SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 3)

Image

Title :  Why I Hate You

Author : Nana Shafiyah a.k.a Nana/Nasha

Genre : Romance, Family

Rating : PG-17

Cast : SNSD  Yoona, Super Junior Donghae

Other Cast : SNSD  member, Super Junior Sungmin, F(x) Sulli

Soundtrack :   SNSD  –  Day By Day

                       SUJU –  Reset

Annyong haseyoo…Assalamualaikum…:-)

Minal a’idzin wal fa’idzin, Mohon maaf lahir dan Batin ^_^

sebelumnya aku mau ngucapin selamat hari raya idul fitri bagi para readers..soalnya beberapa hari lagi udah mau lebaran dan aku udah mau mudik besok…yeyyy..so aku ngepost ff yang kalian tunggu-tunggu..hehe, soalnya aku takut dan khawatir di kampung sinyalnya cemen #maklumlah…

okkay, Kali ini aku membawa lanjutan dari ff yoonhae “why i hate u”…

Part ini aku agak panjangin dan yoonhae momentnya aku banyakin…”berbahagialah kalian”hhehehhe.

Tanpa banyak bercap cis cus, Kita langsung ajjah yaww..

Semoga kalian suka !!!

Happy Reading All…

Part 3

Adakah alasan untuk membenciku???…. “Why I hate you”

Donghae menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Meletakkan punggung lengannya tepat menindihi atas keningnya. Kejadian mengenai perkelahian dengan appanya barusan, terus tergiang dalam ingatan namja itu. Donghae lelah. Mungkin lebih baik jika semuanya seperti ini. Lebih baik appanya menjauh, dari pada nantinya ia harus menyakiti yoona.

Samar-samar donghae mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya. Itu pasti Yoona. Namja itu mengarahkan bola matanya keatas. Ia melihat langkah yoona dengan senyumnya yang manis semakin mendekat. Yeoja itu sepertinya membawa sesuatu.

Yoona berdehem membuat donghae langsung beranjak dari posisi rebah menjadi duduk, “Ehmmm”

Donghae menatap yeoja yang berdiri didepannya, “Ah, Yoona-ah, kau membawa apa?” ucapnya mencoba berbasa basi.

Yoona memandang sebuah mangkuk yang dipegangnya, “Ini, mmm.. aku membuatkan bubur untukmu, makanlah”

“Untukku??” Ucap donghae sambil menunjuk dirinya.

Yoona mengangguk dan beralih duduk disamping donghae. “ Ia untukmu, lukamu masih basah jadi aku buatkan bubur, kau lapar kan?”

“Ne ne ne..” Jawabnya sedikit antusias. Melihat bubur yang dibuat yoona membuat perut donghae mendadak keroncongan. Padahal tadinya baik-baik saja.

Yoona kembali tersenyum, “Biar kusuapi.. Aaa” ucapnya dengan mulut menganga.

Donghae menatap heran, “Yoona-ah kau sakit?”

“Apa?” gumam yoona.

Yeoja itu langsung memanyunkan bibirnya, “Kenapa? Kau tidak suka?”

“Aniyo.. anyoo, aku suka kokk, jangan marah, nanti cantikmu hilang..” ucap donghae buru-buru membantah.

Yoona memutar bola matanya, berusaha menahan senyumnya sebisa mungkin. Itu harus. Sebelum namja itu besar kepala, “Ya sudah!!! AAAA” ketus yoona. Bersiap-siap memasukkan sesendok bubur ke mulut donghae.

Donghae mendelik, sifat yoona ternyata memang seperti itu, “Baiklah..” ucap donghae akhirnya.

Yoona kembali menganga, “AAA”

Mulut donghae terbuka. Yoona langsung memasukkan sesendok bubur yang dipegangnya. Yeoja itu sesekali menatap donghae dengan senyum malu-malu. Sangat aneh. Suap demi suap terus dimasukkannya kedalam mulut donghae. Tak terasa bubur itu sisa setengah.

“Enak.. !!!” komentar donghae sambil menatap yoona.

Yoona menunduk. Berusaha menghindar dari tatapan namja itu, “Oh, baguslah..”

“Yoona-ah…”  panggil donghae.

Yoona mendelik, “Ne..”

“Kau tahu? Tadinya bubur ini protes padaku..” ucapnya.

Yoona mengerutkan kening, “Apa? Protes?”

“Iya, buburnya protes karena aku makan..” timpal donghae.

Yoona menggaruk kepalanya bingung, “Mana mungkin? Jangan asal bicara !”

“Aku tidak asal bicara, kau saja yang tak sadar…. Bubur ini berteriak-teriak dalam perutku” katanya.

Yoona semakin bingung. Sebenarnya bicara apa dia?

“Mereka sepertinya tak mau masuk kedalam perutku, mereka ingin terus berada dalam mangkuk yang kau pegang..” sambungnya.

Yeoja itu mengangkat alis sambil melirik mangkuk yang dipegangnya, “Kenapa?”

Donghae menatap yoona lekat, “Karena bubur itu ingin terus memandangi yeoja cantik si pemilik mangkuk”

Wajah yoona mendadak memanas, “Apa?”

“Bubur itu cemburu padaku, karena aku bisa memandangimu lebih lama” ucapnya.

Sekali lagi yoona menahan senyumnya. Rasanya sangat konyol jika yeoja itu harus tersenyum malu karena gombalan yang dilontarkan donghae barusan.

Yoona meletakkan mangkuk yang berisi setengah bubur, diatas meja. Kemudian bangkit dari tempat duduknya, “Tidurlah, ini sudah malam” Ujar yoona lalu berbalik dan melangkahkan kakinya masuk kesebuah kamar.

Donghae menatap punggung yoona. Apa yeoja itu tidak suka? Sudahlah, mungkin lebih baik donghae mengikuti saran yoona untuk tidur. Tapi sebelum itu, donghae merasa sangat perlu untuk menghabiskan bubur yang dibuat yoona. Bubur yang sisa setengah.

Donghae mengambil ponselnya. Diphoto-nya bubur itu. Bukankah ini adalah moment yang paling berharga? Masakan pertama yoona untuknya. Sangat manis. Namja itu tersenyum sendiri. Kemudian beralih menghabiskan bubur yang sisa setengah itu tanpa ada sedikit pun yang tersisa.

Merasa bubur-nya telah habis donghae lalu menuju sebuah dapur dan mencuci mangkuknya. Setelah itu, ia akhirnya beranjak memasuki sebuah kamar. Sebuah kamar tepat disamping kamar yang dimasuki yoona tadi.

Donghae menatap pintu kamar yoona sekilas, “Selamat tidur, Yoona-ah” ucapnya.

Didalam kamarnya, yoona berguling-guling diatas ranjangnya. Moment bersama donghae barusan terus saja berterbangan diatas kepalanya. Malam ini terasa sangat panjang. Sungguh, kedua mata itu sangat sulit untuk terpejam. Yoona bingung, antara harus menangis sesanggukan atau berlari kegirangan. Mungkin ia sudah gila. Semua karena dia.

Yeoja itu menggerutu dalam senyumannya, “Dasar namja menyebalkan, huffftt”

Perlahan mata yoona mulai terpejam. Peri mimpi pun datang menghampirinya. Membawa sebuah pertunjukan yang masuk kedalam alam bawah sadarnya. Pertunjukan yang sangat menyenangkan. Pertunjukan yang hanya dimainkan oleh seorang namja. Namja yang bernama, Lee dong hae.

Antara sadar dan tidak sadar, yoona terus tersenyum didalam alam mimpinya. Rasanya  yeoja itu enggan untuk mengakhiri pertunjukan itu. Namun sayang sekali, kali ini peri mimpi sepertinya sedang badmood. Keinginan yoona untuk berada terus dalam mimpinya pun musnah. Benar saja, yeoja itu akhirnya terbangun.

Yoona mengerjab-erjabkan matanya. Yeoja itu memandangi jam dinding kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul 08.00. Sudah pagi, ternyata.

“Oh, iyaa” ucapnya sambil menepuk keningnya keras-keras.

“Akukan sudah menikah?? Bagaimana ini? Kenapa baru bangun sesiang ini sih? Lagi pula akukan harus kuliah….” gerutu yoona.

Dengan langkah seribu, yoona berlari keluar melewati pintu kamarnya. Terlihat suasana diruang tengah terlihat sepi. Donghae tak terlihat. Kemana dia? Pikir yoona. Yeoja itu kemudian beranjak menuju dapur. Tak ada siapa siapa. Hanya ada sesuatu yang sepertinya  menarik mata yoona. Itu, diatas meja makan.

Yoona beranjak melangkah kearah meja makan, “Apa ini?” ucapnya sambil melihat sebuah surat yang tertindih dibawah gelas.

“Yoona-ah, kau sudah bangun? Mianhae, aku harus pergi pagi-pagi sekali !!! Appa mengajakku bertemu, tapi kau tenang saja ! Tidak akan terjadi apa-apa. Oh ya, aku membuatkanmu omelet. Itu adalah satu-satu-nya masakan yang bisa kubuat. Bisa dibilang itu sebagai rasa terima kasihku atas bubur-mu yang enak semalam.. Semoga kau suka, gomawo..”

~ Donghae ~

Yoona tersenyum sendiri membaca surat itu. Walaupun perasaannya mulai dihinggapi rasa khawatir. Yeoja itu menghawatirkan hubungan donghae dengan Appanya. Semoga namja itu baik baik saja, pinta yoona.

Dengan segera yoona langsung menelan habis omelet yang ada diatas meja. Makanan buatan lee donghae yang dibuatkan spesial untuknya. Senang sekali rasanya.

Selesai dengan makanannya, yeoja itu pun buru buru membereskan semuanya. Kemudian bersiap-siap menuju kampus. Kemungkinan hari ini jadwalnya padat. Sungguh menyebalkan.

……………………..

Pagi hari menjelang siang di kampus, Yoona berjalan melewati gedung beberapa fakultas. Yeoja itu berjalan dengan semangat yang membara. Tidak biasanya.Tapi baguslah. Yoona terus melangkah. Hingga akhirnya ia pun sampai ditempat tujuannya. Lalu mulai mendekati salah satu ruangan.

“Heiii” Pekik seseorang dari belakang sambil menepuk pundak yoona.

Yoona berbalik, “Sunny-ah.”

Wajah sunny terlihat khawatir. Telihat teman yoona itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar, “Yoona-ah, kudengar dari Luna kau datang ke teater dan donghae..”

Yoona membekap mulut sunny, berusaha agar temannya itu mengecilkan suaranya, “Jangan keras-keras, kau mau semua orang tahu?”

Sunny menghela nafas, bekapan yoona membuat nafasnya sesak, “ Yoona-ah…berita ini sudah tersebar, kebanyakan orang sudah tahu!”

Yoona memasang wajah acuh kemudian beralih memandang temannya “Ne, aku tahu, tapi ekspresimu itu membuat semua mata tertuju kearahku..”

“Aku hawatir tahu? Sekarang, Kau harus jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi” jengkel sunny.

“Baiklah..tapi jangan disini, okay..” pungkas yoona.

Seusai kelas siang tadi, yoona beserta genk-nya, sedang berdiskusi disalah satu kantin. Terlihat yoona seperti tangah di introgasi oleh teman temannya. Yeoja itu hanya bisa pasrah. Ia pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Mulai dari saat sulli mengajak-nya kepesta teater hingga saat seorang namja mendekat dan  menganggunya. Yoona menceritakan bahwa dirinya menampar namja itu. Ia akhirnya dicegat oleh dua orang berandal, kemudian bisa dibayangkan, donghae tiba tiba datang dan memulai perkelahian.

Taeyeon terlihat geram, “Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?? Pasti sulli yang melakukannya !”

Yoona mendelik, “Aniyoo bukan dia, kurasa  mereka tidak saling mengenal..”

Sooyoung mengangkat alis, “Lalu siapa?”

Yoona menunduk lesu, “Sudahlah, aku ingin melupakannya, anggap saja itu musibah.. Bukankah selalu ada hikmah dibalik musibah?”

Taeyeon menghela nafas, “Ya sudahlah, tapi jangan terus terusan bersedih.. Im Yoona harus ceria..”

Yoona tersenyum melihat wajah cemas teman temannya. Juga mendengar suara mereka yang terus memotivasi dirinya untuk bangkit dari keterpurukan. Bukankah dirinya sugguh beruntung? Dikaruniai oleh Tuhan, teman seperti mereka. Lengkaplah sudah.

Seperti biasa, yoona dan teman temannya harus menyudahi acara introgasi di kantin. Mereka harus kembali mengikuti jadwal perkuliahan. Kuliah dan hanya sibuk berkuliah. Hari ini kelas mereka memang padat. Hanya sedikit waktu untuk bersantai. Hingga tak terasa hari mulai sore. Kelihatannya sore ini, orang-orang terlihat sangat lelah.

“Taeyeon, sica, yoona, sooyoung, yuri, kami pulang dulu…” Pamit sunny, seohyun, hyoyeon dan tiffany..

“Yoona, yuri, kami juga pulang dulu yah” Ucap taeyeon, sica dan sooyoung menyusul.

Yuri tersenyum, “Yoona- kau mau pulang juga?”

“Aku menunggu seseorang” jawab yoona.

Yuri berpikir sejenak, kemudian mulai menggoda yoona dengan senyum jail, “Siapa yang kau tunggu?” bisik yuri.

Yoona beralih menatap temannya, “Aku tak perlu memberitahumu, bukankah kau sudah bisa menebaknya?”

“Jadi benar ??… Ahhhhh, manis sekali” Ucap yuri kegirangan, “Tapi, bukankah kau membencinya?” lanjutnya heran.

“Tak ada alasan untuk itu” Timpal yoona.

Yuri tersenyum jahil, “Benarkah??”

Pipi yoona mulai merah merona. Perlahan hal itu mulai menyebar keseluruh wajahnya. Ini semua karena yeoja disampingnya. Temannya yang satu itu benar-benar sangat usil. Ia nampak enggan untuk berhenti menggodanya. Dasar !!!

………………………

Langkah donghae terhenti didepan sebuah ruangan. Ditatapnya pintu coklat ruangan didepanya. Segera ia mengarahkan tangannya mendorong gagang pintu coklat itu. Pintu terbuka. Hawa dingin nan menusuk begitu cepat  menyambut kehadirannnya. Dalam ruangan itu, donghae melihat seorang namja paruh baya sedang sibuk membaca. Terlihat pula tumpukan berkas yang tampak menggunung diatas dimejanya.

“Aniyong haseyo, Appa” Sapa donghae sambil membungkuk sopan.

“Ah, Lee donghae, kau sudah datang !” ucap seseorang yang dipanggil appa oleh donghae.

Appa donghae menghela nafas, “Donghae-ssi, aku menyuruhmu kesini karena ingin meminta maaf soal kemarin malam, mianhamnida” katanya tanpa basa basi.

Donghae mengerutkan kening, bukankah saat itu appanya sangat marah?

“Aku bertindak gegabah..aku sudah tahu alasanmu melakukan itu, mmm ah.. sekarang kau  lanjutkan  saja pekerjaanmu..” lanjut appanya.

Donghae masih sibuk dengan pikiranya sendiri. Mengapa tiba-tiba appa-nya bersikap seperti itu. Sepertinya ada yang ia sembunyikan. Tapi apa? Sudahlah, lebih baik jika dirinya pergi. Jujur, donghae pun tak ingin berlama lama. Melihat wajah appanya, membuat pikiran  namja itu menggundah. Donghae selalu teringat dengan peristiwa yang akan mengancamnya.

“Nde, baiklah, aku permisi” ucap donghae kemudian beranjak meninggalkan ruangan.

Appa donghae bergumam dalam hati, “Ini semua karena sungmin, aku tak mungkin memberitahumu, donghae”

Donghae keluar dari ruangan appanya. Namja itu mulai melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk. Pekerjaan seperti ini sangat membebaninya. Sangat lelah. Perlahan tangannya mulai menandatangani beberapa berkas. Menmbaca beberapa proposal dan lain sebagainya. Hingga tak terasa sang surya mulai turun dari puncaknya.

Donghae melirik jam tangannya. Sudah sore. Sudah saat-nya ia pulang dan meninggalkan pekerjaannya sejenak.Ingatan namja itu langsung tertuju pada yoona. Mungkin saja yeoja itu masih berada dikampusnya.

Dengan cepat donghae menyambar ponsel diatas meja kerjanya. Ditekannya angka dua pada tombol handphone-nya. Kemudian menunggu seseorang diseberang sana mengangkat telepon darinya.

“Tulalit, tulalit.. “Tak ada jawaban

Donghae mengerutkan kening, “Apakah ia sedang ada kelas?”

Namja itu pun mencoba mengetik beberapa kata dalam pesannya.

To : Princess Yoona

Kau sudah pulang kuliah? Kalau belum,  Apakah tuan putri tidak keberatan jika kujemput?

Dongahe tersenyum sendiri. Ini hal yang wajar. Pikiran tentang yoona membuatnya selalu melakukan hal itu.

“drtttt drttt drttt..” Getaran handpone terdengar. Namja itu menatap layar handphonnya. Ternyata yoona membalas pesannya dengan cepat.

From : Princess Yoona

Mianhae, aku ada kelas.. Baiklah aku tunggu jam lima sore di halte depan kampus. Okay? jangan telat.. Atau tuan putri akan menghukummu.. :-p

Dongahe beranjak dari posisinya. Membereskan beberapa berkas yang tertumpuk diatas meja kerja. Mengambil tasnya. Kemudian melangkahkan sepasang kakinya menuju kearah pintu. Namja itu tengah bersiap menjemput seseorang yang spesial. Ia harus cepat sebelum hari semakin sore. Juga sebelum keadaan dijalan semakin macet.

…………………….

Kaki yoona mengayun pelan. Mengguncang badannya yang saat ini sedang duduk disebuah halte kampus. Tempat dimana ia menuntut ilmu.

Jalanan didepan mata yoona terlihat ramai. Mobil sangat sibuk berlalu lalang. Hanya sedikit celah yang bisa terlihat. Jejeran kendaran itu hanya berjalan padat merayap. Tentu saja. Mengingat sekarang adalah sore hari, tepat saat para pekerja pulang kantor. Jadi, tak heran jika suasananya memang seperti ini.

Yoona menggigit jari-jari tangan kanannya. Sesekali melirik jam tangannya. Yeoja itu mulai dihinggapi rasa gundah. Hal ini karena seseorang yang ditunggunya belum juga datang.

“Huhh, lama sekali dia !!! kalau tau begini, aku pasti akan menyuruh yuri untuk menemaniku disini.. dan bukan menyuruhnya pulang..!!!” decak yoona sambil menundukkan wajah lesu.

“Tittttt….”

Yoona menekan kedua telinganya erat. Suara nyaring klakson mobil yang berjalan pelan didepannya itu, terdengar sangat menusuk.  Apakah supirnya itu buta?? Jalanankan sedang macet?? Untuk apa  menyuruh minggir?? Runtuk yoona dalam hati.

“He…” Yoona  mendadak menutup mulutnya. Baru saja ia bersiap menyahut barang sebaris kalimat, sesuatu tiba-tiba menahannya. Yeoja itu melihat sebuah  mobil putih. Tepatnya mobil yang sedari tadi membunyikan klakson. Mobil yang nampak familiar dalam ingatan yoona. Mobil itu berjalan sangat lambat dan perlahan membuka kaca jendela pintu penumpang samping kemudi.

Raut wajah yoona yang tadinya kesal kini tergantikan oleh pancaran sumringah, “Akhirnya datang juga..” gumaamnya.

“Yoona-ah cepatlah naik..” seru sang pengemudi.

Dengan cepat, sepasang kaki yoona melangkah kedepan. Yeoja itu berjalan kearah sebuah mobil putih dan buru buru membuka pintu. Tepatnya pintu pada bangku penumpang samping kemudi.

“Mian, kau pasti menunggu lama..” Kata namja yang duduk dibangku kemudi.

Yoona tersenyum simpul, “Tak apa..ini-kan memang sedang macet..!!!”

Yeoja itu terdiam sejenak kemudian beralih menatap namja disampingnya, “Mmm Appamu bicara apa?” tanya yoona tiba tiba

“Apa?”

“Bukankah tadi pagi kau menemuinya?” ucap yoona.

“Oh, itu.. mm dia hanya menyuruhku mengerjakan sesuatu, tidak penting..”

“Bukannya dia marah?” sela yoona.

“Sudah tak lagi ! mungkin dia sudah tahu alasannya… mmm Aku yakin jika appaku juga tak akan diam saja ketika melihat wanita cantik seantero korea, sedang diganggu oleh para berandalan, iakan?” Jelas namja itu sambil tersenyum seperti biasa.

Yoona tertunduk malu, “Sudahlah..”

“Oh ya, donghae oppa, kita mau kemana? Pulang?” Timpal yoona

Namja yang dipanggil donghae itu mengangkat alis, “Kau mau pulang?”

Yoona terlihat bingung. Donghae malah menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan, “Terserahmu..” Ucap yoona akhirnya.

“Baiklah kalau begitu…” jawabnya.

Yoona menatap lurus jalan yang dilewatinya. Cukup asing. Diliriknya donghae yang sedang fokus mengemudi. Sebenarnya dia mau kemana? Batin yoona..

“Sudah sampai… sekarang tunrunlah” perintah donghae sembari mematikan mesin mobilnya.

Yoona terdiam. Mulutnya menganga lebar. Sepertinnya yeoja itu takjub dengan sesuatu didepannya.

“Yoona-ahh” panggil donghae sambil mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah yoona.

Kepala yoona sedikit menengok. Walaupun tidak fokus. Pandangannya masih mengarah kesuatu tempat, “Ne…” ucapnya

Yoona membuka pintu mobilnya dengan cepat. Kemudian berlari menerobos sepoi angin yang menghempas  tubuhnya, “SUNGAI HANNNN”  teriak yoona ketika melihat deretan air mengalir deras dihadapannya.

Donghae menatap pemandangan didepannya, “kau suka??”

Yoona merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata, “Tentu saja, anginnya sangat enak, aku jadi ingin berbasah bashan..!!!”

Donghae mengangkat alis, “Oh ya??”

Yoona terlihat sangat menikmati sebuah pemandangan menakjubkan. Perlahan ia mendekat dan melangkahkan kakinya ketepi sungai han. Yoona duduk lalu memasukkan kakinya pada air yang mengalir  lembut disepanjang sungai itu sambil melambaikan tangannya kearah donghae. Namja itu kemudian beranjak duduk disamping yoona.

“Indah sekali bukan?” kagum yoona

Donghae beralih menatap yeoja disampingnya, “kau baru pertama kali kesini?”

Garis senyum kembali menghiasi wajah yoona, “Tidak, aku juga pernah kesini, tapi itu sudah lama sekali, saat aku berusia 5 tahun”

“Airnya sangat segar bukan?” donghae mengayuh segenggam air dengan kedua tangannya kemudian memercikkan air itu tepat kewajah yoona. Yeoja yang sedang  serius memandangi suasana di tempat itu, mendadak bedecak kaget.

“Aww !!!! hei kau sedang apa??” sahut yoona. Sebongkah percikan air tiba tiba membanjiri wajahya.

Donghae menjulurkan lidahnya, “kau tadi bilang ingin  berbasah basahan kan?” ledeknya.

Yoona terkekeh, “kkkkk…”

Seringaian yoona mulai telihat, “Baiklah kalau itu maumu”

Yoona mengayuh air yang mengalir lembut di sungai itu. Ia lantas menyiramkannya tepat didepan wajah  donghae. Tak hanya sepercik, melaikan segayung, mungkin. Tak mau kalah, Namja itu pun melakukan hal yang sama. Hingga acara saling menyiram satu sama lain, terus berlanjut.

“Hei kau curang.. kenapa menendang nendang airnya?” Protes donghae sambil melindungi kepalanya dari guyuran air yang dicipkan yoona.

Yoona menjulurkan lidahnya, “Biarkan saja, bweeee”

“Aishhhh…dasar !!!”

Beberapa lama kemudian, mereka akhirnya menyudahi acara basah-basahan  disungai han. Yoona tak henti hentinya tertawa begitu pun dengan donghae. Sepertinya baik donghae maupun yoona, tengah menghayati kelakuan kekanak-kanakan yang mereka lakukan sejak tadi.

Donghae kembali duduk ditepi sungai han, begitu pun dengan yoona. Sekarang baju mereka benar-benar basah.

“Bagaimana ini, bajunya basah” Yoona hanya bisa tertawa tawa. Ia pun tak mengerti apa yang membuatnya sebahagia ini.

“biarkan saja, kita bisa pakai jaket “

Yoona memanyunkan bibirnya, sambil melipat kedua lengannya diperut,  “Tapi  aku kedingingan !!”

Donghae memiringkan bibirnya, “Mmm, kau kedinginan?”

Yoona mengangguk.

“Baga…”

Kalimat donghae mendadak terputus. Yoona tiba tiba saja memasukkan tanggannya disela sela lengan Donghae. Dengan bibir dan tangan bergetar kedinginan, Yoona merangkul erat lengan namja yang duduk disampingya.

“Aku kedingingan… “ ucap yoona

Namja itu terlihat heran dan kaget dan malah mematung.

yoona kembali memasang wajah cemberutnya, “kenapa?  Apa tidak suka??”

“A-a aniyo…” Donghae mengigit bibir bawahnya. Ia hanya tertunduk menyunggingkan senyum malu malu.

Ini  memang aneh!!. Tentu saja!!. Mengingat sikap yoona yang selama ini tidak meyukainya. Bahkan hingga saat ini, iapun tak berani menyentuh tangan yoona sama sekali. Ia takut Yeoja itu akan menjauh dan beranggapan buruk tentang dirinya. Misalnya namja mesum atau sejenisnya..

Donghae  berharap perasaan ini akan berlanjut. Ya berlanjut hingga waktu yang sangat lama dan abadi untuk selamanya. Meskipun jika suatu saat karang-karang tajam datang menghadangnya, ia akan siap  menghadapi semua itu berapapun jumlahnya. Selama Yoona ada disampingnya, dan itu pasti

“Tuhan, aku mohon lindungilah yeoja disampingku ini, aku mencintainya, kumohon pada-MU dengan sangat”  Pinta dongahe dalam hati

“Sorry, soryy…”  Suara nyaring ringtone sorry-sorry milik super junior memutus suasana hening diantara mereka. Suara itu bersumber dari ponsel donghae. Ponsel yang ia letakkan didalam  saku jas kerjanya. Sekarang jas itu tengah tergelar diatas batu besar.

Donghae berdecak kesal, “Aishh, siapa lagi yang menelpon !”

Namja itu beranjak dari posisinya. Ia mulai melihat nama sang penelpon. Kemudian segera menekan tombol “Ok”

“Yoboseo, Umma..” Sapa donghae ditelepon.

“Makan malam??”

“Bersiap siap??? Malam ini???”

“Baiklah” donghae lalu memutus sambungan teleponnya. Namja itu pun langsung berlari ketempat yoona. Tepatnya ke tepi sungai.

Yoona mengerutkan kening, “Umma menelpon?”

Donghae mengangguk “emm”

“Yoona kita harus pergi !! umma mengundang kita makan malam !!” Jelas donghae.

Yoona mengamati bajunya yang sedang basah kuyup, “Malam ini?”

Namja dihadapannya tersenyum penuh arti, “Kau tenang saja !!!”

“Apa?”

Donghae menarik tangan kiri yoona, “Kaja !!!”

……………….

Donghae mengerahkan stirnya menuju kesebuah tempat. Tak lama kemudian, ia pun memberhentikan mobilnya tepat dipinggir sebuah butik.

Donghae mematikan mesin mobilnya, “Turunlah..”

Yoona menatap ragu, “Kau gila? Aku basah kuyup..”

“Itulah sebabnya aku membawamu kesini..”

Yoona menghela nafas sambil menimbang sejenak, “Baiklah…”

Dengan langkah gontai, yoona berjalan pelan kearah pintu masuk sebuah butik. Sesekali ia memandangi suasana disampingnya. Mungkin saja ada seseorang yang sedang menatapnya aneh. Yeoja itu mengendus pelan. Melirik namja disampinganya yang berjalan dengan penuh percaya diri.

“Kau tenang saja !!! walaupun basah kuyup, kau tetaplah yang paling menawan ” bisik donghae ditelinga yoona.

Yoona memutar bola matanya sebal. Dibalik itu, dirinya malah tertawa malu dalam hati, “Sudahlah..” ucap yoona kemudian.

Yoona akhirnya masuk keruang ganti. Begitu pun dengan donghae. Namja itu langsung mendapatkan setelan yang menurutnya pas. Kini setelan jas hitam dengan kemeja putih telah melekat ditubuh proposional-nya.

Berbeda dangan yoona.  Berkali kali yeoja itu mencoba mengenakan sebuah gaun. Baik itu dari berbagai warna maupun model. Mulai dari dress merah selutut, gaun hitam dengan kain mengkilap, gaun biru berlian dengan manik didada dan masih banyak lagi.. Semua itu hanya mendapat  gelengan kepala dari donghae.

Yoona memandangi gaun hijau lumut yang melekat ditubuhnya, “Sebenarnya gaun seperti apa yang kau inginkan?”

“Gaun yang kau kenakan itu terlalu sexy” timpal donghae

Donghae mengerutkan kening, “Ah..” ujarnya seolah mendapat pencerahan.

Namja tu lalu melangakah kesudut butik. Ia menunjuk salah satu gaun yang masih melekat pada patung. Gaun yang panjangnya semata kaki. Lengannya menutupi siku. Gaun itu berwarna coklat muda. “Gaun ini sepertinya bagus untukmu?”

Yoona menaikkan alis, “Itu gaun untuk ahjumma, tau?” protes yoona.

Donghae melangkah ketempat yoona sambil menyunggingkan senyum lebarnya, “Biarkan saja…”

Namja itu menatap pelayan yang berdiri disamping yoona sambil menunjuk gaun yang dilihatnya barusan,  “Aku beli gaun yang disana..”

Yoona mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua lengannya didada. Yeoja itu merasa donghae benar-benar menyebalkan. “ Ya sudahlah…” ketus yoona.

Yoona dengan gaun coklat muda-nya pun mulai keluar dari ruang ganti. Ia menatap namja didepannya penuh harap, “Bagus??”

Donghae mengangguk pelan. Kemudian menaikkan kedua jempolnya, “Kau cantik” pujinya. Mendadak wajah yoona memanas.

Namja itu lalu menatap salah satu pelayan, “Agasshi, kudengar butik ini juga membuka riasan, apakah itu benar?”

Pelayan itu mengangguk, “Ne..”

Donghae tersenyum lebar, “Kalau begitu sekalian rias, ‘princess’ yang berdiri didepanku ini.. dan riasanya jangan terlalu menor…”

“Ne..”

Yoona melotot kearah donghae. Ia merasa terganggu dengan sebutan princess. Itu terdengar terlalu bahkan sangat berlebihan. Namja itu sepertinya belum merasakan tinju maut ala Im Yoona.

Donghae hanya menanggapi sikap yoona dengan santainya. Ia hanya memasang senyum lebar kearah yeoja itu. Kemudian membiarkan para pelayan butik membawa sang princess masuk ke-dalam ruang rias.

Namja itu duduk disebuah sofa butik. Ia sedang menunggu yoona yang sekarang tengah dirias. Sangat lama. Ternyata menunggu itu membosankan. Donghae lalu memainkan aplikasi game pada ponselnya. Mungkin saja rasa bosannya akan berkurang.

“Heiii..” sahut seseorang sambil menepuk pundak donghae dari belakang.

Donghae mendengak, berusaha melihat seseorang yang menepuk pundaknya tadi, “Yo-oa..yoona??”

Mendadak donghae tak bisa menggarakkan kepalanya sama sekali. Memalingkan sedetik saja pandangannya dari wajah yoona, itu artinya namja itu telah membuang beribu ribu anugrah dari Tuhan.

Yoona tertunduk malu saat melihat namja yang sedang duduk diatas sofa itu, sedang menatapnya lekat, “Hei, jangan memandangiku seperti itu”

Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya keras, kemudian beranjak dari posisinya.

Dongahe kembali memasang senyumnya “Kaja !!” ucapnya. Ia pun mengandeng tangan yoona menuju meja kasir kemudian berjalan ke-tempat dimana mobil putihnya diparkir.

Sekarang saatnya Yoona dan donghae menuju sebuah restaurant. Tampat dimana umma donghae mengundang mereka berdua makan malam. Umma donghae telah memberitahu alamat tempat pertemuan mereka melalui pesan singkat. Sepertinya tempat itu lumayan dekat dari butik tadi.

Terhitung setelah hari pernikahan, ini pertama kalinya donghae membawa yoona ke-acara keluarga. Yoona terlihat sangat gugup. Wajah yeoja itu mendadak tertunduk lesu.

“Kau tenang saja, jangan gugup…” ucap donghae sembari fokus mengemudi.

Yoona menghela nafas panjang. “Bukan itu masalahnya !!!” batin yoona.

………………………

Donghae dan yoona berjalan beriringan.  Melangkah masuk kedalam sebuah restaurant yang kelihatannya cukup mewah. Kedatangan mereka disambut ramah oleh empat orang pelayan. Masing masing dari mereka berdiri berjejer didekat pintu masuk.

Donghae nampak merogoh ponsel dari saku jasnya. Ia sepertinya tengah sibuk mengutak atik benda itu. Sedangkan yeoja disampingnya terlihat sedang memandangi susana didalam restaurant itu. Restaurant yang perfect menurutnya.

“Yoboseyo umma, aku sudah sampai” ucap donghae ditelepon. Namja itu masih terus mengamati satu  persatu meja direstaurant itu.

Donghae mendengakkan wajahnya seperti hendak mencari sesuatu, “Apa? Meja nomer 5?”

Namja itu terlihat melambaikan tangannya, “Kurasa aku menemukannya”

Donghae menggenggam pergelangan tangan yoona. Ia membawa yoona melangkah menuju kearah sebuah meja. Hingga akhirnya mereka semakin mendekat, yoona bisa melihat umma donghae dan beberapa orang disana sedang duduk melingkar disalah satu meja. Mereka semua berpakaian rapih. Umma donghae mengenakan gaun emas sedangkan dua orang namja yang menemaninya, memakai setelan jas.

Entah mengapa perasaan gugup dalam diri yeoja itu kian bertambah. Terlebih ketika melihat senyum umma donghae yang menurutnya agak mencurigakan. Sinis mungkin. Bukannya berprasangka buruk, yoona hanya merasa senyum itu sangat mengganggunya.

Donghae dan yoona membungkuk memberi salam, “Anyong haseyo”

“Anyong haseyo” Balas mereka serentak.

“Silahkan duduk” ucap nyonya lee mempersilahkan.

Yoona pun duduk tepat disebelah donghae. Juga duduk berhadapan dengan seorang namja. Namja yang sepertinya familiar dalam ingatannya. Yoona yakin jika dirinya pernah bertemu dengan namja itu. Tapi dimana?

Yeoja itu terus memutar otaknya. Berusaha mengingat beberapa peristiwa terdahulu. Ia yakin namja yang sekarang satu meja dengannya dan duduk persis dihadapannya itu, pernah meninggalkan kesan yang buruk. Terbukti, melihat wajahnya saja, membuat dada yoona menyesak.

Yoona memekik sambil bergumam dalam hati, “Bukankah dia?”

Nyonya lee menutup papan menu yang disodorkan salah satu pelayan. Kemudian memilih memesan menu spesial yang ada direstaurant itu, “Aku pesan lima porsi” Katanya yang disambut oleh anggukan patuh dari sang pelayan.

Wanita paruh baya itu kembali menatap yoona dan donghae secara bergantian, “ Oh ya, perkenalkan, mereka adalah anakku.. Nah, yang dihadapanmu adalah Lee sung min, kakak donghae. Sungmin baru tiba dari Amerika jadi kau pasti belum pernah melihatnya, sedangkan yang disamping sungmin adalah Lee tae min, dia adalah adik donghae. Kurasa kau juga sudah mengenalnya bukan?”

Nafas yoona menyempit. Berharap ada seseorang yang bersedia membawanya kabur dari tempat ini sekarang juga. Bagaimana mungkin,  namja yang menganggunya malam itu di teater ternyata adalah sungmin, kakak donghae !! jadi?

Yoona menunduk. Kemudian beralih menatap donghae yang sedang tersenyum padanya. Senyum yang sangat tulus. Andaikan Yoona tidak melihat senyum itu, Ia pasti akan pingsan ditempat ini sekarang juga !

Nyonya lee mulai menatap yoona yang terlihat gelisah, “Yoona-ssi, sepertinya kau tidak nyaman berada disini?”

“aniyoo, bukan seperti itu..”

“Yoona mungkin gugup… iakan?” timpal donghae sambil tersenyum menatap yoona.

Yoona membalas senyum itu lalu mengangguk, “Ne..”

Nyonya lee memiringkan kepalanya, “Bukankah kau memang sering menari-nari diatas panggung? Kurasa hal itu lebih membuat orang gugup dibandingkan dengan menghadiri acara seperti ini”

“Umma, itu berbeda..” sela donghae.

Yeoja paruh baya bergaun emas itu menarik nafas, “Berbeda? Bukankah kasus ini sama? Waktunya pun persis pada malam hari, bedanya ini acara makan sedangkan yeoja itu  menari di tempat urakan, aku benar kan?”

Donghae mendesah, “Sudahlah umma, jangan membahasnya lagi !”

“Kenapa? Apakah ini menyebabkan seseorang ketakutan?” sindirnya.

Demi Tuhan, umma donghae benar benar membuat yoona hampir menangis. Perkataannya tadi sangat menusuk hati. Yoona benar-benar merasa dipermalukan. Terutama didepan donghae..

Umma donghae mulai mengamati wajah menantunya dengan seksama, “Kau sangat pucat? Tenanglah aku tidak akan memakanmu !”

Deg !!! Siapapun, tolong bekap telinga yoona rapat-rapat. Suasana seperti ini sangat mencekik lehernya. Ah, itu lebih baik jika ada seseorang yang bersedia mencekik lehernya sekarang juga. Kemudian ia tumbang dan kehilangan pendengaraannya.

“Ahh, Bukankah club dance dan kehidupan malam disana jauh lebih mengerikan dariku?” ucapnya lagi.

Donghae tiba tiba menepuk meja makan. Meskipun hanya suara tepukan namun,  hal itu cukup mengagetkan orang-orang sekitar, “Umma cukup !!! aku bilang ganti topik pembicaraan !!!”

Nyonya lee  berdecak ketakutan. Ia pun segera berkacak pinggang, “Yasudah…” ucapanya dengan suara bergetar, “Sekarang bagaimana kabar Umma dan Appamu?” tanyanya kemudian.

Yoona menghela nafas pasrah, “Mereka, baik..” jawabnya..

“Oh, baguslah..” ucapnya sinis

Mendadak suasana tampak hening. Tak ada suara-suara dari mereka. Ini terasa seperti perang dingin. Yoona hanya menatap orang orang disekitarnya secara bergantian. Donghae sepertinya masih berkelut dengan emosinya. Nyonya lee terlihat mengalihkan pandangannya keawan awan. Taemin sibuk dengan handphonnya sedangkan orang itu, sungmin, sibuk memperhatikan yoona. Risih sekali rasanya.

“Ini pesanannya..” kata salah seorang pelayan, membuyarkan lamunan yoona.

Terlihat pelayan itu sedang mendorong makanan diatas troli aluminium. Kemudian mulai menata makanan serta beberapa minuman diatas meja. Makanan yang berupa stick daging barbeque. Sangat enak sepertinya. Sayangnya saat ini yoona sedang kehilangan nafsu makan.

“Selamat menikmati” ucap sang pelayan kemudian beranjak meninggalkan keluarga Lee.

Nyonya lee beralih menatap makanannya, “Makanan disini sangat enak bukan?” Katanya sembari mulai menikmati hidangan dihadapannya.

“Ayo kalian cicipi” sambungnya.

Suasana terasa hening. Tak terdengar suara percakapan. Mungkin karena saat ini mereka masih sibuk menikmati hidangan masing-masing. Yoona sesekali melirik kearah namja didepannya. Namja yang bernama sungmin. Sepertinya kakak donghae itu,  juga melakukan hal yang sama. Ia pun tampak melirik yoona.

Nyonya lee berdehem, “Oh ya,  yoona-ssi, bagaimana keadaanmu setelah kejadian itu?”

“Umma..” Sela donghae.

Ummanya menghela nafas, “Aku hanya menanyakan keadaannya? Apakah itu salah?” ucapnya membuat donghae membisu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kembali.

Yoona mendelik, mendadak perasaan gusar menerpa dirinya, “Ne?” gumamnya.

Perasaan donghae mulai memanas. Bagaimana mungkin ummanya terus mengungkit masalah itu? Bahkan diacara seperti ini ! Namja itu kemudian memandang yeoja disampingnya. Mungkin pertanyaan ummanya tadi membuat ia merasa tak nyaman.

“Maksudku setelah kejadian malam itu,  dimana?? Kalau tidak salah di teater bukan?” ucap nyonya lee sambil mengingat-ingat.

Yoona tertawa hambar. Ternyata apa yang dihawatirkannya, benar terjadi “oh itu…”

“Masa kau lupa? Secepat itukah kau melupakannya?” timpalnya agak sinis

Tangan yoona terlihat segikit bergetar, “Aniyoo, aku ingat dan.. A-aku b-ba..ik baik sa-ja” Jawab yoona dalam keraguan.

Donghae menatap yoona. Berusaha meyakinkan dirinya jika yeoja itu baik-baik saja, “Gwencana?” tanya namja itu, lalu  segera dibalas dengan anggukan pelan oleh yoona.

Nyonya lee kemudian menyela, “Donghae-ssi, bukankah kau yang harusnya bertanya pada diri-mu sendiri? Apakah kau baik-baik saja? kau tahu? Ulahnya itu menyebabkan banyak rumor tentangmu berkeliaran diluar sana !”

“Umma, aku lelah !  kita ganti topik pembicaraan” timpal donghae.

Nyonya lee mengendus pelan sambil menatap sinis yeoja disamping anaknya, “Jangan bersembunyi dibalik tembok” sindirnya.

“Uhuk..uhukk..” Yoona menutupi mulutnya yang tersedak.

“Yoona-ah..” ucap donghae hawatir.

“Aku ke kamar kecil , permisi..”  sela yoona kemudian bangkit dari tempat duduknya.

Donghae ikut berdiri. Namun langkahnya terhenti, saat yoona mengelangkan kepalanya pelan. Hendak memberikan namja itu sebuah isyarat agar tidak mengikutinya. Donghae akhirnya menurut dan kembali duduk pada posisi semula. Matanya tak berhenti menatap yoona yang sedang melangkah ke belakang. Hingga akhirnya, iapun melihat ukiran punggung yeoja itu semakin memudar.

Dengan langkah tak beraturan, yoona menuju westafel kamar mandi. Yeoja itu kemudian melihat wajahnya pada cemin diatas westafel. Sangat pucat. Riasan yang menghiasi wajahnya perlahan mulai luntur. Digantikan oleh butiran bening yang mulai keluar dari peraduannya. Secepatnya, yeoja itu menyeka air matanya. Menyeka-nya dengan tissue disamping cermin.

“Apa ini? Aku menangis??”

Yoona menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dibuangnya dengan perlahan. Yeoja itu mulai memantapkan kakinya untuk melangkah kembali kemeja itu. Satu demi satu langkah terlewati. Langkah yang sepertinya agak ragu untuk digerakkan. Keraguan yang menyebabkan perasaannya menjadi kacau. Perasaan kacau itu kian bertambah ketika yeoja itu merasa seseorang tengah mengamatinya dari dekat. Siapa dia? Batin yoona.

Langkah yeoja itu terhenti ketika merasa seseorang yang entah siapa, tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya erat. Seseorang itu kemudian menarik yoona kebelakang. Hingga yeoja itu merasa punggungnya tengah membentur sebuah tembok putih.

Yoona menatap tajam seseorang yang membekapnya ketembok, “Kau?”

Seseorang yang ternyata adalah seorang namja itu tersenyum menyeringai, “Wae? Kau kaget?”

“Sungmin-ssi, mau apa kau?” timpal yoona.

“Aku? Hanya ingin memperingatkamu !” ucapnya tegas.

Yoona terkekeh pelan, “Memperingatkanku? Lucu sekali..”

Sungmin mengangkat alis kemudian mendorong kening yoona dengan jari telunjuknya, “Kepalamu ini apa isi-nya…”

“Yakk, singkirkan tanganmu..” perintah yoona sambil menepis tangan sungmin.

Namja itu menatap tangannya yang baru saja tertepis kemudian beralih menatap lekat yeoja didepannya, “Dengar bodoh ! aku peringatkan, jangan sekali kali mengatakan pada donghae tentang malam itu, jika tidak?”

Yoona memalingkan pandangannya sekilas, “Wae? Kau takut?” ucapnya dengan nada meremehkan.

Sungmin terkekeh sinis, “Untuk apa aku takut dengan anak ingusan? Aku hanya tak ingin ada keributan ! kau tahu? keributan sangat menganggu eksistensiku sebagai pewaris group lee !”

“Kalau begitu biarkan aku merusak eksistensi itu…” timpal yoona.

“Heii, nona manis, kau ingin kejadian di teater terulang kembali?” ancamnya sambil mendorong keras pipi yoona dengan jari telunjuknya.

Yoona menggelengkan kepalanya keras, “Jangan sekali-kali menyentuhku !”

Sungmin melebarkan matanya, “Kalau begitu jangan coba-coba melakukan hal bodoh atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih dari ini”

Yoona terdiam sejenak kemudian tersenyum hambar kearah namja itu, “Aku tidak takut..” katanya, lalu menggigit bibir bawahnya kuat kuat.

“AWWWW” Pekik sungmin saat merasakan sakit pada dengkulnya.

“Rasakan itu !!” balas yoona setelah menendang dengkul namja didepannya.

Sungmin meringis kesakitan. Namja itu mengusap-usap dengkulnya yang baru saja terkena tendangan yoona. Sangat sakit rasanya. Yeoja yang nekad, ternyata.

“Jangan coba-coba berbuat seperti itu lagi padaku, mengerti ??” tegas yoona.

Yeoja itu lantas beranjak meninggalkan sungmin. Ia berjalan ketempat dimana donghae berada. Sesaat kemudian langkahnya pun terhenti tepat disamping meja nomer lima. Segera ia mendudukan tubuhnya kesalah satu bangku disamping donghae. Bangku yang tadinya ia duduki.

Yoona menghela nafas, “Oppa, bukankah sebaiknya kita pulang?” tawarnya tanpa basa basi.

Donghae mengerutkan kening, “Kau ingin pulang?” tanyanya, kemudian segera dibalas dengan aggukan mantap dari yoona.

Namja itu menatap nyonya lee, ummanya. Nyonya lee menyambut tatapan itu dengan senyum miris. Mendadak perasaan namja itu menjadi tak nyaman. Mungkin ummanya merasa permintaan yoona untuk pulang, terlalu mendadak. Namun donghae juga tak tega membiarkan yoona diselimuti perasaan resah yang berkepanjangan.  Donghae merasa ummanya itu masih marah dengan kejadian di teater malam itu.

“Umma, kami pamit pulang dulu” Ucap donghae akhirnya.

Nyonya lee menarik nafas panjang, “Baiklah kau pulang saja, cepat ikuti permintaan istri-mu sebelum ia mual mual” ujarnya sinis.

“Umma..” panggil donghae menenangkan.

Tatapan nyonya lee teralihkan pada yoona. “ya sudah kalian pulanglah ! suasana makan malamnya juga sudah rusak..”

Donghae mendesah pelan kemudian menatap yoona sekilas “Baiklah kami pamit dulu” ucapnya.

Yoona yang mengetahui isyarat dari tatapan donghae, kemudian ikut berdiri disamping namja itu, “Umma kami pulang, selamat malam”

“Ya ya ya, pergilah” acuh nyonya lee,

Donghae dan yoona dengan serempak, membungkuk memberi salam. Setelah itu, mereka berdua pun melangkah kearah pintu keluar. Donghae lalu mengenggam tangan yoona erat. Ia masih berusaha menenangkan yeoja itu. tangan yoona begitu dingin. Mungkinkah ia terlalu gugup?

………………………

Yoona berdiri ditepi jalan didepan restaurant. Yeoja itu sedang menunggu donghae yang sedang mengambil mobilnya diparkiran. Lama sekali. Yoona sangat benci menunggu. Tidak di saat-saat seperti ini. Menunggu membuat pikirannya kosong. Kekosongan itu membuat otaknya harus memutar ulang kejadian tidak mengenakkan barusan.

Tatapan kosong yoona teralihkan ketika merasa kilauan cahanya mobil tengah menyorotnya. Yeoja itu menyipitkan matanya. Ternyata seseorang dengan mobil putih yang dinantinya telah muncul. Ia tersenyum datar, kemudian beranjak masuk ketempat duduk penumpang samping kemudi, pada mobil itu.

Yoona memasang sabuk pengamannya. Setelah akhirnya kembali bergulat dengan pikirannya sendiri.

“Yoona-ah, gwencana?” tanya donghae sambil fokus mengemudi.

“Ne..” jawabnya singkat.

Donghae mengigit bibir bawahnya, namja itu sedang menimbang-nimbang pertanyannya, “Kau marah pada ummaku?”

Hati yoona kembali bergetar. Ia selalu seperti itu jika mengingat hal buruk, “Aku marah? Tentu saja ! Apakah umma tidak suka aku berdance?”

“Bukan begitu, mungkin ini karena saat di acara dance, mmm.. sesuatu terjadi…”

“Mianhe, tapi kejadian itu bukan sepenuhnya salahku.. ini semua karena  namja itu mengangguku, kalau bukan karena su…” Ungkap yoona namun terputus ditengah jalan.

Yeoja itu memukul-mukul bibirnya pelan. Hampir saja ! Jangan sampai donghae mengetahui hal ini. Kenyataan bahwa saat itu, sungmin lah yang menganggunya. Yoona merasa sepertinya donghae bukanlah tipe namja yang mudah mengendalikan emosinya. Bisa-bisa pertengkaran serupa seperti saat dengan appanya, kembali terulang.

“Su..?” sela donghae tiba tiba.

Yoona terus menyusun kata-kata diotak-nya, “Ah itu, anu..”

Donghae terlihat sedang berpikir keras, “Namja yang menganggumu? Siapa? Kau kenal?”

“Bukan itu, maksudku banyak namja yang iseng padaku, aku ingin berteriak namun saat itu su, maksudku suaraku sedang serak..” Ungkap yoona mengeluarkan alasan konyolnya.

Namja itu mengangkat sebelah alisnya. Ia masih bertanya-nyata tentang alasan yoona barusan. Alasan yang terdengar aneh, mungkin.

“Ah maksudku aku ingin mengeluarkan suara terpendam-ku sekarang juga.. AKU INGIN BERTERIAK SEKENCANG-KENCANGNYAA…”  ucapnya dengan nada membara. Kali ini yoona merasa benar-benar tersudut.

Donghae  berdecak kaget. Hampir saja mobilnya menyenggol trotoar, “Yoona-ah kau kenapa?”

Yoona memanyunkan bibirnya, “Habisnya, kau kelihatan tidak percaya dengan ucapanku”

Donghae menghela nafas, “Yasudah, mianhe, sekarang aku percaya…” ucapnya menyerah.

Pandangan yoona menyamping, beralih menatap suasana gelap diluar sana, “Tetap saja, hueee” ketusnya.

Donghae akhirnya terdiam. Membiarkan yeoja disampingnya larut dalam kekesalan. Jujur, ia masih tidak mengerti dengan maksud dari ucapan yoona. Ucapan yeoja itu terdengar agak ngelantur.  Mungkin ini efek dari tekanan batin yang dialami yoona. Karena sikap ummanya? Atau ada yang ia sembunyikan? Entahlah !

Sejenak suasana didalam mobil menjadi hening. Yoona masih melihat pemandangan gelap dari kaca pintu mobil, disampingnya.  Sedangkan donghae sedang menatap lurus kedepan. Keduanya sesekali melirik satu sama lain. Donghae melirik yoona begitu pun sebaliknya. Namun segera teralihkan saat mata mereka benar-benar saling bertemu. Hal yang sukses  membuat keduanya mendadak salah tingkah.

Yoona menghela nafas, “Fokuslah menyetir” sindirnya.

Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai donghae akhirnya sampai didepan sebuah aprtemen. Apartemen yang belakangan ini  mereka tempati. Tempat tinggal yang tidak terlalu mewah. Bisa dikatakan cukup sederhana.

Mobil  putih itu terus berjalan. Hingga akhirnya berhenti di suatu tempat. Tempat itu adalah parkiran apartemen. Merasa mobil sudah berhenti, yoona dengan segera melepas sabuk pengaman yang melilit ditubuhnya.

“Sudah sampai” ucap donghae.

Yoona hanya menyambut ucapan donghae dengan tatapan dingin. Entah mengapa, yeoja itu benar-benar ingin berteriak sekencang-kencangnya sekarang juga. Membiakan suara kekesalannya terbuang melayang diudara.

“Kau masuk saja dulu, aku ingin pergi kesuatu tempat” timpal yoona tiba-tiba.

Donghae mengerutkan kening, “Kau mau kemana malam-malam begini?”

“Tenanglah, bukan mau ketempat yang aneh-aneh” ucap yoona datar.

Tangan donghae memegang pundak yeoja didepannya sembari menatapnya lekat, “Kau masih marah padaku?”

“Aku? Untuk apa marah? Aku hanya ingin mengeluarkan kekesalan yang menumpuk diotak dan hatiku” ungkap yoona.

“Dengan menuju kesuatu tempat? Kemana?” tanya donghae kembali.

Yoona menaikkan bola matanya keatas sambil mengarahkan jari telunjuknya mengikuti arah matanya,  “Keatas…”

Mata donghae mengikuti arah jari telunjuk yoona, “Keatas? Balkon maksudmu?”

Yoona mengangguk mantap.

……………………

“AAAAAAAAAAAA”  Yoona menjerit sekencang kencangnya dari atas balkon.

“Yoona-ah, bagaimana jika ada orang yang merasa terganggu..”

Yoona menatap namja yang berdiri disampingnya, “Tidak akan ada yang terganggu ! sekitar lantai ini kosong ! jadi tenanglah..”

Donghae bersiap menutup kedua telinganya erat. Yoona kelihatan mulai bersiap meneriakkan sesuatu.  Namja itu hawatir. Ia takut orang orang akan merasa terganggu dengan teriakan yoona. Mengingat hari sudah sangat larut.

“HEIIIII…SIAPAPUUNNN, KAU MENDENGARKUUUUUU…” teriak yoona diantara kegelapan malam.

“Aku sangat mendengarmu…” timpal donghae.

Mendengar itu, yoona langsung menancapkan tatapan horornya kearah donghae. Membuat namja itu terdiam seribu bahasa.

“TOLOONGGGG AKUUUUU…. AKU TAK INGIN SEPERTI INI …. TUHANN TOLONGG !!!” Teriaknya lagi..

Donghae tiba tiba memekik, “AWWW, aww sakit, ampun, ampun !!!!”

Seorang nenek terlihat sedang memegang sapu dan memukul namja itu dengan sapunya, “Rasakan itu, heh, dasar namja hidung belang !! berani beraninya menganggu seorang yeoja ditengah malam seperti ini, huh rasakan ini” Ucapnya sambil terus menghentakkan sapu ketubuh donghae tanpa ampun.

“Ampun, nek…. aku bukan namja hidung belang, aww, aww..” Pekiknya sambil meringis kesakitan sedangkan sang nenek masih menghantamkan sapu ketubuhnya bertubi-tubi.

Dengan sekuat tenaga, namja itu melindungi kepalanya dari pukulan sang nenek. Ia menahan hantaman sapu itu dengan kedua punggung tangannya, “Nenek salah paham !!! bukan begitu… aww “ sahutnya kesakitan.

Yoona melangkah cepat. Segera ia menahan tangan sang nenek yang akan menghantam donghae dengan sapu. Menghantam sekali lagi dan terus menerus, “Sudah nek, dia bukan namja hidung belang !!!”

“Apa? Bukan katamu?? Jelas-jelas kau tadi meminta tolong !!” jawab nenek itu tak mau kalah.

Kali ini tangan yoona menggenggam erat tangan nenek yang sedang memukuli donghae, “Hentikan nek, aku baik-baik saja” lerai yoona.

Sang nenek akhirnya menyerah. Ia melepaskan sapu yang tergenggam ditangannya.Sambil bernafas terengah-engah, nenek itu mendekat kearah yoona, “Benar kau baik-baik saja?”

Yoona mengangguk lemah, “Aku baik baik saja, nenek tak perlu hawatir..”

“Owwh, kenapa ada yeoja cantik sepertimu yang berkeliaran ditengah malam seperti ini, omo!!” Katanya sambil mengelus pipi yoona.

Donghae bangkit sambil memegagi punggungnya yang sakit. Pundak dan kakinya pun terasa gilu. Pukulan tadi cukup keras menghantam tubuhnya. Kini lukanya bertambah sudah. Belum kering lukanya karena menghadapi para berandal. Sekarang malah bertambah karena pukulan sang nenek.

“Nenek sedang apa malam malam begini?” tanya yoona.

Nenek itu terseyum malu, “Ah, itu mmm .. aku hanya ingin bernostalgia.. tapi kumohon jangan beritahu cucuku.. yah yahh”

Yoona berpikir sejenak, “Oke baiklah..” ucapnya. Meskipun yeoja itu tak mengenal cucu yang dimaksud sang nenek.

“He hehe he, kau sangat cantik” Puji nenek itu, kemudian beralih menatap donghae, “Dan kau? Jangan sekali kali menganggu yeoja..”

Donghae baru saja ingin menimpali, namun yoona tiba-tiba menahannya, “Dia Namja baik kok.. sekarang kami pamit dulu, jaga diri nenek baik-baik” Katanya sambil membungkuk 90 derajat. Kemudian beranjak menuju apartemannya.

…………………..

Di depan lift, Yoona  kelihatan sedang tertawa terpingkal-pingkal. Yeoja itu mulai memegangi perutnya yang sakit. Kejadian saat seorang nenek memukuli donghae, sungguh sangat meninggalkan kesan yang mendalam.  Peristiwa itu benar-benar konyol.

Donghae menatap yoona dengan sebelah mata, “Tertawalah sepuasnya…”

“Mian.. hehehe  wkwk..” katanya sambil berusaha menghentikan tawanya. Namun percuma saja, yeoja itu masih terus tertawa.

“Sudahlah..” acuh donghae kemudian masuk kedalam lift yang mulai terbuka.

Yoona menelan ludah, “Tapi kau lucu,,, hehehehahaha” tawanya sambil ikut melangkah masuk kedalam lift.

Yoona terus berjalan mengikuti donghae dari belakang, kemudian masuk kedalam sebuah apartemen. Dengan masih tertawa-tawa, tentunya. Bahkan suara tertawaannya semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai kedua kakinya seakan sudah tak kuat lagi memopang tubuhnya yang bergetar. Yoona berjalan terbata-bata sambil meraba-raba permukaan tembok apartemennya. Yeoja itu masih saja memegangi perutnya yang mulai nyeri karena tertawaan, “Ha haha he hah” tawanya.

Donghae memegangi telingaya yang terasa sakit, “Mau sampai kapan kau tertawa?”

“Ah ahkhu… ttiddak bhisa brhenti hahahahha” jawab yoona dalam tawanya.

Yeoja itu kenapa si? Selucu itukah? Padahal tadinya ia kelihatan sedih ! Apakah orang yang sedang tertekan akan bertingkah seperti ini?

Donghae mulai memikirkan cara agar yeoja didepannya itu berhenti tertawa. Satu persatu sisitem saraf-nya mulai memproses. Dan, bingo !!! sebuah ide cemerlang terbersit diotaknya. Dengan segera namja itu mulai melangkahkan kakinya mendekat ketempat yoona berada.

“Yoona-ah” panggil donghae yang semakin mendekat..

Yeoja itu terlihat sedang menyenderkan tubuhnya yang lemas dipermukaan tembok. Ia masih tertawa terbahak-bahak sambil menutupi wajahnya yang mulai memerah, “Ehhh”

Donghae kini berdiri tepat didepan yoona. Dengan segera kedua tangannya mengenggam pundak yoona. Hendak membuat yeoja itu untuk berdiri tegak, “Yoona-ah” panggilnya lagi sambil menatap lekat.

Yoona yang menyadari tatapan lekat donghae pun perlahan mulai menghentikan tawanya, “He..hee..hh.. hmm”

Yeoja itu berusaha menelan ludah, “Kau mau apa?”

Donghae mendekatkan wajahnya ketelinga yoona, “Membuatmu berhenti tertawa..” bisiknya.

“Apa?” gumamnya sambil membulatkan matanya lebar lebar.

Apa ini? Yoona merasakan detak jantungnya mulai amburadul. Suara detakan itu terasa sangat keras. Namun yoona yakin namja itu tak bisa mendengarnya. Sekarang hembusan sempit nafas yoona terdengar lebih keras dari detak jantungnya.

Dengan sekuat tenaga yoona menahan nafasnya. Hembusan itu mulai terasa. Bukan dari mulut yoona,melainkan dari seseorang didepannya. Ya tuhan !!!  Yeoja itu merasa wajah donghae semakin mendekat. Hingga wajah mereka hanya berjarak sesenti.

Perlahan yoona memejamkan matanya rapat- rapat. Ia mulai merasakan hembusan nafas yang semakin mendekat.  Apa sebenarnya yang kutunggu? Batin yoona. Beberapa detik setelah itu, ia merasa ada keanehan… Harusnya sekarang, ada sesuatu yang menyentuhnya…

“Yoona-ah, kenapa menutup mata?” Tanya seseorang. Seseorang yang diyakini-nya adalah, donghae. Jadi?

Yoona  masih membisu. Mendadak bibirnya sangat kaku untuk digerakkan, “Hhh..?”

Yeoja itu lekas membuka kedua matanya. Terlihat donghae sedang memiringkan kepalanya sambil menatap bingung. Juga menampakkan wajah innocence-nya. Sungguh menyebalkan !!! Berani-berani-nya dia mempermainkan seorang yeoja. Huhh, awas saja ! tunggu sampai anggota tubuh yoona bekerja seperti semula.

Donghae tersenyum sambil memperlihatkan gigi putihnya, “Kau baik baik saja?” Tanyanya sambil terus mengamati yeoja yang  tengah berdiri mematung didepanya.

Yoona menatap namja didepannya dengan tatapan pembunuh, kemudian mengigit bibirnya keras, “EKHh”

“AWWWwww” Pekik donghae untuk kesekian kalinya, sambil memegangi dengkulnya yang sakit.

“Rasakan itu..!! hufftt” gertak yoona sambil meniup ubun-ubunnya.

Sepasang kaki yoona beranjak meninggalkan namja yang tangah meringis kesakitan sambil memegangi dengkulnya.  Ia melangkah masuk kedalam kamarnya. Sesampainya disana, yeoja itu langsung membanting pintu kamarnya. Hingga suara bantingan itu, terdengar

seperti  halnya rumah yang sedang amburuk  karena gempa bumi.

Bukannya merasa bersalah, donghae malah tersenyum senang. Entah mengapa ekspresi wajah yoona barusan sangat membekas dalam ingatannya. Sangat lucu, atau konyol?

Namja itu lalu melangkahkan kakinya yang masih ngilu, menuju kamar yoona. Sepertinya ia harus meminta maaf, sebelum yoona bertambah sebal.

“Yoon-ah” panggilnya setelah sampai didepan pintu kamar yoona.

Donghae mencoba mengetuk pintu sambil menempelkan telinga kirinya didepan pintu itu, “Yoona-ah. Mianhae..”

“Kau marah?? Mianhae..” ucapnya terus, meskipun seseorang didalam tak menggubrisnya sama sekali.

Donghae menghela nafas panjang, “Baiklah aku pergi.., aku pergi ya.. mianhe yoona-ah…”

“Aku pergi, sudah pergi…” Katanya lagi..

Hentakan jari tangan yoona menari nari diatas kasur. Jari-jari tangannya itu tak henti hentinya bergerak. Menari-nari mengikuti perasaan gelisah dalam diri yoona. Yeoja itu masih saja melamun kesal. Malam ini yoona benar-benar kehilangan jam istirahatnya.  Bukankah ia benar-benar bodoh? Membiarkan namja sialan itu membohonginya ! sungguh keterlaluan !!

Sekarang namja itu malah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Jangan harap dirinya akan membukakan pintu itu. Tidak untuk sekarang. Tapi entahlah untuk beberapa jam, menit bahkan detik kedepan.

Yoona menggigit bibir bawahnya. Yeoja itu sedang menimbang-nimbang sikap-nya kemudian. Suara namja itu sudah menghilang dari jangkauan pendengaraannya. Apakah dia memang sudah pergi? Secepat itukah? Huftt dasar !

Dengan hentakan keras, yoona melangkah kearah pintu kamarnya. Perlahan yeoja itu mulai menempelkan telinga kanannya ke-permukaan pintu. Hanya ada suara hampa. Kosong.

Yoona mendengus pelan. Sebenarnya namja itu benar-benar serius meminta maaf, tidak sih? Bahkan ini baru lima menit! Tapi suaranya sudah menghilang…

Yoona menarik gagang pintu kamarnya asal. Mata yeoja itu tiba-tiba membulat lebar, “Hh,..”

Donghae mencoba menahan pintu yang akan ditutup yeoja itu kembali, “Yoona-ah jangan ditutup..!!”

Selagi donghae menahan pintu dari luar, yoona malah ikut mendorong pintu itu dari baliknya. Saling dorong-mendorong pun terjadi.

“Yoona- ah, menyerah saja ! kau tak akan menang melawan namja !” Ucapnya sambil terus mendorong pintu itu.

Yoona tak juga menghentikan aksinya. Didetik-detik terakhir, donghae lalu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Akhirnya, yeoja itu pun menyerah. Ia perlahan mulai  melepaskan kedua tangannya dari balik pintu.

Yoona menundukkan wajah kesalnya, “Apa maumu?”

“Aku?” Katanya…

Donghae melangkahkan kakinya mendekat. Semakin mendekat ketempat yoona berdiri. Yeoja itu masih membelakakkan matanya. Hingga punggung-nya membentur permukaan tembok.

“Mau a-pa?” tanyanya dengan nafas sesanggukan.

Donghae terlihat sedang berfikir, “Mewujudkan keinginanmu” ucapanya lembut sambil kembali mendekatkan wajahnya.

“Apa?”

~CHU~

Waktu pun terhenti ketika perlahan tapi pasti donghae mencium bibir yoona. Bibir yoona  dan bibir namja itu kini menyatu. Membuat sengatan listrik mengalir bebas. Donghae makin mempererat ciumannya. Melumat bibir bawah yoona semakin dalam. Hingga dagu yeoja itu terangkat keatas.

Merasa  yoona membalas ciuman itu, darah donghae semakin mendesir deras. Mengalirkan rasa hangat di tubuhnya. Mengalirkan harum mawar dari lipgloss yang di pakai yeoja itu. Bibir mereka masih menyatu untuk beberapa lama. Hingga didetik-detik terakhir, saat  namja itu merasakan  tubuh-nya melemas. Melemas karena aliran darah yang terhenti.

Donghae melepas ciumannya pelahan. Ia kembali melumat bibirnya yang basah. Kemudian menatap yeoja didepannya lekat, “Kau masih marah padaku?” tanyanya lembut, bahkan suaranya terdengar seperti berbisik.

Yoona menggeleng pelan sambil tertunduk, menyunggingkan senyum malu malu, “Entahlah”

Donghae mengangkat alisnya, “Entahlah?”

Namja itu terdiam sejenak, “Baiklah, akan kuselesaikan !!”

“Apa?”

“Menurutmu?” katanya, lalu menutup pintu disamping mereka.

Yoona membelakakkan matanya. Ia merasa tubuhnya terangkat. Benar saja, donghae membopong dirinya menuju kesuatu tempat. Tempat yang empuk, sepertinya.

“Yoona-ah, saranghae…” bisiknya didekat pipi yoona yang mulai merah merona. Daaaaan.. apakah yang terjadi?……………( silahkan ditebak sendiri :-p )

……………………….

Donghae mengerjap-erjapkan matanya pelan. Namja itu mendengakkan wajahnya yang masih dalam posisi tengkurap dan menempel pada bantal. Kemudian mengarahkan penglihatan samarnya  kearah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 07.00. Sudah pagi rupanya.

Tangan donghae mulai meraba-raba sesuatu disampingnya. Sudah kosong. Dimana yoona? Pikirnya. Sepasang kakinya lalu mulai berpijak. Dilihatnya sebuah baju yang berserakan dilantai. Bukankah itu bajunya? Namja itu dengan cepat mengambil kemeja yang berserakan tersebut kemudian memakainya segera. Dengan langkai gontai, ia  melangkah keluar dari ruangan yang dipakainya untuk beristirat semalam. Melangkah menuju ruang tengah.

“Kau sudah bangun?”

Terdengar suara lembut seseorang. Jelas suara itu  pastilah, yoona. Yeoja itu  terlihat sedang menyiapkan sarapan diatas meja makan. Melihat pemandangan indah itu, senyum donghae langsung merekah.

Donghae lalu memeluk pundak  malaikatnya dari belakang, “Selamat pagi” katanya.

Yoona menanggapi pelukan itu dengan senyuman, “Hei, kau tidak liat? Aku sedang membawa makanan tau…”

Namja itu memopang dagunya diatas pundak yoona,  “Aku mengganggumu ???”

Yoona memasang wajah tampak seperti sedang berpikir keras, “Mmmmmm, sepertinya..”

“Cepatlah sarapan, nanti makanannya dingin…” Timpal yoona membuat donghae, terpaksa melepaskan pelukannya dan beralih duduk dimeja makan.

Donghae mulai menikmati sarapan yang dibuatkan yoona untuknya. Dengan cepat namja itu melahap semuanya. Makanan yang dibuat yoona, benar-benar  membuat perutnya selalu  berteriak histeris. Keroncongan tepatnya.

“Hei, yoona-ah, kau juga harus makan.. Kenapa terus memandangiku” sela donghae saat menyadari yoona terus menatapnya lekat.

Yeoja itu mengerucutkan bibir, “Aku juga sedang makan tau..” ucapnnya lalu tersenyum.

Beberapa menit kemudian, donghae dan yoona akhirnya selesai dengan makanannya. Mereka berdua lalu membereskan perabot sarapan, melap meja dan menyapu lantai. Semua pekerjaan itu dilakukannya bersama sama.

Kini, donghae tengah bersiap-siap menuju nerakanya, maksudnya adalah kantornnya. Sedangkan Yoona tengah bersiap siap menuju kampusnya.

Setelah selesai mengenakan kemeja yang disiapkan yoona, donghae melangkahkan kakinya menuju kearah pintu. Sangat malas rasanya. Apalagi jika namja itu mengingat wajah appanya.

“Hati hati..” Ucap yoona yang mengantarnya sampai kepintu.

Donghae mengangkat ibu jarinya, “Oke boss”

Yoona terlihat menahan senyumnya yang kembali merekah. Yeoja itu kembali tertunduk malu.

“Jaga dirimu..” Pesannya kemudian mencium kening yoona.

Wajah yoona mulai merona. Dengan cepat ia menutupi wajah itu dengan kedua telapak tangannya, “Kenapa masih disini?”

Donghae menghela nafas,“Baiklah, baiklah, aku pergi.. bye bye chagi..” katanya lalu menghilang dari balik pintu.

Setelah donghae berangkat  menuju kantornya, yoona kembali bersiap-siap  ke kampus. Hingga akhirnya, yeoja itu pun beranjak pergi meninggalkan apartemennya.

………….

Dikantornya,  donghae sedang memeriksa sebuah berkas yang terbungkus didalam map biru. Berkas yang sangat mencurigakan. Dengan serius, namja itu mengamati dan mempelajari detail tulisan disetiap lembarnya. Aneh? Kesimpulan itu terpikir dibenaknya.

Bukankah perusahaan group kang adalah perusahaan yang hampir bangkrut? Kenapa data- data disini sangat bertolak belakang? Nilai saham tinggi? Apa ini? Keuangan stabil? Donghae mengerutkan kening. Mencoba menganalisa setiap data yang menurutnya sangat bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Ini palsu bukan?

Donghae merasa data yang menurutnya palsu itu, tak menampakkan sedikit pun kejanggalan. Namun namja itu sangat tau persis keadaan group kang. Ia sangat kenal dengan pihak  internal group itu. Ah, bukankah harusnya ia menelpon salah satunya?

“Yoboseyo” Sapa donghae ditelepon

“Ini dengan group kang?”

“Aku lee donghae, mmm.. bisakah kau sambungkan telepon ini dengan tuan park?”

Donghae mengerutkan kening, “Mwo? Dipecat?”

“Kalau begitu, bisakah kau sambungkan dengan tuan Kwon?”

Namja itu membulatkan matanya, “Dipecat juga ! hei !!! kenapa semuanya dipecat??”

“Apa? Karyawan lama dipecat??? Yasudah..” Katanya lalu segera memutus sambungan teleponnya.

Sial!! Apakah ini pekerjaan appanya ?. Mengapa semua orang yang ia kenal sudah dipecat. Atau mungkin appa…??

…………………..To be continued………………………

Makasih udah baca !!!

Jangan lupa RCL yaww :-)

Dadahhhh…

43 thoughts on “SuGen FF YoonHae – Why I Hate You (Part 3)

    • nanashafiyah berkata:

      iyah Yoonhae bakalan lanjut kok chingu..bahkan untuk kehidupan nyata..hehe😀
      doain ajjah ya semoga kehidupan yoonhae bahagia dan happy ending nantinya…^_^
      makasih udah baca + komen

  1. Marzha berkata:

    Kyaaaa… Omona.. YoonHae so sweet.. Yoonhae romantis banget.. Ehehehe.
    Senyum terus baca nie cerita..

    Ayo dong, tinggal yoona yg belum bilang saranghae ke donghae oppa.. Aku harap appa nya donghae gagal nyakitin keluarga yoong unnie.. Happy ending ya chingu..
    Yoonhae firever. Yoonhae jjang..
    part selanjutnya ditunggu yah, jangan lama-lama chingu.. Ehehehe.
    Keep writing.. Fighting..^^

    • nanashafiyah berkata:

      wahh benarkah chingu ?? wkwkwkwkw
      Yoona unni mungkin terlalu jual mahal buat ngungkapin itu ke donghae oppa…#maklum cewek…hehehe🙂 tp ungkapan itu bisa diliat dari tingkahnya yoona unni kok…^_^
      Kita doakan yahh supaya rencana appa donghae gagal dan happy ending nantinya…
      ok chingu, jangan bosan buat nunggu yahh
      makasih udah baca + komen..~fighting balik buat marzha..^_^

  2. jungseya berkata:

    huuaaa yoonhae so sweet bgttt .. hihi
    lanjutin nya jgn lama2 ya author ..
    aku tunggu looohh *kedip2 mata*
    semangatt !!

  3. Anjvee berkata:

    Yoonhaeeee ><
    Akhirnya hati yoona uda mulai luluh
    Ceritanya ffnya bagus,ayo dong makin romantis yoonhae-nya^^
    Lanjut ya author🙂

    • nanashafiyah berkata:

      yeess !! ada yg bilang ceritanya bagus….^_^
      ok..doain aja yahh chingu supaya Author bikin yoonhae nya makin romantis…kekekeke..

      next part ditunggu yahh…
      jangan bosen buat nunggu juga ^^
      makasih udh baca + komen.

  4. regina berkata:

    di tggu part 4 and part2 selanjutnya ya thor,,, bkn yoonhae happy end jgn bkn mrka menderita ya thor,,,pleasepease🙂 #puppy eyes#

  5. inasaragi berkata:

    Ya ampun author scandalnya sulit bgt
    Omo!!
    Yoonhae kalian harus tetap bersatu apapun yg terjadi
    Kenapa appa donghae oppa jahat mau misahain yoona eonni sama donghae oppa? Terus mau ngancurin keluarga yoong eonni lg T_T
    Appanya donghae oppa maafin kesalahan keluarga yoong eonni ya. Jgn ancurin keluarga mereka.
    Ayo author di lanjut, ditunggu kelanjutannya🙂

    • nanashafiyah berkata:

      yoonhae harus bersatu dong, appa doghae kelaut ajah sono !!!! iya nih appa donhae emang jahat, udah gitu g mau maafin kesalahan orang lain…ckckck #padahal udh lebaran…

      next part di tunggu yaah dan jangan bosen buat nunggu…
      makasih udah baca + komen ^_^

  6. narshavanya berkata:

    Kenapa appanya donghae makin menjadi-jadi buat ngancurin keluarga yoong eonni?
    ahhh… tapi gpp deh yang penting YoonHae masih tetap bersatu..
    Ayo Kita buat YoonHae bersatu..
    YOONHAE JJANG!!

  7. Alyfia sasmita berkata:

    Waaah
    Seruu critanya !
    Bikin ak pngen terus terus teruus bcaa !
    Salut dh sama author nya yh🙂

    Yoonhae :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s