SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 6)

Image

Title :  Why I Hate You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance, Family

Rating : PG-17

Cast : SNSD  Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : SNSD  member, Super Junior Sungmin, F(x) Sulli

Soundtrack :   SNSD  –  Day By Day

                       SUJU –  Reset

Annyonghaseoo…

Kali ini aku membawa lanjutan dari ff YoonHae yang udh kalian tunggu-tunggu..

Langsung ajjah yahh..

Semoga kalian suka !!!

Happy Reading All…

Part 6

Adakah alasan untuk membenciku???…. “Why I hate you”

Agak berisik. Selangkah demi selangkah Donghae berjalan ditengah hiruk pikuk ruangan yang berisi kerumunan anak-anak Tk yang berlari kesana-kemari. Dicarinya sosok Yoona. Ia menoleh kekanan dan kekiri. Sangat sulit menemukan yeoja itu.

Donghae mendengak. Kemudian menyipitkan matanya. Tepat, sepertinya ia mulai menemukan sosok yeoja yang dicarinya. Namja itu melangkah perlahan, hendak memastikan bahwa seseorang yang dilihatnya sudah pasti adalah Yoona. Mungkin benar. Tunggu ! Kenapa Yeoja itu memejamkan matanya?

“Yoo..” Sahut donghae terputus ketika mendapati sesosok yeoja paruh baya yang berdiri didepan Yoona berbalik kearahnya.

Leher Donghae mendadak tercekat, “Umma”

Nyonya Lee menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya, “Donghae-ssi sedang apa disini?”

Donghae Semakin memperpendek jaraknya, “Umma sedang apa disini?” ucapnya refleks. Entah apa yang terjadi, hanya kalimat itu yang dapat terucap.

“Jawab saja pertanyaan Umma ! Mau apa kemari? Huh?” tanya nyonya Lee dengan intonasi pelan namun tajam.

Wajah Yoona tertunduk memerah. Yeoja itu benar-benar Bingung. Tubuhnya menegang. Otot-ototnya terasa kaku. Sempat terpikir untuk menumbangkan dirinya ditempat ini sekarang juga. Kemudian semua gelap dan berakhir. Berharap dengan begitu masalah bisa terselesaikan. Segampang itukah ?

Yoona berbisik sambil menggerakkan bibirnya membentuk kata, “Sudahlah..” yeoja itu sungguh takut jika Donghae berbicara tanpa kontrol.

“Hei ! Apa yang kau hiraukan?” timpal nyonya Lee saat menyadari anaknya malah sibuk memperhatikan yeoja yang tengah berdiri tertunduk didepannya.

Donghae menarik nafas panjang, “Umma aku hanya kebetulan…”

“Kebetulan? Heh, alasan aneh !” Ucap nyonya Lee kemudian menatap tajam, “Jawab Umma ! yeoja ini memerasmu? Dia melayanimu? Berapa Won kau membayarnya?” tuduhnya, membuat mata Yoona membulat, “A-ap-a?”

“Apa? Umma kumohon jangan berbicara sembarangan !” tegas Donghae segera.

“Aku berbicara kenyataan !” Tegas nyonya Lee membalas. Ia kemudian melirik Yoona dengan mata picik, “Keluargamu sudah jatuh miskin, kurasa kau akan melakukan apapun !” ucapnya menyindir.

“Umma, cukup !!!” seru Donghae emosi.

“Wae? Aku benar kan? Dia memang rela melakukan apapun demi uang, iya kan?” tangkis nyonya Lee. Ia kemudian mulai bersikap tenang ketika menyadari tatapan orang-orang diruangan taman kanak-kanak itu, sedang tertuju kearahnya.

Donghae menghela nafas. Namja itu masih menahan emosinya yang kian memuncak. Andaikan ini bukan di tempat umum, “Sudah Umma aku lelah..” pungkasnya.

“Yeoja macam apa dia? Bukankah Keluarga Im menikahkannya  denganmu, juga demi uang?” timpal nyonya Lee Kembali. Yeoja paruh baya itu benar benar membuat air mata Yoona nyaris tetumpah. Tidak ! bahkan sudah.

“Umma, aku muak ! Aku tidak butuh uang Appa atau siapa pun itu. Aku tidak menginginkan perusahaan ! Aku hanya menginginkan yeoja yang kucintai. Umma bisa mengambil semuanya. Ambillah semua, asal itu bukan Yoona” seru Donghae.

“Kau bagian dari keluarga Lee..”

“Aku tidak peduli ! dan satu lagi, kumohon umma jangan memaksaku atau, aku juga tak segan-segan berbuat licik seperti Appa !”

“Donghae-ssi, kau mengancam ummamu sendiri?” kejut nyonya Lee.

“Umma..”

“Hei, anakmu juga datang kemari?” tegur seorang ahjumma dari arah samping. Ahjumma yang ternyata adalah nyonya Han, kemudian menatap Donghae dan Yoona bergantian. Aneh ! pikirnya. Mereka  hanya terdiam mematung. Hal yang sukses menciptakan raut keheranan terpampang jelas diwajah yeoja paruh baya itu.

“Ada apa?” ucapnya sembari mengangkat alis. Sepertinya sebelum ini nyonya Lee mengatakan sesuatu. Mengancam? Sangat ! keluarga ini membuat nyonya Han bingung sendiri.

“Ah.. aku mengganggu kalian” tawanya mulai merasa tak nyaman.

“Ah nyonya Han..” sambut nyonya Lee berusaha tenang.

Donghae meniup ubun ubunnya yang semakin memanas, “Cukup Umma !” pintanya datar.

“Mmm ada apa?” heran nyonya Han sekali lagi.

Dengan tajam Donghae menatap Ummanya yang bersiap mengatakan sesuatu, “Ini, ada yang membuat ulah lagi..” sinis nyonya lee  pada Yoona.

Mungkin sebaiknya namja itu menghindar. Sebelum situasi memancing amarahnya menjadi lebih meninggi. Sepertinya Sudah terjadi. Emosinya semakin meluap. Ini buruk juga kacau.

Donghae langsung beranjak keluar dari ruangan itu. Segera ia menarik tangan Yoona. Terlihat Yeoja  yang masih betah menunduk pasrah itu, berdecak kaget saat merasakan sebuah tarikan ditangannya. Sepertinya Ia agak enggan bergerak.

“Hei, kau mau kemana?” seru Yoona saat Donghae menyeretnya keluar dari ruangan yang semakin sepi itu.

Namja yang tengah menarik tangan Yoona itu hanya terdiam. Kemungkinan besar, Ia masih berkelut dengan amarah yang menggumpal dalam dadanya.

Secepatnya, Donghae menarik pintu mobil samping kemudi, “Masuklah..”

Yoona mengigit bibir bawahnya sambil menatap kesal namja yang telah menyeretnya sampai ke mobil, “Sebenarnya apa maksudmu?”

“Yoona-ah, kubilang masuk !” perintahnya sekali lagi. Yeoja didepannya pun menurut. Meskipun dengan raut terpaksa.

Sekali hentakan, Donghae berhasil menutup pintu mobil putih yang sejak tadi dibukanya untuk Yoona. Segera Ia berlari keseberang. Beralih menarik pintu kemudi mobil. Ia Kemudian ikut menanjak kedalam. Namja itu ternyata tetap mendiamkan mesin mobilnya. Dan hanya menatap lurus kedepan.

“Oppa, kenapa kau malah berbicara seperti itu pada Ummamu?” kesal Yoona membuka pembicaraan.

“Kau mau aku diam  saja?” jawab Donghae memalingkan wajahnya acuh.

“Tentu saja tidak !”

Donghae segera memicingkan matanya  dan beralih menatap Yoona, “Tidak? Lalu?”

“Seharusnya kita minta maaf..”

“Kita tidak melakukan kesalahan!”

“Kalau bergitu, seharusnya kau lebih bisa bersabar..”

“Mwo? Yoona-ah, ucapan umma tadi sudah melewati batas !”

“Donghae Oppa ! Sampai kapan kau akan terus dikendalikan oleh emosimu? Bukankah kau sendiri yang berjanji akan memperbaiki keadaan? Sekarang lihat ! Sikapmu pada Umma membuat masalah semakin amburadul. Lalu sekarang, apa yang bisa diperbaiki? Semua sudah hancur Oppa !”

“Yoona-ah, Umma menghinamu !”

Mata Yoona sedikit terpejam. Yeoja itu berusaha menguatkan hatinya lalu menampik, “Ucapan Umma sebagian memang benar !” akunya ,  membuat tubuh namja disampingnya bertambah memanas, “Yoona-ah, apa yang kau katakan?”

Yoona mendelik setelah manarik nafasnya dalam, “Iya ! itu memang benar, aku… maksudku .. aku menerima perjodohan ini karena aku kasihan pada perusahaan Appa yang nyaris bangkrut, dan.. dan berarti, semua itu demi uang !” ungkap Yoona. Kemudian menatap mata namja yang tengah dipenuhi oleh keringat dingin, “Benar ! Semua memang demi uang !” sahutnya tiba-tiba.

“Cukuppp !” sahut Donghae tak mau kalah. Namja itu kemudian menatap Yoona tajam, “Yoona-ah, kumohon jangan berbicara seperti itu !”

“Wae? Apa aku harus mengingkari kebenaran ?”

“Jangan memperpanjang masalah !! Sudah hentikan !”

“Mwo? Siapa yang memperpenjang masalah? Aku? Ah, lucu sekali !” ucapnya sambil terkekeh lalu melanjutkan, “Oppa, Dengar! aku sudah lelah.. Ini semua membuatku gila dan kurasa lebih baik kita akhiri saja..”

“Apa?”

“Kita akhiri oppa !”

“Jangan pergi !” Ucap Donghae sambil menahan tangan Yoona yang akan membuka pintu.

“Lepaskan..” balas Yoona, berusaha menghempaskan genggaman tangan basah yang menahannya. Yeoja itu lalu mendatarkan suaranya, “Lepaskan, atau aku akan teriak !”

“Berteriaklah ! aku tidak  takut !” ucapnya tak kalah datar.

“Mwo?” Yoona membulatkan matanya.

“Aww..” pekik Donghae saat Yoona menendang pergelangan kakinya dengan hentakan keras.

Segera Yoona mempercepat langkahnya, tepat saat Ia berhasil keluar dari mobil putih yang ditumpanginya. Yoona sudah menduga jika, butiran bening itu  pasti akan tumpah dan membanjiri wajahnya. Tuhan ! kenapa sangat sakit. Perasaan seperti ini benar-benar menghancurkan jiwa dan raganya.

“Yoona-ah, tunggu ! “ pinta seseorang dari belakang. Yeoja itu merasa jemarinya mulai merapat. Pertanda jika seseorang menggengamnya, lagi. Pasti dia !

Secepatnya Yoona berbalik. Yah, berbalik ! Yeoja itu sungguh bingung dengan tindakannya. Sesuai rencana, Yoona harus berlari cepat, menghempaskan tangan Donghae lalu menyuruh namja itu menjauh, namun keinginan itu nihil. Juga adalah hayalan yang kosong.

“Sekarang kau mau apa lagi?” desak Yoona pada namja yang tengah menggenggam tangan kirinya sekali lagi.

“Yoona-ah jangan seperti ini !”

“Mwo?”

“Yoona-ah, tetaplah tinggal ! Jebal !” pinta Donghae.

Yoona menghempaskan genggaman tangan namja yang berdiri didepannya. Genggaman yang semakin melemah, “Kau memintaku tetap tinggal ! tapi… tapi  kau malah mengacaukan semuanya.. aku lelah oppa.. Aku lelah dengan sikap keluargamu, aku lelah dengan keadaan ini.. Aku…“ Katanya, menarik nafas lalu menyambung, “Sudahlah mungkin lebih baik jika diakhiri..”

“Aku tidak bisa ! Yoona-ah apakah kau tahu? Alasan aku bertahan, demi siapa? Kau tahu, Aku rela melakukan apapun, itu demi siapa?”

“Kau bisa melakukannya demi, ummamu ! lupakan aku !”

DEGG !!

Aliran darah Yoona memanas ketika tubuh Donghae mendekapnya erat, “Yoona-ah, mianhe.. jangan pergi, jebal !” katanya dengan nafas terengah.

Yoona memejamkan matanya.  Berusaha menghayati kehangatan getaran tubuh namja yang tengah mendekapnya erat, “Jangan seperti ini..”

Air mata Yoona semakin mengalir deras. Butiran demi butiran membasahi baju kemeja biru yang dikenakan Donghae. Aliran itu berhasil membanjiri bahu namja itu. Yoona menangis lagi dibahunya, menangis lagi !

Lembut, Donghae mengelus rambut yeoja yang tengah menagis dalam dekapannya, “Mianhe, aku bersalah ! Aku akan meminta maaf pada Ummaku atas perkataanku tadi !” sesal namja itu, berusaha menajamkan suaranya, “Aku akan minta maaf pada umma !”

Bukannya air matanya mengering, tangis Yoona malah semakin menyangguk. Mendengar suara namja itu membuatnya semakin tersesat.

“Mianhe… Saranghae Yoona-ah..” bisiknya.

“Kau jahat Oppa !!” protes Yoona sambil menepuk dada namja yang tengah mendekapnya.

“Ne, aku memang jahat ! Kau harus terus berada disisiku agar kejahatan dalam diriku hilang perlahan, begitu seharusnya !”

Kepala Yoona terangkat. Ia kemudian menyeka butiran yang membasahi pipinya pelan. Seterusnya yeoja itu menyeka, namun percuma. Butiran itu tak henti hentinya mengalir. Meskipun Yoona menyekanya berkali-kali, pipinya itu tak kunjung mengering.

Donghae menyingkirkan tangan Yoona, “Sudah, biar aku !” ucapnya lalu dengan lembut menyeka dengan tangannya, air mata Yoona yang terus mengalir.

“Air mata ini menutupi kecantikanmu, kulitmu yang seputih salju jadi memerah..” gumamnya sambil berusaha mengeringkan  wajah basah yeoja didepannya.

Yoona mengigit bibir bawahnya, menahan tulang pipinya yang nyaris menancap keatas, “Menggelikan”

Namja itu memulai lagi. Ia bahkan masih sempat menggombal ditengah situasi seperti ini. Yoona benar-banar harus menekan senyumnya sebisa mungkin. Ini tidak lucu. Bagaimana bisa ? Ia tidak boleh tertawa, tersenyum atau apa pun itu, sebelum air matanya mengering.

“Air matamu susah sekali mengering, sepertinya mereka enggan menjauh ! Semua yang ada padamu terlalu indah, bukankah begitu?” terangnya sambil tersenyum.

Demi apa pun ! Yoona tak akan membiarkan senyum itu menghilang tanpa balasan. Meskipun sedetik. Merekakahkan senyum lebar adalah keinginan terbesarnya sekarang. Baiklah, tiada alasan untuk menyembunyikan perasaannya. Masa bodoh dengan air mata yang belum mengering.

“Hih… sudah ! jangan membuatku tampak bodoh..” balas Yoona memberikan sebalas senyum disela air matanya.

Yoona menggenggam kedua tangan Donghae. Tangan yang hingga kini masih berusaha menyeka butiran air diwajahnya, “Aku sudah baikan” ucap Yoona sambil menurunkan tangan namja yang bersinggah diwajahnya. Ia lalu menyeka sendiri sisa air mata itu dengan kedua tangannya sekaligus, “Sudah.. hehehe”

“Aku suka melihatmu tertawa seperti itu..”

“Benarkah?” Yoona menatap namja didepannya penuh minat. Meskipun sembab, manik mata yeoja itu sungguh berkelap-kelip. Semakin dekat mata itu semakin indah dan berbinar.

“Mmm Yoona-ah, bisakah kau menatapku seperti biasa?” pinta Donghae seraya menahan nafasnya.

Yoona mengerutkan kening. Ia merasa tatapannya memang biasa, “Memangnya apa yang salah?”

“Aniyo tak ada yang salah, hanya saja ini… yah, kau tahu? ini di tempat umum..”

“Lalu?” timpalnya pelan. Yeoja itu kembali mengarahkan kilauan cahaya dari manik matanya.  Kilauan yang kembali merasuk. Ya Tuhan ! mau sampai kapan?

“Yoona-ah, mmm, jangan membuatku terpancing !”

“Apa?”

Donghae menghela nafas, namja itu segera mendengak, atau menunduk. Apa  saja, asal pandangannya teralihkan, “Baiklah Lupakan !”

Wajah Yoona masih memasang raut bertanya-tanya, “Kau kenapa?”

“Yoona-ah Mianhe..” sesal Donghae masih tertunduk.

“Untuk? Kejadian berusan?”

“Bukan, ah, iya, itu juga termasuk ! dan mmm tadi pagi aku meninggalkanmu..”

Yoona mengangkat alis, “Tadi pagi? Kena.. Ohh..” ingatnya mengangguk mengerti.

“Kau ingatkan? Aku benar-benar menyesal meninggalkanmu, tapi tenanglah aku akan menebusnya..” yakin Donghae.

“Menebus? Dengan?”

Donghae menaikkan bola matanya, memasang wajah tampak berpikir keras,” Mmm, Kaja !” ajaknya sambil menarik tangan Yoona masuk kesebuah mobil putih.

“Kita mau kemana?” tanya Yoona penasaran. Sementara itu namja yang duduk dibangku kemudi itu, hanya terdiam dalam senyumannya. Donghae memang selalu seperti ini. Aneh !

Yoona menengok kesekelilingnya. Sepertinya yeoja itu mengenali jalan yang baru saja dilewatinya, “Ini.. Jalan ke kantormu? Mau apa kita ke kantormu?” herannya.

“Menjadikanmu sekertaris baru !”

“Apaaa?”

Namja itu tertawa kecil, “Hanya bercanda.”

Yoona memutar kedua bola matanya. Namja itu tetap menyembunyikan tujuannya membawa Yoona ke jalan ini. Apa maksudnya? Sudahlah, memikirkan rencana Donghae membuat kepala yeoja itu pusing sendiri. Lebih baik, ia mengikuti keinginan namja aneh itu.

………………………………..

“Wah.. Indah sekali !!” kagum Yoona melihat pemandangan didepannya.

Takjub. Mata Yoona tak berkedip saat memandangi pemandangan kota Seoul pada malam hari. Terlihat dari sana, rentetan gedung yang menjulang tinggi memancarkan cahaya. Lampu-lampu jalan berkelap kelip tanpa henti, membuat jalan itu terukir ditengah kegelapan malam. Ditambah gerombolan mobil yang berlalau lalang, benar-benar menciptakan karya kota miniatur. Ini seperti mimpi.

“Oppa ! Tak kusangka ada pemandangan seperti ini di atas gedung kantormu !” ucapnya takjub pada namja yang berdiri disampingnya.

Yoona merentangkan tangannya sambil merasakan semilir angin yang berhembus dari arah belawanan. Angin malam sangat lembut dan menusuk, juga membuat bulu kuduknya merinding.

Tidak Lagi…

Hangat. Tubuh Yoona dipenuhi kehangatan . Donghae beralih menautkan jari jemarinya disela-sela Jari yeoja yang sepertinya tengah mengigil. Didekapnya tubuh itu erat.

“Dulu aku berharap seperti ini ! Datang  ke tempat ini bersama seseorang yang akan menemani hidupku” terawang Donghae.

Yoona tertegun. Yeoja itu seolah kehilangan kata-kata. Mungkin karena, hatinya terlalu girang, atau entahlah. Perlakuan Donghae yang seperti ini membuat matanya perih. Kalian bisa menyebut itu, terharu. Tapi kenapa lagi harus berurusan dengan air mata?

“Aku ingin selamanya seperti ini, memelukmu seperti ini. Jika kau pergi, itu sama saja membunuhku. Dan jika aku masih hidup, itu sama saja membuatku tampak bodoh… Ini mungkin gila, tapi begitulah kenyataannya !”

Terdiam. Yoona memilih melakukan itu. Ia lebih memilih mendengar dan merasakan setiap kata dan nafas namja yang tengah mendekapnya. Mendengarkan kata ‘Tetaplah tinggal’, lagi. Sejujurnya Ia pun bertahan karena Donghae yang meminta. Memilih menentang keluarganya sendiri, adalah bagian dari pilihan untuk mengokohkan pertahanan itu. Dan lagi-lagi karena permohonan seorang namja. Konyol bukan? Namun benar, begitulah kenyataannya !

“Yoona-ah secepatnya aku akan menyelesaikan semuanya.. Aku tak akan membiarkanmu semakin menderita…”

Mendengar kalimat itu lagi, Yoona memilih untuk percaya. Yah, percaya ! tak ada pilihan lain selain kata itu. Percuma jika harus berontak.

Yeoja itu kemudian menghela nafas pelan, “Tetaplah bertahan demi aku, maka aku akan tinggal untukmu lebih lama..” sela Yoona lembut.

Donghae tersenyum merekah, “Baiklah..”

Alunan lagu Sorry-sorry berlantur kembali. Pastilah dari handphone namja itu. Wajah Yoona langsung tertunduk gelisah. Semoga itu bukan pengacau…

“Yoboseyo..”

“Oh, baiklah” katanya lalu menutup telepon.

Yoona menatap ingin tahu, “Siapa?”

“Seseorang… mmm tidak penting !”

Yeoja itu lalu memayunkan bibir, “Tidak mau beri tahu?”

Segera Donghae melesat kepunggung Yoona. Ia kemudian menutup mata yeoja itu dengan kedua tangannya, “Sekarang kau tidak bisa melihat !”

Yoona meraba-raba tangan hangat yang menutup matanya, “Oppa, kau sedang apa?”

“Sedang menutup matamu..”

Buru-buru Yoona melipat kedua tangannya didada, “Hufff, maksudku tujuanmu menutup mataku..”

“Kau mau tahu ?” katanya lalu melanjutkan, “Oke ! aku akan berhitung ! 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1..” Donghae perlahan menyingkirkan tangannya dari mata yeoja yang tengah memunggunginya.

Benarkah ini?

Mata Yoona kembali memanas. Bukan apa-apa. Hanya terlalu takjub. Ini pertama dalam hidupnya. Kali pertama seorang namja memperlakukan dirinya seistimewa ini. Yeoja itu mencoba mengerjap-erjapkan matanya. Ini nyata !!

“Kenapa hanya diam?” heran Donghae saat mendapati Yoona hanya mematung menatap meja bundar berdiameter 60 m didepannya. Diatas meja itu tersaji makanan lezat. Dan rangkaian lilin-lilin kecil dengan balutan kaca lampu yang berjejer mengkelip ditengahnya. Dan.. dan, sepucuk mawar merah yang cantik. Bunga yang bagaikan mekar dikelilingi lilin-lilin kaca yang indah.

“Berapa lama kau menyiapkannya” ucap Yoona masih terperanga.

Raut Donghae tampak mengingat, “Sejak,mmm tadi sore.. sebelum aku menjemputmu, wae?”

Yoona bergeleng pelan, “Aniyo.” Kemudian bergumam, “Jadi sejak itu?”

“Ayo kesana ! sebelum nyamuk menghabisi kita duluan !” ajak Donghae sambil menarik tangan Yoona.

Namja itu kemudian menggeser salah satu kursi. Ia pun mempersilahkan Yoona untuk duduk dikursi itu, “Silahkan..”

Dengan perasaan tersipu, Yoona tersenyum, “Gomawo..”ucapnya sembari memperhatikan namja yang beranjak duduk tepat dihadapannya.

“Yoona-ah, aku tahu ini tidak seberapa ! Tapi kuharap kau menikmati acara dinner ini !” sambut Donghae.

Yoona terkekeh pelan sambil  menundukkan wajahnya yang semakin merona, “Mmm aku pasti akan menikmatinya !”

“Gomawo…” ujar Donghae sambil merekahkan senyumnya.

Sejenak Yoona membalas senyum itu lalu menyela, “Oppa, aku lapar ! bolehkah aku makan sekarang ! eh.. kau juga makan yah !!”

“Okay my princess..”

Ini pertama kalinya. Dinner pertama  Donghae dan Yoona. Ditengah gelap malam suasana indah kota Seoul. Menyenangkan memang. Namun, siapa yang menyangka jika mereka harus melakukan first dinner ditengah badai keluarga. Sungguh ironis.

“Makanannya enak..” Puji Yoona sambil memakan sisa steak barbeque dipiringnya dengan lahap.

Donghae mengangkat alis, “Bukankah semua makanan kau bilang enak? Makan adalah hobby-mu !”

“Yak.. begini-begini aku juga bisa memasak !!” decak Yoona kemudian menatap heran, “Tapi dari mana kau tahu bahwa aku hobby makan ! apakah sebelum ini aku pernah mengatakannya?”

Dengan gelagapan namja itu membantah, “Aniyoo, Itu.. aku hanya menebaknya !”

“Benarkah?”

“Tentu saja !” setuju namja itu.

“Oppa, aku sangat menyukai namja yang memberikanku bunga mawar ! Aku sangat senang jika seperti itu !” Sela Yoona tiba-tiba

Donghae tersenyum sambil menerawang tanpa sadar, “Kau masih belum berubah, Yoona-ah”

Yoona mendelik. Perkataan namja itu seperti menunjukkan bahwa mereka sudah mengenal cukup lama, “Masih belum berubah? Apakah sebelum ini kita sudah saling mengenal?”

“Tentu saja, mmm belum, mungkin juga iya…”

“Mungkin belum ! Aku belum pernah melihatmu sebelum kita menikah..” timpal Yoona melanjutkan acara makannya.

Donghae kembali menatap Yeoja yang masih menikmati makanannya, “Kau benar, yah seperti itulah..” gumam Donghae sembari melirik jam tangannya, “ Yoona-ah ini sudah jam sembilan ! Orang tuamu pasti cemas !”

Yoona mengerucutkan bibir. Lagi-lagi Donghae mengacaukan suasana hatinya, “Aku belum ingin pulang ! memangnya kenapa kalau aku tetap disini bersamamu? Apakah aku berdosa? Tidak, kan?”

“Iya, memang bukan dosa ! Tapi kau harus memikirkan perasaan orang tuamu.. Yah.. bayangkan jika Yeoja sepertimu belum pulang  malam-malam begini” jelas Donghae.

Yeoja itu berpikir sejenak, meskipun dengan wajah berkerut dan kesal, Ia akhirnya mengangguk terpaksa, “Ya sudah ! kita pulang, sekarang..” setujunya malas.

…………………….

Dengan wajah kesal, Yoona meringkukkan wajahnya. Di dalam mobil, yeoja itu hanya terdiam lemas. Yoona sungguh enggan mengakhiri semua ini. Ia masih ingin menikmati hari-harinya bersama Donghae. Andaikan namja itu mengajak kabur sekarang, dengan senang hati Ia akan menyanggupinya. Tapi mustahil. Entah masalah apa lagi yang akan timbul jika itu terjadi.

“Oppa !” panggil Yoona agak ragu.

“Ne”

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentang?”

“Appamu..”

Agak heran, Donghae menaikkan sebelah alisnya, “Appa? Wae?”

“Dia menjodohkan kita karena dendam dan.. kau sudah tahu itu dari awal?”

“Yoona-ah kenapa kau menanyakan hal itu?” Timpal Donghae.

Yoona mengerucutkan bibir. Tampak raut menyesal menghinggap diparasnya,“Kau marah?” Ya sudah !”

Cukup lama, Donghae mengigit bibir bawahnya. Mendengar Yoona menanyakan hal itu membuatnya bingung sendiri “Mian, itu memang benar! Tapi aku tak berniat sedikitpun untuk menyakitimu !”

Yeoja itu kembali tertunduk ragu. Jujur pertanyaan seperti ini juga membuatnya merasa canggung, “Kau ingin memperbaiki keadaan keluarga kita? Dengan?”

“Oh.. I-tu..”

Mata Yoona melirik sekilas namja yang duduk dibangku kemudi. Mungkin pertanyaan barusan membuatnya terganggu, “Apa pun itu, bagaimana pun tindakan yang kau ambil, aku akan mendukungmu !” Sela Yoona mengakhiri.

Donghae terdiam. Yoona agak merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Apa ucapan tadi menyinggungnya? Semoga tidak !

Mungkin benar ! Donghae mempunyai rahasia besar dibalik langkah yang diambilnya. Namun Yoona enggan untuk bertanya lebih jauh. Sepertinya Namja itu memang menyembunyikan sesuatu. Sudahlah, Yoona sudah mengukuhkan pendiriannya agar percaya pada Donghae. Cukup percaya dan tinggal disisi namja itu.

“Yoona-ah, didepan sepertinya sedang macet !” ucap Donghae tiba-tiba.

“Ya, mungkin.. ” Jawab Yoona sekenanya. Entah apa yang salah, mendadak yeoja itu merasa ada yang aneh dengan dirinya, “Awww..” pekik Yoona sambil memijit pelipisnya.

“Kau kenapa?” tanya Donghae hawatir sambil melirik sekilas.

“Hanya pusing sedikit ! Tapi tak apa, aku hanya kurang tidur..”  tampik Yoona kemudian mulai mejamkan matanya.

Mobil yang dikendarai Donghae berhenti sejenak. Mobil itu berhenti ditengah jejeran mobil yang tengah menunggu giliran untuk berjalan. Suasana jalan terlihat padat merayap. Mungkin didepan sana telah terjadi kecelakaan. Namja itu hawatir suasana seperti ini membuat keadaan Yoona memburuk. Sepertinya yeoja itu sedang sakit.

Donghae menempelkan punggung tangganya ke-kening yeoja yang sepertinya tengah terlelap, “Aku baik-baik saja..” tampik Yoona mendayu dengan mata terpejam. Yeoja itu buru-buru menepis lemah tangan yang menyentuhnya, “ Sudah..”

“Yoona-ah..”

“Aku hanya perlu tidur dan jangan lupa turunkan aku di persimpangan jalan komplek rumah Appa..” lemasnya.

Donghae menghembuskan nafas lalu berkata, “Kalau begitu istirahatlah.” Namja itu kemudian mulai menjalankan mobilnya pelan. Sepertinya arus lalu lintas sudah agak lancar.

Terlihat dari dekat sebuah taxi kuning terparkir ditepi jalan. Taxi itu penyok pada bagian sampingnya. Kaca depan taxi itu juga retak. Serpihan belingnya menjalar kemana-mana. Sepertinya benar ! terjadi kecelakaan.

Kurang lebih setengah jam berlalu. Yoona masih pulas dalam mimpinya. Donghae tak tega membangunkannya sekarang. Tapi yeoja itu sudah meminta agar membangukannya jika sampai dipersimpangan komplek. Donghae menimbang sejenak kemudian menghela nafas panjang. Baiklah, sebaiknya begitu..

“Yoona-ah, kita sudah sampai” ucap Donghae setelah memberhentikan mobilnya di tepi jalan dekat persimpangan.

Perlahan Yoona membuka matanya. Rasa sakit itu ternyata belum juga sirna. Yeoja itu lalu mengerutkan kening sambil menatap dengan mata disipitkan, namja yang tengah   menatapnya cemas.

“Oh.. sudah sampai” ucapnya dengan nada menggerutu.

“Yoona-ah, aku bisa mengantarmu sampai kerumahmu.”

Yeoja itu membulatkan matanya yang sedari tadi menyipit, “ Andwee ! Aku masih sanggup berjalan, lagi pula rumahku juga sudah dekat ! Aku bisa, dan dan maksudku aku hanya tak ingin sesuatu terjadi padamu, aku.. tak ingin ummaku berbuat jahat padamu.. ” Mohon Yoona bertubi-tubi.

Ia kemudian menatap pilu, “Kumohon Jangan.. !”

Donghae terdiam sejenak, hingga akhirnya mendesah pelan, “Baiklah,” setujunya lalu tertunduk.

“Oppa, Mianhe, aku pergi dulu” pamit Yoona. Ia pun buru-buru menarik pintu mobil disampingnya. Namun tindakan itu terhenti ketika Donghae berhasil meraih tangannya. Ia lalu berbalik dan mendapati namja itu terus menatap cemas, “Jaga dirimu !” pesannya.

Yoona beralih mengecup bibir namja didepannya sekilas, kemudian berkata, “Kau juga, jaga dirimu.

Selangkah demi selangkah, Yoona berjalan meninggalkan namja yang tengah  berada dalam mobil putih itu sendiri. Terasa berat. Terkadang Yoona kasihan padanya. Bukan apa-apa, namun Yoona sering merasa bersalah saat melihat Donghae selalu berusaha bersikap manis didepannya, sedangkan  Ia tahu persis apa yang ada dalam pikiran namja itu. Hampa, dan Yoona bisa merasakan itu. Hanya saja nyali untuk mengecewakan Donghae sering menghilang. Selalu saja takut.  Takut jika namja itu kecewa saat mendapatinya sedih juga.

Sudah sampai. Langkah itu akhirnya mengarahkan Yoona untuk berdiri tepat didepan pintu coklat yang tinggi nan menjulang. Yah, itu adalah pintu rumahnya. Perasaan enggan mendadak menghampiri. Yeoja itu terpaksa menyingkirkan perasaan yang sedari tadi menganggu langkahnya. Ia lalu menarik gagang pintu rumahnya perlahan. Pintu yang sepertinya belum dikunci. Baguslah. Yoona bisa langsung naik kekamarnya dilantai dua tanpa harus bertemu dengan orang tuanya.

Yoona berjalan mengendap-endap kearah tangga. Ditengoknya kekanan dan kekiri. Kosong. Syukurlah. Yeoja itu refleks mengelus dadanya pelan.

“Yoona-ah dari mana saja ! kenapa baru pulang?” sahut seseorang sukses memberhentikan langkahnya. Seseorang yang Ia yakini adalah sang Umma.

Yoona menghela nafas pasrah, kemudian berbalik kearah sumber suara, “Aku dari rumah teman” Jawabnya acuh.

“Rumah teman? Teman siapa yang kau maksud ?”

“Temanku ! Temanku banyak Umma !” timpalnya.

Nyonya Im terkekeh pelan, “Sudah !” tegasnya lalu melanjutkan,”Umma tadi kekampusmu dan bertemu Seohyun ! Dia bilang hari ini semua temanmu mempunyai jadwal ! Hanya kau yang kosong !”

Gelisah. Yoona bingung harus berkata apa. Dan kenapa juga Ummanya itu harus bertemu Seohyun? Seharusnya Ummanya bertemu dengan Yuri, Taeyeon, Sunny atau siapa pun asal bukan Seohyun. Menyebalkan. Yoona menggerutu dalam hati kemudian menampik, “Aku bekerja seharian..” jelas Yoona akhirnya.

“Bekerja? Sudah Umma tegaskan ! jangan berbuat macam-macam !”

“Cukup Umma ! Kenapa Umma malah datang kekampusku?”

“Umma mengurus surat pindahmu !”

“Mwo?”

“Besok lusa kita akan pindah ke Busan ! bersiap-siaplah”

“Aku tidak mau..”

“Yoona-ah, mau tidak mau, kau harus mau !”

Perasaan Yoona semakin bergejolak. Yeoja itu lantas angkat kaki dari hadapan nyonya Im, ummanya. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Lagi-lagi dengan butiran bening yang kembali tertumpah. Perasaan yeoja itu benar-benar kacau. Pindah? Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa orang tuanya bisa seenaknya seperti itu?

Dengan kasar, Yoona menghempaskan pintu kamarnya. Suara bantingan pintu begitu jelas terdengar. Sial ! hardik yeoja itu sekali lagi. Awas saja !!

…………………

Seorang wanita paruh baya terlihat duduk melamun diatas ranjang. Ia lantas menggeleng kepalanya cepat. Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mulai datang menerpa.

“Apa ini? Tidak.. Tidak.. Huhhh…”

“Kau sedang apa?” Seorang Namja paruh baya masuk dan sontak mengagetkannya. Ia lalu menatap selidik kemudian menyela, “Kau pasti sedang memikirkan Donghae ! sudahlah..”

Yeoja paruh baya itu memasang wajah penuh keraguan. Setelah itu ia pun menarik nafas panjang, “Mmmm begini… Bukankah sebaiknya kita restui saja mereka.. maksudku begini.. kurasa mereka saling..”

“Anak dari keluaga mereka tidak pantas untuknya..”

“Tidak ! Kurasa Yoona adalah yeoja yang baik. Dia pernah menolongku, dia ramah dan sabar saat menghadapiku. Anak itu supel, memiliki bakat, cantik.. dan..”

“Cukup !! Dengar ! Sampai kapan pun aku tak akan sudi berbesan dengan mereka !” tegasnya, membuat yeoja paruh baya itu berdecak, “Kau mau anak kita, gila karena cinta ! Atau karena dendammu itu, begitu?” tangkisnya tak mau kalah.

“Anak itu tidak akan gila ! Justru aku yang akan gila jika kita merestui mereka, cih ! tidak akan !”

Kesal mendengar perkataan suaminya, Yeoja paruh baya itu langsung bangkit dari posisinya, “Sudahlah ! Aku pusing !” ucapnya lalu melesat kearah pintu.

Ia lalu melangkah menuju kulkas. Niat untuk mengambil air dingin tiba tiba terhenti ketika Yeoja paruh baya itu berpapasan dengan seseorang, “Donghae..”  gumamnya.

Melihat anak itu, membuatnya teringat pada kejadian sore itu. Saat anak itu membela seorang yeoja bahkan memeluk erat yeoja itu. Juga memohon padanya untuk tetap tinggal.

“Umma.. “

“Nde..” ucap yeoja yang dipanggil umma itu dengan nada dingin.

“Umma, bisa kita bicara?”

“Baiklah ! bicara sekarang !” perintahnya.

Donghae menunduk menyesal sambil menghela nafas, “Umma, aku minta maaf karena aku telah kasar padamu..”

Nyonya Lee menatap anaknya sendu. Jujur, Ia pun sudah melupakan hal itu. Malah  kini, ia lah yang merasa bersalah, “Ada angin apa kau berkata seperti itu?”

“Aku..”

“Permintaan Yoona..??” timpal nyonya Lee

Donghae mendelik kemudian kembali tertunduk, “Itu salah satunya !” jawabnya kembali melanjutkan, “ Mianhamnida Umma, Tapi sungguh ! aku juga benar-benar menyesal !”

Sekilas nyonya Lee ikut menundukkan wajah, “Sudahlah ! sebaiknya kau tidur ! ini sudah malam. “ Ucap nyonya Lee kemudian berbalik menuju kamarnya.

Sekarang tinggal Donghae. Tinggal namja itu yang masih berdiri mematung. Sikap ummanya tadi sungguh membingungkan. Apakah ummanya itu masih marah? Entahlah !

…………………

Donghae melihat pantulan dirinya pada cermin. Setelan jas coklat tua dan rambut yang rapih terlihat jelas melekat pada tubuhnya. Meskipun begitu terasa ada yang kurang. Baiklah, mungkin semua orang bisa menebaknya. Menebak bahwa sesuatu itu adalah, Yoona. Bagaimana kabar yeoja itu pagi ini?

“Yoboseyo.” Sapa Donghae ditelepon.

“Kau sudah bangun? Sepagi ini?” ucap seseorang diseberang sana.

“Tentu saja ! oh ya, apa kepalamu masih sakit? Istirahat saja, jangan kuliah hari ini !”

“Anyoo, aku baik-baik saja, sejam lagi aku akan berangkat !”

“Yoona-ah, pehatikan kesehatanmu !”

“Nde.. Tapi sekarang aku sudah baikan..”

Donghae melirik jam tangannya. Sial ! kenapa waktu berputar begitu cepat, “Mmm Yoona-ah, tak apa kan? Aku harus menutup teleponnya..”

“Baiklah, tak apa ! kau pasti sangat sibuk !”

“Mianhe, aku akan menjemputmu nanti sore !”

“Nde, gomawo…” ucap Yoona lalu mengakhiri sambungan telepon mereka.

Namja itu akhirnya berangkat ke kantor. Seperti biasa, sesampainya disana Ia harus melakukan sesuatu seperti menyapa para karyawan, memeriksa dan menandatagani berkas, dan berhadapan dengan Appanya. Sangat membosankan ! Sebaiknya Ia merekrut Yoona menjadi sekertaris baru disini. Mungkin dengan begitu, rasa bosannya akan menghilang.

Tak terasa hari semakin Sore. Sinar mentari semakin melemah. Sebaiknya Donghae menjemput Yoona sekarang. Sebelum hari semakin sore dan jalanan semakin macet.

……………………..

“Mwo?” Kaget Donghae saat Ia bertanya tentang Yoona pada Yuri, teman yeoja itu di kampus.

“Hari ini Yoona tidak masuk ! kupikir anak itu bersamamu !”

“Aku menelponnya tadi  pagi, katanya Ia berangkat ke kampus !”

“Benarkah? Lalu dimana dia sekarang? Apa mungkin keluarganya pindah dan dia juga ikut?” pikir Yuri semakin bingung.

Didalam mobil, Donghae membolak-balik handphone-nya. Raut kebingungan terpancar jelas dari wajah tegang namja itu. Pasalnya, sejak pagi atau siang tadi atau entah kapan, Yoona menghilang. Handphonenya tidak aktif. Yeoja itu juga membolos kuliah. Teman-temannya pun sedang bertanya-tanya sekarang. Kemana dia?

“Nomer yang anda tuju..” Suara operator itu tampak membuat Donghae semakin frustasi..

Namja itu terus mendesah hawatir, “Yoona-ah sebenarnya kau dimana?”

…………………..To be continued………………………

Makasih udah baca !!!

Jangan lupa RCL yaww :-)

Dadahhhh…

50 thoughts on “SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 6)

  1. muslimahhusin berkata:

    Akhrnyaa keluar jg part ini. .

    Smakin complicated yahh,,
    kmna yoong eonnie??
    Trus ap yg bkal dlakukn hae oppa untk mndmaikn 2 klwrga it?!

    Hm smkin pnasarn
    dtnggu yah thor part slnjtnyaa
    jgn lma2🙂

    • nanashafiyah berkata:

      hubungan yoonhae emang rumit… Kkk
      tp jangan bosen yah, bc ff ini… Pndritaan yoonhae sgra berlanjut kok..#nah lo?
      Kan biar mrk makin bersatu..
      Tunguin next part nya yaa. Gomawo🙂

  2. inasaragi berkata:

    Yoong eonni udah pindah?
    Ayo donghae oppa cari yoona eonni!!!
    Akhirnya hati umma donghae oppa luluh jg
    Tinggal appa nyanih
    Lanjut author
    Ditunggu~

  3. Marzha berkata:

    Akhirnya, ummanya donghae udah mulai menerima yoong unnie…
    Kisah mereka makin bikin penasaran deh… Kapan YoonHae ku bersatu…😥

    Chingu, ditunggu yah part selanjutnya.. jangan lama-lama… Gomawoo…
    Fighting… ^^

    • nanashafiyah berkata:

      gini, sebenarnya umma donghae oppa nerima yoong eonni karena si umma aka nyonya Lee takut ama pyros. Kan pyros byk tuh.. Hehehe
      ok segera di lanjut kok..
      Gomawo udah bc n coment.. Then udah nungguin nih ff.. ^_^

  4. narshavanya berkata:

    selama baca FF ini baru sekarang aku merasa sedikit lega..
    Akhirnya hati eomma donghae udh mulai luluh..
    ahhhh.. kenapa yoong eonni pindah? Ayoo haeppa kejar yoong eonni..
    ditunggu next partnya, duh greget baca FF ini dari part 1 smpe part ini ..
    ditunggu yahh ^^

    • nanashafiyah berkata:

      ada lgi yg bilang greget ! Km new reader ya? Wow.. Selamat datang, aniyong haseyo *bow n hug*
      selamat membaca yah, semoga ttp suka ama kejutan2 di ff yoonhae ini,
      ditunggu RCL nya selalu..
      Gomawo ^_^

  5. ElfishYoonAddict berkata:

    Part 7 part 7 part 7
    #tereakpaketoa
    ayo cepet d’post part 7’y harus makin greget tapi YoonHae ga boleh pisah #wajibbersamaselamanya
    #readersmaksa
    d’tunggu yah part 7’y ,, semangat author ^^

    • nanashafiyah berkata:

      mana toak? #lempar kereader..
      Sabar, jangan demo disini.. Hahaha… Didepan gedung SM aja..#aku jg maooo hehe
      akan dilanjut ko, tenang ! Makanya ttp tungguin yah.. Gomawo udah bc n coment🙂

  6. tya nengsih berkata:

    gregetan deh bacanya……..penderitaan yoonhae ko lom berakhir ya….? author…..jgn bikin yoonhae menderita terus…..?next..part 7 jgn lama ya….

    • nanashafiyah berkata:

      bener nih greget?
      Soal penderitaan yoonhae mmm akan berakhir kok.. Tenang chingu, donghae selalu bhagia kalo ada yoona bgt pun sebliknya. Jd pendritaan sprti ini gak ada apa pa nya #drama mode on..
      Gomawo udah bc n coment ^_^

  7. YeEunHae berkata:

    selalu bgitu deh disaat lgi bner2 serius baca mncul bcaan TBC , wah nih author.a smng jgo bkn readers.a pnasaran !! ngepost.a jgn lma2 yya , oya yoona blm hamil2 sich ??

    • nanashafiyah berkata:

      hahaha.. #plakk
      mian, mian, aku emang kurangin.. #hayo loh, ada yg nyadar kkk..
      Mian krn halamannya aku kurangin jd 15 lmbr..
      Next part aku usahain panjang kok…
      Tp ttp tungguin yah..
      Gomawo dah bc n coment ^_^

    • nanashafiyah berkata:

      hahaha.. #plakk
      mian, mian, aku emang kurangin.. #hayo loh, ada yg nyadar kkk..
      Mian krn halamannya aku kurangin jd 15 lmbr..
      Next part aku usahain panjang kok…
      Tp ttp tungguin yah..
      Gomawo dah bc n coment ^_^

  8. nurhafizah berkata:

    knapa hdup mreka bgtu mndrita?
    hae eomma sdah(?) mrestui mreka.. knpa ortu yoona gx mrestui?
    aisshhh..mreka bkin aq gila ><
    next chap d tgu okeeeee

  9. rose flower berkata:

    SERU !!!!!.. Aku merinding bacanya….. Aku ketakutan, walau ini bukan ff horor.. bwahahahaha..
    Aku mulai curiga ama Yoong.. Kenapa kepalanya sakit.. Apa Eonnie ,hamil ??? kyaaaaa.. cepet2 terungkap dong.. udah ada tandanya tuh.. heheehe
    Terus Appa ‘tiri’ Hae oppa, jangan sakitin keluarga yoong dong.. kasian..
    Penasaran ama tindakan Hae Oppa selanjutnya..
    Dilanjut yah.. oke oke..🙂

  10. princes_unyu berkata:

    HELLO EONNI…
    FF nya lumayan lahh~
    but cast nya itu lowwH.
    èngak bgttt~ qu cuman kurang sreg jah.. Jd ilfeel getoh~
    and honest, qu byangin
    haesica loh.. Bkn couple 1 y.. Hohoho..

  11. ziieziie berkata:

    sbnrnya nyonya lee baik cm egonya yg tinggi jd kyk gitu…
    tp aku agak gimana sm yoona yg dkt” nangis ;_;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s