SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 8)

Image

Title :  Why I Hate You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance, Family

Rating : PG-17

Cast : SNSD  Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : SNSD  member, Super Junior Sungmin, F(x) Sulli

Soundtrack :   SNSD  –  Day By Day

                       SUJU –  Reset

Annyonghaseoo…

Kali ini aku membawa lanjutan dari ff YoonHae..

Langsung ajjah yahh..

Semoga kalian suka !!!

Happy Reading All…

Part 8

Adakah alasan untuk membenciku???…. “Why I hate you”

Yoona terdiam. Bibirnya bergetar saat mendengar berita pahit dari mulut Ummanya, “B-bagaimanaa mungkin?” ratapnya lalu tersenyum getir, “Umma, umma jangan bercanda !”

“Tidak Nak ! itu benar,..” jawab nyonya Im disela tangisannya.

Donghae mendesah sambil manatap yeoja yang mulai terisak, “Yoona-ah, itu memang benar !” timpalnya lalu tertunduk menyesal, “Mian, mungkin ini pekerjaan appa !”

Mata nyonya Im membulat seketika, “Mwo?” Kagetnya terlonjak, “Jadi ini karena keluargamu lagi, huh?”

“Mianhe, aku akan bertanggung jawab.. Mianhe..”

“Mianhe?.. kau selalu saja mengatakannya ! mengapa appamu itu jahat sekali, KENAPA? HUhh,” isak nyonya Im memukul tubuh namja yang berdiri disamping anaknya, “Kenapa kalian jahat..huhh.”

“Sudah Umma, cukup !!!” seru Yoona menyeka air matanya kasar, “Kita harusnya memikirkan jalan keluar !”

Nyonya Im menatap anaknya, “Jalan keluar? Kau tahu apa itu jalan keluar ?” ucap nyonya Im lalu beralih menatap Donghae tajam,”Kau ! Ceraikan anakku !” sinisnya.

Donghae mendelik, “Mian Umma ! aku tidak bisa melakukannya !”

“Kenapa tidak bisa? tidak bisakah kau membiarkan Yoona hidup bahagia ? Lepaskan ikatan kalian dan semua akan lebih mudah ! Keluargamu pasti menginginkannya juga ! Ah, tapi kalau kau tidak mau, aku yang akan mengurus perceraian kalian !”

“Umma ! Yang berhak memutuskan hubungan ini adalah kami ! Aku dan Yoona ! Umma tidak berhak mencampurinya !” tegasnya.

“Aku ummanya ! Aku kasihan pada anakku ! Anakku menikah denganmu membuat hidup kami menjadi berantakan. Kau harus hentikan semua ini ! Kau ceraikan anakku lalu kami akan mengilang..”

“Jika itu masalahnya, berarti umma hanya menghindar dari masalah dan bukan menyelesaikan !” potong Donghae.

“Mwo?”

“Mian Umma, sudah kukatakan, aku yang akan bertanggung jawab ! Tapi tidak untuk menceraikan.” Timpalnya.

Yeoja paruh baya itu memegangi tengkuknya, “Kau ini.. Omoo.. “ tubuhnya perlahan melemas terduduk diatas kursi, “Yoona-ah, apa kau tidak kasihan pada appa dan umma?” isaknya.

Yoona memejamkan matanya erat. Ini sulit ! Perlahan mata yeoja itu membuka menatap sendu namja didepannya, “Oppa ! Aku.. mm mungkin lebih baik kita mengakhirinya dan dan..”

“Mengakhiri ?” tampik namja itu,  “Itu lebih buruk Yoona-ah ! pikirkan anak yang kau kandung.”

Yeoja itu menunduk lemas. Matanya menatap lurus pada bagian tubuh dimana janin itu tumbuh, “Mian, mian.. Hikzz” isaknya kembali.

Satu persatu langkah kaki Donghae membawanya tepat disamping yeoja yang tengah terisak. Didekapnya yeoja itu lembut, “Yoona-ah, kita pasti akan keluar dari masalah ini.”

“Oppa, aku bingung harus bagaimana..” isak Yoona.

Hening. Nyonya Im berpikir sejenak. Ia terhenyak sesaat. Bagaimana pun anaknya kini tengah mengandung. Parahnya mengandung anak dari menantu yang belakangan ini sering membuat kepalanya berdenyut. Antara suka dan tidak suka, ia harus memikirkan kondisi kejiwaan Yoona. Yeoja paruh baya itu akhirnya mendengak sambil menghembuskan nafas berat, “Yoona-ah, Jalan satu-satunya umma harus pulang ke Busan untuk membicarakan masalah ini pada keluarga kita disana jadi…”

Yoona memajukan wajah, “Nde?”

“Jadi jagalah appamu disini, mengingat kau juga sedang mengandung, kau harus bisa menjaga dirimu dan anak yang  sedang ada dikandunganmu, ingat itu yah..” pesan nyonya Im.

“Apa? Jadi maksud umma aku harus tetap disini menjaga appa, begitu?”

“Nde, tetaplah disini !” ucap nyonya Im kemudian menatap sebelah mata namja disamping anaknya, “Sekarang Yoona tanggung jawabmu ! Awas ya, sedikitpun goresan berbekas ditubuh anakku, aku akan langsung menendangmu !”

Donghae membulatkan matanya lalu berkata dengan gelagapan, “M-mwoo?” ucapnya buru-buru tertunduk hormat, “Nde Umma, aku akan menjaga Yoona dengan sekuat tenaga.”

“Pegang kata –katamu dan selesaikan masalah ini secepatnya mengerti?” tegas nyonya im melirik jam tangannya sekilas kemudian melanjutkan, “Secepatnya, aku harus pergi ke stasiun sekarang !”

“Umma perlu kuantar?” timpal Donghae.

“Tak perlu ! aku bisa naik taxi. Kau hanya perlu membawa Yoona pulang ke Apartement kalian.” perintahnya kemudian menatap Yoona dengan mata sayu, “Yoona-ah, jaga dirimu.. Umma sangat menyangimu..” nyonya Im menyeka cepat air matanya yang mulai tertumpah.

Air mata Yoona ikut tertumpah, Sedih saat ummanya harus  pergi. Kini yeoja itu hanya bisa memeluk ummanya erat. “Umma, aku pasti merindukanmu.”

“Nde, aku pergi dulu !” pamit nyonya Im melesat pergi meninggalkan orang-orang dalam ruangan yang dingin menusuk itu. Donghae menunduk mengantar kepergian mertuanya. Namja itu tersenyum hormat. Sejenak perasaan lega menyeruak kedalam dadanya. Ia kemudian menatap yeoja yang tengah tertunduk lesu, “Yoona-ah, apa kau sudah merasa baikan?”

“Nde..” ucapnya lemas.

Degan detail, Donghae mencermati wajah muram itu. Ia kemudian mengelus lembut puncak kepala yeoja dihadapannya lalu berkata, “Apa kau ingin beristirahat apartement ?”

“Terserahmu Oppa !” Jawabnya segera seraya memberikan seulas senyum singkat.

…………..

Sebuah ruangan sempit dan gelap dengan sedikit jendela kaca disalah satu dindingnya, menampakkan dua orang namja paruh baya yang tengah diintrogasi. Diperiksa oleh dua orang petugas yang salah satu berwajah sangar dan berwajah ramah. Tak ayal, keteganganpun mulai menerpa ketika petugas bermuka sangar menggebrak meja didepannya.

“Jawab Tuan Im ! Apa benar dulu kau telah menerima sejumlah bantuan dana dari perusahaan Lee tapi dana itu dibawa kabur oleh orang kepercayaanmu?”

“Nde..”

“Lalu kemudian kau memalsukan laporan keuangan perusahaanmu seolah belum menerima dana itu.  Hal yang membuat nama perusahaan Lee sempat tercemar?”

“Nde..”

“Jadi, merasa harus mengganti uang yang dibawa kabur itu serta menutupi perusahaanmu yang sedang kekurangan dana, Kau rela menjalin kerjasama dengan lawan bisnis perusahaan Lee yang disebut-sebut adalah group Kang?”

“Nde..”

“Perusahaanmu yang nyaris bangkrut itu akhirnya bekerja sama dengan Group Kang dengan syarat bahwa Group Im harus membocorkan rahasia perusahaan Group Lee yang juga adalah relasi bisnismu? Jadi kesimpulannya kau rela menjatuhkan hubungan baikmu dengan group Lee hanya karena ingin menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut?”

“Nde, itu benar dan semua benar !”

Tuan Im yang tengah duduk disamping Tuan Im tersenyum sinis, “Dasar penghianat !”

“Sudah !” cegah petugas berwajah sangar lagi lalu melanjutkan, “Dan kau Tuan Lee !” deliknya tajam lalu mulai mengintrogasi, “Kau memalsukan identitas group Kang yang berstatus pailid, kemudian melakukan investasi besar pada group Im. Mencabut investasi besar disana dan membuat perusahaan yang juga nyaris pailid itu menjadi bangkrut.”

“Nde, itu benar.”

“Atas dasar apa kau melakukannya?”

“Bagaimanapun penghianat harus disingkirkan ! Kakakku meninggal karena terkena serangan jantung saat mengetahui perusahaan yang telah lama dibangunnya bangrut dan itu akibat kelicikan mereka !”

“Jadi atas dasar dendam !” Simpul salah satu petugas berwajah ramah, “Lalu tuan Im, apakah benar kau memang merasa melakukan penghianatan ?”

Tuan Im mendelik, “Saat itu dana diperusahaan kami nyaris kosong, terlebih saat dana dari perusahaan Lee dibawa kabur, Karena itu aku berinisitif meminta tambahan dana dari mana saja agar bisa mengganti dana group Lee yang dibawa kabur. Aku yakin jika saat itu group mereka juga pasti sangat membutuhkan dana itu. Aku tak ingin proyek kerja sama antara kami mandeg, jadi kupustuskan untuk mengatur semuanya. Memalsukan data keuangan perusahaan dan membangun kerja sama dengan group kang yang saat itu dirasa mampu menutupi kekosongan dana itu.” Ungkapnya lalu tertunduk, “Saat itu aku benar-benar merasa serba salah, antara meneruskan kelangsungan hidup perusahaanku atau menjaga persahabatan dengan group Lee.. Mian..”

“Dan kau lebih memilih menyelamatkan perusahanmu?”

“Nde. Kurasa itu lebih baik. Dengan begitu aku bisa membayar ganti rugi atas dana yang telah dibawa kabur. Kemudian ketika perusahaanku stabil, aku berencana segera membantu group Lee untuk bengkit kembali dan membersihkan nama group itu setelah sebelumnya tercemar..”

Mendengar cerita itu tuan Lee langsung menatap sinis, “Alasan bodoh..”

“Aku sungguh-sungguh ! Malam itu aku mengirim sejumlah uang sebagai ganti rugi atas dana yang hilang. Aku juga sempat berbicara pada almarhum Lee Youngmin sebelum ia meninggal. Aku mengungkapkan penyesalanku padanya dan aku juga sudah berjanji akan memperbaiki semua.”

Tuan Lee bangkit kemudian mendorong tubuh tuan Im, “ Hei..” bentaknya kemudian melanjutkan, “Jangan sekali-kali kau mengarang cerita seperti itu ! Dia meninggal gara-gara kau !”

“DIAMMM” gertak petugas berwajah sangar, “Ini ruang introgasi ! Bukan arena perkelahian!”

“Aku benar-benar menyesal ! Aku senang saat dia bersedia menikahkan anaknya dengan anak kami, kurasa itu awal  yang baik untuk memperbaiki semuanya tapi…”

“Cih.. Jangan harap aku juga berpikir demikian..” timpal tuan Lee.

“Sudah, sudah ! Sekarang kalian kan kukembalikan ke sel.. Biar hasil dari introgasi ini menunggu proses..” perintah petugas.

Sementara itu, Tuan Lee berbicara dalam diam, ‘Apa penyesalanmu itu bisa mengubah semua?”

Tuan Im juga menghela nafas dan membatin, ‘dendam hanya membuat masalah semakin rumit’

……………….

Hari semakin sore. Matahari mulai turun dari puncaknya. Memancarkan sinar jingga yang begitu panas dan menusuk kulit. Hari yang melelahkan. Juga mengerikan. Semua peristiwa bergeser dengan cepat. Bergeser cepat dilengserkan oleh peristiwa yang lebih menyesakkan dada.  Menggores sebuah luka yang hanya mampu dibalut oleh penggeseran peristiwa pahit agar terenyahkan oleh peristiwa yang lebih baik.

Aura kebekuan terpancar jelas dari ruangan rapi dihadapannya. Yoona melangkah melihat kesekelilingnya. Meja, kursi, sofa, letak dan posisinya masih sama seperti dulu. Persis saat yeoja itu diipaksa meninggalkan apartemen sederhana itu.

“Masih sama seperti dulu !” komentar Yoona mengamati kokohan dinding bercat biru disekelilingnya.

“Benarkah? Aku memang sengaja membiarkannya seperti ini.”

“Masih sama.. mungkin yang berubah adalah keadaan ini” ucap Yoona tersenyum miris.

Donghae beralih mengenggam pundak Yeoja yang kini tengah tertunduk, “Kau pasti sedih ! Aku gagal membahagiakanmu.” Sesalnya memeluk yeoja itu erat.

Yoona menarik nafas disela dekapan hangat, “Aniyo. Dalam kehidupan selalu ada hitam dan putih. Akan timpang jika yang terjadi hanya salah satu,” ujarnya melepas dekapan itu lalu menatap lekat, “Oppa, aku percaya padamu. Aku percaya jika kau pasti bisa menyelesaikan masalah ini, aku.. Akan selalu mendukungmu.”

Terhitung cukup lama namja itu terdiam. Dalam diam Ia terus mengamati wajah yeoja dihadapannya. Memeriksa apakah ada yang kurang dari setiap lengkungan mata, hidung, dagu ataupun bibirnya. Juga apakah ada segores sayatan tipis atau apa pun. Semuanya sempurna, “Gomawo..” ucap namja itu akhirnya.

“Oppa ingat ! Aku akan selalu mendukungmu !” ulang Yoona tersenyum riang.

Donghae terkekeh, “Ucapanmu tadi sangat mirip dengan seorang fangirls. Tepatnya Fangilrs yang sexy.” Ucapnya seraya melakukan gaya ala fangirls, “Oppa aku akan selalu mendukungmu !”

“Dan kau pikir aku sexy girls begitu ? ” pikirnya sambil memanyunkan bibir.

“Mmm” Gumam Donghae mengangguk.

Yeoja itu lalu melipat tangannya didada, “Aku  bukan sexy girls, tapi aku ini strong girls !”

Donghae mengangkat alis, “Strong girls?”

“Iya,” jawab Yoona lalu menyipitkan matanya, “ Jangan bilang kau tidak tahu ! Itu adalah julukanku saat sekolah dulu. Kalau tidak tahu, berarti mulai sekarang kau harus pensiun menjadi penggemarku.”

Namja itu ikut menyipitkan matanya, “Aku ingat ! Kau strong girls yang sering membolos dan melompat dari pagar sekolah itukan? Strong girls yang langganan hormat pada tiang bendera dibawah terik matahari, membuat keributan dengan para sunbae, hobby mengerjai satpam sekolah dan kalau tidak salah, membuat salah satu guru BK kelelahan dan akhirnya jatuh pingsan !” ungkapnya kembali menunjukkan wajah berpikir keras, “Apa lagi ya? Ah !”

“Cukup !!” seru Yoona menatap sebal, “Ada lagi yang ingin kau katakan? Lee Donghae, siswa berprestasi disekolah? Kurasa dulu namamu sangat familiar ditelingaku saking seringnya disebut-sebut oleh guru BK cerewet itu.”

Donghae tersenyum simpul, “Lee Donghae siswa berprestasi yang sangat mengidolakan siswi bengal sepertimu?”

“Mwo? Siswi bengal?” timpal Yoona tak terima, “Dengar ! Aku ini strong girls yang tidak takut dengan apa pun !” bangganya.

Selangkah, namja itu mendekat seraya memajukan wajahnya, “Benarkah? Bagaimana jika kuperlihatkan kelemahan strong girls  yang sebenarnya,”

“Kelemahan?” herannya.

Namja itu mengangguk pelan, “Seperti ini..” ucapnya semakin mendekatkan wajahnya kewajah yeoja yang tengah menggeliat. Yeoja itu bergidik seiring dengan aliran darah yang semakin memanas dan hembusan nafas yang semakin terasa. Hangat.

Aroma tubuh yeoja itu tercium jelas. Juga terlihat mata indah yang mulai terpejam pelan. Sensasi ini begitu terasa saat wajah namja itu hanya berjarak seinci dari wajah yeoja yang sepertinya tengah menunggu moment-moment penting.  Sudut bibir Donghae terangkat saat merasa nafas Yoona mulai tersenggal-senggal. Segera ia menepuk kening yeoja itu pelan. Ini benar-benar mengasyikkan.

“Aishh” Yoona mengelus keningnya yang baru saja tertepuk. Yeoja itu membuka matanya sambil menatap kesal.

“Mian,  ada nyamuk dikeningmu..” ucap namja itu terkikik geli kemudian berkata, “Apa aku membuatmu tidak bisa bergerak? Akhirnya strong girls terdiam.”

Berbalik. Yoona membuang wajah masamnya seacuh mungkin. Ia begitu kesal akan kebodohannya sendiri.  Yeoja itu mengumpat berkali-kali membuat namja dibelakang punggungnya tersenyum jahil. Geram, Yoona bersiap untuk kembali berdiri berhadapan. Tindakan yang terhambat saat yeoja itu merasakan dekapan hangat dari belakang. Dekapan yang hangat namun menyejukkan hatinya.

Donghae menghirup leher jenjang Yoona lalu berkata, “Sudah kubilang, aku akan  memperlihatkan kelemahanmu ! Sekarang apa kau kesal padaku? Kurasa tidak lagi !” bisiknya diteliga Yoona.

Aneh. Situasi seperti ini selalu saja membuatnya bingung sendiri. Yoona berusaha menahan senyum serta kekesalannya. Yeoja itu ingin tersenyum namun nalurinya berkata jika hal itu terlalu mudah  dilakukan, Yeoja itu ingin memperlihatkan rasa kesalnya namun ternyata cukup sulit juga. Memperlihatkan sikap biasa itu terlalu rumit.

“Kau tak perlu melakukan apa pun !” ucap Donghae seraya menautkan dagu lebar itu pada sebidang pundak mungil. Pundak milik yeoja dalam dekapannya.

“Aku boleh berontak?” tanya Yoona tiba-tiba.

“Maksudmu?”

“Maksudku, aku ingin melakukan pembalasan.”

“Seperti?”

“Seperti ini…”

Yoona berbalik cepat. Yeoja itu melingkarkan lengannya pada leher namja yang sedang bergelut dengan beribu pertanyaan. Cepat dan tanpa aba-aba, Yoona mendorong wajahnya sambil berjinjit sedikit. Bibir mereka bertemu. Segera ia merasakan getaran yang lebih saat Donghae membalas pertemuan itu. Membalas begitu dalam hingga membuat Yoona kehilangan nafas.

“Oppa !” panggil Yoona saat keadaan mulai normal.

“Nde?”

Kesamping Yoona melesat, membisikkan sesuatu ketelinga namja dihadapannya. Bisikan yang membentuk bulatan lebar pada mata namja itu, “Mwo?”

“Ayolah.. kumohon..” rengek Yoona.

Donghae menghela nafas, “Aku tidak bisa masak Yoona-ah..”

“Kau pernah membuatkanku omelet…berarti kau bisa…” desak Yoona.

“Itu karena saat itu aku menelpon umma… Aku tidak mungkin menelponnya sekarang !”

Yeoja itu mengerucutkan bibir kemudian menampik, “Kalau begitu,  kau bisa memasak semacam ramen,” rengeknya lagi kemudian memasang wajah memelas, “Ayolah.. anak kita menginginkan itu…”

Namja itu melirik sedikit yeoja yang tengah bergelantungan manja pada lengannya. Ia menunduk lalu berkata, “Baiklah..Tapi hanya ramen.” setujunya pasrah membuat seulas senyum Yoona merekah, “Baiklah.. “

Secepatnya, Yoona mendorong tubuh Donghae menuju dapur. Namja itu mulai menyiapkan alat dan bahan untuk memasak.  Mengambil ramen di dalam lemari penyimpnan makanan kemudian memasaknya. Sungguh !  Namja itu tidak bisa memasak sama sekali meskipun itu hanya ramen. Sekarang, yeoja yang tengah duduk didepan tv itu malah memintanya untuk memasakkan sesuatu. Ini buruk. Donghae takut masakannya hancur. Mungkin sudah terjadi.

“Makanannya sudah jadi..” ucap Donghae seraya bejalan kearah sofa depan tv.

Wajah Yoona memancarkan aura sumringah ketika melihat Donghae dan  semangkuk ramen mendekat kearahnya.

“Kuharap ramen ini enak ! Tapi kurasa, tidak.” Ragu Donghae.

Tangan Yoona mulai menyumpit ramen itu kedalam mulutnya. Donghae terus menatap lekat. Namja itu tengah bersiap jika sewaktu-waktu Yoona memuntahkan ramen itu.

“Enak !” Tanggapnya membuat kening namja itu berkerut, “Hah? Mana mungkin !” tampik Donghae. Namja itu lantas merebut sumpit dari tangan Yoona. Ia kemudian ikut mencicipi semangkuk ramen didepannya “Ueee..” tanggap Donghae nyaris memuntahkan masakannya sendiri. Ini benar-benar tidak enak, “Yoona-ah, biar kubuang saja..”

“Andweeee… Ini enak ! kenapa harus dibuang ?” timpal Yoona kemudian melanjutkan acara makannya, “Ini enak meskipun airnya terlalu banyak, lembek dan kurang asin.. tapi aku suka!”

Donghae menghela nafas sembari menatap yeoja yang tengah menyeruput semangkuk mie ramen, “Aku bingung, apa yang salah degan lidahmu… tapi bagaimana pun kau harus istirahat.. Tidurlah lebih cepat..”

“Nde..” jawab yeoja itu tersenyum.

…………………………..

Lelah sekali. Sejak pagi tadi, Yoona harus menyalin materi kuliah yang sempat tertinggal. Sejak beberapa minggu ini, jadwal kuliah yeoja itu menjadi terbengkalai. Untung saja Ia memiliki banyak sahabat yang bisa membantunya. Ini mungkin banyak meringankan beban ketertinggalan selama ini.

Seusai meletakkan bolpoin diatas bukunya yang telah penuh dengan tulisan, Yoona menatap  suasana hening perpustakaan. Yeoja itu menganguk-anggukkan kepalanya pelan kemudian mendongakkan wajahnya pada seseorang yang sedang berkutat dengan buku tebal dan sebuah laptop bergantian, “Yuri-ah, bisakah kau mengerjakan tugas ini ! aku mungkin tidak sempat..”

Yuri menopang kepalanya malas sambil tetap fokus pada layar monitor didepannya, “Wae?”

“Kau tahu kan? Aku sedang mengajar menari anak- anak TK.”

“Lalu?”

“Lalu, siang ini mereka akan tampil. Sebagai guru, aku harus mendampingi mereka ! Aku mohon ! Ini terakhir kalinya. Tolong bantu aku !..” mohon Yoona dengan sangat.

Yuri  mengalihkan pandangannya dari layar laptop lalu menampik dengan kening berkerut, “Sejak kapan kau menyukai anak kecil ? Aku sangat hafal lagatmu saat sekolah dulu. Kau sangat hobby menjahili anak kecil. Setiap hari duduk ditaman kanak-kanak hanya untuk merebut ice cream milik makhluk-makhluk tak berdosa itu, dasar !”

Yoona mengerucutkan bibir seraya menatap temannya yang kembali berkutat dengan monitor,”Tentu saja ! Aku harus belajar menyukai anak kecil karena..  karena sekarang…”

“Wae? Kutebak, kau rela besikap manis agar anak itu menurut padamu saat kau mengajari mereka menari ?“

“Anyioo…” bantah Yoona menggeleng pelan.

“Kau ingin membangun image didepan pangeranmu itu..”

“Yak..” pekik Yoona menepuk lengan temannya, “Bukan.. bukan seperti itu.. ini karena..”

“Apa?” desak Yuri.

“Karena.. mmm beberapa bulan lagi, aku akan menjadi seorang, Umma..”

Mata Yuri membulat, “Mwo? Umma?” ucapnya menarik nafas, “ J-jadi kau… “ gagapnya mengamati Yoona dari ujung kaki sampai ujung rambut, “Ahhhhhhh” girang Yuri kemudian yang seketika memeluk temannya erat.

“Yak.. Yuri-ah, leepas ! tak perlu berlebihan ! Orang-orang sedang menatap aneh kearah kita..” tanggap Yoona pelan.

“Aku senang ! Aku akan memiliki keponakan.. ahhhh.. ahhh… Yoona-ah pergilah sana ! biarkan aku menyelesaikan tugas ini ! Sana-sana hushh hush…” perintah Yuri dengan semangat membara.

Yoona menggaruk kepalanya. Diluar dugaan, temannya itu ternyata akan memberikan reaksi seheboh ini, “Nde.. nde.. Gomawo Yuri-ah..” ucap Yoona dengan senyum lebar. Yeoja itu menatap temannya perlahan kemudian bangkit dari kursi besi itu, “Aku pamit !”

“Oke… Hati-hati…” ucap Yuri dengan senyum yang lebih lebar. Senyum yang disambut oleh lambaian pelan tangan yeoja yang perlahan melesat pergi.

Irama hantakan kaki Yoona mendayung hingga membawanya ketempat penyetopan taxi. Pinggir jalan tepatnya. Jari lentik itu berintik berkali kali pada bangku  taxi yang kosong. Ditengoknya suasana diluar jendela dari dalam benda beroda empat itu. Sangat ramai. Rasanya tubuhnya sudah gatal ingin melihat penampilan siswa-siswi kecinya.

Drtdtr.. Suara getar handphone Yoona mengalihkan pandangan yeoja itu sejenak. Dibukanya pesan itu. Pesan itu.. Pesan yang tiba-tiba membuat jantungnya beratus kali berdetup lebih cepat. Membuat otot-ototnya menengang dan nafas yang mendadak tercekat.

Dengan mata membulat, Yoona mengamati setiap detail kalimat yang baru saja dibukanya..

From : Private Number.

”Jangan macam-macam ! Kembalikan semuanya seperti awal.. atau keselamatanmu akan melayang !”

Astaga ! Ini mungkin pekerjaan orang iseng. Yoona menampik pikiran-pikiran buruk yang begitu cepat merasuk. Ditutupnya pesan itu dengan tangan yang bergetar hebat. Yeoja itu menatap kosong sambil menggelengkan kepalanya pelan. Keringat dingin pun mulai bercucuran. Yoona terdiam dalam panik cukup lama. Hingga suara sang supir taxi menggema. Suara yang begitu sukses membebaskan yeoja itu dari lamunan tentang sebuah ancaman teror, “Kita sudah sampai, ahgassi..”

Yoona tersetak kemudian memaksakan seulas senyumnya, “Ah ye..”

Seusai turun dari taxi, Yoona langsung melangkah menuju gedung acara. Yeoja itu mencoba bersikap tenang dan biasa. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa pesan yang agaknya bernada teror itu hanyalah kesalahan. Mungkin Kesalah pahaman atau tindakan keisegan. Semoga !

Gedung sesak itu menyambut kedatangan Yoona. Suara lengking microfon menambah riuh diantara kerumunan anak-anak usia TK yang tengah bergelombol. Perlahan yeoja itu melangkah pelan seraya memicingkan matanya, “Annyong haseyo..” Sapa Yoona pada seorang gadis kecil yang tengah memunggunginya.

Gadis itu berbalik, “Eonni… Kenapa baru muncul !”

Yoona memasang wajah berpikir kemudian tersenyum manis, “Mmmm, akhir-akhir ini Eonni sibuk kuliah… jadi…”

Belum sempat yeoja itu menyelesaikan kalimatnya, suara sahutan yang agaknya familiar terdengar, “Yoona-ssi sedang apa disini?”

Secepatnya Yoona berbalik, “Nyonya Han?”

Seseorang yang dipanggil Nyonya Han itu tersenyum ramah, “Wah, sudah kuduga ! Kurasa strategiku untuk membujuk mertuamu sangat tepat” pekiknya seraya menganngguk.

Yoona mengerutkan kening bingung, “Mertua?”

Yeoja paruh baya itu buru-buru menampik, “Mertua, maksudku nyonya Lee ! Kau pikir siapa lagi mertuamu ?” Ucapnya mendengak mencari seseorang kemudian berkata dengan gaya dan nada berbisik, “Kau tahu? Tadinya mertuamu itu tak mau ikut kemari ! Tapi setelah kuingatkan bahwa kau megajar menari anak-anak ini  dan yang pasti secara otomatis kau ada disini, mertuamu itu langsung antusias..”

Setengah percaya Yoona bergumam, “Benarkah?”

Lantunan suara Mc menunda sejenak percakapan mereka. Senyum Yoona merekah ketika  menyadari acara akan dimulai. Yeoja itu lantas menengok sisiwa-siswi kecinya dibelakang panggung. Dengan semangat membara, Yoona mengucap kata, “Fighting !” kata yang disambut dengan senyuman antusias dari segerombol malaikat kecil didepannya. Hingga acara berakhir senyum yeoja itu belum juga terlepas. Dan suara riukan tangan yang meriah semakin menambah lengkingan senyum yang tersungging dari bibir mugilnya. Ini hebat !

Yoona berbalik mengakhiri tepukan meriah kedua tangannya, ketika sentuhan benda padat menyentuh pundaknya. Mata berbinar yeoja itu pun menyipit, “Umma ?”

“Bisa kita bicara?” ucap seorang wanita paruh baya yang tengah menenteng tas merah dengan dress berwarna senada. Itu, Nyonya Lee..

Segera, Yoona membawa yeoja paruh baya yang juga mertuanya itu kesuatu tempat.  Membebaskan diri dari jebakan suara dentuman musik radio tip. Juga sahutan bising dalam ruangan yang sebenarnya cukup luas itu.

“Mmm.. Apa Umma ada perlu dengaku?” tanya Yoona pelan ketika mereka tiba disebuah kursi panjang dibawah pohon. Sebuah tempat yang cukup dekat dari area gedung.

Nyonya Lee menarik nafas pajang kemudian menghembuskannya perlahan, “Bagaimana kabarmu?”

Yoona menunduk. Ia takut jika Umma mertuanya itu benar-benar murka. Kesal karena kejadian memalukan itu. Kejadian saat hari keberangkatan keluaga yeoja itu ke Busan lalu.

“Aku tak akan memakanmu ! jangan bersikap seolah aku ini adalah monster..” timpalnya agak sinis.

Seketika Yoona mendengak cepat, “Aniyoo… bukan begitu..”

“Kau sakit apa? Kulihat kau pingsan kemarin !” tanyanya langsung.

Sedikit ragu, Yoona mencoba menjawab, “Mmm.. Sebenarnya aku kelelahan.. Dan yah.. mmm..”

Nyonya Lee mengangguk kemudian menatap menantunya heran, “Kau tidak sakit, kenapa masih disini?”

“Apa?”

“Iya, kukira kau akan ikut dengan ummamu… “

“Itu karena Appaku ditangkap polisi jadi aku harus menjaganya disini !” sergah Yoona cepat.

Yeoja paruh baya itu kembali mengangguk lalu melanjutkan, “Ah, kukira Ummamu marah pada Donghae ! Bukankah nyonya Im ingin kalian bercerai? Apa ummamu itu berubah pikiran? Kenapa?”

“Itu karena.. karena umma tahu kalau..”

“Kalau apa?” tanya nyonya Lee penasaran.

Yoona kembali menunduk. Kali ini raut wajahnya dipenuhi kecemasan, “Kalau, aku… aku hamil.. Mian, aku tidak berniat membuat umma marah lagi.. aku..”

Mata nyonya Lee seketika membulat, “Mwooo?”

“Mian.. Umma..” sesal Yoona.

Perlahan mata bulat itu menatap wajah Yoona tajam, “Kau ini ! Kenapa harus minta maaf? Bukankah itu bagus ?”

“Nde?”

Nyona Lee menarik nafas ingin berkata sesuatu namun segera diurungkan niat itu, “Sudah ! Jadi setelah ini kau mau kemana?”

Yoona mengerjapkan matanya, “Aku..eh..”

Drtdrtdrt… suara getar handphone Yoona kembali menggema. Suara getar yang lantas mengingatkan yeoja itu pada sebuah ancaman teror. Ya teror. Mungkinah ? Memikirkan hal itu membuat pikiran Yoona kembali melayang. Melayang hingga membuat keringat yeoja itu meritik layaknya embun dipagi hari.

Syukurlah. Yoona membuka pesan itu. Ternyata bukan. Kesalahan prediksi yang membuat perasaan yeoja itu melega.

From : Donghae.

Hai.. Apa my sweet heart  sedang sibuk?

Tenang ! Aku hanya ingin mengingatkan. Hari ini anak kita juga butuh chek up ! Apa tuan putri butuh pengawal? Jika iya, pangeran tampan ini bersiap sedia.. Balas ^_^

Yoona tersenyum sendiri. Yeoja itu bahkan terkikik geli sambil memandangi layar handphonenya. Suara ketikan tombol handphone itu terdengar sangat jelas. Jemari Yoona terus bergoyang. Setelah tanpa sadar ia bergumam, “Oke, pangeran narsis..”

“Dari siapa?” Timpal nyonya Lee yang mungkin merasa terganggu dengan sikap Yoona. Bukankah sedari tadi raut wajah menantunya itu menegang? Lalu kenapa tiba-tiba jadi segirang ini?

Yoona mengalihkan pandangan tersipunya dari layar handphone. Raut yeoja itu kembali menegang ketika nyonya Lee mulai menatap serius.

“Siapa? Donghae?” duganya.

Bibir Yoona kembali bergetar saat mencoba menjawab, “Mmm mm… iya..”

“Dia akan menjemputmu? Kemana?”

“Itu.. Chek up..”

Nyonya Lee terdiam sejenak kemudian berkata, “Pergilah ! Kau harus menjaga kehamilanmu. Usia awal kehamilan adalah yang paling rentang ! Jadi jangan melakukan sesuatu yang aneh-aneh !” Pesannya.

Yoona menatap dengan wajah bertanya. Telinganya tetap mendengarkan  kalimat yang dilontarkan oleh nyonya Lee. Hingga kalimat itu berakhir, Yeoja itu hanya bisa mengangguk pelan.

“Aku pergi dulu ! Kurasa nyonya Han sedang menungguku didalam..”

“Ah ne,..” ucap Yoona kemudiaan bangkit dan memberi salam.

…………………..

Sebuah mobil putih terhenti dihadapan seorang yeoja yang tengah berdiri dengan senyum lebarnya. Yeoja itu membuka pintu penumpang samping kemudi mobil itu. Didudukkannya tubuh lelah itu pada bangku empuk yang siap menahan berat tubuhnya. Segera Ia menatap namja yang duduk dibangku kemudi dengan wajah berbinar. Namja itu pun membalas tatapan itu dengan senyum lebar.

“Oppa, kau tahu? Tadi aku bertemu dengan Ummamu dan.. dan ternyata ummamu senang ketika kukatakan bahwa aku sedang hamil, dan dia juga berkata bah……”

Ciiiiittttt… Suara decitan mobil begitu nyaring menusuk pendengaran. Badan Yoona terhentak kedepan. Untung saja ada sabuk pengaman yang menahan tubuhnya.

“Kau kenapa?” seru Yoona ketika merasakan jantungnya hampir copot.

Donghae terdiam merenung. Mematung setelah menginjak pedal rem mobil yang baru saja dikemudikannya. Berhenti secara mendadak. Namja itu malah menatap kosong.  Membiarkan yeoja disampingnya terus berandai-andai.

“Bagaimana jika tadi terjadi tabrakan beruntun ! Untung saja ini bukan jalan raya !” cerocos Yoona.

Tiiiittt…. Suara klakson mobil dibelakang mobil yang dikendarainya seketika membuyarkan pikiran namja itu. Ia cepat-cepat tersadar dan memulihkan fungsi otaknya yang tiba-tiba terganggu. Segera dinyalakannya mesin mobil itu kembali.

“Sebenarnya kau kenapa?” tanya Yoona dengan nada desakan sambil menatap sebal.

Donghae menghela nafas panjang lalu berucap,  “Mian..” sesalnya.

Yeoja itu ikut menghela nafas, “Hemm..” gumamnya seraya mengalihkan pandangan sisa kecemasan keluar jendela.

Entah ini kabar baik atau buruk. Tentang kehamilan Yoona, Donghae merasa jika keluarganya tak perlu tahu akan hal ini. Ya ! Tentu kemungkinan besar, ummanya senang mendengar berita ini, namun bagaimana dengan.. dengan keluarganya yang lain? Namja itu benar-benar kalut sekarang. Berkali-kali Ia berkata dalam diam, ‘Yoona-ah, bagaimana jika orang itu tahu?’

“Yoona-ah, kau marah?” sela Donghae sembari terus menatap jalanan didepannya.

Yoona masih menatap pemandangan dari samping jendela. Ia kemudian menanggapi dengan nada rendah, “Kau membuatku jantungan, oppa !”

“Oh ya?” ucapnya dengan alis terangkat, “Bukankah aku juga sering membuatmu jantungan? Bahkan berkai-kali lipat dari ini !”

Seketika Yoona mendelik tajam kearah namja yang masih fokus dengan kemudinya, “Sudah jangan bermain-main.”

“Aku serius !” timpal Donghae.

Terdiam. Yoona memilih tak merespon apapun setelah itu. Yeoja itu lebih memilih menggerutu dalam pikirannya. Ia pun bingung, mengapa hatiya sedongkol ini. Padahal kalau dipikir-pikir kejadian tadi bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Mungkin mobil ini memang bemasalah atau otak namja itulah yang sedang bermasalah. Jika demikian seharusnya Yoona menghibur namja itu, menayakan keadaan atau apapun asal bukan memasang tampang kesal. Sungguh ! Perasaannya yang terbilang sensitif itu, seakan tengah memendam segumpal amarah. Amarah yang kapan pun siap meledak ! Benar-benar mengganggu !

Sesampainya dirumah sakit, Yoona segera masuk keruang chek up. Dibaringkannya tubuh itu diatas tempat tidur rumah sakit yang dingin. Jujur, Yeoja itu merasa perutnya melilit seperti akan memuntahkan sesuatu. Bau rumah sakit yang menyengat membuat yeoja itu benar-benar nyaris muntah.

Terlihat seorang dokter berambut pendek sebahu datang menghampiri. Ia mulai memeriksa keadaan Yoona. Berkali-kali dokter itu mengamati monitor disampingnya. Juga mencatat beberapa hal yang mungkin penting. Hingga beberapa menit berlalu, sang Dokter pun masuk ke ruang kerjanya. Meninggalkan yeoja itu sendiri.  Wajah Yoona terlihat tegang. Ketegangangan yang tampaknya berkurang ketika Donghae masuk dan berdiri disampingnya. Ia lantas menggenggam tangan dingin yeoja itu erat. Meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dan semua terasa ringan.

…………………….

Merenung. Dalam ruangan sempit yang dikelilingi oleh tembok coklat cream, tersungkup seorang namja paruh baya. Namja itu perlahan menatap kokohan jeruji yang bersusun tegak dihadapannya. Matanya yang kosong mengisyaratkan segudang kecemasan. Mata Kosong itu sedikit berair. Mengucur dan sebagian tertahan. Yoona-ah, anakku. Nama itu terus saja digumamkannya.

Namja itu menghela nafas keras saat mendengar suara seseorang yang tengah melucutinya. Namja yang tengah berdiri tegak, persis dihadapannya itu kemudian membusungkan dada layaknya tengah menantang. Sungguh pemandangan yang buruk. Yah, tinggal satu sel dengan orang yang menganggapmu sebagai musuh. Itu sangatlah mengerikan.

“Im Chae Won-ssi, Aku bisa saja bebas dari sini. Setelah itu aku akan membersihkan segala hal yang berhubungan denganmu, baik itu rumah, benda atapun hungungan anakku dengan anakmu. Aku akan bebas lebih dulu darimu.. Dan kau selamat membusuk disini..” Kata seseorang yang juga namja paruh baya.

“Baiklah Lee Young Jin-ssi, mungkin aku pantas menerima hukuman ini.”

“Cih, omong kosong ! semua ucapanmu adalah dusta..” timpal seseorang yang dipanggil Young Jin itu. Tepatnya tuan Lee.

“Terserahmu.. Tapi aku benar-benar merasa bersalah !” sesal tuan Im

Tajam, tuan Lee menatap seseorang yang tegah tertunduk disamping jejeran jeruji, “Percuma ! Rasa bersalahmu tidak dapat mengembalikan semua !”

“Jika rasa bersalah itu bisa mengembalikan semua, aku tidak mungkin merasa sebersalah ini !”

Tuan Lee terkekeh, “Dengar ! Apa pun yang kau katakan, bagiku itu semua hanyalah ucapan sampah dari seorang penghianat sepertimu.. Sekali lagi selamat membusuk..”

………………….

Donghae masih memandang lurus kedepan. Fokus pada jalanan yang dilalunya. Matanya sekilas melirik yeoja yang tengah dikerubuti oleh senyum sumringah, “Kau senang?”

“Tentu saja ! Katanya anak kita sehat ! Dia tumbuh dengan baik dan aku senang sekali. Ini se…”

Drtdrt… Suara handphone Yoona terdengar menggema. Bergetar diantara tekanan angin yang mengudara dalam ruang mobil. Terlihat yeoja itu menekan salah satu tombol pada handphonenya. Ia lalu mengarahkan pandangan lurusnya tepat pada layar alat komunikasi itu. Memandang dengan mata terbuka lebar. Sekilas bibirnya bergetar seperti tengah berkata sesuatu dalam diam. Senyum sumringah yang sedari tadi menghis pun mendadak lenyap. Dan hening…

Donghae mengangkat alis, “Siapa?”

Yeoja itu terhentak sejenak kemudian menjawab dengan terengah, “Ah.. Bukan siapa-siapa ! Itu temanku..”

“Oh..” gumam Donghae mengangguk pelan.

Senyum itu hilang. Dari kaca spion, Donghae melihat Yoeja itu hanya membisu. Terdiam dalam tatapan kosongnya. Melihat Yoona yang sekarang dan beberapa menit yang lalu jelaslah sangat berbeda. Teman? Mungkin yeoja itu ada masalah !

“Ada masalah ? Dengan temanmu?” Tanya Donghae kemudian.

Yeoja itu terlihat berpikir sejenak. Seperti tengah menyusun kata dalam otaknya, “Mmm itu… mereka kesal padaku, karena aku tidak datang keacara pindah rumah Sooyoung.. iya… Tapi itu bukan masalah..” Jelasnya kemudian menatap kedepan, “Ah, itu… kita hampir sampai…”

Apa? Ini berbeda. Yoona bukanlah orang yang akan mengurusi, apakah mereka sudah sampai atau belum. Sikap Yoona barusan membuat kening Donghae berkerut, “Memangnya kenapa kalau hampir sampai?”

“Apa?”

“Aniyoo lupakan !” Tampiknya kemudian berkata, “Turunlah ! Kita memang sudah sampai !”

Mereka pun turun dari mobil kemudian berjalan kearah apartement. Donghae menggandeng tangan Yoona yang dirasanya sangat dingin dan bekeringat. Diliriknya lagi yeoja yang sepertinya tengah mempercepat langkahnya. Benar-benar aneh ! Biasanya yeoja itu akan bercerita sesuatu secara panjang lebar, baik dijalan, dimobil atau dimanapun. Sikapnya sekarang sangatlah berbanding terbalik.

Alunan lagu sorry-sorry menggema saat Donghae masuk kesebuah Apartement. Diliriknya nama sang penelpon untuk cepat-cepat diangkat, “Yoboseyo..” Sapanya.

Terlihat alis namja itu terangkat, “Sekarang?” tanyanya seraya melihat kearah Yeoja yang tengah duduk disofa.  Duduk merunduk juga tengah sibuk mengutak-atik handphone-nya.

“Baiklah,  nanti kuberitahu lagi !” ucap namja itu menutup telepon kemudian beranjak  kearah sofa.

“Yoona-ah..” panggil Donghae dari punggung sofa.

Wajah Donghae semakin mendekat saat Yoona tak menggubris panggilannya sama sekali, “Yoona-ah..”

Pelan, Donghae menyentuh pundak Yoona. Seketika yeoja itu terperanjak kaget lalu, “Kau mau apa?!!” sahutnya tiba-tiba layaknya tengah disergap oleh seorang penjahat.

Kening Donghae kembali berkerut, “Aku mau apa?” tanyanya heran.

“Ah itu… Mian… Aku tidak sengaja..” tampiknya.

“Kau baik-baik saja?”

Yoona mengangguk pelan, “Emm..”

Namja itu berpikir sejenak kemudian melanjutkan, “Apa kau baik-baik saja jika kutinggal sendiri?”

Mata yeoja itu membulat seketika, “Mwo ?” ucapnya mengangguk kencang, “Andweee !”

“Sebentar saja ! Aku hanya ingin mengecek dan menandatangani beberapa berkas..”

Yoona buru-buru menimpali, “Pokoknya tidak boleh !”

“Wae?”

Yeoja itu berpikir dengan lagat gelagapan, “Karena.. mm karena…” ucapnya kemudian menyeru, “Ya sudah ! Pergi sana !” Ucap Yoona sebal.

Buru-buru Yoona berbalik menuju kearah kamar. Donghae lalu mengikuti langkah yeoja itu. Ditariknya tangan kiri Yoona dari belakang, “Yoona-ah tunggu !”

Seketika tarikan tangan Doghae membuat tubuh Yoona membalik. Tarikan tangan yang segera ditepis oleh yeoja itu, “Lepas..” perintahnya menepis kemudian berkata, “Oppa ! Sebelum kau pulang dari urusanmu itu, jangan coba-coba menyentuhku, berbicara denganku atau apa pun !”

Donghae terperanjak membiarkan Yoona masuk kedalam kamar dengan wajah kesalnya. Sebenarnya yeoja itu kenapa? Mungkin memang ada yang salah tapi, sudahlah ! Sebaiknya namja itu segera menyelesaikan urusannya di Kantor. Segera, agar Yoona bersedia  menerimanya kembali.

“Yoona-ah aku pergi,” pamit Donghae meski tak mendapat jawaban.

Namja itu kemudian menuju parkiran. Ia pun mengarahkan  mobil yang barusan dinyalakannnya kesuatu tempat yang jujur, sangat enggan untuk ditengok. Donghae hanya berpikir bahwa ini adalah kewajibannya. Kewajiban yang begitu memusingkan.

Sesampai namja itu diruang kerjanya, Ia langsung disambut oleh tuan Min yang tengah siap dengan berkas-berkas ditangannya.

“Ini yang harus diperiksa dan..” Katanya terhenti saat melihat wajah Donghae yang terbilang kusut. Ia pun mengangkat alis lalu bertanya, “Apa ada yang mengganggu?”

“Eh?”

“Apa aku megganggu acaramu?”

“Aniyo.. mmm hanya saja dia tidak suka aku kemari.  sikapnya berbeda.. !” jelasnya tertunduk.

Tuan Min menatap bertanya, “Dia?” ucapnya memasang raut berpikir kemudian  melanjutkan, “Apa dia sedang, hamil?”

“Apa?”

“Karena setauku yeoja yang sedang hamil memang sangat sensitif..”

“Benarkah?”

……………………….

Begitu serius Yoona memandangi layar handphone ditangannya. Mata sipit yeoja itu membulat cemas. Perlahan bibirnya yang bergetar mulai mengeja satu persatu kata dalam pesannya.

“Hati-hati, aku akan terus mengawasimu.. Kau harus berjanji mematuhi segala perintahku.. atau membangkang dan hidupmu tidak akan tenang.”

Yoona menarik nafas dalam-dalam. Mungkin pengirim pesan itu hanyalah orang iseng. Yah, pesan sepetrti itu bukanlah masalah serius. Seseorang manapun termasuk Donghae tak perlu mengetahui hal ini. Mengetahui hal ini justru akan membuat masalah kian meruncing. Semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.

Drt..drt..drt.. Suara handphone Yoona menggema. Ditatapnya nama sang penelpon. Penelpon yang ternyata adalah, private number? Oh my god !

“Yoboseyo.” Sapa Yoona segera dengan suara bergetar.

Terdegar suara bising dari seberang sana.  Suara yang didikuti oleh perkataan seorang namja yang tengah menerjang kebisingan, “Hay, bagaimana kabarmu?”

“Siapa ini? Kenapa kau menganggu sekali’?” sergah Yoona.

Namja itu terkekeh keras, “Kenapa sayang ? kau ketakutan?”

“Yak.. siapa ini?!”

“Sekarang aku akan menagih jawabanmu.. bersiap-siaplah ! Kuharap kau memang mau mematuhi perintahku… bye..”

“He..” Sahutan Yoona terhenti ketika seseorang disana lebih dulu memutus sambungan telepon mereka.

TING NONG… Suara bell apartemen berbunyi. Suara yang sukses menyadarkan yeoja yang tengah mematung. Pikiran-pikiran buruk seketika mulai menghantui. Jangan-jngan yang datang adalah… Tidak ! Yoona menggeleng menepis pikiran mengganjal dalam benaknya.

Segera yeoja itu mengendap kearah pintu. Dilihatnya monitor pintu, “Ahjumma Min?” Gumam Yoona. Perasaannya mendadak melega. Untunglah ! tapi sedang apa dia?

“Ahjumma !” seru Yoona ketika pintu tebuka.

Ahjumma Min tersenyum senang kemudian mendekap tubuh yeoja yang baru saja membukakan pintu, “Ahjumma sangat meridukanmu..”ucapnya seraya melepaskan dekapan itu.

“Ahjumma, ayo masuk !”

“Anyioo, ahjumma buru-buru. Aku akan ke Mokpo sekarang. Anakku sedang sakit. Aku kesini hanya ingin memberikanmu barang yang tertinggal saat keluargamu pindah !”

Yoona mengerutkan kening..” barang yang tertinggal? Apa?”

Ahjumma Min lalu menyerahkan sebuah kotak hitam berukuran. Kotak itu terlihat lusuh namun masih tergembok rapih. Kuncinya pun masih tergantung dalam lingkaran gembok, “Ini kuberikan saja.. mungkin ini milik appamu..”

Yoona hanya terdiam memandangi kotak hitam itu. beberapa detik kemudian yeoja itu pun berkata, “Baiklah ! Akan kuberikan !” ucapnya tertunduk, “Meskipun appa sekarang dipenjara..”

“Ahgassii.. jangan sedih !” hibur ahjumma Min, “Ahgassi sudah menjenguknya?” tanyanya kemudian.

Pelan, Yoona menggeleng, “Belum ! Aku hanya boleh menjenguknya setelah hari introgasi berakhir !  Mungkin besok atau lusa, tergantung hari dan jam besuk !”

Ahjummma Min mengangguk..”Baiklah.. kau harus bersabar ! semua ini pasti akan berakhir.” Sarannya terdiam sejenak kemudian berkata, “Kalau begitu akau pamit dulu ! aku takut ketinggalan bus..”

“Oh ne…” salam Yoona membungkuk mengantar kepergian ahjumma Min.

…………………………………….

Donghae melaju menembus pekatnya malam yang begitu dingin. Ia begitu serius memandang lurus kedepan. Rasanya Ia ingin sampai secepat mungkin. Pulang ke apartemennya dan bertemu dengan yeoja itu. Apakah Yoona masih marah? Mungkin benar, yeoja yang sedang hamil memang sangat sensitiv. Ditambah juga sifatnya juga terbilang aneh. Lebih baik Namja itu memikirkan cara. Yah, cara agar perasaan kesal dalam diri yeoja itu menghilang.

Sudut mata Donghae menangkap sebuah pemandangan dipinggir jalan. Sebuah toko yang dipenuhi oleh warna warni tumbuhan. Bunga? Ah, sebaiknya Donghae memberikan yeoja itu bunga. Bukankah Yoona sangat menyukai mawar merah?

Diberhentikannya mobil itu didepan sebuah toko bunga. Namja itu masuk melihat berbagai ukiran bunga yang berjejer didalam toko. Salah satu pelayan mendekat dan  menyapa dengan senyum ramah, “Ada yang bisa kami bantu…”

“Aku ingin membeli mawar merah.. “

“Untuk?”

Donghae berpikir sejenak kemudian berkata, “Untuk seorang putri cantik yang sangat spesial.”

…………….

Setelah kepergian ahjumma min, Tubuh Yoona melemas. Mengingat  appanya membuat hatinya perih. Ingin sekali rasanya yeoja itu datang menjenguk. Namun segalanya sudah terjadwal. Sial ! Yeoja itu terus meruntuk dalam hati. Ditatapnya kotak hitam yang baru saja diberikan oleh ahjumma Min. Mungkin ini benda penting. Yeoja itu penasaran dengan isinya. Ah,  ada baiknya jika ia melihat isi dari kotak itu.

Perlahan ujung jari Yoona mulai bergerak.  Menyentuh sebuah kunci kecil yang tergantung melingkar pada gembok.

‘TING NOG’ suara bell menghentikan niat Yoona. Apa itu ahjumma Min lagi? Atau.. Demi Tuhan, jangan ! Pikiran-pikiran itu kembali menggerogot. Ketakutan bahwa.. seseorang yang datang, sudahlah ! Tak ingin berlama-lama tertahan dalam kecemasan, Yoona lantas melangkah kearah pintu.

Kosong. Yoona melihat layar monitor pintu apartemennya. Tak ada seorang pun yang berdiri disana. Ada aura berbeda dari keheningan yang menyeruak dilingkungan apartemennya sekarang. Suasana seperti ini layaknya seperti di film-film horor, tidak ! ini lebih menyeramkan.

‘TING NONG’ bel kembali berbunyi membuat rasa ketakutan dalam diri Yoona  bercampur dengan rasa penasaran yang kian menjadi. Yeoja itu kembali melirik layar monitor didepannya. Ia pun bergumam pelan saat melihat seorang anak kecil berambut panjang. Yeoja kecil yang kira-kira berusia sepuluh tahun itu terlihat sedang berdiri didepan pintu apartement. Mendadak perasaan Yoona melega. Pikiran buruk tentang peneror yang belakangan ini mengganggu hidupnya sedikit memudar.

Merasa perasaannya tengah membaik, Yoona lantas membuka pintu didepannya. Tak lama pintu terbuka. Terlihat yeoja kecil itu malah melesat pergi setelah mengambil sebatang besar coklat dari dari tangan seseorang.

Perlahan Yoona menyipitkan matanya, “Sungmin-ssi..”

Seorang namja yang bernama Sungmin itu tersenyum menyeringai, ”Sudah lama aku menunggu pintu itu terbuka.” Ucap namja yang tengah memiringkan kepalanya kemudian melanjutkan, “Apakah kakak iparmu ini harus membawa seorang anak kecil dulu kemari? Agar nyonya besar didalam bersedia membukakan pintunya?”

Yoona tersenyum remeh sambil memutar bola matanya, “Dengar kakak ipar ! Aku tak ingin melihat wajahmu lebih lama. Jadi, sekarang katakan apa maksudmu datang kemari..”

“Hei, Aku juga tak sudi melihat wajahmu lebih lama, cih !”

“Lalu untuk apa kau kemari ?” Sinis Yoona sedikit terkekeh.

Selangkah demi selangkah Yoona mundur kebelakang. Bulu kuduk yeoja itu berdiri tegak ketika namja yang kian lama kian mendekat itu mulai menguncinya  pada sisi dinding tembok, “A-apa maumu?”

“Peringatanku yang kemarin, apa kau membacanya?”

Nafas Yoona kian menyesak. Peringatan? Pikiran Yoona kembali melayang. Jangan jangan..”Jadi itu kau? Jadi kau orang yang sering mengirimiku pesan sampah ?”

“Pesan sampah ? Astaga… Apa maksudmu yeoja bodoh? HUH?” gertak sungmin mencengkram dagu Yoona dengan kasar, “Aku bisa saja mematahkan lehermu, manis? Jadi, kau katakan sekali lagi, wajah mengerikanmu ini akan menghilang !”

Dengan kasar, Yoona segera menepis tangan namja yang bertaut didagunya, “Lepas !”

Namja itu mengusap tangannya yang terhempas perih, “Kau kasar sekali..” ucapnya sinis lalu beralih menatap detail wajah yeoja yang sama sekali tak berkedip, “Apakah kau juga akan sekasar ini saat siapa itu? mmm Lee Donghae menyentuh wajahmu?”

“Jangan samakan dia dengan dirimu ! sekarang cepat katakan apa maumu, berandalan?” sinis Yoona.

Sungmin membulatkan matanya sambil memukul keras dinding tepat dibelakang Yoona, “Yak, jaga bicaramu !”

Yoona mengepalkan tangannya kuat. Berusaha menahan rasa takut yang semakin menerpa, “Apa aku harus berbicara baik-baik pada orang sepertimu ? Dasar berandal !”

“YAK !!!”

“Cepat katakan maumu ! kau benar-benar membuang-buang waktuku.”

“Dengar !” ucap namja itu kembali mencengkram kasar pipi Yoona, bahkan lebih kuat dari sebelumnya, “Karena kau, keluargaku jadi berantakan ! Karena kau, masalah datang ! Dan sibodoh itu malah percaya padamu, bahkan sampai melaporkan appaku kepolisi..”

“Itu salah appamu ! Kenapa berbuat jahat..!”

“Akhhh..” Pekik Yoona saat namja itu mencengkram dengan kasar, rambut terurainya, “Lepas !”

“Kau ingin dilepas setelah membuat semuanya berantakan? HUH? Suruh anak bodoh itu mencabut laporannya !”

Yoona tersenyum menyeriangai seraya menahan rasa sakit, “Tidak akan !”

Heh, Aku tau ! kau ingin menguasai perusahaan appaku lewat si bodoh itu, iya kan ??..Dasar Yeoja licik !!! Seru Sungmin setengah berteriak.

Wae ?? kau takut eksistensimu terancam ? Menyedihkan !

“YAKK !” gertak sungmin yang kali ini menendang dinding dibelakang yeoja itu. Ia kemudian menghempaskan cengkraman dirambut Yoona, “Kau mau tahu apa yang bisa kulakukan?”

“Aku tidak takut !”

Sungmin menancapkan telunjuknya pada kening Yoona. Ia lalu mendorong kepala Yeoja itu hingga membentur dinding tembok kemudian berkata, “Apa otakmu ini masih berfungsi?” ejeknya seraya menatap yeoja dihadapannya lekat, “ Omo.. jika dilihat dari dekat, yeoja bodoh sepertimu ternyata cantik juga !”

“Apa?” gumamnya mendelik.

Segera ia mengangkat dagu Yoona keatas, membuat nafas yeoja itu kian menyesak, “Kau tahu? harusnya yang dijodohkan denganmu adalah aku, dan bukan Lee Donghae anak ingusan itu !”

“Benarkah? Jika itu kau, kita pasti akan langsung bercerai bahkan sehari setelah pernikahan..”

“Ani, kita akan bercerai setelah keluargamu benar-benar hancur !” timpalnya.

Yoona terkikik geli, “Well, itu bisa saja terjadi. Sayangnya harapan itu hanyalah angan-angan kosong dari seorang pecundang sepertimu !”  ejeknya.

“Heii, manis ! sekali lagi  jaga bicaramu !”  tegas Sungmin menekan keras pipi Yoona dengan jari telunjuknya. Seterusnya telunjuk itu berpindah menekan kasar kedagu, bibir, alis kening bahkan matanya. Tubuh Yoona mematung. Yeoja itu hanya bisa memejamkan matanya, berharap ada seseorang yang datang dan membebaskannya dari situasi seperti ini.

“Awwwhh” Pekik Yoona memjamkan mata. Menahan sakit akibat cengkraman rambut disamping telinganya.

“Kau ingin nasibmu berakhir seperti di teater, HUH? Aku bisa saja melakukan lebih dari sebelumnya !”

Suara gemuruh sontak terdengar. Yoona membuka matanya yang sedari tadi terpejam menahan rasa sakit, “Lepaskan dia Hyung !”

“Donghae oppa !”

Sungmin melepas cengkramannya pada rambut yeoja didepannya. Ia kemudian menatap tajam kearah adiknya, “Kau sudah pulang ternyata, kukira malam ini kau lembur !” ucapnya sinis.

Penuh amarah, Donghae mendorong tubuh Sungmin pada dinding tembok. Namja itu lantas menarik kerah kemeja coklat yang dikenakan Hyung-nya, “Sebenarnya apa maksudmu bersikap seperti ini?”

“Aku?” ucapnya tersenyum enteng, “Hanya memberi peringatan..”

“Memberi peringatan? Lalu kenapa mesti sekasar itu? HUH?” pekik Donghae.

“Yeoja murahan penari teater seperti dia memang pantas diperlakukan dengan kasar !” timpalnya.

“Mwo? KAU BILANG APA?”

Donghae bersiap melayangkan sekepal tinju namun terhalang ketika Yoona muncul dan mencegahnya, “Sudah ! jangan buat keributan !” lerai Yoona kemudian menatap namja yang tengah berada dalam cengkraman Donghae, “Sungmin-ssi sebaiknya kau pulang ! Cepat pergi..!”

Sungmin menyeringai sesaat. Ia membetulkan kerah kemejanya yang berantakan kemudian mengenyahkan diri dari apartemen tempat Donghae dan Yoona tinggal. Sejenak perasaan Yoona melega ketika sosok Sungmin menghilang.

Pandangan Yoona beralih kearah Donghae yang kini sedang menatap tajam, “Ada apa sebenarnya?” tanyanya datar.

Yoona memutar matanya gugup, “Eh itu, itu , mungkin hyungmu  marah karena penangkapan itu..”

“Bukan ! Maksudku adalah kejadian di Teater. Kudengar tadi Sungmin Hyung berkata seperti itu padamu.”

“Mwo?” mata Yoona membulat seketika, “Itu mmm.. itu maksudku buk…”

“Jangan coba berbohong !” tatapnya penuh selidik, “Apakah orang yang pernah mengganggumu di teater itu adalah Sungmin Hyung? Benarkah? Dia menganggumu dan menyuruh kedua kaki tangannya untuk menyakitimu?”

Yoona terdiam dalam kehawatirannya. Sebentar lagi Donghae pasti akan membuat keributan. Tapi apa yang harus dikatakannya? Jika Ia jujur, pertengkaran jelas akan terjadi. Berbohong? Namja itu penuh selidik. Donghae bukanlah orang yang mudah ditipu dengan cerita palsu.

Terlihat Donghae masih menanti jawaban dari yeoja yang tengah dipenuhi oleh keringat dingin. Sikap Yoona yang dipenuhi oleh kegugupan semakin membuat rasa kecurigaan pada diri namja itu kian membesar, “Jawab aku, Yoona-ah.”

Yoona menarik nafas penuh ketegangan. Yeoja itu ingin membuka mulut. Percuma saja ! Lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. Mulutnya belum bisa membuka dan bersua. Yoona hanya bisa terperangkap dalam kebisuan.

“Diam berarti kau membenarkan hal itu !” tegas Donghae dengan penekanan penuh amarah.

“Bukan begi…”

Donghae melesat kearah pintu. Yoona langsung menduga jika namja itu ingin pergi menemui Sungmin dan itu pasti. Tidak ! Ini tidak boleh dibiarkan, “Kau mau kemana?” cegah Yoona buru-buru merentangkan tangannya berlari menghalau pintu.

“Jangan mencegahku !”

“Kau ingin menemui Sungmin ?”

“Aku tak perlu menjawabnya ! Sekarang minggir..”

“Andweee… Aku tak akan membiarkanmu keluar dari apartemen ini, meskipun hanya selangkah..” kekeuh Yoona.

Selangkah Donghae melesat kekanan dan kekiri. Dengan cepat pula yeoja itu bergerak menghalanginya, “Yoona-ah, biarkan aku berbicara pada hyung sekarang !” tegas namja itu kembali.

Yeoja itu menggeleng cepat, “Tidak, jangan ! Lupakan masalah itu, kumohon ! Masih banyak masalah yang perlu diselesaikan.”

“Dan kau pikir ini masalah yang tak perlu diselesaikan?” timpal Donghae cepat.

Yoona tercekat. Sebelum air mata yeoja itu tertumpah,  musahil Donghae bersedia menghentikan aksinya. Hanya itu satu-satunya cara. Yah, memaksa butiran bening itu agar menerobos keluar. Namun sial, perasaan Yoona terlalu ricuh untuk mengeluarkan benda bening dari matanya, “Oppa, masalah ini biarlah berlalu ! jangan membahasnya lagi.. mungkin seperti itu cara penyelesaiannya.”

“Minggir !” perintahnya seraya mengunci erat tubuh Yoona. Memengang kedua tangan yeoja itu kemudian menggesernya kesamping. Yoona tersungkup dalam dekapan Donghae. Tubuh kacaunya yang sedang bergetar ketakutan terlalu lemah saat melawan namja yang masih dipenuhi oleh amarah itu.

“Jangan pergi !” pekik Yoona menarik tangan kiri namja yang nyaris menarik gagang pintu.

“Yoona-ah, Kau tahu? betapa takutnya aku saat para berandalan itu menganggumu? Bagaimana jika saat itu kau terluka? Kau ketakutan dan orang-orang diteater hanya menjadikanmu sebagai tontonan mereka ! Andaikan dari awal aku tahu jika itu adalah ulah Sungmin hyung, aku pasti akan langsung menghajarnya berkali kali..”

“Itulah alasanku menyembunyikan semua ini ! Aku.. aku  tak sanggup melihatmu terluka lagi. Jika kau menghajarnya, masalah ini pasti akan melebar ! Aku tak ingin kau kenapa-napa. Tolong pikirkan aku, dan.. anak kita…” Rintih Yoona yang akhirnya menumpahkan aliran air mata yang sejak tadi ia nantikan, “Pikirkan aku dan anak kita..” ulangnya.

“Yoona-ah..”

“Tolong kau pikirkan, Oppa… Hikz.. ”

Hening…

Donghae terpaku melihat pemandangan didepannya. Tertegun mendengar ujung kalimat Yoona. Yeoja itu menangis lagi. Cukup sudah ! Ia telah melakukan kesalahan, “Yoona mianhe,” sesal Donghae mendekap tubuh yeoja yang tengah bergelimang air mata itu erat.

“Aku tidak akan pergi ! Mianhe..”

“Kau juga harus berjanji tidak akan membahasnya lagi, denganku maupun  dengan hyungmu..” isak Yoona.

“Nde.. aku janji..”

Donghae melepaskan dekapannya kemudian menyeka air mata Yoona dengan lembut, “Sudah, jangan menangis… !” ucapnya kembali merengkul tubuh mungil Yoona, “Mianhe Yoona, juga karena perlakuan Sungmin hyung padamu. Aku terlalu emosi..”

Yoona terdiam dalam isakannya yang kian menderas. Terdiam merasakan kedamaian tubuh namja yang tengah mendekapnya. Beban yang ada dipundak yeoja itu sedikit berpindah. Setidaknya Ia tak perlu lagi menyembunyikan kejadian di teater itu pada Donghae. Mungkin begitu lebih baik.

“Jangan menangis lagi..” ujar Donghae pelan setelah melepaskan dekapannya. Namja itu menyeka air mata yeoja dihadapannya, kemudian mengambil sesuatu dalam jasnya, “Yoona-ah mungkin ini tak sebanding dengan kesalahan yang telah kulakukan namun, kuharap kau bersedia menerimanya.”

Yoona menatap sekuntum mawar merah wangi yang berhias pita merah jambu dihadapannya, “Untukku?”

“Tentu saja, untuk seseorang yang selalu tinggal dihatiku.. Seseorang yang selalu memberiku alasan untuk bergegas pulang dan melihat wajahnya, seyumnya ataupun wajah kesalnya sekalipun. Seseorang yang selalu percaya padaku. Sosok yang mustahil mampu kudeskripsikan dengan kata-kata.  Dialah alasanku bertahan.”

Yoona menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, ”Kau terlalu berlebihan, Oppa ! Bagiamanapun Gomawo..” tanggapnya tertunduk dengan senyum merekah.

………………………

Setelah hari introgasi berakhir, tepat hari ini adalah hari besuk di penjara. Donghae melangkah menuju sebuah ruangan. Itu adalah ruang besuk. Ruangan bercat coklat cream itu memancarkan hawa dingin dan, aneh.

Mata namja itu memicing ketika melihat sesosok namja yang semalam barusaja membuatnya tersungut emosi. Sungmin Hyung. Rasanya Donghae ingin melakukan sesuatu pada hyungnya, meminta penjelasan, mencerca atau apa pun, bahkan menghajarnya sekalipun. Namun sosok Yoona begitu tajam menghalau pikirannya. Nyali namja itu ciut jika harus membuatnya menangis lagi.

Mata Tuan Lee meruncing saat melihat kedatangan Donghae. Begitu pula hyungnya yang ikut tersontak dengan kedatangan namja itu. Wajah tuan Lee menyulutkan sesuatu layaknya tak sabar ingin menghantam dengan beribu pertanyaan serta pernyataan dikepalanya. Sungmin lebih lagi ! Namja itu langsung bangkit dan sekeketika menarik kerah baju Donghae.

“Hei, apa maksudmu dengan semua ini !” Sungut Sungmin mengeratkan tarikannya pada kerah kemeja Donghae.

Donghae mengacuhkan pandangannya. Ia benar-benar ingin menghindari keributan. Melihat wajah hyung-nya lebih lama, mungkin dapat memancing emosinya kembali.

“Hentikan hyung, jangan membuatku ingin menghajarmu juga !”

“Mwo?”

“Sudah hentikan !” Lerai tuan Lee, “Sungmin lepaskan dia !”

Sungmin menatap tajam. Namja itu kemudian menghentakkan tubuh Donghae seraya melepaskan cengkramannya, “Kali ini kau bisa lolos…” ucapnya menyeringai lalu melesat pergi keluar ruangan.

Donghae mengambil posisi duduk berhadapan dengan tuan Lee, appannya. Namja itu hanya terdiam menunggu appanya itu mengatakan sesuatu. Namun setelah sekian lama, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut tuan Lee. Hanya membisu.

“Bagaimana kabarmu appa ?” tanya Donghae mencoba membuka pembicaraan.

Tuan Lee terkekeh, “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja !  tidak kurang satu pun ! Termasuk rasa senangku karena sudah ikut menjebloskan penghianat itu bersamaku kemari !”

“Kau memang sudah merencanakannya dari awal ?” tebak Donghae.

“Ah, kurasa kau benar-benar pandai meramalkan sesuatu..”

Donghae mengangkat alis, “Jadi? Sekarang kau merasa dendammu itu sudah terbalaskan?”

“Belum.”

“Mwo?”

“Anaknya itu masih disini? Kau masih menemuinya kan?” selidiknya menatap wajah Donghae dengan seksama. Terlihat jelas aura kegugupan disana, “Kau belum menceraikannya?” ucapnya sinis.

Menceraikan? Itu tidak mungkin ! Tuhan ! Apa yang harus dilakukannya sekarang ? Mungkin ini yang terbaik. Mengatakan fakta bahwa Yoona tengah mengandung. Ummanya sudah mengetahui hal ini. Cepat atau lambat kabar kehamilan itu pasti akan terdengar juga ketelinga appanya. Namja itu tak ingin bertindak layaknya pengecut. Itu akan lebih memperburuk keadaan jika appanya itu mendengar kabar tersebut dari orang lain.

“Kau sedang memikirkan ucapanku tadi atau sedang memikirkan anak penghianat itu ?” timpal Tuan Lee melihat anaknya yang masih sibuk membatin.

“Appa !”

“Wae?”

“Aku tidak mungkin menceraikannya ! Aku tidak mungkin melakukan itu karena Yoona, dia sedang mengandung..”

Mata tuan Lee membulat seketika, “Mwo? Mengandung? Katakan padaku kenapa ini bisa terjadi ?” sulutnya penuh amarah.

“Itu bisa saja terjadi karena aku mencintainya ! Aku bukan menikahinya karena dendam ! Aku bukan appa yang selalu dipenuhi oleh rasa benci !”

“Cukup !” tegas tuan Lee, “Aku tidak sudi mempunyai ikatan dengan keluarga penjahat itu ! Ceraikan dia secepatnya atau…” Ucapnya menatap tajam lalu menyambung, “Atau akan ada adegan dimana seorang ibu harus berpisah dengan anaknya !”

“Mwo?! Appa hentikan semua ini..”

“Aku tidak akan segan-segan melakukannya.. Seberapa besar kau mencegah tindakanku, Maka akan ada lebih besar lagi tindakan yang ku ambil. Camkan itu !”

Donghae menggeleng tak percaya. Keringat namja itu mengucur deras tanpa henti. Butiran yang mengucur seiring dengan rasa sesak didadanya. Bercampur dengan bayangan hitam yang menghantam begitu dalam. Bayangan kelam tentang nasib yeoja yang dicintainya.

Bagaimana mungkin appanya bisa setega itu?

……………………………..TBC………………………

RCL please…

73 thoughts on “SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 8)

  1. Marzha berkata:

    Finally part 8 nya keluar..
    MAkin seru aja ceritanya chingu….. Kok appa donghae sama sungmin jahat banget sih… Aku jadi khawatir ngeliat yoong unnie… Please chingu mudah2an hubungan YoonHae baik2 aja selalu yah… Gak kuat ngeliat yoong unnie disakitin terus sama appanya donghae..

    Part selanjutnya jangan lama-lama yah chingu.. Ditunggu lohh.. ^^
    Hwighting…^^

  2. tya nengsih berkata:

    akhirnya yang dtunggu keluar juga…….appanya donghae jahat banget sih ….?author sampai kapan penderitaan yoonhae berakhir……….?next part jgn lama ya…….

  3. nadyaaaa berkata:

    akhiirnyaaaaa keluar jugaaaaaaaaaaaaaa😀
    tmbah seru+sedih+menegangkan dan donghae oppa tmbah romantiiisss .
    kasiihan yoona ma donghae smga masalahnya cpaat kelaaarrr.
    next next partnya jngan klamaan yah thor. hehee ^^

  4. Amaterasuhiromi berkata:

    Ya ampun, sekejam itukah keluarga donghae sama Yoona, apalagi ayah donghae berencana membuat yoona kehilangan anakanya, belum lagi ancama sungmin pada yoona dan donghae, gimana dengan hubungan mereka ntar??
    makin penasaran, jangan lama-lama lanjutannya yea, , ,

  5. jungseya berkata:

    kereen .. yoonhae mommentnya byk hhhe
    masalah nya makin ribett deh TT
    smoga bisa cpet slesei yaaa😀
    next partnya jgn lama-lama yaaaa hhe :p

  6. RinduforKPop berkata:

    akhirnya…. part 8 ini keluar juga *peluk author*
    makin menegangkan aja nih, dan konfliknya makin berat tuh…
    good job, thor
    dan tetap semangat yaa buat kelanjutannya..
    please, jgn buat aku lumutan nungguin next part nya yah..hehehe

  7. yoonhaeseokyu berkata:

    Akuu sunka bangeeet ini >__<
    Donghaenya romantis bangeet sama Yoong, yaa meskipun keluarga Lee tetep jahat sama Yoona,, jangan diapa2in yaa Yoongnya ..
    kasian merekaaaa TT.TT

    lanjuuuut yaaa, penasaran nii, keluarga Lee mau ngapain lagi sama keluarganya IM ??????

  8. HaeYoon berkata:

    Ommo, anak am bapa sama2 kejamnya .

    #lirk sungmin & appa.a

    huhhh,,
    kasian YoonHae coba mereka banyak banget😦

    tapi ini ff asli keren banget.
    lanjut thor🙂
    kep writing😀 !!

    • nanashafiyah berkata:

      itu karena buah jatuh tak jauh dari pohonnya hehehe…
      Cobaan yoonhae emang byk, tp itulah yg membuat mrk makin bersatu #ce ellah.. Kkk..
      Makanya ttp tnguin next chap nya yah..
      Gomawo ^^

  9. Alyfia sasmita berkata:

    Makin penasaraaan
    Next part jgn lm2 yah chingu . .
    Author yg hebat !😀

    #ap next part ntr it last part yah ?
    Jgn deh thor ? Msh pngen bca tulisan author nih tntng yoonhae . .

  10. Alyfia sasmita berkata:

    Makin penasaraaan
    Next part jgn lm2 yah chingu . .
    Author yg hebat !😀

    #ap next part ntr it last part yah ?
    Jgn deh thor ? Ya ya ya . . ? Msh pngen bca tulisan author nih tntng yoonhae . .

  11. regina berkata:

    ceritanya tambah seru thor, smoga masalah 2 keluarga cepat terselesaikan. Yoona-nya jgn di jahatin dg appa, kan kasian. Smoga yoona bs melahirkan anaknya dgn selamat & yoonhae tetap bersatu selamanya. Di tggu next chap-nya thor🙂

  12. rose flower berkata:

    OMG !!!!! FF ini bener2 daebak…!! Keren sumpah, konfliknya g pasaran dan selalu bikin penasaran…🙂

    tp saya tadi penasaran ngeliat isi kotak itu…gara-gara sungmin sihh jadinya yoona unni g jadi buka dehh…saya kan mau tau isinya..😦

    unni jangan ending dulu kek…atau kalopun ending, bikin after story deelel..gituhh

    haha dari tadi aku banyak bacot yahh…maapin deh ya !!!
    Next partnya ditunggu ! Walaupun lamaaa berbulan atau bertahun aku nunggu kok..
    Tapi lebih cepat lebih baiklahhh..wkwkwk

    gomawo udh bikin ff yg super keren ini…

    • nanashafiyah berkata:

      aduh chingu terlalu berlebilhan ngomongnya… Hehe.. Tp makasih ya..
      Kotak hitam itu isinya BOM #just kidding.. :-p
      chingu kalo mo ngomong panjang lbar silahkan.. Koment di blog ini ga menyebabkan serangan jantng ma asma akut koks(?)
      ttp tungguin next chapnya ya.. Gomawo ^__^

    • nanashafiyah berkata:

      oke ^^
      maunya sih end-nya di part 10 atau sekitar itulah, 9, 10, 11, 12, 13, 14… #udah d yah.. Hohoho
      Tp ga tau jg deh, siapa tau aja bs brubah.. Hehehe..
      Liat nnti y… Gomawo ^__^

  13. mulanhaenaddict berkata:

    Next part jangan lama lama ya author ^^
    sumpah ini ff keren banget, biin orang yang baca penasaran =)
    Lah, itu appa donghae kejam banget! Hmm, apa ya yang terjadi dengan our YoonHae nanti? Semoga Happy ending \^^/

  14. ElfishYoonAddict berkata:

    Authoorr kenapa lama bangett keluar’y ,, saya bulukan nunggu’in ini ff #eh -___-”
    tapi gpp semua terbayar setelah baca part 8 ,, bener” daebakk YoonHae’y makin sweet tapi konflik’y makin hot juga ,, aiisshh good job lah buat chingu semoga next chap makin meledak ledak #emangBoM
    okelah dari pada ngomong mulu mending saya demo d’depan rumah author biar part 9’y kaga selama ini ,, kekkkee~ just kidd😉
    keep writing ya nd coming soon buat why i hate u part 9’y ,,
    sekian dan trimakasih😀

  15. shannia21 berkata:

    Cuman bisa berkata “Astaga” ==”
    Kejem banget Appanya Hae -___-
    Pokoknya jangan smpe terjadi apa apa sama Yoon, Hae dan anak mereka itu😀

    Lanjutt thor!! ^^

  16. gitasonelfshawol93 berkata:

    huahh, mian author aku gak sempet coment satu” di tiap part dikarenakan modem lola pake banget… hehehe
    aku gak tega sama yoonhae, tega banget sama papanya ci sungmin tuh… jahat… btw yoonhae di sini mirip romeo n juliet😀, tentang pertengkaran ortu gitu. jangan pisahkan mereka thor buat happyend yah… oia aku baca nih ff pas lagi insomnia ampe jam 4 baru selesai *sedikit curhat*. n pokoknya daebak… di tunggu nextnya oce🙂 hwaiting author. gomawo ^^

  17. hikari berkata:

    annyeong, new reader. mianhe baru komen di part akhir. konfliknya berat banget ya🙂 ditunggu part selanjutnya. gumawo, keep writing and hwaiting🙂

  18. nanashafiyah berkata:

    @gita :
    ngga papa kok yg penting udah nongol hehehe..
    Kalo romeo juliet kisahnya kurang tau jg sih..
    Tp iya juga kali yah..#plakk
    Wah insomnia mikirin apa tuch? #kepo modeon..
    Next part segera tayang kok..
    Ditunggu ya🙂
    gomawo.. ^^

  19. Fr_*polaris berkata:

    aku juga new reader, maaf bngt bru komen di part ini…. awalnya romantis, smpe skrng tmbh romantis, nnti lebih romantis lgi untk yoonhae nya, walaupun bnya konflik😀
    ditunggu ya part selanjutnya😉 keren bngt

  20. PyroAna berkata:

    Bru baca, pendtang bru nieh,, cpet dipost ya part slanjutx,, tpi, aqu jdi ga sbar nunggu ujungx kya apa?
    Happy ending kan, kutunggu ya.,,

  21. Titakyu haeppa berkata:

    Daebak!!
    Tapii kasian yoonhae nyaa..perjuangan mrk untuk bertahan keren bgt. Tp kalo lama kelamaan ga tega thor.. Ituu tn.lee jahat bgt dehh.. Iih gregetan…
    Next part jgn lama2 yaa chingu..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s