SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 4-A)

Image

Title :  Why I Hate You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance

Rating : PG-17

Cast : SNSD  Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : SNSD  member, Super Junior Sungmin, F(x) Sulli

Soundtrack :   SNSD  –  Day By Day

                       SUJU –  Reset

Annyonghaseyo…

Pertama-tama aku mau minfa maaf ama para reader sekalian ‘MIANHAMNIDA’

Ini soal FF Yoonhae part 4 yang kepotong kemaren..hehehee (itu bukan kependekan…)

Abisnya aku kessel sih ama modem yang lemooooooooooootttt jadi keblok deh belakangnya…#Kali, gituh…n then aku ga ngecek lagi tuh tulisan coz My umma ngomel2 … jd baru sekarang deh…

Pas lihat komen, katanya kependekan, aku kan jadi bertanya-tanya (?)

Pendek? kan di-word udah 26 halaman gituh dengan arial sebelas, kok bisa ya?

Ele-Ele… ternyata kepotong tohh… Mian yah… peace…

Yaudah deh… sekarang happy reading aja yuk…

Oh ya, ini masih dalam tema yang sama yaa, yang YoonHae vs Their Family, okay…:-)

Biar ga bingung baca part ini dulu yaww…

SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 4)

Sekali lagi ‘MIANHAMNIDA’

Part 4

Adakah alasan untuk membenciku???…. “Why I hate you”

Jjjder… Bagaikan disambar petir. Penegasan appanya barusan seketika menjadi sebuah jimat kesialan bagi Donghae. Medadak wajah namja itu berubah merah padam. Keringatnya mulai mengucur deras dan dadanya mulai menyesak,  “Appa, kumohon jangan lakukan…” ucapnya lemah.

“Kenapa? Kau takut? Apa yang kau takutkan ? Ah, karena yeoja itu?” terka appanya.

“Aku…”

“Menyukainya? Lupakanlah !! jangan sampai perasaanmu semakin dalam…” timpal tuan Lee.

“Mian Appa, aku tidak bisa…” ucapnya sambil tertunduk lesu. Entah mengapa ia selalu seperti itu saat memikirkan Yoona. Terasa lemah…

Suasana mendadak hening. Appa Donghae kemudian menghela nafas panjang, “Sudah, Aku harus kembali bekerja !” pintanya.

Donghae ikut menghela nafas dan langsung meninggalkan ruangan appanya. Namja itu terlalu kesal untuk berbicara lagi. Walaupun itu hanya sepatah kata.

Dengan langkah mendayu-dayu, Donghae keluar dari ruangan Appanya. Keluar dengan perasaan amburadul-nya. Sikap Appanya barusan membuatnya serba salah. Bagaimana pun ia harus mencegah perbuatan Appanya. Namun, bagaimana jika Appa-nya sadar akan hal itu. Kemudian malah berbalik menyakiti Yoona dan keluarganya?

“Sorry-sorry…” suara ringtone ponsel donghae berbunyi. Segera dilihatnya nama sang penelpon. Yoona? Gumam namja itu saat memandang layar handphonenya.

Donghae menghela nafas. Berusaha bersikap tenang didepan Yoona, “Yoboseyo..”

………………

Seuasai kelas pada jam pertama pagi ini, jadwal Yoona kosong.  Sambil berbincang riang,  Ia  bersama temannya, Yuri beranjak menuju sebuah pemondokan yang letaknya dibawah pohon besar. Tempat itu sangatlah sejuk. Semilir angin yang menyambar helaian rambut serta hembusan tajam yang meraba permukaan kulit terasa sangat lembut. Dan sejuk, tentunya.

“Yuri-ah, ternyata Umma Donghae sangat galakk !!” ungkap Yoona setelah duduk diatas pemondokan.

Yuri yang sedang menikmati lembutnya semilir angin mendelik, “Apa?!!”

Drt drt drt… Gema getaran handphone yoona terdengar. Ia pun segera merogoh benda kecil itu dari dalam tas selempang-nya. Mata yeoja itu membulat kaget, ketika melihat nama sang penelpon.

“Siapa?” bisik yuri saat melihat  rona wajah Yoona yang tiba-tiba berubah.

Yeoja itu menatap temannya ragu. “Itu…” ucapnya sambil menunjuk-nunjuk hendphone yang Ia pegang.

Tanpa menjawab pertanyaan Yuri, ia langsung melekatkan layar handphone ketelinga kanannya.

“Yoboseyo..” Sapa yoona pelan.

“Ne… Ke Salon Bella? Sekarang?”

Yeoja itu terlihat menimbang-nimbang sejenak, “Baiklah, Umma”

“Aku akan datang tepat waktu” Katanya lalu memutus sambungan telepon.

Yuri yang sedari tadi serius menatap Yoona, kemudian mendekatkan wajah, “Siapa?Ummamu  ?”

Yoona tertunduk lesu, “Ne.. dia Ummakuu.. maksudku.. umma mertua..”

“Apa???”

“Yuri-ah, aku ingin bolos..” sela yoona tiba-tiba.

“Kau mau ke salon? Menemani Umma mertuamu?”

Yoona mengangguk lemah, “Mmmm”

Yuri memukul pundak temannya pelan, “Sudah.. tenang saja ! berjuanglah !!!”

Yoona membalas perkataan yuri dengan senyuman. Mereka berdua akhirnya berpelukan, “Gomawo Yuri-ah…”

……………….

Dengan perasaan gusar, Yeoja itu pun akhirnya menuju salon Bella dengan menumpang sebuah taksi. Di dalam kendaraan bercat kuning itu, yoona terus memutar otak. Ia terus memikirkan sikapnya didepan nyonya Lee. Bagaimana seharusnya. Apa yang harus dilakukannya, jika berhadapan dengan nyonya Lee? Mengingat sikap sinis Umma donghae itu padanya. Sikap yang jauh dari kata, ramah.

Sesampainya di Salon Bella, yoona langsung disambut oleh para pelayan salon. Yoona segera membalas sambutan hangat itu dengan senyum ramah. Kemudian mendengakkan wajah hendak mencari sosok umma mertuanya. Sosok yang sedari tadi membuat jantungnya bedenyut cepat.

“Permisi ada yang bisa kami bantu” tanya salah satu pelayan.

Yoona beralih menatap pelayan didepannya, “Mmm, begini… Apakah nyonya Lee ada didalam?”

Pelayan itu mengerutkan kening, “Oh, Jadi Anda orangnya.. “

“Silahkan ikut aku”  ucapnya lalu berbalik.

Sambil mengigit bibir bawahnya, yeoja itu pun mengikuti langkah sang pelayan. Pelayan itu membawanya kesebuah ruangan. Ruangan yang dipenuhi kaca di setiap permukaan dindingnya. Dibawah kaca itu, masing masing dipenuhi oleh peralatan make up. Disekitarnya juga dipenuhi oleh kabel-kabel yang melilit.

“Kau sudah datang” seru seseorang.

Yoona menengok kearah sumber suara. Nah, itu dia! Batinnya tanpa sadar. Kemudian dengan ragu melangkah mendekati seseorang yang menyahutinya barusan. Orang itu adalah nyonya Lee. Terlihat umma mertuanya itu sedang memakai handuk yang membungkus kepalanya. Mungkin atau benar, Ia sedang di creambath.

“Anyong haseyo, Umma” Sapa yoona sambil membungkuk.

“Duduklah..” ketusnya.

Yoona menghela nafas lalu duduk disamping nyonya Lee. Yeoja itu sudah bisa menduganya. Terbukti, baru saja mereka saling menyapa, sebuah fenomena terjadi.  Sikap mertuanya sudah seketus itu. Sungguh, awal yang buruk !

Nyonya Lee terlihat sibuk membetulkan handuknya yang sedikit melorot. Ia kemudian menyapa salah seorang disampingnya. Seseorang yang terlihat seumuran dengannya.

“Nyonya Han perkenalkanlah menantuku..” Ucap nyoya Lee.

“Oho… Dia sangat cantik…” pujinya.

“Anyong haseyo, Yoona imnida…” sapanya.

“Memangnya nyonya Han bertanya siapa namamu?” timpal nyonya Lee, membuat Yoona terlihat kikuk.

Ahjumma itu pun menampik, “Tak apa…”

“Mianhe atas ketidaksopanan menantuku !” sesal nyonya Lee.

Jika kalian sering menonton drama atau apa pun itu, tentang kekejaman seorang ibu mertua pada menantunya, mungkin itu benar. Bukankah ini yang sekarang terjadi pada Yoona ?

“Oh yah, sekarang kau kerja atau kuliah? Atau kegiatan lain?” tanya nyonya Han ramah.

Yoona tersenyum hormat, “Sekarang aku masih kuliah..”

“Kuliah? Kenapa sekarang kau disini?” timpal nyonya Lee.

“Apa?..err.. begini.. maksudku…”

“Sudah, jangan banyak alasan ! kau membolos lagi?” serunya tiba-tiba

Yoona memekik. Apa? Membolos lagi? Nyonya lee mengatakan itu seakan yoona sudah membolos beberapa kali. Padahal dia sendiri yang menyuruhnya datang kemari. Yeoja itu pun mulai menerka-nerka sembari membatin. Sebenarnya apa maksud Umma mertuanya itu menyuruhnya datang kemari ? Mempermalukannya? Oh…Jika itu alasannya, nyonya tak perlu repot-repot. Yoona bukanlah yeoja lemah. Memutar balikkan keadaan adalah keahliannya. Lihat saja nanti.

“Sekarang jadwal kuliahku sedang kosong, jadi aku menyempatkan datang kemari”

“Kosong? Benarkah itu? kudengar ditelepon suasananya sangat berisik, mungkin saat aku menelpon kau sedang ada dikelas kan? Sudah jangan berbohong !” Tuduh nyonya Lee.

Apa? Suasana berisik? Baiklah, jika yeoja paruh baya itu memakai jurus acting didepan temannya. Oh jadi, sang nyonya berani beracting demi memperburuk keadaan, begitu? Ok! dengan senang hati seorang Yoona akan melayani. Berbohong? Ah, Itu hal yang mudah dilakukan.

“Saat Umma menelpon, Umma bilang sedang ada di salon dan tiba tiba kepala Umma sakit, jadi aku kemari..” Balas yoona.

Nyonya Han hanya menatap mertua dan menantu itu secara bergantian. Mereka sedang bercakap, namun juga terlihat seperti saling menuduh. Ahjumma itu kemudian menajamkan pendengarannya.

“Ah, jadi kau kemari karena mendengar mertuamu sakit? Bahkan kau rela bolos dari kuliahmu… Wah baik sekali….benar-benar menantu yang berbakti” Puji nyonya Han akhirnya.

Yoona menunduk sopan, “Ne.. Ahjumma”

Sementara itu, nyonya Lee menampakkan wajah kesalnya. Ia kecewa karena rencananya mempermalukan menantunya sendiri gagal. Dengan segera, yeoja paruh baya yang sekarang sedang sibuk mengutak-atik handponnya itu, kembali memikirkan rencana selanjutnya.

“Yoona-ah, Umma haus, bisakah kau ambilkan air minum?” perintahnya.

“Ne Umma” Ucapnya lalu bergegas mengambil segelas air yang diinginkan nyonya Lee.

Setelah yoona tiba dengan segelas air. Nyonya Lee  meenyenggol sedikit tangan Yoona saat yeoja itu nyaris meletakkan  sebuah gelas  diatas meja. Al-hasil gelas yang dipengang Yoona terjatuh dan…

“Pranggg” suara dentingan gelas, terdengar nyaring..

“Ya ampun.. Yoona bagaimana sih?” Kaget nyonya Lee.

Yoona tertunduk merasa bersalah, “Mianhamnida, aku akan membersihkannya…”

Nyonya Han yang melihat kejadian itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Kemudian memanggil salah satu pelayan  untuk membersihakan pecahan beling pada lantai disamping kursinya.

“Yoona-ssi, biarkan pelayan yang melakukannya.. sudah berhenti ! nanti tanganmu terluka…” Ucapnya saat melihat yoona yang tengah lekas membersihkan pecahan beling pada lantai.

Pelayan pun datang dan membersihkan sisa-sisa beling itu. Nyonya Han menatap Yoona yang nampaknya sedang dipenuhi oleh perasaan bersalah. Mendadak perasaan iba mulai muncul.

“Ah, Yoona-ssi sudah tak apa.. Itu hanyalah kecelakaan…” Hiburnya…

“Mianhamnida… Aku keluar sebentar..” Yoona menunduk. Kemudian bergegas meninggalkan ruang rias itu. Ia pun beralih menuju ruang tunggu salon.

Diruang tunggu salon, Yoona duduk diatas sofa merah. Yeoja itu terlihat sedang diam merenung. Sangat membosankan. Kejadian aneh, akhir-akhir ini memang sering menghantuinya. Sebaiknya ia memanggil pawang hantu. Pikiran bodoh..Sudahlah, sebaiknya yoona menelpon seseorang. Nah, sesosok wajah tiba-tiba tergambar jelas dibenaknya.

“Yoboseyo…” Sapa Yoona ditelepon.

“Yoona-ahh.. ad..dha apah?” tanya seseorang diseberang sana dengan nafas berkejaran.

Yoona mengerutkan kening, Seperti ada yang berbeda dengan suara orang itu. Suaranya terdengar melayang.  “Donghae Oppa, kenapa suaramu seperti itu?”

Seseorang yang dipanggil donghae itu terdengar menghembuskan nafas keras, “Akhu.. Ah.. Kurasa ini karena Lift dikantorku, mati jadi… aku terpaksa ke lantai sepuluh menggunakan tangga”

“Oh.. begitu..”

“Yoona-ah, kau sedang apa?” tanyanya kemudian.

Yoona tersenyum lebar. Akhirnya setelah beberapa lama yeoja itu menunggu…“Coba tebak???”

“Mmm, sedang belajar?”

“Salah !!! Aku sedang menemani Ummamu  di salon… Kau tahu? Aku kesal dengan Ummamu…”

“Umma memang seperti itu.. Lama kelamaan dia juga akan menyukaimu…”

“Menurutmu kenapa dia tidak menyukaiku?”

Donghae terdengar sedang berfikir keras, “Karena kau, manis?”

Yoona mengerutkan kening…”Menurutmu begitu…”

“Ummaku takut tersaingi… “

Yeoja itu terkekeh pelan, “Menggelikan..” serunya

“Tapi kau menyukainya… “ timpal donghae.

Wajah yoona berubah merah merona, “Lalu, kau sedang apa?”

“Aku? Mmmmm sedang.. memikirkanmu..”

Yeoja itu memanyunkan bibir, “Aku serius tau…”

“Aku juga serius..” jawab donghae tak mau kalah.

“Hufff,…Sudah, aku tutup dulu ya.. nanti kuhubungi lagi.. oke…” timpal Yoona.

“Oh, ya.. perlu kujemput?” tanya Donghae menghentikan niat Yoona.

Yoona menggeleng pelan, “Tak perlu ! aku bisa pulang sendiri..”

“Baiklah, sesuai keinginan tuan putri.. Miss you..”

Tanpa menjawab pernyataan Donghae, Yoona langsung menutup teleponnya. Yeoja itu kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dengan senyum merekah, ia pun kembali ketempat dimana nyonya Lee dan temannya berada.

Sesampainya kembali keruang rias, Yoona mendapati nyonya Lee sedang menata rambutnya. Umma mertuanya itu lantas menancapkan tatapan horor padanya. Dibandingkan dengan film horor yang pernah ditonton yeoja itu, tatapan horor nyonya Lee jauh lebih menyeramkan baginya.  Demi apapun ! Yoona benar-benar ingin tahu alasan nyonya Lee membencinya..

Terlihat nyonya Han juga berada disamping nyonya Lee. Ia sedang mengeringkan rambutnya. Sesekali ahjumma itu tersenyum hangat pada Yoona. Andaikan umma mertuanya juga bersikap seperti itu…Alangkah senangnya.

“Ah, yoona-ah.. kau tidak creambath?” tanya nyonya Han.

Yoona bergeleng pelan, “Aniyo.. Mungkin lain kali..”

Ahjumma itu pun mengangguk, “Ah.. kau sepertinya tidak terlalu menyukai aktivitas salon lalu apa sebenarnya yang kau sukai? Atau hobby-mu?”

Tanpa ditanya nyonya Lee seketika menimpali, “Hobbynya? Menari ditempat urakan ! dan menciptakan kekacauan…”

Yoona mendelik, “Apa? Ah, begini, sebenarnya hobbyku adalah menari.. Aku juga membuat club dance bersama teman sejurusan…” ucapnya tanpa mempedulikan nyonya lee yang sedang menatap tajam.

Nyonya Han menatap Yoona penuh minat, “Oh yah??? Wah.. manis sekali….”

“Ehmmmm” dehem nyonya Lee..

“Sebaiknya kita pulang sekarang… Aku sudah selesai merapikan rambut..”

“Ne umma…” Patuh Yoona..

“Nyonya Han kami pamit dulu..” ucap nyonya Lee.

“Aku pamit nyonya..” lanjut Yoona kemudian.

Yoona dan sang mertua akhirnya beranjak meninggalkan salon. Sembari berjalan, yoona terus memperhatikan umma mertuanya. Memperhatikan dari ujung kaki sampai keujung rambut. Penampilannya terlihat sangat, Wah!!! Yeoja itu yakin, jika busana yang dikenakan mertuanya  sangat mahal. Tas chanel-nya itu jelas asli. Perhiasan melekat dimana-mana. Yoona baru menyadari hal ini. Sejak tadi, yeoja itu hanya sibuk dengan pikirannya. Jadi, matanya terasa lengah memperhatikan semua itu.

“Sekarang temani aku membelikan kado untuk temanku..” kata nyonya Lee dengan wajah juteknya..

“Ne Umma..”

“AHHHHH” teriak nyonya Lee saat meyadari seseorang menarik kalung mutiaranya dengan paksa.

Ternyata seorang perampok menarik kalung mutiara nyonya Lee dari belakang. Perampok itu lalu berlari kencang. Seketika Yoona dengan gerakan refleks mengejar sang perampok. Yeoja itu lalu mengerahkan kecepatan penuh. Ia berlari kencang. Menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya.

“Hei berhenti..” teriak Yoona..

Benar.. Yoona kehilangan jejak. Yeoja itu menengok kekiri dan kekanan. Dimana dia? Ah, sudut mata Yoona kemudian menangkap gerakan seseorang. Dari gerakan itu, sepertinya orang itu adalah, Si perampok !!!

Dengan sigap, Yoona langsung melompat dari jembatan atas ke jembatan dibawahnya. Jembatan yang cukup tinggi namun sepertinya mampu ia terobos. Ia pun berhitung, 3,2,1..

Yeoja itu melompat.Ia lantas menggenggam sebuah batu. Kebetulan! Pikirnya. Tangannya pun menghempaskan batu kearah titik fokus.  Batu panas itu akhirnya melayang. Tepat mengenai kepala si perampok…

“Kena kau..!!!!” pekik Yoona sambil menghampiri perampok kalung mutiara nyonya Lee.

“Kembalikan kalungnya…”

“DuGGG!!”

“Awww” Yoona meringis kesakitan saat perampok itu meninju wajahnya..

“Hei.. Kau pikir aku takut pada-mu..”

“Hiyakkk..” Yoona melepaskan tendangan mautnya. Menghentakkannya tepat ditulang selangkangan si perampok.. Perampok itu kesakitan. Ini kesempatan ! Yoona dengan segera merampas kalung mutiara nyonya lee dari tangan  perampok itu.

“ToloNggggg…. ada perampokkk !!!!” teriak yoona..

Perampok yang nampaknya seorang ahjussi itu mendelik. Yoona hanya membalas delikan itu dengan senyum miris. Kemudian mulai membuka mulutnya lebar-lebar.

“Tolo…” belum sempat kalimat itu berlanjut, perampok itu sudah berlari mengacir entah kemana..

Yoona meniup ubun-ubunnya, “Berani-beraninya dia..”

Dengan langkah gontai, Yoona berjalan menuju tempat mertuanya berada. Sesampainya disana. Yeoja itu lalu memandang orang yang dicarinya dengan tatapan khawatir.

Yoona membuka mulutnya sambil meringis kesakitan, “Umma ini kalungnya”

Nyonya Lee mendengak, “Apa? Bag..bagaimana bisa?”

Yoona menghela nafas keras, “Aku..berhasil mengejarnya !!”

“Omo…”

Betapa kagetnya nyonya Lee. Ia kaget melihat wajah yoona yang lebam dibagian bawah mata kirinya. Langkahnya juga terlihat agak timpal. Nafasnya sesanggukan. Benar-benar !

“Kau? Tidak apa-apa?” tanya nyonya Lee ragu.

Yoona mengangguk lemah “Mmm”

“Umma kita  jadi membeli kado?”

Nyonya Lee terdiam. Ia sepertinya masih meresapi apa yang terjadi, “Tak usah, lain kali..” acuhnya..

………………..

Matahari terlihat mulai menyamarkan sinarnya. Berbeda pada saat dipuncak, kini sinar  yang dipancarkan pusat jagat raya itu, semakin menusuk wajah. Menusukkan cahaya jingga tajam yang hangat. Diwaktu sekarang, sudah saatnya Yoona menghentikan aktivitasnya di waktu terang dan beralih memulai aktivitas lain diwaktu senggang.

Usai dirinya menemani nyonya Lee ke salon. Yoona langsung pulang dengan menumpang sebuah taxi. Disepanjang perjalanan, kejadian beberapa saat lalu terus terngiang dalam ingatannya. Kalung nyonya Lee nyaris dirampok. Yeoja itu berhasil mengejar si perampok dan merebut kalung yang dirampasnya. Namun lihat sekarang ! wajah Yoona malah lebam.

“Aduh aww..”pekik yoona saat memegang lebam diwajahnya.

Dengan langkah timpal, Yoona berjalan menuju halaman gedung apartemennya. Yeoja itu berjalan sambil terus meringis kesakitan. Ia memegang pahanya yang mulai nyeri hebat. Umma mertuanya itu hanya mengantarnya sampai depan jalan raya. Menggunakan taksi pula.

“Umma… hikzzz…” tangis yoona

Yoona memicingkan matanya. Mobil putih yang berjalan disampingnya itu. Dia? Sepertinya mobil itu familiar dalam pandangannya. Nah, kebetulan!

“Oppa  !!” sahut Yoona.

“Donghae Oppa..”

Yeoja itu melambai lambaikan tangannya, “Hei…”

Sekuat tenaga yoona berusaha memanggil sang pengemudi. Seketika hatinya mnggondok. Seseorang yang dipanggilnya, berjalan lurus tanpa monoleh sama sekali.. Jelas-jelas Yoona memanggilnya berkali-kali. Sungguh, ini menyebalkan…!!!

Dengan segenap kekesalan, Yoona menyorotkan tatapan penuh emosi. Kemudian menghentak-hentakkan kakinya kesal dan..

“Awww…awww”  teriak yoona.. Kali ini ia benar-benar ingin menangis…

Badannya yang terasa remuk itu, mewajibkan yoona untuk beristirahat disuatu tempat. Ia pun memutuskan untuk mengistirahatkan tubunya. Perlahan ia mulai mendudukkan tubuh itu diatas batu yang tegap berjejer. Kemudian kaki Yoona yang nyeri mulai berselojor nyaman.  Jejeran batu yang terletak didepan gedung halaman apartemennya itu telah menjadi saksi bisu kekesalannya. Dia !

Yoona terus menggerutu tanpa henti, “Ada apa dengannya? Kenapa tidak mengenaliku? Setidaknya ia menengok sekilas, atau mendengar suaraku, mungkin? Akhhh…”

“Aww….” Pekik yoona saat kepalanya bergerak. Lebam dibawah mata kirinya mulai berdenyut lagi. Sakit rasanya.

“Awas ya..!!!” seringai Yoona.

Yeoja itu kemudian merogoh handphone dari tas selempangnya. Kemudian mengetik beberapa kata.

To : My Hae

Aku marah…

Drtrr….drt… Handphone Yoona bergetar. Segera diliriknaya nama sang penelpon. Wajah yeoja itu langsung tertunduk malas. Ia menghembuskan nafasnya keras, kemudian menekan tombol merah pada handphonenya. Sebuah pesan kembali berperan.

To : My Hae

Balas saja SMS ku.. Huhhff…

Drt…Drt… handphone Yoona kembali bergetar.

From : My Hae

Tuan putri marah padaku? Kenapa?

Dengan cepat yeoja itu membalas.

To : My Hae

Kau menyebalkan !!! Cepat kesini !! aku sedang duduk diatas batu berjejer didepan halaman gedung apartemen.. Cepatlah  dalam hitungan 30 detik dari sekarang kau harus sudah sampai…

Terlambat sedetik tuan putri benar-benar akan menghukummu…

Aku menghitung… 30, 29, 28…

Namja itu kembali membalas. Yoona hanya bisa meniup ubun-ubunnya pasrah..

From : My Hae

Kau serius kan?

Geram, Yoona menghentakkan tombol handphonenya keras.

To : My Hae

1000000000000000000000000000000000000… rius…

Cepat !! sekarang sudah sampai hitungan ke 25…

Mata Yoona belum juga melepas jangkauannya  dari layar handphone. Siapa yang menjamin, Donghae akan berhenti membalas SMS. Atau tidak membalasnya sama sekali. Ragu, perasaan yang belakangan muncul menghantuinya. Namja itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal detik 10 telah menggapai hitungan Yoona.

3…2…1… Yoona menghembuskan nafas keras. Dia tidak datang?

Tip… tap… tap… Suara langkah tergopoh singgah dalam pendengaran Yoona.

“Yoona-ah..” engah seseorang dari belakang..”

Dia datang. Yoona kemudian memalingkan pandangannya. Jangan sampai donghae tahu masalah ini. Yoona lalu menutupi lebam diwajahnya dengan segelintir helaian rambut. Meskipun sangat menganggu. Cara ini terasa cukup ampuh.

Yoona berbalik. Terlihat donghae sedang meregangkan lututnya. Nafasnya terdengar berkejaran dan keringat diwajahnya mengucur deras. Keringat itu mulai menetes layaknya embun dipagi hari.

Donghae menahan nafas, “Aku terlambat?”

Yeoja itu lantas memanyunkan bibir, “Kau telat 3 detik…”

Donghae mulai berdiri tegak, kemudian mengangkat alis, “Kalau tidak salah ! Tuan putri didepanku ini sedang marah !”

“Aku marah? Dan apakah pangeran didepanku ini sadar akan kesalahannya?” jutek Yoona.

Bingung, Donghae mengerutkan kening, “Kesalahanku?”

“Aku berteriak-teriak memanggil mu, tapi kau tetap saja terus melaju dengan mobil putih… Tanpa mempedulikanku sama sekali….” ungkapnya.

Donghae mengingat. Namja itu benar-benar tak mengerti maksud Yoona, “Dimana kau melihatku?”

“Disini ! di depan halaman apartemen ini.” Ketus Yoona.

“Apa?” Donghae berpikir sejenak. Saat itu pasti pikirannya tengah melayang. Mungkin saat itu ia sedang memikirkan Appanya. Bisa jadi !

“Sudahlah !!! sekarang saatnya aku menghukummu..” timpal Yoona.

“Yoona-ah, ayo bangun..” bujuk donghae.

Yoona menjulurkan lidah, “Andweeeeeee…”

“Kalau begitu, mianhae Yoona-ah.. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi… “

Yeoja itu memajukan bibir bawahnya sambil berkacak pinggang, “Mianhae? Kau ingin membayar kesalahanmu?”

“Ayolah…jangan bermain main !!!”

Sekeras batu, Yoona berfikir, “MMmmm, gendong aku sampai keatas…”

Donghae membulatkan matanya, “Yoona-ah, kau kan berat ! Lagi pula banyak orang disana..”

“Masalah buatku?” Timpal Yoona

“Aishhh…” Donghae mengacak rambut.

Yeoja itu menaikkan bola matanya, “Terserahlah, atau kau menginginkanku tinggal disini sampai malam? Ah, kurasa pemabuk itu juga akan menghampiriku…”

Donghae menghela nafas pasrah, “Yasudah… naiklah”  ucapnya lalu mamasang punggungnya didepan Yoona.

Yoona tersenyum lebar. Sakit. Yeoja itu merasa lebam diwajahnya kembali berdenyut. Meskipun begitu, semua harus ditahannya.

“Kau kenapa?” herannya.

“Aniyoo..mm…ah.. cepatlah !!!!” perintah Yoona.

Sekuat tenaga, Donghae mencoba bangkit dari posisinya. Berdiri tegak sambil menggotong Yoona dipunggungnya. Ada apa dengan yeoja itu? sepertinya hari ini mood nya jelek.

“Aku lelah..” gumam yoona sambil memopang dagunya pada pundak donghae.

Donghae melirik Yoona dari samping. Tampak, rambut yeoja itu hampir menutupi sebagian wajahnya. Sulit bagi Donghae untuk memandang wajah Yoona seutuhnya.

“Yoona-ah, orang-orang akan ketakutan jika wajahmu dipenuhi rambut seperti itu”

“Bukankah aku memaang menyeramkan? ” pungkas Yoona.

“Menurutmu begitu? Tapi kau indah dimataku…”

Dia menggombal lagi. Cara seperti itu selalu saja dipakainya untuk melemahkan pertahanan Yoona. Sekarang seharusnya yeoja itu sedang kesal pada Donghae. Tapi, lihatlah sekarang! ia malah tersenyum sendiri.

“Hei, aku melorot…bagaimana sih..” omel Yoona saat pengangan namja yang tengah menggendongnya itu, melonggar.

“Ne, ne..” ucapnya sambil mengeratkan pegangannya.

Mungkin pandangan orang-orang sedang mengarah pada mereka. Donghae mellirik keberbagai arah.  Mata orang orang memang sedang tertuju pada dirinya yang sedang menggendong seorang yeoja. Di lift maupun dihalaman apartemen, Donghae mendengar bisikan orang-orang, tentang dirinya, mungkin. Bukannya risih, hanya terlalu bangga. Yoona marah padanya atau menghukumnya sekalipun, itu adalah sebuah kebanggaan. Paling tidak, hal itu melambangkan jika Yoona peduli padanya.

Keluar dari lift, Yoona semakin mengeratkan dekapannya pada leher donghae. Membuat leher namja itu tercekik. Tak apalah.

Yeoja itu kemudian berbisik, “Mm kalau peganganmu longgar, kepalamu akan terjungkal kebelakang..”

“Yoona-ah, kau ingin menghukumku atau membunuhku?”

“Aku menghukummu, juga ingin membunuhmu  pelan-pelan.. sekarang, nikmati saja hukuman itu…”

“mmm… jagiya?”

Tangan Yoona perlahan mengelus pipi namja yang sedang menggenndongnya. Bermain-main dengan lembut menuju mata hidung dan dagu. Kemudian mencium arama tubuh, dimulai dari leher hingga naik ketulang rahangnya. Bau keringat tercampur dengan wangi aroma parfum. Entah ada apa dengan indra penciuman Yoona. Aroma itu sangat khas baginya. Kekhasan yang membuat Yoona seakan ingin selalu menghirup aromanya.

Yoona menatap mata Donghae dari samping. Mata sipit yang indah dan hanya satu-satunya. Sembari menatap mata Donghae, Yoona menyeka keringat di kening donghae begitu pun keringat dileher namja itu.

Donghae menundukkan wajahnya sedikit. Ini cukup menggelikan. Tangan halus yang membelai wajahnnya dari belakang, membuat darah namja itu berdesir deras. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Yoona benar-benar lihai melakukannya.

“Bagaimana hukumannya?” Tanyanya lembut, bersamaan dengan suara hembusan angin.

“Errr.. aku… menyukainya..”

“Jeongmal? Berarti kau harus dihukum setiap hari !” katanya sambil terus bermain-main mengelus wajah donghae dari belakang.

Dengan gugup, Ia lalu mengatur nafas, “Mmm jika hukumannya seperti ini, aku mau..”

Kali ini tangan Yoona beralih ketelinga namja didepannya,”Ini hanya peringatan ! melakukan kesalahan lagi, hukuman kejam menantimu ”

“Baiklah. Tidak akan”

Sesampainya didepan pintu apartemen, tangan Yoona akhirnya terlepas dari wajah Donghae. Ia lalu menekan beberapa angka pada tombol disamping pintu. Pintu terbuka. Donghae yang tengah menggendong Yoona dipunggungnya pun masuk. Suara tekanan angin sayup-sayup menyabut kedatangan mereka.

“Saatnya tuan putri turun” ucap donghae, namun Yoona tak menggubrisnya sama sekali.

“Kalau aku tidak mau?” bisik Yoona.

“Aku akan melepaskan peganganku”

Yoona semakin mengencangkan dekapannya pada leher donghae, “Coba saja”

Donghae menghela nafas, “Mau sampai kapan kau terus bergelantung dipunggungku…”

“Sampai…mmm”

~CHU~

Dari belakang, bibir Yoona mencium pipi kiri namja didepannya seketika. Menekan pipi itu kedalam. Cukup lama ternyata. Tehitung sepuluh detik adegan itu berlangsung. Yoona tak juga melepaskan ciumannya. Hingga beberapa saat kemudian ciuman itu pun berakhir. Meninggalkan bekas kemerahan di pipi donghae.

“Miss you too..” ucapnya, kemudian  beralih melepaskan dekapan eratnya

Detak jantung Donghae kembali bermasalah. Benda yang terletak di dada kirinya itu mulai meronta. Donghae takut jika  sewaktu-waktu benda itu akan melompat keluar. Yoona benar-benar membuat dirinya menggila.  Membuat nafasnya tercekat kuat, dan tubuhnya mendidih. Mungkin sebentar lagi ia akan tumbang.

Yoona memijakkan kakinya. Yeoja itu sudah turun dari punggung donghae. Ia kemudian beranjak kedepan. Beralih menatap wajah namja yang berdiri dihadapannya secara intens.

“Siang tadi, aku belum membalas kata miss you-mu ditelepon..”

Donghae mengingat, “Oh itu..”

“Miss you too” Ulangnya.

“Yoona-ah..” Panggil Donghae,

Yoona menatap penuh minat. Memperlihatkan binar-binar mengesankan dalam nanik matanya…”Ne..”

“Err…”

Tuhan !! Wajah Yoona yang seperti itu membuat Donghae sulit menahan keinginannya. Keinginan untuk.. mmm, membalas ciuman Yoona. Sungguh, namja itu  sangat enggan melewatkan saat-saat seperti ini. Yoona benar-benar menantangnya untuk menyentuh bibir mungil itu.

Merasa terdesak oleh perasaannya sendiri, Donghae semakin mendekatkan wajahnya. Mendekatkannya pada wajah yeoja yang telah mengubahnya menjadi seliar ini. Perlahan dan perlahan Donghae merasakan hembusan nafas yang tidak biasa. Aroma nafas Yoona semakin tercium. Yeoja itu mulai memejamkan matanya.

~CH…

Donghae mendadak menjauhkan wajahnya, “Yoona-ah, kenapa wajahmu lebam?”

“Apa?”

Matilah ! Yoona merasa begitu bodoh. Susah payah ia menutupi luka lebam diantara tulang pipi dan mata kirinya. Susah payah ia menahan angin agar berhenti menghembuskan helaian rambut yang membentuk poninya. Semua itu agar luka lebamnya tertutupi. Namun ternyata segalanya sangat jauh dari kata sempurna. Bukankah ia terlalu ceroboh?

“Ini..”

“Apa yang terjadi ?” tanyanya khawair.

Yoona mulai menyusun kata dalam otaknya. Memikirkan peristiwa bagaimana yang akan diceritakannya. Sebaiknya ia jujur ! tapi bagaimana jika nyonya Lee marah. Awwah, harusnya Yoona bisa menyembunyikan hal ini,

“Mmmm, aku…”

Donghae memperhatikan letak luka lebam diwajah Yoona. Letaknya diantara tulang pipi dan mata kiri. Cukup tersembunyi. Namja itu yakin jika luka itu bukanlah akibat dari jatuh dari tangga atau semacamnya. Melainkan karena tertimpa sesuatu. Apa? Benda keras? Atau tangan?

Namja itu mulai memicingkan matanya, “Siapa yang melakukannya?”

Jemari Donghae mulai menyingkirkan helaian rambut Yoona. Yeoja itu terlihat bergidik geli menerima sentuhan itu. Donghae kemudian menyentuh luka lebam yang tampak membiru itu dengan ujung telunjukanya.

“Aww..” Pekik Yoona menepis tangan namja yang menyentuh lukanya.

“Yoona-ah, jelaskan padaku..”

“Itu..mmm”

“Jangan berbohong” timpal Donghae.

Yoona menghela nafas pasrah, “Begini, sebenarnya saat keluar dari salon, tidak lama kemudian, ada yang merampok mmm, kalung mutiara ummamu.. terus jadi.. aku  lalu mengejar perampok kalung itu dan dan yah seperti yang kau lihat, perampok itu meninju wajahku, eh tapi tenanglah tenang dulu, aku berhasil menendangnya lalu mengambil kalung mutiaranya… seperti yang kau lihat, sekarang aku baik-baik saja… ia… tapi.. tapi.. jangan marah pada ummamu.. oke kumohon jangan katakan ini padanya… ya??”

Mendadak suasana hening. Hanya ada Donghae yang sedang menatap lekat yeoja dihadapannya. Dan hanya ada Yoona yang sedang menundukkan wajah, mencoba menghindar dari pandangan namja  yang tengah menatapnya lekat.

“Mian, tapi jangan katakan ini pada ummamu…”

“Wae? Yoona-ah, bagaimana jika perampok itu membawa senjata tajam?” ucap donghae akhirmya.

“Iya, aku tahu, aku juga takut tapi gerakan itu mendadak… kalung itu mungkin sangat mahal…”

“Yoona-ah, kalung itu tak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatanmu.. “

“Iya, aku mengerti… mianhe ini salahku, kalau kau mau marah, marah saja padaku…tapi tapi jangan pada ummamu…”

“Aku tidak menyalahkanmu, ataupun ummaku.. aku hanya takut kau kenapa-napa !”

“Tapi sekarang aku baik-baik saja..” timpal Yoona.

Donghae menarik nafas, sebaiknya ia mengalah,  “Ya sudah ! sekarang sini, obati lukamu..”

“Andwee..”

“Yoona-ah…”

“Kau akan memberinya salep kan? Aku tidak mau… ini sakit tau…” ambek yoona.

“Hanya olesan tipis..” bujuk donghae..

“Andwee… kau, ingin balas dendam kan?”

Apa? Darimana Yoona mendapat gabungan kata itu? Ini mustahil. Yoona tak mungkin tahu masalah ini. Selain dirinya, Appa, dan ummanya, mustahil seseorang mengetahuinya. Bahkan Sungmin dan Taemin sekalipun. Tapi kenapa? Ah, apakah Umma?

Donghae mengerutkan kening, “Yoona-ah, maksudmu?”

“Kau ingin balas dendam kan? Waktu itu aku pernah menekan luka lebammu.. dan sekarang kau ingin membalasnya bukan?”

Nafas  Donghae yang tadinya naik turun, mendadak stabil, “Oh..”

“Oh..? Wae?” timpal Yoona

Donghae mengakhiri pikiran paranoidnya kemudian beralih menatap Yoona, “Ah tidak apa-apa.. aku tak berniat balas dendam sama sekali…percayalah  !!”

“Tetapa saja, ehmm…Kalau begitu aku ingin meminum obat nyeri.. Ayolah… aku tak mau memakai salep…” Katanya sambil memperlihatkan wajah aegyo..

Sejenak namja itu berpikir, “Baiklah, aku akan membelinya sebentar.. tunggu disini..”

Secepatnya, Donghae melangkahkan sepasang kakinya keluar. Namja itu hendak membeli obat untuk Yoona.

Sesaat setelah Donghae menghilang dari balik pintu, Yoona hanya bisa terdiam dalam lamunannya. Ia takut jika Nyonya Lee marah padanya.

“Pabo-ya..”sesal Yoona sambil menggetok kepalanya sendiri.

“TINGTONG” suara bel apartemen  terdengar nyaring

“Siapa yang datang??? ” pikir Yoona sambil melihat kearah jam dinding yang tengah menunjukkan pukul 18.05

“TING TONG”

“TING TONG”  Kali ini Yoona semakin geram pada suara bel yang ditekan beruntun.

“Ye.. tunggu sebentar” Yoona menengok kearah pintu. Ia hampir saja lupa melepas tas selempangnya. Segera Ia melepas benda itu asal, kemudian melemparnya  pada sofa di ruang tengah.

“Ummma” ucap Yoona saat mendapati ummanya sedang berdiri didepan pintu.

“Yoona- ah, anakku, hikzz…” umma  memeluk Yoona erat sambil menangis sesanggukan di depan pintu, bahkan sebelum anaknya  hendak mempersilahkannya masuk.

Yoona mematung dan menatap bingung dengan sikap ummanya.  Diawal, Yoona sangat gembira melihat kedatangan ummanya yang terbilang mendadak. Namun, setelah melihat sikap ummanya yang berbeda, perasaan Yoona menjadi kacau. Mungkinkah? Sepertinya ada musibah yang menimpa umma serta keluarganya. Apakah sesuatu yang buruk terjadi? Kecelakaaan? Atau ?.. Pertanyaan pertanyaan itu  mulai menggerogoti pikiran Yoona. Pikiran yang kini semakin kacau.

Nyonya Im  langsung menerobos masuk kedalam kamar anaknya. Yeoja paruh baya itu lalu mengeluarkan pakaian Yoona dari dalam lemari dan memasukkannya kedalam koper yang diambilnya dari samping tempat tidur Yoona,  “Yoona-ah, kau harus pindah sekarang”

Dengan cepat, Nyonya Im menyeka air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya. Yoona benar-benar bingung. Bingung tentang apa yang harus dilakukannya sekarang. Yoona hanya butuh penjelasan. Ya, tentu saja penjelasan dengan sikap ummanya yang terbilang tidak wajar.

“Umma, apa yang umma lakukan, ada apa ini???” Panik Yoona.

“Nanti dirumah, umma jelaskan, sekarang ayo kita pergi”  ucapnya sambil terus membereskan pakaian Yoona.

Yoona membulatkan matanya, “Rumah?? Rumah kita?”

“Nde, tentu saja, menurutmu rumah siapa lagi?”

“Umma, jadi, aku…”

“Betul, mulai sekarang kau harus tinggal bersama umma dan appa dan lupakan  Namja gila itu..” tegas nyonya Im memotong kalimat Yoona.

“Namja gila?” Yoona terkekeh miris “Umma jelaskan padaku apa yang terjadi, umma hanya bercanda, ia kan?” ucapnya berusaha tertawa diantara hatinya yang menggundah.

Suara langkah kaki sorak terdengar. Yoona berharap itu adalah Donghae. Tapi mungkin bukan. Langkah kaki itu kedegarannya bukan seorang, melainkan dua atau tiga orang. Yoona mulai melangkah mundur. Kedua kakinya gemetar hebat.

“Ah, kalian sudah datang..” kata umma Yoona pada dua orang pria  yang memakai jas hitam dan sepatu layaknya pengawal.

“Umma,  siapa mereka?” gumam Yoona.

“Bawa dia pulang” perintah nyonya Im pada dua orang berjas hitam.

Nyonya Im menenteng koper yang berisi barang-barang Yoona. Kemudian beranjak meninggalkan anaknya yang sedang duduk mematung diatas ranjang. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya kearah dua orang pria berjas hitam. Para pria berjas hitam itu mengangguk patuh. Dengan sigap mereka akhirnya berhasil menyeret Yoona menuju pintu keluar.

“Aku tidak mau, umma..” Yoona terus meronta namun, genggaman tangan kekar dari dua pria yang menyeretnya  terlalu kuat. Rasanya sangat sulit dilepaskan oleh tangan mungil milik Yoona.

“Lepas…” Yoona terus berteriak memohon untuk dilepaskan. Namun sayang, kedua pria bejas hitam itu telah berhasil menyeretnya hingga ke parkiran. Mereka kemudian memasukkannya kedalam mobil sedan hitam. Yoona masuk dan semuanya terkunci. Yeoja itu sudah tak bisa berkutik. Ia hanya bisa menangis sesanggukan didalam mobil. Perjalanan ini terasa hampa. Yoona tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya sekarang selain, pasrah.

Mian, Yoona-ah anakku” gumam Nyonya Im lalu kembali tertunduk.

Nyonya Im melirik anaknya dari samping. Wajah itu telah dipenuhi oleh butiran bening yang terus mengalir, “Yoona-ah, berhentilah menangis..!!!!”

Yoona menyeka air matanya kemudian beralih menatap yeoja disampingnya, “Umma, kenapa umma seperti ini huh? Memangnya apa yang salah?”

“Tunggu !!! Yoona-ah kenapa wajahmu lebam?” selanya.

“Ini..”

“Karena namja itu? jadi dia memukulimu?” tuduh nyonya Im

Mata Yoona membulat, “Aniyoo, bukan dia.. ini karena kecalakaan, ini tak ada hubungannya dengan Donghae..”

Nyonya Im menghela nafas, “Sudah ! jangan ditutup-tutupi..”

“Umma…!!!” gertak Yoona

Kaget, nyonya Im menatap anaknya seketika, “Yoona… kenapa cara berbicaramu seperti itu! siapa yang mengajarimu?”

“Sebenarnya apa maksud Umma menikahkanku dengan Donghae huh? Kenapa umma mempermainkan perasaanku? Awalnya kan aku sudah menolak, tapi kalian memaksa… dan sekarang lihat !..”

“Diam Yoona ! atau umma akan melakban mulutmu !”

Yoona terkekeh, “Oh… aku tahu.. umma menikahkanku karena uang kan? Agar mereka bisa membantu perusahaan kita yang hampir bangkrut bukan? Aku sudah tahu Umma…”

“Jangan asal bicara !!!”

“Apa? Asal bicara? Aku memang benar! Umma dan Appa menjualku kan? Menjualku pada mereka !!”

PLAKKK… satu tamparan dari nyonya Im berhasil mendarat di pipi mulus Yoona.

Wajah Nyonya Im memerah..”Jangan bicara seperti itu !!”

Tangis sesanggukan Yoona mulai menyeruak. Sesak, sakit, kecewa, marah, semua itu harus dirasakannya. Tamparan ummanya tadi mungkin tak seberapa sakitnya jika dibandingkan dengan luka dihatinya sekarang. Sungguh ! Yoona ingin sekali lenyap dari dunia ini. Mengerikan…

“Mianhae Yoona.. Maafkan Umma” ucap nyonya Im sambil memeluk anaknya.

………………..

Donghae baru keluar dari sebuah lift yang membawanya ke apartemen bisa dibilang sederhana yang ditempatinya bersama Yoona. Suasana didepan pintu apartemen terlihat sepi.  Donghae mendorong pintu apartemen yang terbuka sedikit. Aneh !

Suasana didalam terlihat agak berantakan. Apartemen itu tak serapih sebelumnya. Tepatnya saat namja itu keluar hendak membelikan obat untuk Yoona. Kecurigaan yang terbersit dipikirannnya pun mulai menjadi-jadi saat mendapati Yoona tiba-tiba menghilang. Di ruang tengah kosong. Di kamar mandi, tak ada siapapun. Di kamarnya pun nihil.

“Yoona-ah, kau dimana ?” sahut Donghae.

Namja itu lalu mencoba menghubungi ponsel Yoona. Beberapa detik kemudian, terdengar suara nyaring disekitar ruang tengah. Jelas, suara itu adalah dering ponsel Yoona.

Nyatanya, Ponsel itu berada didalam tas selempang diatas sofa.

“Sebenarnya kau kemana?” gumam Donghae khawatir. Mendadak perasaannya menjadi tidak enak.

“Aishh” Donghae mengacak ngacak rambunya frustasi. Ia lalu terduduk diatas sofa dan memikirkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi. Ia berencana menunggu Yoona hingga beberapa saat. Mungkinkah yeoja itu keluar tanpa menelponnya?  Atau lupa menghubunginya?.

Setengah jam berlalu, namun Yoona tak juga menampakkan batang hidungnya. Hal itu membuat Donghae semakin khawatir. Apakah ini ulah appanya?, menculik Yoona? itu sungguh kekanak kanakan.

Donghae beranjak dari tempat duduknya. Dihinggapi oleh perasaan gelisah, namja itu mulai mencari  sebuah nama dikontak ponselnya.

“Yoboseyo” terdengar suara dari seberang sana.

“Appa! apakah Yoona ada disana?” tanya Donghae tergesa-gesa.

“Apakah kau tak ingin menyapa appa terlebih dahulu ?” Tuan Lee berbicara dengan santainya.

“Appa, tolong jawab pertanyaanku, apa Yoona ada disana???” desak Donghae

“Yoona?” tanyanya balik “Kurasa keluarganya sudah menyeretnya pulang, apa kau tidak tahu?” sambungnya santai.

“Mwo?? Appa, apa yang…” Donghae menghentikan ucapannya . Ia sepertinya sudah mengerti apa yang terjadi.  “Appa sudah melakukannya?” ucapnya sambil memegang dadanya yang kian menyesak.

“Iya, seperti duganmu !”

Keringat namja itu mengucur deras dan bibirnya bergetar hebat, “Secapat itukah?”

“Tentu saja aku harus bergerak cepat ! sebelum kau bertindak aku harus bertindak duluan !” bangga Tuan Lee

“Mwo??”

“Yoboseyo, Yoboseyo, Donghae-ssi.. Kau masih disana?”

Dongahe mematung. Sekujur tubuhnya mendadak kaku. Ini tidak mungkin ! Terlambat sudah. Appanya sudah melakukan hal itu. Harusnya ia bisa menduga semua itu. Menduga jika Appanya akan bergerak secepat ini..

Secepat kilat, Donghae mengarahkan sepasang kakinya menuju lokasi parkir apartemen. Namja itu kemudian masuk kesebuah mobil putih. Dengan kecepatan penuh, Ia mulai mengarahkan stir mobil itu menuju kediaman Appanya.

Sesampainya disana, Donghae langsung menerobos masuk ke ruang kerja tuan Lee. Di ruangan itu, terlihat tuan Lee sedang duduk santai sambil membaca sebuah majalah.

“Appa aku ingin bicara !”

Menyadari kedatangan Donghae, tuan Lee langsung menutup majalah yang dipegangnya, “Bicaralah”

Donghae menatap tajam namja paruh baya dihadapannya, “Apa tindakan Appa selanjutnya..”

Tuan Lee menghirup teh didepannya kemudian beralih menatap Donghae, “Apa aku perlu memberitahumu sesuatu yang kau sendiri sudah tahu jawabannya?

“Apa?!”

“Donghae-ssi… Aku yakin kau sudah tahu rencana Appa selanjutnya ! Hal apalagi yang sulit kau tebak ! semuanya benar! Hanya saja, kelemahanmu adalah, kau kurang licik dan tak bisa bergerak secepat Appa !”

Donghae memicingkan matanya, “Apakah Appa akan mengambil Alih group Im?”

“Binggo !!! lagi dan lagi, tebakanmu memang benar ! Group itu adalah milik kita ! bukankah kita sudah berkeluarga? Dan ingat setelah itu kalian harus bercerai”

“Itu tidak akan terjadi !” sinis Donghae.

“Benarkah?” balas appanya tak kalah sinis

“APPA KUMOHON BERHENTILAH MENGATUR HIDUPKU !!!”

Tuan Lee terkekeh pelan, “Appa bukan mengatur ! kau memang ditakdirkan untuk membalaskan dendam keluarga… kau tidak akan bisa berontak !”

“Appa sudah cukup !”

“Ah, satu lagi ! Kau belum melakukan apa-apa kan? Jangan sampai dia hamil atau, sesuatu akan terjadi. Kau tak ingin menyakitinya, bukan?”

“Apa?!”

……………………..

Yoona hanya bisa terpaku melihat pemandangan dari jendela kamarnya. Harapan yang selama ini dipikirkannya untuk hidup tenang musnah begitu saja. Baru saja ia mulai menerima kehadiran Donghae dalam hidupnya, yang  sebelumnya  hati yeoja itu  berontak menentang sebuah perjodohan, keluarganya kembali bermasalah dan parahnya, lagi-lagi melibatkan dirinya.

Yoona hendak  menghubungi Donghae atau seseorang, temannya atau siapapun itu, namun sial!! Ponsel Yoona tertinggal.  Kedua pria pabo itu mungkin terlanjur menarik dirinya dengan sangat kuat. Akhirnya, saat itu tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mengingat, apalagi mengambil ponsel yang entah dimana.

Dengan langkah gontai, Yoona berencana mengendap mengambil ponsel ummanya.  Setelah itu, ia lantas menelpon Donghae. Namja itu mungkin sangat menghawatirkan dirinya yang tiba tiba saja menghilang.

Yoona melangkah melihat keadaan disekelilingnya. Sepi. Dilihanya pintu kamar ummanya yang hanya berjarak tiga langkah dari tempatnya berdiri.

“Omo, jadi dia anaknya” terdengar suara nyonya Im, membuat Yoona menghentikan langkahnya.

“Jadi Donghae, itu anak  Lee Yeong Min, yang meninggal itu, dan dia ..”

“Meninggal karena aku..” suara appa Yoona terdengar parau.

“Aniyoo.. itu bukan karenamu ! bukankah kita memang tidak menggelapkan uangnya?  Uang itu dibawa kabur oleh tuan Moon iyakan?? uang itu hanya tertunda. Tuan Moon juga tertangkap, namun sebelum uang itu tersalur. Tiba-tiba saja Lee Yeong Min terkena serangan jantung dan meninggal…” jelas nyonya Im

“Tetap saja, ini adalah kecerobohanku..Dan aku malah memutar balikkan fakta untuk menutupinya…” sesal appa Yoona.

“Umma. Tolong kau urus perceraian anak kita, aku terlalu malu untuk bertemu keluarga mereka” ucapnya .  “Aku bersalah karena telah mengorbankan Yoona”

“Yoona sudah tahu semuanya ! dia sudah tahu alasan kita menikahkannya.. “

Appa Yoona menghela nafas, “Yoona sudah besar, wajar jika dia tahu masalah ini”

“Jadi? Kapan aku harus mengurus perceraiannya..”

“Secepatnya..”

Mendengar percakapan itu, mata Yoona begitu kaku untuk berkedip. Bibirnya bergetar mengetahui bahwa ia akan bercerai. Padahal ia belum genap setahun menikah? Ini  gila!!. Yoona tak bisa membayangkan bahwa ia akan menjadi Ahjumma pada usia muda??. Ia akan bercerai dan ini hanya karena Lee Yeong Min atau siapalah namanya. Orang itu sebenarnya siapa? Appa Donghae yang sebenarnya? Dan dia meninggal karena keluarga Yoona? Dan Yoona harus menerima dampaknya?? Its not fair. Yeoja itu terlanjur menyukai Lee Donghae dan ini pertama kalinya Yoona merasa ada namja yang  benar-benar peduli terhadapnya. Kemudian, apakah perasaan ini harus  ia hancurkan  begitu saja?.

“Appa, umma, aku dengar, aku dengar semuanya!!” sahut Yoona pada appa dan ummanya yang sedang berbincang di sebuah kamar.

Tuan dan nyonya Im membulatkan matanya lebar-lebar. Lidah mereka bagaikan bertulang. Sangat kaku.

“Yoona, dengarkan dulu umma” lerai Nyonya Im

“Aku sudah mendengarkan umma ! Selama ini aku pura-pura bodoh mengenai alasan Appa dan Umma menikahkanku. Aku pura-pura tidak tahu jika pernikahanku hanya untuk membantu perusahaan Appa yang nyaris bangkrut. Aku berontak, tapi kalian memaksaku ! Appa mengganggu teman-temanku..”

“Yoona itu tak seperti yang kau pikirkan?”

“Tidak sama? Umma, Appa, apa kalian tahu?  Aku memikirkan kalian ! aku memikirkan perusahaan, Aku kasihan pada orang tuaku, aku tak ingin membuat kalian sedih ! Sampai-sampai aku harus menyanggupi pernikahan yang kuanggap memuakkan.. “

“Yoona-ah sekarang keadaannya berubah, mereka jahat Yoona ! mereka berniat menghancurkan kita !” timpal ummanya

“Itu mereka, tapi bukan Donghae, umma…”

“Donghae bagian dari mereka…Yoona-ah sebaiknya kau bercerai !”

“Tidak umma, aku tidak mau bercerai, jadi  kalian jangan memaksaku, mengerti?” jelas yoona.

Aliran air mata mulai bergelinang diwajah Yoona. Dengan lekas, yeoja itu  berlari meninggalkan umma dan Appanya yang terlihat  cemas. Juga ketakutan.

Yoona berlari menuju kamarnya. Ditariknya gagang pintu yang berwarna putih itu, dengan kasar. Drukkk…Yoona membanting pintu yang ditutupnya. Kemudian lekas menguncinya.

“Heeehikzz..” tangis Yoona usai menghempaskan tubuhnya diatas kasur.

Yeoja itu memukul-mukul kasurnya keras, “Aku benci Appa dan Umma.. aku benci hikzz..”

…………………..To be continued………………………

Makasih udah baca !!!

Jangan lupa RCL yaww :-)

Pye pye…

27 thoughts on “SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 4-A)

  1. Marzha berkata:

    Ooo rupanya kepotong yah chingu..
    Makin seru aja nih ceritanya, lanjutnya jangan lama2 yah chingu.. Pengen ngeliat yoong unnie sama hwaee oppa cepet2 bahagianya..

    Terus appanya si donghae itu mudah2an dapat akibatnya karna udah nyakitin yoong unnie.. Gimana yah sama ommanya donghae, kapan dia bisa baik ke yoong unnienya.. Aduh penasaran nih..
    Fanfic ini daebak deh chingu… Part selanjutnya ditunggu yah chingu, jangan lama2… Yoonhae jjang..^.^

  2. PyroforYH berkata:

    O o o ternyata kepotong
    Kyaaa author sukses buat aq menangis TT_TT

    Lanjut next part ditggu ya juga jangan lama” okeh!😀

  3. inasaragi berkata:

    Daebak author!!
    Aduh nyesek bgt bacanyaaaa~
    Author jgn buat yoonhae bercerai, mereka harus tetap bersatu, ne?
    Appa tirinya donghae oppa bener-bener jahat mau misahin yoonhae
    Part selanjutnya lebih panjangan lg ya? Hehehe
    Ditunggu kelanjutannya
    Aku sangat berharap happy end. Aku paling benci ff yoonhae yg sad end!!😉
    Ditunggu kelanjutannya, jangan lama2 ya thor?
    Keep writing, fighting!!!🙂

  4. YeEunHae berkata:

    duuhh yg pertnghan.a so sweet bngt bkn snyum2 sndri eh trakhr.a tagang waw daebak author bsa mmblkan prasaan reader.a 100 jmpol bwat author !! oya itu si yoona dh prnh brhbng ‘itu’ sma donghae kan ?? brarti dah gamil donk ??
    aduuhh aku udh gg sbarr pgn lyat klnjutan cerita.a nihh , ayo lnjut2 !!

    YOONHAE JJANG !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s