin dengan begitu segalanya akan berubah. Berubah meski itu hanya secuil perasaan yang letaknya disudut hati yang terpojok sekalipun.

“Bagaimana keadaan Appa?” tanya Yoona memulai pembicaraan.

Tuan Im tersenyum. Bukan ! Mungkin itu hanyalah seuntas garis horizontal yang terukir diwajahnya. Ia pun berkata, “Yah, aku baik, aku lega, tapi mungkin sedikit kesepian.”

Raut wajah Yoona berubah mengkerut, “Aku tahu Appa ! Dan aku.. aku tak tahu harus berbuat apa,” sesal yeoja itu.

“Kau tak perlu, berbuat apapun !” timpalnya lalu melanjutkan, “Jaga kesehatanmu, tetap tersenyum, dan appa akan selalu bangga padamu..”

Yoona berpikir sejenak kemudian kembali tersenyum, “Hanya itu?”

“Nde,” jawab tuan Im lalu buru-buru menambahkan, “Ah, dan satu lagi ! Kau harus bisa melahirkan dengan selamat !”

“Baiklah, aku janji,” sergah Yoona cepat.

Sepertinya ada yang terlupa. Yoona berusaha mengingat sesuatu. Mengingat tentang sebuah benda titipan. Sejujurnya iapun penasaran. “Appa ada titipan untukmu dari ahjumma Min. Katanya ini adalah barangmu yang tertinggal.”

Tuan Im mengangkat alis, “Oh ya?”

Yoona mengaduk tasnya. Yeoja itu lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam. Ia pun meletakkan kotak itu diatas meja bundar didepannya. “Ini,” ucap Yoona memperlihatkan benda itu pada Tuan Im.

Namja paruh baya itu terlihat mengerutkan kening, “Itu..”

“Wae? Appa tidak membukanya?” tanya Yoona penasaran.

“Aniyoo, benda ini tidak penting ! Akan kubuka nanti ! Sekarang kau pulanglah..”

Yoona terlihat bingung, “Pulang?”

“Nde !” jawab tuan Im lalu berkata, “Kau kesini bersama Donghae kan? Kurasa dia sedang menuggumu !”

“Dia sedang menemui Appanya !” sanggah Yoona masih dengan tampang heran.

“Ya sudah, sebaiknya kau pulang ! Kapan-kapan kau bisa kesini lagi, ne?”

Yoona kembali berpikir. Tak lama iapun mengangguk, “Ne, Appa !”

……………………

Dengan wajah ditekuk, Yoona keluar dari kantor polisi. Dipandanginya gedung kokoh bertingkat tiga didepannya. Gedung yang dihuni oleh orang-orang yang terlibat semacam ‘kejahatan’ itu sendu. Membayangkan nasib seseorang disana.

Yeoja itu menghembuskan nafas keras. Ia pun meliirik sekilas jam tangannya, “Apakah dia sudah selesai?”

Yoona melagkah. Mencari tempat yang tenang untuk berteduh. Mungkin Donghae masih didalam. Jadi ada baiknya jika yeoja itu menunggu. Mencari ketenangan diluar ruangan tepatnya.

Sebuah pohon rindang mendaratkan pandangan Yoona untuk melangkah kesana. Didekatinya tempat itu. Terlihat sebuah bangku panjang berdiri menyerong memunggungi pohon tadi. Sepertinya tempat sunyi itu sangat cocok ! Nah, ternyata  terdapat juga sebuah ayunan.  Ayunan yang tergantung pada ranting dari sisi lain pohon rindang itu.

Langkah Yoona terhenti. Yeoja itu mengintip seseorang dari balik pohon. Seseorang yang tengah duduk disebuah ayunan. Dia? Sedang apa namja itu disana?

“Dorrr….” Sergah Yoona pelan seraya memeluk pundak seorang namja diatas ayunan dari belakang.

Namja itu terperanjak dari lamunannya, “Sia..” ucapnya terpotong ketika melihat yeoja yang tengah memeluknya adalah dia. Tepatnya Yoona.

“Yoona-ah, kau mengagetkan ! fuihh” kesal Donghae menghela nafas lega.

“Kau pikir aku siapa? Wanita penggoda yang berkeliaran, begitu?”

Donghae melirik sekilas wajah yeoja yang tengah bergelayut manja dipundaknya, “Aniyo.. Kupikir kau itu adalah orang gila yang berkeliaran,” ucapnya terkekeh.

“Mwo?” sahut Yoona tak terima. Yeoja itu berdiri tegak seraya memanyunkan bibir. Orang gila? Sungguh menyebalkan ! Sepertinya namja itu sedang bermain-main. Baiklah !  Sekarang saksikan, bagaimana permainan yang sesungguhnya, Lee Donghae.

Donghae benar-benar puas membuat yeoja itu cemberut. Pemandangan yang menyenangkan ! Namja itupun mulai membuka pembicaraan, “Kau sudah selesai menemui Appamu?” tanya Donghae kemudian.

“Ne…” Jawab Yoona membuat Donghae kembali terperanjak. Bukan terperanjak kaget, namun terperanjak karena nafas yang berhembus lembut dilehernya. Nafas yeoja itu begitu sukses  membuat Donghae menggeliat. “Dan apakah kau juga sudah selesai menemui Appamu?” tanyanya balik.

Namja itu hanya bisa menelan ludahnya. Perlahan ia merasakan bulu kuduknya yang merinding tersengat sepoi angin. Juga tersengat suara Yeoja yang  mengayun lembut persis pada lubang telinganya.

“Oppa ! jawab pertanyaanku..”

“Ah ne..” jawab Donghae gelagapan. Lebih gelagapan saat namja itu merasa tangan Yoona mengelus dada bidangnya perlahan. Juga jemari yeoja itu membuka kancing  paling atas kemejanya.

Keringat Donghae mulai mengucur. Bahkan ditengah hembusan angin, keringat itu tak kunjung mengering. Namja itu pun menarik nafas lalu berkata, “Jangan lakukan hal aneh-aneh disini, Yoona-ah,” peringatnya.

“Memangnya aku kenapa?” tanya Yeoja itu memasang tampang sok polos. Ini buruk !

“Yoona-ah, lepaskan tanganmu..” perintah Donghae sembari melihat keatas pohon.

“Oppa, Aku gila karenamu !”

“M-mwo?”  kaget Donghae menahan nafas.

Yoona bangkit menegakkan badannya. Yeoja itu lalu terkikik geli, “Wajahmu itu konyol sekali.. kkkk..” bahaknya sambil memegang perut menahan tawa. Ia lalu berkata mengejek, “Oppa, wajahmu itu terlihat seperti habis memakan mie ramyun yang supeeerr pedas…”

Pelan, Donghae menghela nafas. Berusaha menormalkan detak jantungnya kembali, “Ya, baiklah, baiklah ! Kau menang ! fine?”

Yeoja itu berkacak pinggang, “Itu hukuman karena membuatku sebal !” tegasnya lalu tersenyum lebar, “Sekarang minggir ! aku ingin duduk diayunan.”

Terpaksa, Donghae akhirnya turun dari ayunan yang dinaikinya. Namja itu membiarkan Yoona duduk dengan senyum manis diatas ayunan itu. Melihat Yoona mengoyang—goyangkan ayunan itu pelan. Mengayun bebas sesekali memijakkan kakinya hendak menambah kecepatan.

Rambut Yoona tergerai acak. Helaian itu tersambar oleh hempasan angin yang bergerak bebas. Donghae ingin sekali menyentuhnya, rambut itu. Namja itu lalu memberhentikan benda yang sedari tadi mengayun diudara.

“Yak.. Turunkan !”  teriak Yoona saat Donghae mengangkat ayunan yang dinaikinya keatas.

Kedua kaki yeoja itu bergerak gerak panik. Ini terasa seperti naik permainan kora-kora yang mendadak macet.

“Turunkan, kubilang !..”perintah Yoona sekali lagi dengan penuh ketakutan. Sedangkan namja itu hanya terkikik.

Mendadak posisi jantung Yoona yang sedari tadi dijung tanduk mulai kembali ketempat asalnya. Ya, namja itu akhirnya menurunkan ayunan maut yang dinaiki Yoona. Dasar !

Yoona bangkit kemudian mendengus, “Kau belum lelah bermain-main rupanya, huftt”

“Begitulah..” ucapnya kemudian kembali naik diatas ayunan. Namun kali ini bukan duduk, akan tetapi berdiri diatas ayunan.

Namja itu lalu menjulurkan lidahnya, “Kau mau terus berdiri disitu, nona manis? Naiklah..”

“Mwo?”

Yoona berpikir sejenak seraya menatap Donghae yang tengah tersenyum kearahnya. Tak lama, ia pun memanjat berdiri diatas ayunan. Kini, posisi mereka seimbang. Berdiri berhadapan diatas ayunan. Melihat senyum masing-masing dan bersama-sama mendengarkan sepoi angin.

“Aku tidak akan jatuh kan?” tanya Yoona memasang tampang ragu.

“Kalau terus-terusan berpikir begitu, kau nanti benar-benar akan jatuh !” tampik Donghae.

Angin terasa semakin kencang. Ranting-ranting pohon bergerak semakin tak karuan. Ikut bergoyang ayunan yang menggantung pada salah satu ranting. Terguncang dan menyebabkan Yoona menjadi semakin ricuh, “Aku mau turun ! ahhh.”

“Berpeganganlah dan tunggu anginnya berhenti ! Kau tidak akan jatuh !” Tampik Donghae dengan entengnya.

Yoona menggingit bibir bawahnya. Yeoja itu memejamkan mata. Menunggu pusaran angin yang berhembus keras itu terhenti. Meski Ia merasakan kehangatan tubuh namja yang juga bergelayut didepannya, yeoja itu tetap merasa ketakutan. Perasaan takut  tiba-tiba saja mendorong kepalanya untuk bersandar pada dada bidang Donghae. Dan itu terasa lebih baik.

“Mmm anginnya sudah mereda..” terdengar suara seorang namja.

Yoona membuka mata. Yeoja itu kemudian membuang nafas penuh kelegaan,”Syukurlah..”

Donghae menatap manik mata yeoja didepannya. Sorot yang memancarkan perasaan takut. Juga perasaan lega yang mendalam saat hembusan angin terhenti. Berhenti mendorong ayunan yang mereka pijaki. Suara hembusan angin menghilang. Digantikan oleh suara hembusan nafas yang mendadak memburu.

“Kau baik?” tanya Donghae perlahan.

“Mmm” angguk Yoona menahan nafas.

“Setelah ini kau mau kemana?”

“Mau pulang ! kau?”

“Mmm ke kantor ! boleh kuantar..”

“Ya sudah !”

“Mmm kalau begitu kita akhiri saja.”

Yoona mendelik. Entah apa yang salah. Penglihatan-nya kah? Wajah itu mendekat. Semua gelap. Yoona memejamkan matanya erat. Merasakan sesuatu yang menyentuh bibirnya. Sekaligus mengaliri tubuh itu dengan kehangatan..Lagi …

………………….

Wajah Tuan Im menegang. Tangannya bergetar saat membuka kotak hitam yang baru saja diserahkan Yoona.  Ditatapnya isi kotak itu. Gantungan kunci ukiran kayu dan sebuah kertas lusuh terlihat disana.

Satu lipatan terbuka. Lipatan kedua, ketiga dan keempat. Helaian hitam diatas putih pun terbuka lebar. Coretan tangan dari seseorang. Rangkaian goresan yang membuat hati tuan Im terasa tercabik. Membuat luka itu kembali menganga lebar. Andaikan bisa mengulang semua…

Inilah yang ditakutinya. Saat ketika air mata itu mengucur. Tentu lebih baik jika Yoona tidak melihat appanya bersedih. Meskipun Tuan Im sangat merindukan anak itu namun saat kotak hitam itu terlihat, namja paruh baya itu ragu jika Ia bisa bersikap seolah segalanya baik dihadapan anak satu-satunya itu.

Tangan namja paruh baya itu bergetar hebat. Matanya sulit berkedip. Menatap lurus pada satu titik, kalimat dalam surat itu. Kalimat yang ternyata cukup menyesakkan. Hingga membuat butiran bening itu, air mata penyesalan dari pelupuk matanya mengalir deras.

Sedikit bekas cengraman disudut surat . Melambangkan betapa terpukulnya seseorang yang membaca surat itu.  Sakit. Dan rasa itu enggan menghilang…

“Mianhae..” Isak Tuan Im dengan suara yang tentu saja begitu bergetar.

Dipeluknya surat itu. Meresapi apa yang terjadi. Mencerna semua tanpa memikirkan hal buruk sesudahnya. Akan baik-baik saja. Yah, semua baik dan akan selalu baik. Kebaikan yang mendamaikan. Kedamaian yang membuat mata itu begitu mudah terpejam. Membuat perasaan itu begitu indah terjaga. Dan keadaan akan berubah, dan atau merubah semua !

……………….

Sepulangnya dari kampus, Sooyoung, Hyoyeon dan Taeyeon berencana mengunjungi seseorang. Yah, mereka baru saja tiba di gedung apartemen yang sekarang ditempati Yoona. Kemarin, temannya itu mengatakan bahwa dirinya sekarang tinggal di apartemen yang ditempatinya bersama Donghae.

Mereka bertiga hanya melongo, kaget dan shock saat melihat nyonya Lee baru saja keluar dari apartemen Yoona. Ya, sepertinya ada yang aneh ! Bukankah nyonya Lee sekarang sedang terlibat masalah dengan keluarga Yoona? Oh my God !  Dengan secepat kilat, Taeyeon, Hyoyeon dan Sooyoung  langsung berlari menuju ke ruang apartemen temannya.

“Yoona-ah, kau tidak apa-apa?” panik sooyoung usai Yoona membukakan pintu.

“Kumohon, jangan melakukan hal yang nekad !” seru Hyoyeon membuat kening Yoona berkerut. Temannya itu berkata seolah dirinya akan bunuh diri. Apa-apaan mereka?

“Apa dia datang untuk menyiksamu?” Taeyeon ikut memasang wajah khawatirnya.

Sejenak, Yoona merasa ada yang tidak beres dengan sikap temannya. Yeoja itu tampak memasang wajah sedang berfikir, “Kalian ini sebenarnya kenapa?”

Ketiga temannya malah saling pandang. Yoona pun terdiam melihat aura kebingungan masih melekat pada wajah temannya. Ia pun menyimpulkan. Sepertinya mereka kaget saat melihat nyonya Lee keluar dari apartemennya. Mungkin Yoona memang harus menjelaskan kesalahpahaman ini. Segera agar temannya itu tak lagi berpikiran aneh-aneh tentang dirinya.

“Ohhhhhhhhhhhhhhhhh” TaeHyoSoo serentak.

“Jadi, dia kesini karena ingin memberikanmu cincin keluarga,” paham Sooyoung melihat cincin putih yang dihiasi berlian merah itu.

“Nah, berarti keberadaanmu sudah diterima?, tapi kenapa Umma mertuamu bisa berubah pikiran?” tanya Hyoyeon menggaruk kepalanya bingung.

Yoona mendelik, “Yuri belum memberitahu kalian?”

Sooyoung mengerutkan kening, “Yuri? Akhir-akhir ini anak itu sibuk sekali ! Kami belum bertemu dengannya, wae?”

“Anyioo,” tampik Yoona.

“Lalu? Kembali kepertanyaanku tadi ! Tentang pendirian umma mertuamu !” tatap Hyoyeon dengan wajah antusias.

Pikiran Yoona membuyar, “Mmm mungkin Itu karena… karena  aku sedang hamil,”  gumam Yoona dengan intonasi yang masih jelas terdengar.

“Mwo? Hamil?” ujar Hyoyeon

“Nde..”

“Jeongmall???” tanya mereka serentak. Tak ada reaksi apa pun setelah itu. Teman-temannya ternyata masih speechless. Saking senangnya mungkin !

Yoona memajukan wajahnya, seperti hendak merampungkan sesuatu, “Bisakah kalian membantuku menyiapkan sesuatu?”

……………..

Tangan Donghae menutup sebuah map. Membuka map yang lain dan membacanya. Bahkan hari sudah segelap ini, pekerjaan yang sedari tadi menumpuk belum juga rampung. Pekerjaan ini seperti hilang ujungnya. Mata namja itu terus berkedip menahan kantuk.

Dongahe menaruh bolpoin yang dipegangnya diatas meja. Namja itu merebahkan kepalanya diatas tumpukan map seraya meguap lebar. Hari ini terasa begitu melelahkan !

Alunan lagu sorry-sorry menggema dalam ruangan sepi itu. Donghae terperanjak membetulkan posisinya. Namja itu mengerutkan kening saat melihat layar handphonnya.

“Yoboseyo ? Nugu ?”

“Ini aku ! Yoona. Sekarang aku memakai ponsel temanku !” Jawab suara diseberang dengan penuh semangat.

Donghae mengangguk seraya tersenyum, “Yoona?”

“Oppa,  bisakah kau pulang secepatnya ? Aku menyiapkan sesuatu untukmu !”

“Apa ada yang kau rayakan?”

“Kau benar-benar tidak ingat? Ini kan hari ulang tahunmu..”

“Dari mana kau tahu?” tanya Donghae penasaran.

“Dari Ummamu..”

Alis namja itu terangkat, “Ummaku?” gumamnya berpikir sejenak, kemudian terkekeh, “Yoona-ah ini  baru tanggal 14”

Cukup keras, Yeoja itu terdengar mendengus, “Ih, bagaimana sih? Malam ini kan tanggal 15?!”

Donghae mengangkat alis. Benar juga, “Baiklah !” ucap namja itu akhirnya.

“Yasudah, sekarang aku tutup yah ! Temanku bisa mengomeliku kalau tahu saldo pulsanya habis…” terang Yoona membuat Donghae menahan tawa, “Baiklah, aku akan pulang secepatnya..”

Donghae segera bangkit. Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada tumpukan map diatas meja. Merenggangkan badan lalu pulang menemui seseorang. Secepatnya itu harus !

Namja itu lantas membereskan meja kerjanya. Beberapa menit kemudian, ia pun hendak melangkah kearah pintu. Langkah yang sempat terhenti ketika seorang yang tak diduga-duga tiba-tiba menerobos masuk.

“Aku ingin bicara,” ucap seorang namja berjas.

Donghae hanya melirik sebentar kemudian terus melanjutkan langkahnya menuju kearah pintu, “Kurasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan !” ucapnya berjalan melewati orang itu.

“Dengar aku, Lee Donghae ! Berani mengabaikanku dan terima akibatnya,” sergah orang itu memberhentikan langkah Donghae sejenak.

“Aku lelah berdebat denganmu Hyung. Jangan libatkan aku lagi ! Selamat tinggal !”

Seusai Donghae melesat,  namja itu tersenyum penuh arti, “Kau sudah berani meremehkan Lee Sungmin rupanya,”

…………………..

Sesekali Doghae melirik jam tangannya sembari tetap fokus mengarahkan pandangannya kedepan hitam pekat jalan raya. Sudah semalam ini namun dirinya belum juga sampai. Lama sekali. Padahal jalan yang dilaluinya termasuk legang.  Namja itu benar-benar enggan membuat Yoona menanti kehadirannya lebih lama. Yah, Kemungkinan besar yeoja itu masih menunggu.

Donghae mengarahkan stirnya ke kanan. Persimpangan selajutnya yang biasa dilalui namja itu pasti sedang macet-macetnya sekarang. Jadi selagi ada jalan pintas menuju apartemennya, Ia pun memilih melewati jalan itu. Meski hanya jalan tikus yang lumayan sepi.

Drdrdrt..  Satu pesan masuk.

From : My Princess

Kau dimana? Kenapa lama sekali? Apa kau tahu, lilinnya sudah meleleh ! hahahaa just kidding :-p

Sebuah senyum terus tersungging dari wajah riang Donghae. Dasar konyol ! Apa-apaan yeoja itu ! Hmm Ini nyata. Pertama kali dalam hidup namja itu. Sebuah kali pertama saat Ia merayakan hari kelahirannya bersama someone special. Sulit disangka jikalau seseorang itu adalah yeoja yang sekarang telah memenuhi pikiran namja itu. Yoona.

To : My Princess

Ok… Tunggu aku sebentar lagi.. Seperti lilin itu, Kau juga pasti akan meleleh sebentar lagi   :-p

Ciitttt… Suara decitan ban mobil Donghae terdengar begitu nyaring. Rem mendadak pun berperan saat sebuah mobil sport hitam melambung dan berhenti secara tiba-tiba. Berhenti tepat didepan mobil Donghae yang tengah melaju. Namja itu mendengus kesal. Apa maksudnya?

Terlihat seorang namja tinggi yang mengenakan jaket kulit hitam keluar dari mobil sport itu. Donghae mengerutkan kening ketika seseorang itu mengetuk kaca mobilnya. Mau apa dia? Mungkin ada yang salah ! Donghae membuka kaca jendelanya, “Apa ada masalah?”

Namja berjaket itu hanya tersenyum miring. Ia lalu membuang muka sejenak kemudian menatap seolah memerintah Donghae untuk turun. Donghae hanya mengangkat alis. Namja berjaket itu malah menghalau sambil merentangkan kedua tangannya persis didepan mobil milik Donghae. Sungguh aneh !

Namja itu terpaksa turun dari mobil. Ditatapnya namja berjaket yang bukan hanya satu, tetapi dua. Mendadak sebuah perasaan mengganjal mulai menerpa. Perasaan bahwa bahaya sudah terpampang jelas didepan wajahnya. Tuhan !

Ingatan Donghae seperti memutar sebuah peristiwa. Namja itupun mengernyitkan dahi, “Apa kita pernah bertemu? Sepertinya wajahmu cukup familiar !”

Salah satu namja berjaket itu hanya terkekeh, “Huhh, ternyata dunia ini sangat sempit !”

“Mwo?”

“Kau ingat ? Saat di teater ! Kita memang pernah bertemu, dan kau tahu? pukulanmu itu masih berbekas !” ucapnya.

Donghae menyipitkan matanya sembari berpikir. Teater?…”Kalian ? Ah aku ingat ! Berandalan suruhan Sungmin Hyung?”

Kedua namja berjaket itu bertepuk tangan, kemudian salah-satunya berkata,  “Wah, wah, aku benar-benar tak menyangka jika kau itu adalah adik sepupu bos kami yang katanya menyebalkan !”

“Apa mau kalian?” tanya Donghae tanpa basa-basi.

Kedua namja itu kembali tersenyum miring. Senyum yang terlihat sangat memuakkan ! Apa yang kau harapkan dari senyum para berandalan.  Penuh kejahatan !

Dan semuanya pun dimulai. Para berandal itu mulai melayangkan pukulannya. Donghae yang seorang diri hanya bisa menghindar dan sesekali membalas. Perih, saat salah satu tinju para berandal mendarat diwajahnya. Sial !

Donghae terhempas saat salah satu berandal meninju perutnya. Namja itu menatap kayu yang tergeletak diatas kepalanya. Ia pun bangkit, memukul punggung kedua berandal. Diambilnya batu di atas tanah. Batu yang tepat mengenai sedikit wajah salah satu diantara mereka yang mencoba menghindar dari  lemparan batu itu.

Salah satu berandal tersungkur saat Donghae berhasil meninju matanya. Rasakan itu ! sang berandal jatuh tersungkur. Namja itu lalu bersiap memukul berkali-kali wajah berandal yang menurutnya sangat-sangat brengsek !

Terlihat seseorang lagi keluar dari mobil sport hitam. Dia? Sungmin Hyung?

Donghae melepaskan cengkramannya pada kerah salah satu berandal, lalu menendang berandal yang lain. Emosi namja itu benar-benar memuncak saat Sungmin dengan langkah enteng berjalan kearahnya.

“Apa maksudmu, huh?” gertak Donghae menarik kerah baju Sungmin. Sungmin hanya tersenyum menyeringai sembari meberikan isyarat berupa sebuah dengakan kepala. Seperti dugaan ! Sungmin selalu saja bersembunyi dibalik kaki tangannya ! Cih, Dasar pengecut !

Dengan cepat Donghae menjepit leher Sungmin, “Maju selangkah atau kupatahkan lehernya,” ancam Donghae pada berandal didepannya. Ia kemudian berbisik, “Hyung, kau pikir aku tidak bisa melakukannya, huh?”

Sungmin menelan ludah. Aura kepanikan muncul begitu saja dari wajahnya. Sulit disangka jika Donghae begitu nekad. Namun bukan Sungmin namanya jika hanya memasrahkan diri dalam keadaan seperti ini. Namja itu pun terkekeh kaku, “Kau yakin?”

“Mwo?” Gumam Donghae pelan. Yakin? Mengapa kata itu terdengar menusuk?

“Bagaimana dengannya?”

“…Jika kau menghajarnya, masalah ini pasti akan melebar ! Aku tak ingin kau kenapa-napa. Tolong pikirkan aku, dan.. anak kita.”

Donghae tertegun. Namja itu teringat kembali. Kalimat itu, rangkaian kata yang pernah diucapkan seseorang padanya. Yah, seseorang yang entah mengapa begitu berarti ! Begitu berartinya hingga membuat tubuh Donghae melemas. Cengkraman lengannya pada leher Sungmin pun terlepas. Membuat Hyungnya itu tersenyum penuh kemenangan.

Sungmin kembali tersenyum menyeringai. Ditatapnya penuh isyarat kedua kaki tangannya. Para berandal itu melangkah dengan aura keyakinan. Begitu yakin bisa membalas. Membalas seseorang yang nampak pasrah dan tengah menatap kosong.

“Bisa kita mulai?” Sungmin memberi aba-aba.

Para berandal itu memulai aksinya. Mereka mendorong tubuh Donghae hingga terkunci pada dinding mobil sport. Dididaratkannya pukulan demi pukulan. Donghae hanya diam mematung. Tubuh namja itu benar-benar kaku. ‘Yoona-ah mianhe’ batinnya.

“Kenapa? Kau diam saja, dasar bodoh !” gertak Sungmin mengangkat wajah namja yang kini tengah babak belur. Sedangkan namja itu hanya tersenyum menahan sakit.

“Kau tahu? akibat jika berani meremehkanku? Huh? Kau tahu akibat jika berani menentangku?”

Donghae menatap sinis, “Apa yang kau dapatkan dari semua ini Hyung?”

“Mwo? Tentu saja balasan untuk menghancurkanmu ! memberi peringatan agar kau berhenti bermain-main ! Agar kau sadar tentang siapa dirimu ! “ angkuh Sungmin lalu melanjutkan, “Kau melaporkanku ke polisi? Baiklah ! Tapi kau harus ingat jika diluar sana kaki tanganku akan membantuku membalaskan semua !”

“Untuk apa aku repot-repot mengirimmu ke kator polisi ?. Bukankah kantor polisi adalah tempat favoitmu selama ini?” kekeh Donghae.

Mata Sungmin membulat merah. Ia pun menarik kemeja Donghae kuat-kuat, “Kau sudah hafal itu ! dan lihatlah apa yang akan kulakukan !”

Drtdrtdrtdt…. Getaran handphone Donghae tedengar diantara suasana hening malam. Sungmin berfikir sejenak. Melepas cengkramannya pada tubuh namja yang seakan kehilangan tenaga, kemudian bergumam, “Kebetulan.”

Sungmin kembali menyeringai. Ia lalu mengambil paksa handphone milik Donghae dari saku celana namja itu. Segera dibukanya pesan yang masuk.

From : My Princess

Oppa ! Kau sudah dimana? Kau baik-baik saja kan? Kepalaku sudah berjamur karena menunggumu… hehehee :-p

Pikiran sungmin seakan mendapat pencerahan. Tentu saja pencerahan agar anak ingusan itu berhenti meremehkannya. Sungmin mulai membalas dengan cepat pesan dari Yoona. Rasakan itu !

“Apa yang kau lakukan Hyung ! Jangan berkata macam-macam pada Yoona…” tegas Donghae ingin merampas hanphone miliknya dari tangan Sungmin namun, sebuah pukulan dari tangan para berandal lebih dulu menghantam perutnya.

Drtrtrtrt… satu pesan kembali masuk. Sungmin terlihat membalas begitu seterusnya. Namja itu berbalik tersenyum sinis, “Lihat ! apakah yeoja itu masih mau menerimamu?” ucapnya kemudian menjatuhkan handphone yang dipegangnya ke tanah.

Donghae menatap nanar handphonenya yang seolah adalah barang rongsok. Rahang namja itu mendadak menegang, “Hyung, kau tahu betapa menjiikkannya sikapmu?”

“Mwo?”

“Kau seperti ini karena perusahaan kan? Jika iya, harusnya kau mencari cara yang lebih terhormat ! Sampai mati pun Appa tidak akan mempercayakan perusahaannya pada orang yang menjijikkan sepertimu. Coba kau pikir, siapa yang bersedia perusahaannya hancur karena dipegang oleh berandalan sepertimu?” terangnya memberi penegasan, ‘Kau berandalan..,”

Satu tinju kembali mendarat kewajah Donghae. Namja itu hanya menunduk menahan sakit. Bukan ! Tubuhnya telah mati rasa. Perasaannya jauh lebih sakit membayangkan saat ketika Yoona membaca pesan yang dikirimkan Sungmin. Donghae begitu sulit menebak perasaan Yeoja itu sekarang. Bodoh ! Tentu saja, sangat terluka.

Sungmin kembali mencengkram kerah kemeja Donghae, “Ulangi kata-katamu anak bodoh !”

Namja itu hanya tekekeh, “Sungmin Hyung, seorang berandal yang bermimpi menjadi pewaris perusahaan… Ingin memiliki semua tapi berusaha merebut dengan cara seperti seorang berandal menjijikkan,” tatap Donghae lalu melanjutkan,  “Kau tahu? Mengapa Appa memilihku? Itu karena aku adalah seseorang yang selalu berusaha menunjukkan sikap terhormat !”

Nyaris satu lagi pukulan melayang. Semua terhenti saat Sungmin mengangkat tangan kanan nya, “Sudah hentikan !” Sungmin lalu menatap lekat wajah namja yang tengah tertunduk kesakitan, “Dengar ! Lihatlah, bagaimana cara seorang berandal menjadi terhormat !” tegasnya kemudian menghempaskan tubuh Donghae agar lengser dari mobil sport hitam miliknya.

“Kita pergi !” ucap Sungmin masuk kedalam mobil pada bangku penumpang. Juga diikuti oleh kedua kaki tangannya.

Usai mobil sport hitam itu melaju, Donghae belum juga membangkitkan tubuhnya dari atas tanah yang dipenuhi oleh dedaunan kering. Namja itu masih saja menatap handphone yang tergeletak persis diatas kepalanya. Ia pun meraih handphone itu dengan tangan bergetar. Dengan sisa tenaga, jemarinya berusaha mencari nomer handphone Yoona didalam buku kontak.

“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif..” terdengar suara operator.

Tuhan ! bagaimana ini? Yoona jelas telah salah paham. Yeoja itu kemungkinan besar merasa sangat terpukul saat membaca pesan aneh yang dikirimkan Sungmin tadi.

Donghae harus menjelaskan sesuatu. Menceritakan kejadian sebenarnya sebelum kesalah pahaman itu kian melebar. Segera ! Segera dirinya harus bangkit dan menemui yeoja itu. Menemuinya bukan hanya kerena  sebuah kesalahpahaman. Melainkan karena janji itu. Yah, Donghae sudah berjanji akan pulang untuk merayakan ulang tahunnya bersama Yoona. Yeoja itu sudah lama menunggu. Dan.. dan tentu saja namja itu harus membayarnya. Waktu yang telah disisihkan Yoona hanya untuk sebuah pesta ulang tahun. Tuhan !  Ini mungkin lebih buruk !

…………………

Lagi. beberapa kali Yoona memandangi jam dinding yang tergantung diatas kepalannya. Yeoja itu bahkan menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan namja itu untuk melaju dari kantornya kemari. Itu sekitar empat puluh lima menit. Belum ditambah macet dan lain-lain. Mungkin totalnya sekitar satu jam lima belas menit. Tapi ini sudah lebih tiga puluh menit dari total waktu ! Menyebalkan !

Yeoja itu berjalan menatap kearah meja makan yang telah ia siapakan untuk merayakan ulang tahun Donghae. Sebuah kue tart dengan lilin bertuliskan angka 26 dan tulisan ‘Happy Brithday dipinggirnya’. Kue yang susah payah dibuatnya bersama ketiga temannya. Sup jagung kesukaan namja itu, sirup strawberry, puding, dan macam-macam. Banyak sekali ! Lebih banyak lagi jikalau saat itu Sooyoung tak memakannya secara diam-diam. Huh ! Tapi tak apalah !

Sedikit bosan, Yoona mengambil handphonenya dari atas meja disamping sofa dan..

Trengg… Sebuah gelas kaleng tersenggol sikut yeoja itu. Untung hanya gelas kaleng. Coba gelas kaca? Pasti akan pecah. Pecah?

Yoona mengambil gelas kaleng yang terjatuh. Ditatapnya gelas itu. Sungguh ! Yoona merasa pikirannya begitu sensitive. Ada yang mengganjal sepertinya. Tapi sudahlah, mungkin itu hanya salah satu pikiran bodoh dan berlebihan yang berkeliaran bebas.

Yeoja itu meggeleng pelan. Diketiknya beberapa pesan dengan senyum mengembang.

To : Donghae Oppa

Oppa ! Kau sudah dimana? Kau baik-baik saja kan? Kepalaku sudah berjamur karena menunggumu… hehehee :-p

Drtt… satu pesan masuk. Cepat Yoona membuka pesan itu. Dari Donghae rupanya. Tunggu ! pesan apa ini ?

Yoona mengerjapkan matanya berkali- kali. Mengecek apakah ada yang salah dengan penglihatannya atau apapun. Namun sepertinya tidak. Tidak karena ini nyata. Sangat nyata dan membuat jantung yeoja itu seakan berhenti berdetak. Matanya memanas dan bibirnya terasa kelu. Apa benar ini dia?

From  : Donghae Oppa

Kau bertanya aku dimana? Mmm biar kukatakan. Sekarang aku sedang bersenang-senang dikamar hotel. Jujur, aku sudah sangat bosan denganmu. Jadi, jangan menungguku ya sayang ! Saranghaeyo..❤

Dengan tangan bergetar dan nafas yang memburu, Yoona segera membalas pesan itu…

To : Donghae Oppa

Oppa ! candaanmu sangat tidak lucu ! Ini benar-benar kau atau bukan ?

Tak lama namja itu pun membalas lagi…

From : Donghae Oppa.

Aku serius sayang ! Ini benar-benar aku ! ini nomer siapa lagi Yoona.. Im Yoona?

Tubuh Yoona benar-benar melemas. Handphone yang dipegangnya terlepas begitu saja. Ini benar atau salah? Jika itu bukan Donghae, lalu bagaimana bisa orang itu mengetahui bahwa namanya adalah Im Yoona? Sepengetahuan yeoja itu, bukan nama Yoona yang terpampang dalam kontak handphone namja itu. Melainkan ‘My princess’

Mungkin orang suruhan ! Tapi beberapa menit yang lalu semuanya normal. Dan.. dan apa lagi?

To : Donghae Oppa

Jadi ini benar-benar kau?

From : Donghae Oppa

Tentu saja ! Kukira dulu kau membenciku kan? Aku sakit hati. Jadi tak ada salahnya kan jika aku membalas perbuatanmu sekarang ! Ya sudah selamat malam. Miss You honey..

Tangis Yoona benar-benar tertumpah. Ini sangat sakit. Yeoja itu berharap seseorang berkata padanya bahwa ini salah. Hanya itu yang dipikirkannya. Selain itu semuanya kosong.

Yeoja itu memegang dadanya yang kian menyesak, “Kau tega, Oppa… aku membencimu… hikzz..”

Yoona lalu mengacak rambutnya frustasi, “Aku sudah mengorbankan semuanya… sudah memberikan semuanya… tapi kenapa kau begitu jahat.” ucapnya terhenti sejenak kemudian melanjutkan dengan ragu, “Dan kau juga ingin balas dendam seperti appamu? Kau berpura-pura selama ini.. kau benar-benar jahat.. Hikzz.”

Beberapa lama Yoona air mata Yoona tak juga terhenti. Beberapa kali yeoja itu mencoba menyeka. Namun nihil. Air mata itu tetap bergelinang menerobos pelupuk matanya. Hingga suara bell pintu terdengar begitu nyaring.

TING..NONG.. Yoona berharap seseorang yang datang adalah seorang penjahat yang siap membunuhya kapan saja.

Dengan langkah lunglai, Yoona berjalan kearah pintu. Dibukanya pintu itu dengan kasar dan..

Bukkk… Tubuh seseorang tiba-tiba saja menimpanya dari depan. Mata Yoona terbelakak, “Donghae Oppa?”

Terlihat wajah Donghae yang.. begitu.. memperihatinkan. Mungkin namja itu usai dipukuli oleh polisi? Petugas hotel? Yoona meresapi kemungkinan-kemungkinan yang mengendap dikepalanya.

Beberapa langkah kaki Yoona mundur kebelakang. Tubuh namja yang sedang sempoyongan itu benar-benar berat. Dari jarak yang begitu dekat, Yoona bisa melihat wajah namja itu. Wajah yang memiliki lebam dimana-mana. Sepercik darah juga masih tertinggal disudut bibirnya. Yoona mengarahkan telapak tangannya pada sisi kiri wajah namja itu. Tindakan yang nyaris saat yeoja itu mengingat tentang sebuah pesan.

“Yoona-ah, mianhe aku membuatmu menunggu lama,” sesalnya pelan dan terbata.

“Tak perlu merasa bersalah ! kau sudah menyuruhku untuk  berhenti menunggu, bukan?”

Namja  itu mendelik dengan wajah sendunya, “Pesan itu bukan dariku, percayalah !”

“Lalu dari siapa lagi?” Sergah Yoona cepat dengan suara bergetar.

“itu.. dari..”

“Siapa?” tatap Yoona tajam

Donghae terlihat menahan nafas. Bukan, tapi menahan sakit diperutnya, “Orang yang tak ingin kau bahas.”

“Apa? Orang yang tak ingin kubahas?” Yoona berpikir sejenak seraya menerka,  “Sia…pa.. ” terawang yeoja itu lalu tertunduk.

“Yoona-ah, aku tidak mungkin berbuat seperti itu padamu… Aku mencintaimu,” ucap Donghae dengan suara yang semakin mengecil.

Tubuh Donghae nyaris ambruk. Membuat yeoja yang menahan tubuhnya nyaris terpental kebelakang. Nyaris saat sebuah tembok berhasil menahan punggungnya.

Air mata Yoona kembali tertumpah, “Kenapa? Dia melakukan ini? Oppa kumohon jangan begini..”

“Saranghae..” ucap Donghae seraya mendekatkan wajahnya. Semakin dekat hingga Yoona harus memejamkan matanya saat merasakan jarak yang begitu dekat diantara mereka.

Brukk.. Donghae akhirnya terjatuh. Pertahanan namja itu benar-benar roboh. Kerapuhan yang membuat Yoona membuka matanya cepat.

“Oppa..” jerit Yoona menguncang-guncang tubuh Donghae yang tampaknya masih setengah sadar, “Oppa, bangun.. kau baik-baik saja kan? Katakan padaku jika kau baik-baik saja !”

Donghae membuka matanya perlahan. Namja itu lalu berkata dengan sisa suara yang masih tersangkut, “Mianhe, Yoona-ah.. “

“Donghae Oppa.. jangan begini.. hikzz…” tangis Yoona.

“Uhukk..” Donghae sedikit terbatuk.. dan.. dan.. dari dalam mulutnya mengalir darah segar. Yoona menggeleng tak percaya. Yeoja itu lalu menyentuh dengan erat wajah namja yang sudah tak sadarkan diri dipangkuannya. Ini mustahil !

“Oppa, bangun ! Bangun kubilang !” jerit yeoja itu kembali.

………………………..

Seorang yeoja paruh baya sedang berlari tergopoh. Lorong rumah sakit yang dingin seakan enggan menembus kulitnya. Perasaan yeoja itu sangat kacau sekarang. Terlihat dari nafasnya yang terdengar berkejaran juga wajahnya yang mengkirut dipenuhi oleh aura kecemasan.

“Apa yang terjadi sebenarnya, Yoona-ssi,” tanya yeoja paruh baya itu ketika tiba dihadapan seorang yeoja yang duduk tertunduk lemas.

Yeoja yang dipanggil Yoona itu hanya mampu terisak, “Itu.. Umma.. Donghae Oppa..”

Wajah nyonya Lee semakin mencemas, “Ada apa ??” desaknya menguncang-guncang tubuh Yoona.

Yoona tetap terdiam dalam isakannya. Membuat tubuh nyonya Lee melemas seketika. Ia pun ikut terduduk disamping menantunya. Hanya ada suara tangis. Suara yang lantas memecahkan keheningan didepan ruang rawat itu.

“Bertahanlah..” rintih Yoona dalam tangisannya.

Nyonya Lee menatap sendu kearah Yoona. Yeoja yang tengah mengandung seharusnya batin dan emosinya terjaga. Sangat berbanding terbalik. Menantunya  itu terlihat sangat terpukul. Mata Yoona terlihat merah sembab. Rambutnya terlihat berantakan. Dibajunya terlihat serpihan noda darah. Apakah itu? Ya Tuhan !

“Yoona-ssi, sudah !” ucap nyonya Lee menenangkan. Yeoja paruh baya itu menepuk punggung Yoona pelan, kemudian menyenderkan kepala yeoja itu dalam dekapannya.

Cukup lama terperangkap dalam ketidakpastian, Dokter yang menangani Donghae pun akhirnya keluar dari sebuah ruang rawat.

Nyonya Lee dan Yoona bangkit, kemudian menatap penuh harap, “Dokter, bagaimana keadaan anak saya?”

Dokter itu menarik nafas kemudian menjawab, “Lebam luka luarnya cukup banyak. Dia juga terluka dibagian dalam. Kami sudah meminimalisir infeksi. Biarkan pasien beristirahat ! kami akan memantau perkembangannya.”

“Nde, Dokter.. tapi, apakah kami sudah bisa melihat keadaannya..”

“Silahkan ! Tapi mohon harap tenang karena pasien masih belum sadarkan diri,”

“Ne, Gomawo..”

Ruangan dingin itu seakan menyambut kedatangan Yoona dan umma mertuanya. Yeoja itu menatap namja yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan selang infus ditangannya. Juga selang oksigen yang masih tersambung pada tubuhnya. Balutan perban pun memenuhi wajahnya.   Benarkah orang itu adalah dia?

“Oppa, mianhe..” ucap Yoona dengan susah payah kemudian menyeka air matanya, “Pesta ulang tahunmu malah berantakan, mian..”

Nyonya Lee mensejajarkan posisinya dengan Yoona lalu berkata dengan tatapan tajam, “Katakan padaku siapa yang melakukan ini ! Kau pasti tau kan?”

Yoona tercekat. Mengatakan sebenarnya, apakah itu mungkin?

“Baiklah jika tidak mau mengaku !” timpal nyonya Lee kemudian meyambung, “Cepat atau lambat segalanya akan terungkap !”

Hening. Yoona hanya membisu. Pikirannya terlalu kacau untuk mengungkap semua. Yeoja itu hanya mampu menghela nafas pasrah. “Oppa, bisakah kau memberitahuku apa yang seharusnya kukatakan pada Umma?” Yoona berkata dalam batin.

…………………….

“Tuan Lee, Aku bisa saja mengurangi hukumanmu, atau mengeluarkanmu mungkin? Jika kau mau aku akan berusaha..” kata seorang pengacara.

Namja yang dipanggul tuan Lee itu hanya terdiam. Membuat dahi sang pengacara mengernyit, “Tuan…”

“Nde..” sentak tuan Lee tersadar dari lamunan panjang.

“Aku akan berusaha mengeluarkanmu dari sini.. melakukan usaha banding ata..”

“Cukup ! Jangan lakukan apapun.. biarkan aku disini dengan sisa hukumanku,” timpalnya memotong.

“Mwo?”

Flash Back

Mata seorang namja paruh baya menatap tajam kearah seseorang yang terbaring beralaskan lantai persis didepan jeruji. Pandangannya berubah sinis seiring dengan langkah yang kian mendekat, “Bahkan kau masih bisa tidur dalam keadaan seperti ini?”

Alis namja paruh baya itu terangkat. Dilihatnya sebuah kotak hitam dan surat yang tengah dipeluk namja yang sedang terbaring itu secara bergantian. Kotak? Surat?

Penasaran. Diraihnya surat itu..

Kepada : Dua orang sahabat spesial yang selalu menemani setiap rasa dalam jiwa. Sahabat yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk saling mengenal. Sahabatku Im Chae Won dan adikku Lee Young Jin.

Bersamaan dengan surat ini, aku ingin menyampaikan permohonan maafku kepada kalian. Permohonan maaf atas kelancaganku lari dari keributan dan membiarkan dugaaan-dugaan pembawa bencana itu muncul. Mianhamnida…

Tentang bekerja sama dengan group Kang, aku memang menyetujui  Im Chae Won untuk melakukannya. Ini karena saat itu  kondisi keuangan group Lee dan Im memang sedang terpuruk. Lebih terpuruk saat salah satu orang kepercayaan tuan Im tanpa diduga sengaja membawa lari sejumlah uang dari group Lee.

Maka dari itu usul untuk bekerja sama dengan group Kang kusetujui. Ini agar keuangan group Im stabil. Kestabilan itu juga nantinya mampu membantu meningkatkan ekonomi perusahaan yang sedang bekerjasama dengannya, ialah group Lee.

Namun takdir berkata lain, ketika para saingan bisnis banyak menggunjing tentang hal itu. Memfitnah group Lee membuat cerita palsu tentang pengiriman uang pada group Im. Group Im yang sedang mencoba bangkit pun tak ingin nama baiknya tercemar karena ketidakprofesionalannya. Sangat disayangkan, mereka memanipulasi laporan keuangan dan tambah memojokkan group Lee. Inilah awal mula kasalah pahaman itu berlanjut..

Tapi selalu ada pelajaran dibalik suatu kejadian kan? Mungkin pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini adalah belajar bangkit dari keterpurukan. Belajar mandiri dan bekerja sama membangun itu. Jadi, jika beberapa menit lagi aku menghilang dari dunia ini, mohon jangan bangun jurang diantara kalian. Bahkan arwahku gelisah jikalau masih ada hawa kebencian yang menyelimuti hubungan kedua sahabat baikku.

Untuk terakhir kalinya kumohon, ‘jangan menyalahkan siapa pun !’ Aku percaya hati kedua sahabatku jernih, dan ikhlas dalam menjalin kerjasama. Namun mungkin krikil tajam itu masih lebih banyak menghadang Tapi aku percaya jika rasa keyakinan dan kepercayaan yang lama tertanam akan mampu menghancurkan cobaan.

Terakhir kali, demi  aku ! bangunlah masa depan. Keluarlah dari masa lalu yang begitu membingungkan. Ini mungkin salahku ! Salahku karena telah menyetujui tuan Im untuk bekerja sama dengan group Kang. Yang merupakan awal mula masalah… jadi biarkan aku tenang dengan memaafkan seseorang akibat ulah yang kutimbulkan…

Sekian dariku,

Lee Young Min.

Keringat namja paruh baya itu mendak mengucur deras. Tulisan itu, benar ! Tulisan kakaknya, Lee Young Min. Oh Tidak ! Siapa pun katakan ini salah ! Ini hanya surat palsu. Tapi gantungan kunci itu. Gantungan kunci kayu yang mengukir namanya. Coretan tangan yang begitu jelas. Ini benar?

Flash back end

“Biarkan aku menerima hukuman,” gumam tuan Lee tertunduk.

“Pergilah” gumamnya pada namja didepannya….

“Mwo !??…ohh…mmm baiklah…Jika anda memerlukan bantuan, Anda dapat menghubungi saya..” Pengacara itu bangkit dari posisinya, “Permisi..Gamsahamnida !” ucap pengacara Oh kemudian beranjak pergi..

Tuan Lee menatap kepergian pengacara Oh kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang jenguk. Tentu saja namja paruh baya itu kembali ke tempat dimana ia menjalani sisa hukumannya…hukuman ? Apakah ia melakukan kesalahan ? Pikirannya kembali menerawang pada surat itu, yahh surat yang di tulis adiknya untuk dirinya dan Im Chae won… Im Chae won ! Ia harus segera menemui orang itu.

Segera ia melangkah menuju suatu tempat, Seperti dugaannya, namja paruh baya yang dicarinya berada di tempat itu, tepatnya di bawah pohon yang berada di sekitar halaman rumah tahanan…

“Chae won-ssi, bisakah kita bicara ?”

“Apa yang ingin kau bicarakan dengan orang sepertiku.”

“Surat itu, apakah itu…mm be-be-ben-ar ?”

“Surat ?? dari mana kau tau ??” jawab tuan Im dengan wajah berkerut.

“Aku diam-diam telah membacanya…”

“Ituu..”

“Katakan padaku jika itu bohong…itu tidak benar kan ?? kau mengarangnya agar aku merasa seperti orang yang paling bodoh, iyakan ?” ucap tuan Lee dengan nada tinggi.

“Lee young min-sii awalnya, aku juga tidak percaya ! gantungan kunci, surat, tulisan milik Young Min ada dalam kotak itu.. pembantuku yang menemukannya ! Itu bukan karanganku atau siapapun itu…terserah kau mau percaya atau tidak ! aku…tidak akan memaksamu !!!” jawab tuan Im tak kalah tinggi..

“Salahku…ini semua salahku..aku tidak menyadari keberadaan kotak itu di rumahku… mian,” sambungnya menyesal.

“Hentikan !! Ini semua tidak benar…hahahaha…ini semua tidak benar ! tidaak !!!” ucapnya sambil tertawa. Tidak ! namja paruh baya itu kelihatan telah menangis, ia mungkin ingin menyembunyikan butiran bening itu dan… Ia memilih pergi…

“Kau bohong !! bohong !!!” Sambungnya lau beranjak pergi…

“Mianhe…mian…” ucap tuan Im dengan butiran bening yang seakan nyaris tertumpah juga..

……………….

Dengan senyum riang, seorang yeoja yang baru saja pulang dari kampusnya berjalan melewati koridor rumah sakit. Terlihat dari tumpukan buku yang tertata diatas lengannya. Juga tas selempang coklat yang terpasang dipundaknya.

Pandangan yeoja itu tertuju pada sebuah ruangan. Tepatnya sebuah ruang rawat rumah sakit. Dibukanya pintu ruangan itu. Sambutan hawa dingin nan menusuk datang menggelitiki kulit yeoja itu. Seperti biasa !

Seorang Yeoja paruh baya dengan kemeja rapih bangkit dari tempat duduknya ketika melihat kedatangan seseorang. Sepertinya Ia hendak pergi, “Ah Kau sudah datang? Yoona-ah, Umma ingin keluar sebentar… tetaplah disini.”

“Ne Umma.” Patuh Yoona membungkuk mengantar kepergian nyanya Lee.

Usai kepergian yeoja paruh baya itu, pijakan Yoona beralih pada seorang namja yang sedang terbaring diatas tempat tidur rumah sakit. Sudah dua hari ini namja itu belum juga siuman. Mungkin besok.

“Oppa, apa kau sudah makan? Kau belum mencoba kue uang tahun yang kubuat,” ucapnya memanyunkan bibir, “Makanya cepatlah sadar ! sangeil chukka hamnida…kau mendengarku kan ?” ujar Yoona dengan air mata yang tertahan.

Selamat ulang tahun ! Kata yang selalu diucapkan Yoona selama ini. Kata yang ingin sekali diucapkannya pada malam itu. Malam ketika Donghae juga mengucapkan kata ‘saranghae’ dan Yoona? Ia hanya mematung. Bukankah harusnya kata selamat itu bisa terucap?  Setidaknya itu bisa memberikan kekuatan bagi dia untuk… menahan rasa sakit yang datang…

Yoona mengalihkan pandangannya. Sebelum air mata yeoja itu tertumpah, sebaiknya ia menyibukkan diri. Membaca buku, menulis, main handphone atau apa pun. Nah, mengingat besok akan diadakan kuis pada jam pertama, lebih baik jika Ia belajar.

Lembaran pertama buku bersampul merah terbuka. Mata Yoona mengeja setiap kata pada setiap halamannya. Sudah beberapa halaman terlewati. Sesekali yeoja itu megerutkan kening tanda jika hal yang dibacanya terasa cukup rumit. Ia pun menghela nafas mengibaskan poninya, “Aku benar-benar tidak mengerti bagian ini..” dengusnya lalu menatap namja didepannya, “Donghae Oppa, kau pernah mengajariku tentang ini kan? Jadi bisakah kau mengajariku sekali lagi ? Kurasa aku sedikit lupa, hehe…”

Bosan. Yoona menutup  halaman buku yang telah selesai dibacanya. Ia memopang dagu seraya menguap lebar, “Aku juga mau tidur, bolehkan?” ucap Yoona mengecup bibir namja yang terbaring itu sekilas kemudian berkata, “Selamat tidur, honey…”

Selang beberapa lama kemudian, mata namja yang telah lama terpejam itu membuka perlahan. Sedikit ia merasakan tekanan berat dikepala. Pandangannya samar-samar melihat ruang serba putih telah mendominasi pantulan cahaya. Sedikit Ia mencoba menggerakkan jemari yang terasa begitu kaku. Hanya bergerak sedikit, selebihnya Ia malah merasa tenggorokannya begitu kering. Tentu saja, Berapa lama Ia terbaring?

Sudut matanya menangkap sosok wajah  yang tengah tertidur pulas disampingnya. Wajah yang telah lama dirindukannya. Pandangan itu terasa sulit beralih kelain arah. Titik fokus dalam mata namja itu hanya mengarah pada wajah teduh seorang yeoja. Susah payah digapainya wajah itu dengan tangan yang bergetar kaku.

“Yoona-ah,” panggil Donghae…

Mata Yoona mengerjap saat merasakan setuhan diwajahnya. Perlahan mata itu membulat, “Kau sudah sadar?” ucapnya kaget, “Aku akan memanggil Dokter !”

“Tak perlu,” sergah Donghae menahan langkah yeoja itu.

Kening Yoona mengerut, “Wae?”

“Aku haus..”

Yeoja itu mengangguk pelan kemudian  membantu Donghae untuk meminum segelas air putih. Ia tersenyum lalu menunduk.

Donghae bergeser sedikit dari posisi tidurnya, “Tidurlah disini..” ucapnya menepuk sisa tempat disampingya.

“Disini?” tanya Yoona bingung. Yeoja itu berpikir sejenak kemudian tersenyum, “baiklah !”

Seperti pasien, Yoona merebahkan badannya disamping namja yang masih terbalut selang infus. Yeoja itu melihat ke awan-awan balpon. Putih dan dingin namun tidak untuk sekarang. Entah mengapa tubuh namja itu selalu terasa hangat. Ingin rasanya Yoona memeluk tubuh  namja yang tengah terbaring itu erat.

“Hai..” sapa Donghae.

“Hai…”

“Bagaimana kabarmu…”

“Baik.. kau?”

“Biasa saja,”

“Oh.”

Donghae terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Mmm siapa namamu, kau tinggal dimana, apa hobbymu, buah apa yang kau suka…”

“Warna favoritmu, apa cita-citamu, mmm berapa kali kau makan dalam sehari ?” sambung Yoona kemudian.

Mereka saling pandang dan hening…

Percakapan konyol. Percakapan anak usia lima tahun yang bertemu teman baru.  Keduanya terus memikirkan percakapan itu. Mereka tersenyum seraya menahan tawa. Konyol dan menyenangkan.

Tawa mereka terhenti ketika bukaan suara pintu terdengar. Yoona cepat-cepat bangkit dan membetulkan posisinya, “Anyong haseyo Umma,” sapa Yoona membungkuk hormat pada nyonya Lee yang baru saja masuk.

“Bagaimana keadaannya?” tanya nyonya Lee.

“Dia sudah sadar, Umma !”

Mata nyonya Lee membulat, “Benarkah?” ucapnya lalu berlari kearah tempat tidur rumah sakit. Ia lalu menatap sendu kemudian terdiam. Yeoja paruh baya itu lalu berbalik kearah Yoona, “Yoona-ah, bisakah kau keluar sebentar?” pinta nyonya Lee membuat Yoona memasang wajah penuh tanda tanya.  Yeoja itu hendak mengatakan sesuatu namun diurungkannya niat itu. Ia pun hanya menunduk patuh lalu segera keluar.

“Donghae, kau tidak apa-apa Nak ?”

“Ne, Umma”

“Sebenarnya Umma ingin bertanya sesuatu ! Umma tahu kau baru saja siuman, tapi kupikir ini penting dan mendesak !” ucap nyonya Lee.

Donghae menarik nafas pasrah, “Ne umma katakankah.”

“Tolong kau jujur  ! apa Sungmin yang berbuat seperti ini padamu?”

“Umma….”

“Jawab !”

Namja itu menghela nafas sejenak kemudian menjawab, “Nde, kupikir umma pasti sudah curiga ! Tapi kumohon jangan memperpanjang masalah ! Biarkan Hyung yang menyelesaikan masalah ini sendiri. Jangan libatkan polisi atau siapa pun..” jelas Donghae.

Tubuh nyonya Lee melemas, “Omo.. jadi itu benar? Pantas saja anak itu ke Amerika..”

“Mwo? Ke Amerika?”

“Iya, barusan tadi umma pulang kerumah dan dia malah berpamitan akan ke Amerika.. Tuhan ! anak itu.. ” rintih nyonya Lee mengeluh.

“Oh iya, Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaanmu ! kau baik-baik saja kan ? Apakah kau tau, Umma sangat ketakutan kemarin..” ucapnya lalu melanjutkan “Mengapa anak-anakku selalu terlibat perkelahian..OMO..!!!”

“Umma mianhe…”ucap donghae menyesal.

“Hmmm”

………………………

Yoona duduk mengayun diantara lorong tunggu. Begitu lama yeoja itu berkutat dalam pikirannya. Menerawang apa yang dikatakan nyonya Lee pada Donghae. Sesekali Ia melirik arloginya. Beberapa menit yang sepi.

Drtdrtddrt… Suara getaran handphone membuyarkan lamunan yeoja itu seketika.

“Yoboseyo?… umma?… aku di rumah sakit wae?… mwo?… rumah sakit Seoul ruang 221… Nde…” Yoona mengakhiri sambungannya kemudian tertunduk lemas. Baru saja yeoja itu mendapat telepon dari Ummanya, nyonya Im. Beliau sudah tiba di Seoul. Kini nyonya Im berkunjung ke apartemen Yoona. Namun kosong. Jadi sebentar lagi ummanya itu akan kemari. Lalu bagaimana dengan umma Donghae? Sejak pertengkaran pada waktu lalu, benih kekesalan itu mungkin masih ada.

Lama sekali. Sudah sekian lama Yoona menunggu diluar. Apakah sekarang dirinya boleh masuk? Ah, sebaiknya jangan. Mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Yah, mungkin.

Terlihat seorang Dokter dan beberapa tim medis memasuki kamar tempat Donghae dirawat. Yoona bangkit dan mencoba melihat keadaan didalam. Sepertinya namja itu baik-baik saja. Yoona melihat beberapa tim medis mulai memeriksa beberapa peralatan kedokteran. Terlihat pula nyonya Lee berjalan menuju pintu keluar.

Yoona mengalihkan pandangan dan mencoba duduk kembali.

Nyonya Lee ikut duduk disamping menantunya, “Sikapmu masih kaku,” ucapnya lalu melanjutkan, “Mungkin dimatamu aku adalah seseorang yang begitu galak, kaku atau kolot, bukan?”

“Ah, Aniyo bukan begitu… ak..” perkataan Yoona terhenti saat melihat sesosok yeoja paru baya. Itu, ummanya. Nyonya Im terlihat baru saja berbelok dan berjalan ketempatnya berada.

“Umma..”

Nyonya Lee menatap pandangan Yoona yang jelas bukan tertuju kearahnya melainkan, kearah  lain. Nyonya Lee pun berbalik, “K-Kkau?”

……………… To Be Continued………………..

Lapak is opened !!!

Let’s RCL guys..^_^

Nb : Setelah aku pikir-pikir # Mian, aku emang kebanyakan mikir hehehe… next  part mungkin adalah episode terakhir dari FF ini. Jadi tungguin yah.. Gomawo ^__^

48 thoughts on “SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 9)

  1. RinduforKPop berkata:

    apakah aku yang pertama????

    akhirnya keluar juga part 9 nya…
    belum lumutan sih nunggunya, hanya ‘hampir’ lumutan…
    setelah baca part 9, sudah tercium aroma2 ending nih….
    masalahnya sudah hampir selesai, tinggal masalah antara Nyonya Lee dan Nyonya Im…
    bener kan????

    OOhh iya, berhubung reader satu ini lagi kritis *halahhh* jadi pengen kasih kritik tentang sedikit typo…
    itu kata ‘Terperanjak’ harusnya ‘terperanjat’ dan yang author maksud dengan ‘balpon’ itu mungkin ‘plafon’ kali yaa…

    Mian, reader satu ini cerewet bgt…
    next part kalo inspirasi datangnya lebih cepat, langsung di post ya… biar ga da yg keriputan nunggu nya hehehe

    Semangat buat author!!!

  2. tya nengsih berkata:

    akhirnya yang dtunggu dpost juga………
    keren …….makin tambah seru……..sungmin teganya mukulin donghae..?……akankah ummanya yoona dan nyonya lee berbaikan ?penasaran ma cerita selanjutnya……
    next part jgn lama ya thor…..

  3. karlin berkata:

    akirrnya d post jg……
    haduh ky nya umma donghae dh setuju ya ma yoong
    trs appa donghae jg dh baikan ma appa yoong
    d tgg ya next part ny

  4. Maisy berkata:

    eonni boleh nangis gak ??
    aku nangis yaa
    huaaaaaaa TAT …
    donghae oppa akhirnya kamu sadar …
    sungmin oppa kau jahat sekaliiiiii….
    eonniiiii kau bikin aku nangis :”(((
    udah leeteuk oppa yg besok wamil …
    sekarang kau yg buat aku nangis karena FF mu itu :(((
    tapi DAEBAK !!!
    lanjut ne… kelanjutannya jangan bikin aku nangis lagi lho !!!
    semoga semua cepat terselesaikan *AMiIINN

    HWAITING !!

  5. pyrotechnicsloveyh berkata:

    Daebak!! Yes mau end😀 lanjut author jangan lama” please jebal

    author ngepost ini FF tepat 20hari, pdhl part sblm”nya cuma 10hari terus kalo gak salah part 6,7,8 setiap 15hari ngepost kekeke😀. Tp aq ngerti author sibuk hihi tetap semangat author ditggu next part

  6. Dhesonelf YHS berkata:

    Yeyeyyee .
    masalah.a udah sedikit terselesaikan, meskipun belum sepenuhnya🙂

    next part ending ya thor?
    eumpphh, sebenernya sih ggk rela ff ini end, abis ceritanya seru sihh🙂

    oke deh, next part.a aku tunggu ya thor, jangan buat aku jamuran kya yoona eonni ya🙂

    *plakkk*
    post secepatnya, Oke thor?
    terus cemungutt ya thor nulis.a🙂

  7. juhria zainuddin berkata:

    wah..makin seru nih ceritanya…
    mudah-mudahan umma donghae dan umma yoona tidak bertengkar lagi!
    part slanjutnya jangan lama-lama ya!

  8. Yesa nurmeida berkata:

    Huaaa akhirnya keluar juga ,,,
    next partnya jangan lama2 ya ,, jangan bikin aku lumutan ,,,
    ffnya makin keren deh ..
    Yahhh udah mau end , padahal berharap masih berlanjut ,,,

  9. yoongie andante berkata:

    part trakhir?! wahhh….d tnggu asssiikkk
    rsany smuany bsok akn jelas n klihtan klu tuan lee akn mmaafkn tuan im n jg nyonya lee n nnya im..
    aq ykin cinta akn mmsnahkn kbncian^^
    jngn lma2 y chingu nextny

  10. PyroLinka berkata:

    Udh lma nunggu, akhirnya keluar jg..,
    udh mbca mpe part 8 tpi blum ksampean ngoment, soalnya LOL..,
    author sibuk ya, tpi smangat ya!.,
    reader udh ga sbar, hrap maklum ya, soalnya pyronya udh akut, he
    smangat!!..,

  11. Rose Flower berkata:

    ff nya daebaak… Seru ampe aku tergagap…

    Tp aku mau ngasih sedikit tanggepan, kayaknya part ini,bnyk cerita yg di skip yahh..? Seprti adegan umma donghae ngsih cincin ke yoona, terus yg yoona di tanyain ama umma haepa siapa yg mukulin donghae, disitu yoong bingung dan slanjutnya diceritain appa lee nah abis itu ke skip jadi yoong lg mau ngejenguk haeppa ? Menurut aku skipnya kejauhan..hehe
    Daan atu lg yg yoong lg tidur terus ke skip dah, tiba2 haeppa sdar… Itu kecepetan deh alurnya ..
    Maaf aq crwet bgt… Ketauan authornya pengen nyelesein cpt2 nih kyknya… Soalnya g biasanya unni men skip cerita, biasanya detail begitulah…
    Ok deh unni, aku nungguin loh last partnya.

    Jangan pake lama yahh
    gomawo udh nulis ff yg daebak ini🙂

  12. regina berkata:

    akhirnya stlah menunggu lama di post jg,,, duh donghae kasian bgt sih, sungmin tega bgt yah mukulin donghae, krn cintanya dan janjinya ma yoona dia ga mau balik mukul hyungnya😦 akhirnya terbongkar jg penyebab mslh sbnrnya ttg permusuhan 2 keluarga, smoga stlh ini hubungan ke 2 keluarga membaik🙂 next partnya jgn lama2 ya thor, dan bikin ff yoonhae yg lain lg yah, semangat thor😉

  13. Rarha_Pyro berkata:

    Hhuuuaaaa authoorr ,,😥 kenapa ng’post nya lama pake banget😦 ,, tiap ari buka google cuma buat search ff ini tapi alhamdulillah ya udah d’post ,, masalah mulai memudar nd kebahagiaan segera datang😀 ,, ayo thoorr jangan lama” part 10 nya kan udah mau ending tuh jadi ng’share nya gabole lama lama ne😀 ,, semangat buat nulis’y ,, ff’mu bener” daebaakk😀
    keep fighting chingu ^^

  14. icha berkata:

    ya…!!!!! setelah lama nunggu part ini bulak balik liat udh ada ap belom
    tpi akhir.a ada juga senangya….
    thanx ya thor atas part.a
    lanjutkan ff.a , aku selalu dukung FIGHTING!!!

  15. Alyfia sasmita berkata:

    Waaah
    Akhrnyaaa . .
    Stelah sekian lama penantian berjuta2 reader . .
    Hehe

    Huhu kasian nyaa haeppa😦
    Sungmin pengecutt, abis mukulin donghaeppa lngsung kabuur .
    Appa lee, cepatlah kau sadar dan memaafkan appa Im . .
    Semuanya pasti bsa bersatu🙂

    Tpii it brarti ff ini akan brakhr dong ?
    Part 1o yah endingnya thor ?
    huumm
    msh Pngen liad romantis nya haeppa k yoongie:(

    Yauda deh it kan hak nya author,
    Next part nya msh tetep setia nunggu nya kog🙂

    Best author of the year is . . . . ?
    Nana shafiyah . . . !!!🙂
    Amin.

  16. riri riwa berkata:

    huaaa…
    Donghae kasian, dmi yoong dia rela dipukulin hikzz…
    Masalah mulai mereda.. Aku berharap appa lee juga dapat hukuman amin..
    Next part please… *__*

  17. narshavanya berkata:

    eonni, kok aku merasa baca FF ini kesannya jadi kaya terburu-buru sih eonn?
    banyak skipnya soalnya ><
    tapi bagaimana pun juga aku udh nunggu nih FF, ini udh hampir mau end yahh eonn?
    ditunggu yahh next partnya ^^

  18. SweetYoong berkata:

    akhirnya keluar juga part ini..
    aku nunggunya udah hampir lumutan+jamuran+basi demi FF ini!!
    akhirnya Yoona udh diterima sama ummanya Donghae😀
    semoga next chapter Sungmin sama Hae rukun & Appa Lee sm Appa Im dan juga Umma Lee sm Umma Im🙂
    next part jangan lama2 yaa

  19. myyh berkata:

    udah dong, masalahnya berakhir jangan ada lagi kekerasan. Cape baca kekerasannya😦
    Sekarang yang bahagia bahagia nya aja. Eomma nya Donghae udah baik, appa nya juga kayanya bakalan jadi baik setelah baca suratnya. Tinggal sungmin. Pokonnya jangan ada kekerasan lagi ya thor -.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s